Skip to content

Bab 9

Ruang baca dalam istana kaisar menjadi tempat favorit sang Kaisar menerima tamunya secara tidak resmi. Tidak resmi bukan dalam arti tanpa ada aturan kesopanan berjumpa dengan kaisar. Namun dalam pertemuan seperti ini, Kaisar terlihat lebih santai daripada ketika menghadiri audiensi setiap pagi.

Zhen juga rindu keindahan Gunung Nan. Kepergianmu kali ini, zhen harus ikut serta,” jawab Kaisar tertawa senang. Bai Yu tadi mengutarakan niatnya berziarah ke makam Chu Langzhong. Hal tersebut justru membangkitkan keinginan Sang Kaisar untuk bertamasya sekaligus menengok langsung kehidupan rakyatnya.

“Tapi–” Bai Yu berusaha menyanggah namun tidak diperhatikan.

“Kita bisa menyamar sebagai sebuah keluarga bahagia. Ayahmu, Zhang Yi Lang dan Zhang Er Bao harus ikut serta. Calon istrimu juga harus ikut. Tentunya ia harus ikut berziarah ke makam kakek angkatmu juga.”

Erchen juga ikut, Fuhuang,” kali ini Putra Mahkota yang meminta.

“Tidak bisa, sebagai taizi kamu harus tinggal menggantikan Fuhuang mengadakan audiensi.”

Memandangi wajah kaisarnya tak percaya, Bai Yu tak berani mengeluarkan komentar. Bahkan sepatah katapun tak berani ia keluarkan.

Zhen sudah putuskan seperti itu. Tiga hari lagi kita bisa berangkat.”

Pasrah Bai Yu menjawab, “Xiaoshun menuruti perintah.”

***

Berjalan kaki menyusuri tepian sungai, seorang perempuan bernyanyi tak peduli semua mata memandang ke arahnya. Suaranya yang nyaring dan tinggi melengking diselingi tawa berat khas laki-laki telah berumur. Bersamaan dengan suara tawa, tepuk tangan tanda pujian juga terdengar.

“Tak heran kalau Bai Yu sampai mabuk karenamu, Mei Er,” puji Kaisar yang dalam perjalanan ini mengambil nama samaran Li Jun Guo.

Wajah Mei Er merona merah tersipu malu. Namun rona merah itu tak bertahan lama karena dalam sekian hitungan ia sudah sibuk memperhatikan Bai Yu yang salah tingkah. “Kenapa Bai Yu Ge diam saja?”

“Kalau kamu bisa membuat Bai Yu seceriwis mulutmu, aku akan berikan hadiah.”

“Benarkah, Waigong[1]?” Hanya Huo Mei Er seorang yang berani memanggil Li Jun Guo dengan sebutan seperti itu.

“Lihat! Hanya Huo Mei Er seorang yang menuruti perintahku. Bagaimana dengan kalian? Sudah aku sudah katakan berulang kali. Dalam perjalanan kita kali ini, lupakan semua status. Kamu adalah menantuku,” mengacu pada Zhang Sha Hai. “Sedangkan kalian bertiga adalah cucu luarku.”

Chen tidak berani,” jawab Zhang Sha Hai rikuh.

Mendengarnya, Li Jun Guo mengamati Bai Yu menunggu reaksi. Ia menunggu cukup lama sampai akhirnya terdengar Bai Yu menyapa, “Waigong.”

Menyusul kemudian Zhang Yi Lang dan Zhang Er Bao juga menyapa Li Jun Guo dengan sebutan sama. Makin gembiralah hati Li Jun Guo. Ia tinggal menunggu Zhang Sha Hai seorang. Namun rupanya protokol istana telah melekat demikian erat dalam pikiran Zhang Sha Hai membuatnya tak berani memanggil Li Jun Guo dengan sebutan akrab, Yuefu[2].

“Sha Hai, jika kamu tak segera membiasakan diri memanggilku yuefu dalam perjalanan ini, aku akan menyalahkanmu jika penyamaran kita terbongkar,” ancam Li Jun Guo dengan tersenyum.

Sekalipun Li Jun Guo mengancam dengan tersenyum, bagi Zhang Sha Hai ancaman itu tetap menakutkan. Ia juga sadar, kalau penyamaran ini terbongkar, nyawa junjungannya ini mungkin dalam bencana. Dan jika sampai jadi orang yang harus bertanggung jawab atas kejadian terburuk itu, ia tak sanggup. “Yuefu,” sapa Zhang Sha Hai pada akhirnya.

“Bagus, bagus,” puji Li Jun Guo kemudian tertawa senang. “Mei Er, di mana Fuke Jiulou ayahmu?”

“Banyak. Di setiap kota juga ada. Die juga sudah mengirim berita cepat agar menyambut kedatangan Waigong. Tenang saja. Rahasia,” jawab Huo Mei Er ditutup dengan senyum genit.

Dalam rombongan itu ada empat perempuan. Satu Huo Mei Er, Qian Er pelayan Huo Mei Er, Jin Die niang-niang[3] selir favorit Li Jun Guo dan Xiao Xue, dayang selir itu. Sedangkan laki-lakinya Li Jun Guo, Bai Yu, Zhang Sha Hai, Zhang Yi Lang, dan Zhang Er Bao. Selain itu juga Xiao Tian dan Hui Fu gong-gong[4], kasim senior kepercayaan Li Jun Guo. Yang mengikuti mereka dari kejauhan dengan mengendarai kereta kuda.

Sangat ramai memang. Dulu ia bukan kaisar dan sekarang ini, ia pergi bukan dalam status kaisar. Yang ingin dilakukannya hanya menikmati kehidupan pada umumnya orang-orang seumur dia, seperti: tamasya bersama keluarga, menikmati canda tawa mereka dan sejenisnya itu.

Bahkan Li Jun Guo telah menerapkan satu peraturan untuk perjalanannya kali ini: jika ada satu orang kelepasan bicara tentang istana atau memperlakukan dirinya menurut aturan istana, orang itu akan kena hukuman mentraktir makan seratus orang pertama yang dijumpai.

Kereta kuda berhenti. Mereka telah sampai di muka pintu Fuke Jiulou. Beriring-iringan mereka turun dan masuk ke dalam bangunan rumah makan tersebut. Seperti biasa, Huo Mei Er berjalan paling depan. Dengan bangga memperkenalkan rumah makan yang dikelola orangtuanya pada Li Jun Guo dan lainnya, tak tertinggal Bai Yu.

Ia bergerak lincah seperti anak kecil mencari pamannya, adik pertama Huo Yin Qian yang dipercayai mengelola cabang itu. “Shushu! Ershu!” teriaknya.

“Mei Er,” sapa seorang laki-laki terkejut. Usianya tak lebih tua dari Zhang Sha Hai. “Sudah hampir menikah tingkahmu masih seperti anak kecil,” goda orang itu.

Setelah merengut, barulah Huo Mei Er memberikan salam padanya, “Mei Er beri salam pada Ershu,” ia menekuk kakinya sedikit menjadi gadis manis yang dididik ketat dalam tata krama.

Huo Fu Kai, orang yang dipanggil ershu tersenyum geli. Ketika dilihatnya ada serombongan orang di belakang Huo Mei Er, buru-buru ia menghampiri mereka. Memasang wajah teramahnya lalu menekuk kaki hendak berkowtow.

“Tidak perlu,” ujar Li Jun Guo. Tentunya ia tak mau penyamarannya terbongkar. “Keponakanmu sangat menyenangkan. Sepanjang jalan ia terus bernyanyi. Pasti sekarang haus dan lapar. Lebih baik kita makan sekarang.”

“Saya sudah siapkan, silahkan,” selesai berkata ia menyingkir ke samping memberikan jalan pada Li Jun Guo. Ia terus menundukkan kepala ketika Li Jun Guo melewatinya.

“Yi Lang, Er Bao, Sha Hai Ge… kalau begitu pemuda ini pasti calon suamimu, Mei Er?” hitung Huo Fu Kai kala orang yang disebut melewatinya tentu setelah berbasa-basi sejenak.

Yang terakhir melalui Huo Fu Kai memang Bai Yu. Selain Li Jun Guo, Bai Yu adalah satu-satunya orang yang belum pernah dilihatnya, diluar selir dan para pelayan, kasim juga pengawal Bai Yu.

“Bai Yu beri salam pada Ershu,” ucap Bai Yu dengan bai[5] pada Huo Fu Kai.

“Atas dasar apa melamar keponakanku?” tanya Huo Fu Kai galak seolah-olah hendak memaksa Bai Yu maju ke tiang gantung.

Tentu saja Bai Yu kaget ditanya seperti itu. Tapi mulut belum bicara, Huo Mei Er sudah datang membelanya.

Ershu…, jangan ganggu Bai Yu Ge…,” protes Huo Mei Er manja. Ia menarik Bai Yu masuk ke dalam mengikuti langkah kaki Li Jun Guo yang mengikuti arahan pelayan ke tempat yang disediakan bagi mereka.

Mereka diberi tempat yang dapat melihat jalanan sesuai dengan permintaan Li Jun Guo. Tempat itu  ruangan khusus tertutup dimana tamu yang lain tak dapat melihat isi ruangan. Namun di sana terdapat jendela besar menghadap jalanan ramai. Semua aktivitas di jalanan, dapat dilihat oleh Li Jun Guo dari tempatnya duduk.

Berturut-turut hidangan tersaji di meja. Sebuah jumlah yang tak lagi luar biasa bagi Bai Yu sekarang. Dua belas, sama seperti jumlah hidangan ketika ia bertemu Huo Yin Qian pertama kali. Kemudian jamuan di istana, dan terakhir kali saat ia datang secara resmi bersama Zhang Sha Hai guna melamar Huo Mei Er.

Ketika semua asyik menikmati hidangan tiba-tiba terdengar suara dari arah jalanan, “Shidi, bertahanlah! Kita akan segera tiba. Racunmu pasti bisa dikeluarkan.” Orang yang mengatakan itu tampaknya sangat panik juga cemas.

Gongzi, tampaknya orang di atas gerobak itu akan segera mati keracunan,” ujar Xiao Tian yang berjaga dekat jendela. Karena posisinya menempel jendela, ia dapat melihat apa yang terjadi tepat di bawah.

Bai Yu melirik pada Li Jun Guo. Pandangannya berkata bahwa ia meminta izin untuk meninggalkan ruangan. Setelah Li Jun Guo menganggukkan kepalanya, Bai Yu baru berani berkata pada Xiao Tian, “Katakan pada mereka jika mau, aku akan membantu.”

Xiao Tian keluar dari ruangan dan kembali tak lama setelahnya. Ia masuk berdiri di dekat Bai Yu dengan berkata, “Mereka bersedia menerima bantuan Gongzi.”

Setelah menganggukkan kepala, Bai Yu pamit pada semua orang di ruangan itu terutama Li Jun Guo, Zhang Sha Hai, Huo Fu Kai dan Huo Mei Er lalu ia keluar diikuti Xiao Tian.

“Kau?!?” seruan ini terdengar ketika Bai Yu masuk ke dalam kamar yang disewa pasiennya. Seruan bukan hanya terkejut, orang itu juga waspada.

Melihat ke arah dipan dan orang yang duduk di sebelah dipan, Bai Yu mengerti siapa mereka. Yang duduk di sebelah dipan adalah Ting Xun. Bai Yu pernah bertemu dan mengobati orang itu. Yang sakit kali ini bukan dia. Tapi seseorang yang terus mengerang di atas dipan.

Namanya adalah Situ Jia. Murid ke delapan Lie Jin Jia yang artinya adik seperguruan Ting Xun. Bai Yu tak ingin bertanya mengapa ia bisa terluka seperti itu karena ia sudah tahu bahwa yang menjadi penyebab lukanya adalah ‘tapak perusak paru’.

Sesuai dengan namanya, ilmu tangan kosong satu ini mengincar paru-paru. Itulah sebabnya nafas Situ Jia sangat berat. Dan kalau bukan karena bantuan Ting Xun yang memberikan tenaga dalamnya, Situ Jia pasti sudah meninggal sebelum tiba di Fuke Jiulou.

“Kali ini kau mau minta apa lagi? Katakan saja di awal,” sambut Ting Xun galak.

Sambutan yang membuat Xiao Tian waspada juga bingung.

“Aku tak apa-apa. Keluarlah dulu, Xiao Tian.” Setelah Xiao Tian keluar dan menutup pintu, pertanyaan Ting Xun barulah ia jawab, “aku tidak minta apapun.”

Selesai menjawab, Bai Yu memeriksa denyut nadi di tangan pasiennya, nafas, dan warna kulit. “Orang-orang dunia persilatan benar-benar tak kapoknya bertarung,” omel Bai Yu seolah kesal.

Ia merogoh kain tempatnya menyimpan jarum-jarum perak untuk akupuntur. Dikeluarkannya beberapa lalu menancapkan pada bagian dada pasien.

“Kalian mau pergi kemana?” tanya Bai Yu sekenanya.

“Mencari Chu Langzhong,” pertanyaan Bai Yu juga dijawab dengan sengit.

Gan Yeye sudah meninggal. Apa kamu mau mencarinya ke alam baka?”

“Katakan, kau minta apa?”

“Tidak. Aku tidak minta apapun. Ilmu kungfu, sudah kudapat dari ayah kandungku. Uang, perempuan semua sudah kumiliki. Aku tak butuh apapun dari kalian.” Bai Yu membereskan jarum-jarumnya lalu bergerak ke luar ruangan. “Satu shichen[6] kemudian aku datang kembali. Beri dia minum air putih sebelum aku kembali.”

Ting Xun terperangah mendengar jawaban tersebut. Hanya seorang tabib, tapi kelakuannya seakan-akan lebih berkuasa dan hebat dari dirinya, murid kedua Lie Jin Jia.

Keluar dari kamar, Xiao Tian langsung menyambutnya dengan pertanyaan, “Gongzi, mereka murid perguruan Xiangshen?” Bai Yu menganggukkan kepala dan memandangi Xiao Tian dengan cara pandang bertanya ‘ada apa’.

“Kenapa Gongzi sangat ketus pada mereka? Biasanya Gongzi selalu ramah pada semua pasien Gongzi.”

Melirik pada pintu kamar Ting Xun dan Situ Jia, “Ramah tidak ramah harus melihat berhadapan dengan siapa.”

“Apa mereka pernah punya salah dengan Gongzi?”

Bai Yu meninggalkan Xiao Tian karena tak ingin menjawab pertanyaan tersebut. Bersalah? Bai Yu sudah tak tahu lagi apakah mereka bersalah atau berjasa. Karena penyerangan mereka, Bai Yu terlempar dari statusnya semula. Tapi karena peristiwa itu pula, ia bertemu dengan Chu Langzhong kemudian ayah kandungnya sendiri. Juga Huo Mei Er, gadis yang dalam waktu beberapa bulan lagi resmi menyandang status sebagai istrinya.

Bai Yu cuma tahu satu hal yang pasti. Ia tidak suka mereka. Baginya orang-orang itu hanyalah manusia picik yang bersembunyi dalam kedok kebajikan.

“Bagaimana keadaan pasienmu, Bai Yu?” tegur Li Jun Guo pada Bai Yu yang baru kembali ke ruangan.

“Jawab, Waigong, satu shichen lagi Bai Yu harus memberinya terapi akupuntur. Lukanya cukup parah.”

“Luka?” tanya Huo Mei Er penasaran. Ia selalu penasaran dengan apapun mengenai dunia persilatan. “Mereka siapa, Bai Yu Ge?

“Murid perguruan Xiangshen. Tapi nanti Mei Er tidak boleh ikut menemui mereka. Temani Waigong dan Die saja di sini. Mengerti?”

“Bai Yu Ge…,” rajuk Huo Mei Er cemberut.

“Mei Er, kata calon suamimu harus kau dengar,” tegur Huo Fu Kai.

“Tapi aku ingin lihat mereka. Aku ingin dengar cerita mereka. Kenapa dia bisa terluka, Bai Yu Ge?”

“Tidak tahu. Aku tidak tanya.”

Huo Mei Er memasang muka cemberut. Diletakkannya sumpit tak mau makan lagi.

“Mei Er, tak baik dekat dengan orang dunia persilatan. Biarkan mereka urus hidup mereka sendiri dan kita urus diri kita sendiri, ya?”

“Sekali ini saja Bai Yu Ge. Biarkan aku lihat mereka. Lagipula Tian Mei Gugu[7] kabarnya menikahi murid perguruan Xiangshen. Aku ingin tahu kabarnya.”

“Benar juga. Tian Mei Meimei menikahi murid perguruan Xiangshen. Hampir lima belas tahun berlalu tanpa ada kabar. Entah bagaimana dia sekarang…,” tanpa sadar Huo Fu Kai membenarkan ucapan Huo Mei Er. Tentu saja Huo Mei Er girang bukan kepalang karena punya alasan kuat ikut Bai Yu menemui murid perguruan Xiangshen.

“Baiklah, kamu boleh tanya kabar bibimu tapi setelah itu kamu harus segera kembali menemani Waigong dan Die. Kalau tidak menurut, kutotok aliran darahmu dan kusuruh orang mengangkatmu.”

Keberadaan Huo Mei Er yang mengekori Bai Yu membuat Ting Xun merasa heran dan curiga. Ia mengira Bai Yu membawa Huo Mei Er untuk menunjukkan apa yang telah dikatakannya tadi, ‘uang, perempuan semuanya sudah dimiliki’.

Bagaimanapun ia sendiri juga dapat melihat pakaian yang dikenakan Bai Yu saat ini jelas terbuat dari kain kualitas terbaik, bukan lagi kain rami kasar seperti yang dikenakan orang itu ketika mereka bertemu pertama kali di Gunung Nan, rumah Chu Langzhong. Juga pakaian gadis yang mengekorinya itu pastinya terbuat dari bahan kualitas terbaik. Tanda dirinya berasal dari golongan berada.

“Ting Xiaoxia, calon istriku Huo Mei Er namanya, ingin bertanya suatu hal padamu,” ujar Bai Yu membuka percakapan.

“Silahkan Huo Guniang bertanya.”

“Bibiku, Huo Tian Mei meninggalkan rumah untuk nekat menikah dengan murid perguruan Xiangshen. Kalian dari perguruan itu, apakah bisa memberitahu diriku bagaimana kabarnya?”

“Kamu keluarga Dasao[8]?” ia bertanya pada Huo Mei Er namun matanya melirik Bai Yu tak percaya.

Bai Yu menganggukkan kepalanya. “Begitu calon istriku tahu aku sedang mengobati murid perguruan Xiangshen, ia bersikeras menemui kalian guna menanyakan kabar bibinya.”

Dasao meninggalkan perguruan bersama putranya setelah Shixiong meninggal. Kami mencarinya selama tiga tahun ini tapi tak kunjung mendapatkan kabar keberadaannya.”

“Bagaimana Guzhang[9] meninggal? Mengapa Gugu meninggalkan perguruan?”

Shixiong meninggal dalam penyerangan ke Baiyu Jiao. Dan Dasao tak ingin anaknya membalaskan dendam itu, ia pergi beberapa hari setelah penguburan.”

Huo Mei Er menekuk ke bawah bibirnya karena kecewa. Ia sadar Bai Yu memandanginya dengan muka menyuruhnya segera meninggalkan kamar. Terlebih, ia juga mendengar Bai Yu memanggil Xiao Tian menyuruh pengawalnya itu menghantar ia kembali ke tempat Waigong.

“Kau ini sebenarnya orang macam apa?” tanya Ting Xun. Kala itu Huo Mei Er sudah meninggalkan ruangan dan Bai Yu sedang memberikan terapi akupuntur pada Situ Jia.

Kesal karena Bai Yu mengacuhkan pertanyaannya, ia berkata lagi, “Sekarang sudah jadi orang kaya? Memperistri putri Da Laoban yang kata orang-orang kekayaannya sama dengan raja-raja bawahan.”

“Kakak seperguruanmu juga begitu. Bahkan ia tak peduli membuat keluarga istrinya berantakan. Sedangkan aku akan menikah dengan restu kedua belah pihak. Jadi bagaimanapun kondisiku lebih baik dari kakak seperguruanmu.”

“Jangan menghina Shixiong! Mereka saling mencintai. Aku tahu hal itu.”

“Kalau begitu mengapa mengusikku? Atas dasar apa kau yakin aku menikahi putri keluarga Huo karena hartanya?” menghela nafas sejenak, Bai Yu baru melanjutkan, “Xiaoxia, kau tahu mengapa huruf xia dari kata ‘pendekar’ memiliki bunyi yang sama dengan xia dalam kata ‘sempit’[10]?”

Tak perlu melanjutkan kata-kata itu lebih lanjut karena Bai Yu yakin setiap orang pasti akan menangkap maksudnya bahwa ia tengah mengejek.

Pada saat yang sama, terdengar pintu diketuk. Ketukan yang sedikit mengencerkan suasana tegang dalam kamar tersebut. Xiao Tian muncul dari balik pintu membawa pesan, “Gongzi, Lao Daren berpesan agar Anda setelah selesai segera kembali padanya.

Bai Yu menganggukkan kepalanya sembari membereskan peralatannya. “Satu shichen berikutnya aku akan kembali,” ujarnya sambil meninggalkan ruangan.

Xiao Tian mundur memberikan jalan dengan menundukkan kepalanya hormat. Perilaku seperti itu tidak mungkin diberikan pada orang biasa. Hal tersebut membuat Ting Xun semakin penasaran.

Shixiong, mengapa kelihatannya kau membenci Langzhong itu?” tegur Situ Jia. Kondisinya sudah membaik sehingga sudah dapat bicara. Tadinya bicara saja tidak sanggup karena nafasnya terlalu sesak.

“Ia pernah meminta Shifu memberikan rapalan ilmu ‘satu tangan menjemput satu nyawa’ ketika mengobati lukaku. Kelakuannya kali ini benar-benar menyebalkan.”

“Pantas ia marah, kau mengatainya menikah karena harta.”

“Mengapa kamu justru membela dia?”

Shixiong, apa dirimu tak sadar, laki-laki yang memanggilnya ‘gongzi’ itu ilmu kungfu dan ilmu meringankan tubuhnya terlihat sangat tinggi?”

“Lalu bagaimana?”

“Seorang pesilat dengan ilmu setinggi itu bisa tunduk pada seseorang tidak mungkin tanpa alasan khusus.”

“Maksudmu dia sedang memata-matai Langzhong satu itu? Dia pantas dicurigai.”

Situ Jia menggelengkan kepalanya. Ia heran mengapa kakak seperguruannya ini benar-benar membenci Bai Yu, tabib yang bagaimanapun pernah menyelamatkan nyawanya. “Maksudku Langzhong itu memiliki sesuatu yang membuat pesilat tadi rela menjadi bawahannya. Aku merasa… Langzhong itu punya hubungan dengan orang-orang pemerintah. Lebih baik Shixiong tidak menyinggung perasaannya lagi.”

Shidi… mengapa kamu terus membela dia? Aku ingin tahu sebenarnya dia setan macam apa. Apa dasar meminta rapalan ilmu perguruan kita? Dan tingkahnya hari ini benar-benar menyebalkan. Sombong sekali.”

“Lebih baik Shixiong tidak menyentuhnya. Lagipula ia calon suami dari keponakan Dasao.”

Dasao juga keterlaluan. Bukannya mengajari Wu Qi agar giat latihan kungfu, ia justru melarikan diri membawa anaknya itu. Mau jadi apa anak Shixiong nanti.”

Tepat sesuai waktu yang dikatakan, Bai Yu kembali datang ke kamar Ting Xun dan Situ Jia dengan dikawal Xiao Tian seperti sebelumnya.

Situ Jia terus memperhatikan gerakan Bai Yu ketika memberikan terapi akupuntur padanya. Tangan Bai Yu bergerak lincah dan cekatan menusukkan jarum ke kulitnya tanpa membuat ia merasakan sakit sedikitpun. Kali ini Bai Yu demikian diam dan tenang. Ting Xun mengikuti nasihatnya agar tidak menyinggung tabib ini lagi. Karena itu Bai Yu tak berkata apapun yang terdengar tajam dan menyakitkan di telinga Ting Xun.

Kata-kata yang keluar dari mulut Bai Yu hanya, “Besok aku harus melanjutkan perjalanan ke Gunung Nan. Kondisimu sudah cukup baik untuk berpergian. Kalau tidak ada sesuatu yang memberatkan lebih baik ikut denganku sementara waktu agar aku bisa mengawasi kesehatanmu.”

“Bagiku tak masalah, benar bukan, Shixiong?”

Ting Xun mengangguk dengan malas. Ia juga tak ingin adik seperguruannya menemui masalah jika nekat pulang. Kondisi Situ Jia belum pulih total membuatnya harus rela lebih lama dengan tabib yang ia benci itu.

“Kereta kudaku sudah penuh. Kalian harus menyewa kereta sendiri.”

“Kami mengerti,” Situ Jia yg menjawab.

Selesai membereskan kembali peralatannya, Bai Yu pergi meninggalkan mereka. Kali ini tanpa pesan bahwa ia akan datang satu shichen yang akan datang. Mengingat kala ia pergi saja malam sudah cukup larut. Mereka baru bertemu keesokan harinya. Di depan pintu gerbang Fuke Jiulou, dekat dua kereta kuda dan beberapa kuda jantan berpelana.

Kereta kuda yang ditumpangi Bai Yu jelas dibuat dari kayu kualitas terbaik dan ditutup dengan kain dari kualitas terbaik. Kuda yang menarik kereta juga tampak sangat sehat dan kualitas baik. Kedua hal ini membuat Ting Xun teringat kembali ucapan adik seperguruannya malam lalu.

Keluar dari Fuke Jiulou, Bai Yu langsung menghampiri Situ Jia  memeriksa denyut nadi. Terlihat tak jauh di belakangnya keluar seseorang kakek yang masih nampak sangat berwibawa bersama tiga orang laki-laki. Dua orang masih muda, satu orang usianya di antara kakek dengan dua orang pemuda itu. Selain itu menyusul keponakan dari istri kakak seperguruannya, Huo Mei Er dan tiga orang perempuan. Yang satu orang wajahnya sangat rupawan dan gayanya juga sangat luwes. Ia naik kereta dibantu gadis lainnya dan kakek tadi.

“Gunung Nan sudah tak jauh lagi. Kira-kira malam ini kita akan sampai rumah itu.”

“Aku tahu,” jawab Ting Xun ketus.

Bai Yu meninggalkan Ting Xun dan Situ Jia masuk di kereta tempat kakek tadi berada. Xiao Tian dan seorang laki-laki paruh baya mengambil tempat di kursi kusir. Tak lama kemudian, kereta tersebut telah meninggalkan pintu gerbang Fuke Jiulou. Tentu saja, kereta kuda Ting Xun dengan Situ Jia mengekorinya di belakang.

*

Tak peduli malam telah larut ketika mereka tiba di rumah Chu Langzhong, Bai Yu langsung menuju halaman belakang dimana ia menguburkan Chu Langzhong. Setelah memberikan sajian dan kowtow tiga kali bersama calon istrinya, barulah ia sibuk membersihkan rumah yang kini dipenuhi sarang laba-laba.

Kamar yang setahu Ting Xun dulu ditempati Chu Langzhong kini ditempati kakek itu bersama perempuan rupawan. Huo Mei Er menempati kamar yang dulunya ditempati oleh Bai Yu. Sepertinya mereka para laki-laki ini harus menempati dipan di ruangan depan, mencari tempat masing-masing.

Tapi, dipan di ruangan depan hanya ada dua sedangkan mereka ada enam orang. Entah bagaimana tabib satu itu akan membagi tempat.

Fuqin, tidurlah bersama Yi Lang dan Er Bao di sana. Ting Xun dan Situ Jia biar tidur di dipan yang ini,” terdengar suara Bai Yu mengatur tempat.

“Lalu bagaimana denganmu, Bai Yu?”

Rupanya tabib ini punya ayah kandung dan punya dua orang adik laki-laki. Adiknya yang pertama terlihat tak bermasalah. Namun dengan adiknya yang kedua nampaknya hubungan mereka tak begitu baik.

Bai Yu menggelengkan kepalanya baru menjawab, “Aku sudah cukup tidur di kereta. Fuqin tidur saja.”

Menempati dipan yang ditunjuk Bai Yu, Ting Xun terus memperhatikan gerakan Bai Yu. Pengawalnya yang sekarang sudah ia ketahui namanya, juga terus mengekori kemanapun Bai Yu pergi.

Terlihat Bai Yu mengambil buku dari dalam kamarnya dahulu lalu duduk di kursi kayu pendek meja makan. Lilin menyala di atas meja memberikan cahaya yang berpendar-pendar.

“Xiao Tian, kamu tentunya lelah. Istirahatlah, tak perlu mengekori aku. Carilah tempat untuk tidur.” Setelah perintahnya dituruti, Bai Yu terus duduk di sana membaca sampai akhirnya Ting Xun ketiduran dan baru terbangun ketika matahari terbit.

Saat Ting Xun terbangun, dilihatnya rumah dalam keadaan kosong. Hanya dirinya dan Situ Jia. Lainnya tak ada dalam rumah. Bai Yu terlihat sedang merapikan tanaman di luar. Orang yang disebut fuqin oleh Bai Yu sedang latihan kungfu dengan tombak di luar pagar halaman bersama dua anaknya yang lain. Sedangkan kakek tua dengan perempuan rupawannya duduk di tanah menonton permainan tombak itu. Tak jarang mereka bertepuk tangan.

Memang gerakannya begitu lincah dan matang. Dalam perguruan Xiangshen, tidak ada ilmu kungfu yang diajarkan dengan tombak sebagai senjata. Semua pedang dan tangan kosong. Suatu kebetulan hari ini mereka bisa menyaksikan latihan kungfu dengan tombak.

Shixiong tahu tokoh konsen dunia persilatan yang menguasai tombak?”

“Setahuku tidak ada yang permainan tombaknya seperti dia. Tapi aku pernah mendengar Zhang Da Jiangjun ahli dalam tombak, pedang dan panah.”

Memapah Situ Jia, ia keluar melalui pintu. Tak banyak yang berubah dari rumah ini selain semuanya tampak telah lama terbengkalai.

Tahu pasiennya keluar rumah, Bai Yu mengambil tangan dan langsung memeriksa denyut nadi. “Sudah lebih baik, besok kalian bisa pulang.”

“Lalu bagaimana kami harus mencarimu?”

“Cari saja di Jingcheng.”

“Jingcheng…? Jingcheng sangat luas. Orang yang bernama sepertimu juga sangat banyak.” Situ Jia benar-benar dibuat bingung. Terlebih ia dan kakak seperguruannya ini hanya tahu nama panggilan tabib tersebut. Tak tahu marganya apa dan di mana rumahnya.

“Hanya ada satu balai pengobatan bernama Dayao Yifang di Jingcheng. Kukira semua penduduk Jingcheng dapat memberitahukan arah jalan ke balai itu.”

“Sebenarnya siapa dirimu?” nadanya yang penuh tanda tanya dan ketus ini pasti diajukan oleh Ting Xun.

Bai Yu menoleh ke arah Ting Xun dah tersenyum misterius. “Aku? Aku adalah Bai Yu, cucu angkat Chu Langzhong. Sudah dua kali kita bertemu dan kau masih bertanya seperti itu?”

“Siapa dia yang kau panggil fuqin itu? Apa pekerjaannya? Siapa Laorenjia itu?”

“Kau akan tahu setelah mengunjungi Jingcheng. Atau kamu perlu kukenalkan dengan adik perempuanku? Ia belum menikah. Dan pastinya kau akan dapat kemewahan dengan menjadi menantu ayahku,” tentu saja Bai Yu tidak benar-benar menawarkan status menjadi adik iparnya. Ia hanya mengejek Ting Xun yang pernah mengatainya menikahi putri keluarga Huo karena uang mereka.

Benar-benar kesal hati Ting Xun oleh ejekan Bai Yu. Tabib satu ini jarang bicara tapi sekalinya bicara bisa sangat menyakitkan hati.

“Aku tak ingin bicara lagi. Masih banyak yang harus kulakukan sedangkan aku tak boleh berlama-lama di sini. Permisi.”

Berangkat dari rumah Chu langzhong, hari sudah siang. Hal tersebut membuat mereka tak dapat masuk kota terdekat sebelum malam tiba dan pintu gerbang ditutup. Bahkan jarak mereka dari kota terdekat pun terpaut cukup jauh ketika sore menjemput.

Sampai sekarang, Ting Xun dan Situ Jia masih mengikuti rombongan Bai Yu turun gunung. Menurut rencana, setelah matahari terbit nanti, mereka baru pisah jalur. Dan padang rumput tempat mereka berada ini ada di adalah persimpangan jalan.

Tiga buah tenda telah didirikan. Seperti malam ketika di rumah Chu Langzhong, Li Jun Guo menempati tenda hanya berdua bersama selirnya. Sedangkan laki-laki lainnya berkumpul dalam satu tenda. Toh mereka itu tidak mungkin akan tidur semua. Zhang Sha Hai sudah membagi tugas dengan Zhang Yi Lang, Zhang Er Bao dan Xiao Tian untuk jaga malam.

Bai Yu juga memilih tidak tidur. Karena dalam rombongan ini, hanya dia yang memiliki indra pendengaran dan penciuman lebih peka dari manusia normal. Ketika giliran Zhang Sha Hai dan Zhang Er Bao berjaga, ia pura-pura tidur. Dan ketika malam telah larut sehingga ganti tugas Zhang Yi Lang dan Xiao Tian, ia ikut keluar dari kemah, duduk mengelilingi api unggun bersama kedua orang itu.

Gongzi, apa Anda tidak mengantuk?” tegur Xiao Tian ke arah heran bukan cemas.

Bai Yu menggelengkan kepalanya. “Di tempat seperti ini bersama Waigong, hatiku tidak tenang. Aku takut perjalanan kita telah bocor dan mengundang pemberontak.”

Waigong hanya ingin melihat kondisi secara langsung.”

“Aku tahu maksud beliau. Tapi hati orang tak dapat ditebak. Apakah kamu bisa menjamin semua orang di rumah setia pada Waigong?”

Zhang Yi Lang menghembuskan nafas. Walau bagaimanapun ucapan Bai Yu ada benarnya.

“Tapi Bai Yu Ge bukan prajurit. Kau ini tabib. Jika lelah, istirahat saja.”

“Aku tidak apa-apa. Lagipula sudah lama tidak menikmati udara malam di alam terbuka seperti ini. Seingatku, terakhir kali aku menikmatinya ketika aku berangkat menuju Jingcheng.”

“Waktu itu kau pasti seperti ini seorang diri. Apakah tidak kesepian?”

Bai Yu menggelengkan kepalanya. “Di Nanshan, aku juga hanya tinggal berdua dengan Gan Yeye. Tapi sekarang setelah hampir satu tahun tinggal di Jingcheng, mungkin akan merasa kesepian jika harus pergi seorang diri.”

“Beberapa hari ini Bai Yu Ge cukup banyak bicara. Tak seperti di rumah,” dengan tersenyum Zhang Yi lang melanjutkan, “terutama untuk mencela Ting Xun.”

Bai Yu hanya tersenyum tipis tanpa memberi komentar. Ia sendiri juga bingung jika dimintai komentar.

“Sepertinya Bai Yu Ge benar-benar kesal pada Ting Xun. Apakah ia punya salah denganmu?”

Menghela nafas, Bai Yu hanya menjawab dengan satu kata, “Entahlah…”

Gelapnya malam melingkupi mereka. Sekalipun Zhang Yi Lang telah terbiasa berkemah, ia tak ingin kesenyapan mewarnai saat duduk bersama kakak tirinya ini. “Boleh aku bertanya sesuatu?” melihat Bai Yu menunggunya bicara, Zhang Yi Lang baru mengajukan pertanyaan yang sesungguhnya, “Apakah setelah menikah nanti Bai Yu Ge benar-benar tak ingin tinggal di rumah?”

“Menikah dan meninggalkan rumah, bukankah hal itu suatu yang wajar?”

“Aku juga menikah tak lama lagi. Dan kata Waigong, aku akan dikirim ke perbatasan setelah menikah nanti. Fuqin mungkin tidak akan tega jika harus ditinggal dua anaknya sekaligus. Apalagi sepanjang masa kecil Bai Yu Ge, Fuqin tidak pernah ada di sisimu.”

“Yi Lang, rumah pemberian Waigong juga masih di dalam Jingcheng. Bahkan berjalan kaki saja tak sampai satu shichen lamanya.”

Sebenarnya Bai Yu ingin bicara lebih lanjut. Tapi ia ‘mencium’ suatu gelagat yang tidak baik. Badannya mendadak ditegakkan dan kupingnya bergerak-gerak mencari suara-suara tak wajar.

Gongzi bukan karena mencium sesuatu yang tidak beres, bukan?” Xiao Tian mendelik. Tentu karena ia ingat peristiwa di kedai tahu. Ia juga ingat kala itu Bai Yu mengatakan indra penciumannya lebih tajam dari orang normal.

“Aku tidak yakin.”

Semilir angin menggoyang-goyang rumput hingga mengeluarkan bunyi kemeresak. Ditambah serangga malam yang tak lelahnya bernyanyi untuk bulan membuat malam ini tak terasa sepi.

Bau yang muncul adalah bau tanah bercampur bau rumput. Namun Bai Yu mencium bau yang lain. Tak ingin mengambil resiko, cepat-cepat ditotoknya saluran nafas melalui hidung dan mulailah ia bernafas dengan kulit. “Pakai penutup hidung! Beritahu Fuqin dan lainnya agar waspada! Kita bertolak sekarang juga.”

Sekalipun bingung, Zhang Yi Lang menuruti kemauan Bai Yu. Dibangunkannya Zhang Sha Hai dan semua orang yang termasuk rombongannya. Ia meminta agar mereka segera berkemas dan pergi dari tempat tersebut.

Agar ringkas dan cepat, mereka tidak membereskan kemah. Hanya barang-barang pribadi saja yang mereka rapikan untuk dibawa pulang. Gerakan mereka, terutama Bai Yu yang tegang juga terburu-buru membuat Ting Xun dan Situ Jia bangun dari tidur dengan bertanya-tanya. “Langzhong, kalian kenapa pergi larut malam ini? Lalu bagaimana dengan kemah-kemah ini?”

“Kalau kau sedang pergi ke Jingcheng, tolong hantar saja ke balai pengobatanku,” jawab Bai Yu tergesa-gesa. Ia sudah hampir naik kereta ketika menjawab pertanyaan itu.

“Kamu kenapa, Bai Yu? Tegang seperti ini. Apakah ada masalah dengan Ting Xun?” pertanyaan ini tentu diajukan setelah kuda yang menarik kereta mereka dipacu oleh Xiao Tian.

“Bukan, Fuqin. Ada orang yang mengintai kita.”

“Apakah kamu ingin mengatakan penciumanmu tajam seperti anjing dan pendengaranmu setajam kelelawar?” tanya Jin Die Niang-niang dengan maksud menggoda saja.

Gan Yeye juga mengatakan hal serupa.” Jawaban dari Bai Yu justru sangat serius.

“Mereka ada berapa orang?” tanya Zhang Yi Lang penasaran. Berbeda dengan kakaknya, Zhang Er Bao justru memandangi Bai Yu sinis dan tak percaya.

“Sepuluh orang, bisa lebih. Aku tak begitu yakin karena suaranya tersamarkan gesekan rumput oleh angin.”

Zhang Sha Hai menarik nafas panjang dan menghembuskan berusaha mengusir rasa khawatir yang berhasil menguasai hati.

Tiba-tiba, kereta dihentikan mendadak, wajah Xiao Tian muncul dari balik kain penutup pintu. Ia bicara tanpa ada nada canda, “Jalan kita dihadang.”

“Berapa orang?” tanya Bai Yu.

“Ada sekitar lima belas orang.”

“Itu yang terlihat, Xiao Tian,” sebut Bai Yu yang bicara dengan memejamkan mata. “Di belakang dan kiri-kanan kita tak kurang dari tiga puluh orang menunggu.”

Zhang Sha Hai membuka kain penutup jendela mengintip luar. Gelapnya hutan di kala malam membuat ia tak dapat melihat keberadaan musuh. Tapi ia tidak mungkin mencurigai analisa Bai Yu. Anaknya ini bisa terhindar dari kematian karena indra penciumannya yang tajam hingga bisa mengetahui bau racun yang katanya tidak berasa dan berbau itu.

Tak menunggu lebih lama lagi, Zhang Sha Hai keluar dari kereta. Ditemani Zhang Er Bao ia pergi membujuk orang-orang yang menghalangi jalan. Berapa banyak orang yang mengintai mereka itu urusan nanti, karena jika bisa melalui orang-orang yang seenak perutnya membuat api unggun di tengah jalan, mereka bisa pergi dan mencari bala bantuan dari prajurit pengaman kota terdekat.

Di bagian depan kereta, terlihat beberapa orang duduk-duduk mengelilingi api unggun sambil menyanyikan puisi karya penulis terkenal di zaman lalu.

“Bertanyakah mengapa aku singgah di Gunung Hijau
Tertawa tak menjawab, hatiku dalam kedamaian” [11]

“Maaf, kami tergesa-gesa, bisakah Anda memberi jalan untuk kereta kami lewat?” yang bicara adalah Zhang Er Bao.

Tapi kata-katanya diacuhkan oleh mereka. Orang-orang itu justru melanjutkan nyanyiannya.

“Bunga meihua rontok mengapung hingga kaki langit
Di sini dalam dunia tanpa manusia” [12]

“Kalian sengaja bermain-main dengan kami, hah?!?” benar-benar Zhang Er Bao tak dapat diminta mengendalikan emosi.

Salah seorang dari mereka berdiri dengan muka tak ramah. “Kau serahkan kakek tua itu pada kami, maka kalian boleh lewat.”

Yang menjadi pikiran Zhang Sha Hai saat ini adalah pemberontak darimana mereka? Ataukah mereka adalah orang-orang dari negeri tetangga yang memang selalu tak pernah akur dengan negeri mereka?

Orang yang berdiri ini bernama Qing Pang Liao. Usianya sekitar tiga puluh tahun. Badannya tegap dan gagah namun tidak kekar pun berotot-otot seperti tukang angkat. Sekali melihat, setiap orang pun bisa menerka ia menguasai kungfu.

“Apakah saya boleh mengetahui siapakah Anda? Mertua saya pernah punya salah apa dengan Anda?” Zhang Sha Hai memendam amarahnya berusaha tetap ramah. Menyelesaikan masalah tanpa sebuah perkelahian dianggapnya tetap sebuah cara terbaik. Seperti yang telah dikatakan Sun Zi melalui tulisannya ‘menaklukkan musuh tanpa pertempuran adalah cara paling bijaksana’.

Yang bernama Qing Pang Liao itu tergerak untuk melihat Zhang Sha Hai lebih dekat. Rupanya ia penasaran dengan wajah orang yang menyebut kakek tua sebagai mertuanya. Di belakangnya, seorang laki-laki yang lebih muda juga ikut mendekati Zhang Sha Hai. Rupa kedua orang itu cukup mirip. Kiranya mereka adalah adik kakak.

Dage, dia! Dialah yang membunuh Die,” ujar Qing Pang Shan, nama laki-laki yang berada di belakang Qing Pang Liao. Tangannya menunjuk ke arah Zhang Sha Hai dengan marah.

Li Jun Guo sebetulnya sudah cukup tegang. Tapi ia tetap menyembunyikan perasaan itu. Sama seperti Zhang Sha Hai, ia harus tetap tenang agar dapat memikirkan jalan keluar dari masalah ini sekaligus menenangkan para perempuan yang mulai berkeringat dingin.

“Xiao Tian, ilmu meringankan tubuhmu sangat tinggi. Taburkan bubuk ini pada mereka yang bersembunyi di balik pekatnya malam,” sambil mengatakan, Bai Yu mengeluarkan sebungkus kertas berisi bubuk.

Gelagat mereka sudah terdeteksi oleh Bai Yu. Tak hanya oleh Bai Yu sebenarnya. Semua orang dalam kereta termasuk Zhang Sha Hai pun Zhang Er Bao kini sudah dapat menerka apa mau mereka.

Sambil menerima, Xiao Tian menganggukkan kepala. “Gongzi, bukankah seorang langzhong harusnya menggunakan ilmunya untuk mengobati orang? Mengapa…”

“Racun itu tidak akan merenggut nyawa, hanya melumpuhkan mereka. Kau sendiri berhati-hatilah.”

Ketika itu, Qing Pang Shan dan Zhang Er Bao rupanya sudah bertarung. Mungkin tiga sampai empat jurus sudah diadu. Serupa dengan kakaknya, Qing Pang Shan juga menguasai kungfu, terutama tombak. Bagaimana awal mulanya sampai terjadi pertarungan seperti itu, tak seorang pun yang berada di dalam kereta sadar. Karena kala hal itu berlangsung, mereka sibuk memperhatikan Bai Yu.

“Yi Lang, nyalakan tanda isyarat minta bantuan sekarang. Waigong, sepertinya kejadian ini akan mengakhiri petualangan Anda.”

“Aku mengerti.”

Pertarungan kali ini memang sangat sengit. Penguasaan Zhang Er Bao terhadap kungfu keluarga Zhang belum terlalu baik menurut Bai Yu. Terlihat dalam setiap gerakannya, penguasaannya terhadap pedang yang tengah ia gunakan kali ini tak kokoh. Orang ini hanya unggul di mulut untuk mengatai kakak tirinya yang tak bisa memanah. Memang benar, sesaat kemudian pedang tersebut terlempar dari tangannya karena jurus yang dikeluarkan Qing Pang Shan.

Tangan Zhang Er Bao yang terkena pukul gagang tombak terasa nyeri. Ia memandangi pedang yang terlempar puluhan bu[13]darinya.  Jantungnya berdebar tak karuan mengetahui sang lawan menguasai ilmu kungfu lebih tinggi.

Si pongah itu kini menerima balasannya. Kalau seperti ini terus juga tidak baik. Sebenarnya… dengan ilmu kungfuku rasanya cukup mudah mengalahkan orang itu. Tapi… bagaimana caranya agar identitasku tetap menjadi rahasia?

Pada saat yang sama, Xiao Tian menjalankan perintah Bai Yu. Tak seorangpun yang bisa melihat pergerakan Xiao Tian, bahkan Bai Yu sekalipun.

Daya penglihatan Bai Yu memang tak begitu baik terutama di malam hari. Hal ini menjadikan ilmu kungfu dan meringankan tubuhnya yang cukup tinggi juga tidak menunjang untuk melihat pergerakan Xiao Tian yang ilmu meringankan tubuhnya benar-benar di tingkat mahir. Tapi ia bisa mendengar suara pergerakan Xiao Tian yang bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan kecepatan tinggi hingga tak terlihat mata manusia biasa.

Dengan cara demikian, lawan mereka hanyalah lima belas orang yang duduk menghadang jalan sambil bernyanyi. Musuh yang terlihat lebih mudah dikalahkan daripada musuh yang tidak diketahui keberadaannya. Pepatah itu diyakini Bai Yu benar adanya.

Bai Yu turun dari kereta, ia tak peduli dengan larangan Li Jun Guo dan Zhang Yi Lang. Ia kini punya caranya sendiri untuk mempersingkat waktu.

“Maaf telah mengecewakan kesenangan Anda. Adikku ini memang besar mulut. Kalau berani, hadapilah aku,” seru Bai Yu mendekati orang-orang itu.

Kata-katanya itu mengundang tawa bagi para penghadang. Bagaimana tidak jika kalimat seperti itu diucapkan oleh seseorang dengan pakaian ala pelajar atau tabib? Tapi wajah Bai Yu yang serius dengan mata menyalang tajam rupanya membuat mereka sedikit gentar.

Hal ini tidak berlaku bagi Zhang Sha Hai. Ia tegang setengah mati karena tidak tahu kemampuan kungfu Bai Yu yang sesungguhnya. Dirinya juga tidak sadar bahwa Bai Yu memiliki akal lain di balik semua itu.

Apalagi Zhang Er Bao, ia kesal setengah mati karena mendapat maksud tersembunyi Bai Yu yang seolah menertawakan kekalahannya. Hampir saja ia melabrak kakak tirinya ini jika saja Zhang Yi Lang tak cepat-cepat menarik tangan dia.

Qing Pang Liao yang meladeni tantangan Bai Yu. Ia maju dengan membawa pedang hingga melebihi tempat adiknya berdiri menertawakan kekalahan Zhang Er Bao.

Bai Yu mengambil pedang Zhang Er Bao yang terhujam di tanah lalu berdiri diam tanpa memasang kuda-kuda, katanya “Silakan!”

Panas hati Qing Pang Liao mendengar, diserbunya Bai Yu dengan jurus-jurus yang ia kuasai. Pedang berkali-kali dihunuskan hendak membunuh Bai Yu sekaligus membinasakan kesombongan lawannya itu. Tapi sekeras apapun usahanya, tak satupun jurus yang berhasil melukai Bai Yu.

Dengan lincah, Bai Yu bergerak sesuai jurus-jurus ilmu kungfu keluarga Zhang yang telah diajarkan. Penguasaannya terhadap pedang memang sangat bagus. Hal ini tak perlu diragukan lagi. Tapi anehnya ia membiarkan Qing Pang Liao merenggut jubah terluarnya. Bahkan kemudian ia membungkukkan tubuh membiarkan jubah itu terlepas begitu saja ke tangan Qing Pang Liao.

Mendapati jubah luar Bai Yu berhasil direnggutnya, Qing Pang Liao mengira kungfu lawannya bukan setinggi yang dikiranya tadi. Ia makin bersemangat untuk mengalahkan Bai Yu. Siapa yang sadar kalau Bai Yu telah melakukan sesuatu untuk jubahnya itu? Hanya putra Wanshang Bianfu yang dapat membaca jalan pikiran Bai Yu. Untungnya orang itu tidak terlihat di tempat ini.

Pertarungan masih berlanjut. Entah bagaimana awalnya hingga Bai Yu tersungkur di tanah membuat Zhang Sha Hai, Li Jun Guo dan lainnya cemas akan nasibnya. Terlebih Huo Mei Er yang mengira akan menjanda sebelum sempat menikah. Ia panik setengah mati.

Qing Pang Liao tidak mungkin melewatkan kesempatan emas ini. Ia berniat menghabisi nyawa Bai Yu saat itu juga. Siapa yang mengira, Bai Yu yang tersungkur itu berbalik arah sekaligus merubah arah pedangnya.

Ketika Qing Pang Liao dalam posisi membungkuk dengan mengarahkan mata pedangnya pada Bai Yu, di saat yang sama, gagang pedang Bai Yu sampai pada dirinya dan menotok titik meridian membuatnya tak dapat bergerak.

Setelah kejadian itu, Bai Yu bangun dengan tersenyum puas. “Jubahku mengandung bubuk pelemah otot. Kau pasti tak menyadari hal itu, bukan? Jika baru saja aku tidak menotokmu dengan gagang pedang, nyawamu sudah berakhir di pedang ini.”

Qing Ping Shan demikian terkejut karena kakaknya telah termakan jebakan. Ia berteriak memanggil anak buahnya yang lain, tapi tak satupun yang menjawab. Hanya mereka yang tadi duduk bersama dia saja yang bangkit bersamanya.

“Menyerahlah! Anak-anak buahmu yang lain hanya bisa terbaring lemas di posisi mereka. Tak mungkin dapat memenuhi panggilanmu,” seru Bai Yu dingin.

Kegelisahan Zhang Sha Hai berbuah kepuasan. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan hasil seperti itu dalam waktu relatif cepat. Menangani sisa pengganggu yang telah kehilangan nyali tentunya sebuah hal mudah.

Mereka tak berani lagi banyak melawan ketika Zhang Sha Hai bersama Zhang Yi Lang, Zhang Er Bao juga Xiao Tian menawan. Namun Qing Ping Shan tak rela ditangkap lalu melarikan diri. Hebatnya, ia berhasil kabur dari kejaran Xiao Tian.

“Sejak kapan kamu bisa semua jurus tadi?”

Fuqin menyuruhku mempelajarinya. Karena tak ingin lagi mengecewakan, maka setiap malam aku diam-diam latihan.”

“Benar-benar tak mengecewakan,” pujinya disambung tawa bahagia.

“Tapi… masalah aku mempelajari kungfu ini aku berharap Fuqin dan semuanya merahasiakan dari orang lain.”

“Kenapa, Bai Yu?” tanya Li Jun Guo tak mengerti.

“Bai Yu hanya ingin dikenal karena ilmu pengobatan yang diturunkan Gan Yeye. Lagipula, sebenarnya Gan Yeye melarang aku mempelajari ilmu kungfu selain ‘lima hewan bermain’.”

Tentu itu dilakukan Chu Langzhong karena Bai Yu pernah nekat pelajari ilmu milik perguruan Xiangshen dan membuat kacau pengeluaran racun dari dalam tubuhnya.

Dari jauh terdengar suara ringkikan kuda lalu secercah benderang puluhan lampion dan obor mengitari mereka. Tapi orang-orang yang baru saja datang ini bukan yang patut diwaspadai. Mereka adalah para prajurit di bawah Lin Jiangjun. Bahkan Lin Jiangjun juga turut serta bersama mereka menjawab isyarat panggilan minta bala bantuan yang tadi dilontarkan Zhang Yi Lang.

Di saat yang sama, dari arah yang tadi dilalui Bai Yu terdengar kuda berderap sangat cepat. Sepertinya sang penunggang sedang dikejar waktu. Lalu terdengar penunggang itu berteriak cemas, “Langzhong, apa kau menemui masalah?”

Kala kuda itu telah mendekati Bai Yu, sang penunggang menghentikan kuda dan turun dengan wajah terpana. Yang tampak di hadapannya adalah orang-orang berpakaian prajurit sedang kowtow pada kakek tua yang dipanggil Bai Yu sebagai waigong. Para prajurit itu kowtow dengan berkata, “Semoga Huangshang berumur puluhan ribu tahun.”

HuHuangshang?” sang penunggang kuda yang ternyata adalah Situ Jia tergagap tak tahu harus bicara apa. “Ja… jadi Langzhong… adalah…”

“Da Yao Wangzi, cucu angkatku,” sahut Kaisar dengan tersenyum geli. Siapapun tak akan sanggup menahan tawa atau setidaknya tersenyum melihat wajah Situ Jia yang sedang syok.

Xiaomin mohon ampun,” seru Situ Jia segera berlutut dengan muka tertunduk takut.

“Bangkitlah. Zhen tidak menyalahkanmu. Justru zhen berterima kasih karena kau telah mengkhuatirkan keselamatan kami. Katakan, kamu mau hadiah apa dari zhen.”

Xi… Xiaomin tidak berani, Huangshang.”

Huangshang menyuruhmu bangkit, maka bangkitlah,” ujar Bai Yu mengulurkan tangan membantu Situ Jia untuk berdiri. “Mengapa kamu datang kemari?”

“Aku melihat kembang api di arah kalian pergi. Takut terjadi sesuatu pada kalian, maka aku… aku….”

“Terima kasih. Tapi lukamu belum pulih total. Lebih baik kau segera pulang dan istirahat.”

Tak berani melawan perintah seorang pangeran juga merasa tak berhak atas hadiah yang dijanjikan Kaisar, membuat Situ Jia berpikir memang hal terbaik untuknya adalah pulang. Maka, ia pamit untuk undur diri lalu melalui jalan yang ditempuh tadi dengan menunggang kuda yang sama. Namun sekarang, kuda itu tak lagi dipacunya dengan tergesa-gesa.

Akan tetapi masalah ini bukan artinya telah berakhir. Sampai di Jingcheng beberapa hari kemudian, Qing Gongzhu rupanya telah mengetahui apa yang dilakukan Bai Yu melalui surat kilat yang dikirim oleh Zhang Er Bao.

Daniang tak pernah tahu kamu latihan kungfu. Mengapa harus sembunyi-sembunyi, Bai Yu?” tanya Qhing Gongzhu dengan maksud menginterogasi.

“Apakah aku belajar diam-diam juga harus dijadikan masalah besar? Sebenarnya aku sengaja untuk memberi kejutan pada Fuqin. Hal seperti itu, aku harus lapor dulu?” Bai Yu menjawab dengan nada terganggu. Pikirannya benar-benar terganggu karena masalah seperti itu harus diributkan.

Jawaban seperti itu mau tak mau Qhing Gongzhu harus diam tak menanyakan lagi. Tapi keterangan yang ia dapat dari Zhang Er Bao dan kemudian ditanyakan pada Zhang Yi Lang, menurut mereka, setiap gerakan Bai Yu kala melawan Qing Pang Liao seolah-olah sudah belajar ilmu pedang sebelumnya. Dari caranya menggenggam pedang, kekuatan genggaman, langkah kaki dan kekuatan kuda-kuda, semua menunjukkan hal itu.

Dalam rombongan kereta kuda, selain Zhang Sha Hai dan kedua putranya, hanya Xiao Tian dan Huo Mei Er yang menguasai kungfu. Akan tetapi Xiao Tian bungkam ketika ditanyakan masalah itu. Nampak seperti mulutnya penuh oleh suapan dari Bai Yu hingga tak lagi bisa bicara. Sedangkan Huo Mei Er dan Zhang Sha Hai mabuk dalam rasa bangga mereka membuat kedua orang itu tak lagi berpikir jernih.

Kalau demikian, siapakah Bai Yu? Mengapa ia menyembunyikan kemampuan kungfunya?

Zhang Er Bao memberi usul agar mereka menyelidiki asal-usul Bai Yu. Ia takut kalau ternyata Bai Yu adalah mata-mata yang ditempatkan dengan berpura-pura menjadi anak lain ayahnya yang hilang.

Siapa yang bisa membuktikan giok itu benar-benar milik Bai Yu yang ada di hadapan mereka? Bisa jadi giok itu direnggut Bai Yu dari anak yang seharusnya benar-benar anak lain ayahnya. Itu hasil analisa Zhang Er Bao.

Zhang Yi Lang menganggap ketakutan adiknya tak wajar. Tapi di sisi lain juga, ia tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya. Zhang Yi Lang terus menerus membayangkan jika ternyata Bai Yu memang ahli kungfu seperti dugaan mereka, dengan bantuan Bai Yu, Beicheng sebagai kota paling utara negara mereka tentunya aman dari suku pengembara liar yang sering kali menyerang penduduk di luar kota tersebut.

***

Berulang kali Zhang Yi Lang, Zhang Er Bao dan Qhing Gongzhu membujuk Zhang Sha Hai agar menyelidiki asal-usul Bai Yu. Akhirnya usaha mereka sedikit membuahkan hasil karena Zhang Sha Hai mulai meragukan cerita Bai Yu bahwa ia diam-diam latihan demi membuatnya senang.

Mereka benar-benar tak sadar ketika hal itu dibicarakan, Bai Yu ada di luar pintu kamar. Dan dengan bakat pendengarannya, sekalipun mereka itu bicara dengan suara pelan, Bai Yu dapat mendengar dengan jelas.

Jelas Bai Yu sangat kecewa. Baginya tak masalah semua orang mencurigai dia asal ayahnya dan Huo Mei Er tidak demikian. Tapi ternyata ayahnya juga mulai mencurigai. Mungkin tak perlu menunggu waktu lama, Huo Mei Er juga akan seperti itu. Lalu apa yang harus dipertahankannya dengan tinggal di kediaman keluarga Zhang dan di Jingcheng ini? Sejak itu, ia tak pernah pulang sebelum jam makan malam.

Balai pengobatannya memang sudah selesai masa renovasi bahkan sudah mulai dibuka untuk masyarakat. Hal tersebut membuatnya punya alasan untuk tidak pulang sebelum larut malam, yaitu tetap menerima pasien sekalipun kegelapan malam telah menelan bumi.

Kalaupun tak ada pasien yang datang kepadanya, ia akan duduk diam di ruang baca membaca tumpukan buku-buku miliknya atau bereksperimen dengan bahan-bahan obat yang beraneka ragam itu.

Bahkan dalam musim panas ini, ia hanya satu dua kali bertemu dengan Huo Mei Er, tak peduli hari pernikahan mereka semakin mendekat. Kali pertama adalah saat Zhang Yi Lang menikah dan ia dipaksa meliburkan balai pengobatannya untuk hadir di acara itu. Kali kedua adalah saat mendatangi Su Laogong dan ternyata Huo Mei Er juga ada di sana.

~~~

“Bai Yu Ge, kenapa?” tegur Huo Mei Er tak sabar lagi karena perubahan sikap Bai Yu.

“Maaf, Mei Er. Aku sedang sibuk. Tak bisa menemanimu,” hanya itu jawaban yang diberikan Bai Yu sebelum pergi meninggalkannya. Mau tak mau, ditariknya Xiao Tian untuk menggantikan Bai Yu menjawab.

“Saya benar-benar tidak tahu, Huo Guniang,” jawab Xiao Tian merengut. “Tapi… Gongzi mulai seperti ini sejak beberapa hari setelah kembali dari Gunung Nan.”

“Lalu apa saja yang dilakukan dia? Apa memang benar-benar sibuk?” Huo Mei Er bertanya dengan muka merengut. Kesal, gemas bercampur cemas semua itu membanjiri hatinya.

“Memeriksa pasien yang datang, memenuhi panggilan keluarga pasien, membaca buku, mencampur-campur bahan obat. Menurut saya selain memeriksa pasien dan datang kala orang butuh, sisanya bukan sesuatu hal yang penting.”

“Apakah Bai Yu Ge hendak membatalkan pernikahan?” kali ini Huo Mei Er sudah teramat pusing dengan perubahan sikap Bai Yu.

Tak ada yang dapat dilakukan Xiao Tian selain mengangkat bahu tanda tak mengerti. Sebagai seorang pengawal, mana mungkin ia diizinkan ikut campur dalam urusan pribadi tuannya ini.

~~~

Beberapa hari kemudian, tak tahan karena diacuhkan Bai Yu terus menerus dengan alasan tak ada di tempat atau sibuk, Huo Mei Er nekat menunggu Bai Yu di jalan pulang ke kediaman keluarga Zhang. Hari ini juga semua masalah harus jelas, tekadnya.

Malam sudah mulai larut. Kira-kira sudah di pertengahan haishi[14] ketika Bai Yu mulai nampak di ujung jalan. Huo Mei Er berlari mendekati dan menghadang. “Bai Yu Ge, kita harus bicara. Sekarang!”

Bai Yu mengira, Huo Mei Er menghadangnya seperti ini dan meminta bicara sekarang juga adalah untuk membatalkan pernikahan mereka. Dengan dasar itu, ia menyuruh Xiao Tian agar meninggalkannya sendiri. Demikian juga Huo Mei Er, disuruhnya Qian’er untuk menyingkir. Sedangkan mereka pergi ke paviliun tepi sungai yang membelah Jingcheng.

“Mengapa Bai Yu Ge selalu menghindar bertemu denganku? Apakah Bai Yu Ge sengaja agar aku membatalkan pernikahan kita?”

“Apa yang kamu suka dariku, Mei Er?”

“Bai Yu Ge orang yang baik dan rendah hati. Bai Yu Ge tidak seperti wangzi dan gongzi kaya raya pada umumnya yang tinggi hati dan memamerkan kekayaan mereka.”

“Hanya karena itu? Lalu bagaimana kalau aku seorang pembunuh yang sedang menyamar?”

Huo Mei Er tertawa tergelak-gelak. “Mana mungkin?” lalu ia kembali tertawa sekali lagi. “Candaan Bai Yu Ge terlalu konyol!” ujarnya sambil berusaha menahan tawa

“Kalau aku pernah membunuh puluhan orang, kalau aku punya banyak musuh?”

Tawa Huo Mei Er justru semakin parah setelah mendengarnya. “Tengah malam seperti ini Bai Yu Ge masih ingin bercanda? Sebenarnya apa yang ingin Bai Yu Ge katakan?”

“Kita batalkan saja pernikahan itu.” Mendengarnya Huo Mei Er tergagap tak bisa bicara apapun. Dengan usaha teramat keras ia baru bisa bertanya satu kata ‘mengapa’.

“Yang kukatakan tadi benar adanya. Aku juga sudah tidak sanggup terus tinggal di Jingcheng. Maka aku sudah memutuskan untuk pergi.”

“Ke mana?” air mata Huo Mei Er mulai menggenangi pelupuknya. Tanpa bisa ditahan, mereka tumpah saat Huo Mei Er memeluk pinggang Bai Yu tak mengizinkan Bai Yu pergi darinya. “Jangan tinggalkan Mei Er! Aku mohon, jangan tinggalkan Mei Er, Bai Yu Ge! Kalau Bai Yu Ge pergi, aku harus ikut.”

Tubuh Bai Yu begitu kaku mendengar rengekan Huo Mei Er seperti itu. Ingin ia membalas dekapan itu tapi… jika dilakukannya hanya akan memperberat mereka di kemudian hari.

“Eh…., mantan calon istriku tengah malam seperti ini kenapa menangis?” dari suaranya, Huo Mei Er sudah bisa menerka bahwa yang datang adalah Wen Gongzi, orang yang dulu pernah melamar namun ditolaknya. Saat ini pasti orang itu tengah mabuk.

“Ck ck ck.. rupanya dia ini calon suamimu.” Sembari berkata, Wen Gongzi berjalan mengitari Bai Yu seolah Bai Yu adalah patung yang akan dibelinya sehingga harus dicermati dengan seksama.

Huo Mei Er yang tadinya menangis sedih kini menjadi tegang. Ia tidak akan pernah lupa bagaimana perangai Wen Gongzi. Terlebih di tengah malam ini, Wen Gongzi membawa anak buahnya sedangkan Bai Yu hanya bersama dia.

“Apa hebatnya dari dia?” tanya Wen Gongzi lagi dengan mengelus dagunya yang licin karena kumis dan jenggot selalu dicukur bersih.

“Hebatnya Bai Yu Ge bukan preman kurang ajar seperti kamu, mengerti?” sahut Huo Mei Er mulai emosi. “Minggir!!!” Huo Mei Er menerabas Wen Gongzi sembari menarik Bai Yu pergi. Ia tak melihat gerakan tangan Wen Gongzi yang menyuruh anak buahnya turun tangan ‘menjahili’ Bai Yu.

Entah apa yang diminum Wen Gongzi sampai seorang pangeranpun berani ia pukuli. Lucunya, Bai Yu juga tidak melawan dengan mengeluarkan kungfu atau tenaga dalamnya. Ia membiarkan dirinya dipukuli sedemian rupa persis seperti orang-orang memperlakukan An Bei.

Di kala itu, Wen Gongzi menarik tangan Huo Mei Er dan menahannya erat hingga tak ada yang bisa dilakukannya untuk menolong Bai Yu. Huo Mei Er menangis kalut melihat Bai Yu dipukul dan ditendangi seperti itu.

Tak terlalu jauh dari mereka, pendeta tertinggi kuil Yangqiu, Wu Chang Dashi[15] lewat bersama muridnya, Ru Kuang. Sebagai murid dari pendeta tertinggi kuil Yangqiu, Ru Kuang tak mungkin mengampuni kejadian yang terjadi di depan mata kepalanya sendiri. Ia sudah hampir maju melerai dan menolong orang yang dipukuli beramai-ramai itu tapi Wu Chang Dashi justru menarik tangannya dan memintanya menunggu sesaaat lagi.

Di saat yang sama, Wen Gongzi mulai bertindak kurang ajar pada Huo Mei Er. Melihat gadis yang dicintainya diperlakukan tak hormat, Bai Yu marah bukan kepalang. Dalam pukulan dan tendangan yang diarahkan padanya, ia mengambil butiran obatnya lalu melemparkan semua obat itu ke arah Wen Gongzi. Sama sekali Bai Yu tak mengira ada pendeta yang melihat aksinya itu.

“Lihat,” kata Wu Chang Dashi pada muridnya. “Tenaga dalamnya justru lebih hebat darimu.”

Diserbu oleh puluhan benda yang menghantam dirinya, Wen Gongzi marah bukan kepalang. Ia berteriak-teriak memaki bahkan termasuk anak buahnya pun dimaki disangkanya mereka yang diam-diam melempar.

“Aku yang melakukan.” Ucapan ini dikatakan oleh Wu Chang Dashi dalam nada bijak.

“Kau? Dasar busuk! Apa maksudmu, hah?” omel Wen Gongzi.

“Apa salah Gongzi ini padamu sampai kau memukulinya sedemikian rupa?”

Terbebas dari cekalan tangan Wen Gongzi, Huo Mei Er berlari melerai anak buah Wen gongzi yang masih mengitari bai Yu. Dibantunya Bai Yu berdiri lalu membantu Bai Yu menebaskan baju dari kotoran.

“Wen Gongzi, apa kamu sadar masalah apa yang akan menimpamu?” ancam Huo Mei Er. “Kau tidak ingat status Bai Yu Ge? Dia adalah Da Yao Wangzi, cucu angkat Huangshang. Lihat saja! Aku akan melaporkan kejadian ini pada beliau agar dia mencincang badanmu!”

“Cukup, Mei Er! Kau tidak boleh menyalahgunakan status. Kelakuan seperti itu sama saja dengan kelakuan manusia rendahan,” ucap Bai Yu dengan melirik Wen Gongzi. “Kita pulang,” katanya lagi.

Wu Chang Dashi terdiam mendengar ucapan Huo Mei Er dan Bai Yu terakhir. Berarti, pemuda inilah yang sedang ramai dibicarakan masyarakat tak hanya di Jingcheng. Orang yang menyelamatkan desa Tu dari wabah penyakit dan menolong Qhing Gongzhu kemudian diangkat sebagai cucu oleh kaisar sendiri. Tenaga dalamnya sangat tinggi. Apakah Chu Langzhong seorang tabib yang menguasai tenaga dalam? Sepertinya juga tidak.

Bai Yu tidak pulang ke kediaman keluarga Zhang. Ia justru kembali ke balai pengobatannya. Diambilnya salep obat luka dari laci lalu masuk ke dalam kamar baca di halaman belakang.

Huo Mei Er dengan setia mengikuti setiap langkah kakinya. Wajahnya benar-benar cemas melihat luka lebam di wajah Bai Yu. Ia tahu, di tubuh Bai Yu luka seperti itu juga pastinya banyak.

“Aku bantu oles,” Huo Mei Er bicara sambil merebut bungkusan obat dari tangan Bai Yu. Kemudian ia menarik baju Bai Yu. Kali ini tak ada lagi malu-malu seperti ketika ia melihat sebelah punggung Bai Yu saat terkena luka panah dulu.

Huo Mei Er benar-benar menarik lepas baju Bai Yu sampai seluruh punggung dan dadanya terlihat. Ketika melihat luka di sana, ia meringis pedih dengan berkata, “Bukankah Bai Yu Ge menguasai ilmu kungfu keluarga Zhang? Mengapa tidak kau gunakan saja? Lihat lukamu ini….”

Tak menjawab sepatah katapun, Bai Yu duduk membelakangi meja di ruangan itu. Hal ini memberikan kesempatan bagi Huo Mei Er melihat detail punggung Bai Yu yang dipenuhi luka memar.

“Demikian cintanyakah Bai Yu Ge pada giok hingga membuat tato huruf itu di tengkukmu?” tanya Huo Mei Er polos. “Eh, bekas luka apa ini, Bai Yu Ge?” dengan perlahan ia meraba bekas luka tersebut. Gerakan tangannya begitu hati-hati seolah takut bekas luka itu masih menimbulkan sakit. “Lu… luka tusuk…an… pe… dang…? Ba… ba… gai.. .mana… mung… kin…?” kemudian Huo Mei Er terdiam memandangi Bai Yu bingung.

Bai Yu melirik Huo Mei Er dan membuang nafas dengan cepat seolah tak ada kesempatan lagi untuk melakukannya. “Baiklah, kau sudah melihatnya aku juga tidak perlu menutupinya lagi. Mungkin juga setelah tahu hal ini, Mei Er akan merasa rencana pernikahan cukup sampai di sini saja.”

Ditutup jendela dan pintu setelah memastikan tak ada orang di sana lalu ia berdiri membelakangi Huo Mei Er.

“Tato itu ada sejak aku dibabtis sebagai pengikut Baiyu Jiao. Hampir dua puluh tahun yang lalu,” kata-kata ini terucap seolah sedang berusaha mengingat isi dari sebuah kitab Laozi atau pemikir besar lainnya. Ia ucapkan perlahan tampak takut ada yang menguping pembicaraan.

“Bai Yu Ge… pengikut… Baiyu Jiao?” kalau bernafas bukan sesuatu yang otomatis, Huo Mei Er sudah melupakan caranya. “Lalu apa tujuan Bai Yu Ge ke Jingcheng? Apakah untuk membunuh seseorang?”

Tersentak kagetlah Bai Yu mendengar. Ia tak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Ia menghela nafas, baru menjawab. “Sebelum hari pernikahan tiba, kau akan mendengar berita kematianku. Tapi tenang saja, berita itu bukan karena bunuh diri sebab aku tak akan menodai kehormatan keluarga kalian.”

Buru-buru Bai Yu mengenakan pakaiannya kembali. Ia hampir mendekati pintu ketika Huo Mei Er kembali memeluk pinggangnya dari belakang melarangnya untuk pergi. “Maaf, Bai Yu Ge. Aku bukan mencurigai. Aku cuma bercanda. Aku sering dengar cerita pengikut Baiyu Jiao melaksanakan tugas dalam penyamaran. Aku… aku….”

“Semuanya tidak penting, Huo Guniang. Memang seharusnya kita tidak perlu bertemu.” Bai Yu mengenakan pakaiannya kembali. Tak peduli ia dengan rasa perih ketika luka tersebut terkena kain bajunya. Perih di hatinya yang saat ini lebih terasa.

Huo Mei Er merasa hatinya sangat tersiksa ketika Bai Yu tak lagi memanggilnya Mei Er seperti biasa. Dengan memanggilnya Huo Guniang, ia merasa ada jarak yang sangat jauh memisahkan mereka.

“Bawa aku pergi. Aku tidak mau kehilangan Bai Yu Ge.”

Bai Yu diam tak menjawab.

“Aku akan bunuh diri jika Bai Yu Ge meninggalkan Mei Er.”

Bai Yu buru-buru membalikkan badan karena terkejut dengan ancaman itu. “Suami bibimu mungkin mati di tanganku, mengerti?”

“Aku tidak peduli. Gugu menikahi marga Fan tanpa persetujuan Yeye. Ia sudah tahu resikonya dalam pernikahan itu.”

“Kau tahu siapa aku sebelum bertemu Gan Yeye?”

“Jika Bai Yu Ge tidak cerita padaku, aku tidak tahu. Sampai sekarang pun aku tidak tahu,” ucap Mei Er dengan mata memancarkan harapan agar diberitahukan.

“Bai Leng Yu adalah nama yang diberikan Fan Ku dan Zhu Xu.”

Mendengarnya, Huo Mei Er terperangah. Bukan takut namun takjub. “Bai Yu Ge yakin tidak sedang bohong padaku? Semua orang juga tahu Chu Langzhong tidak menerima dan tidak mau mengobati pengikut Baiyu Jiao.”

“Ya. Dia hampir melakukan itu jika saja giok ini tidak terlihat olehnya,” Bai Yu memegangi giok yang telah mempertemukan ia dengan Zhang Sha Hai. “Setelah melihatnya, barulah ia bersedia menolong. Itupun dengan syarat aku putus hubungan selamanya dengan Baiyu Jiao. Waktu itu, Fan Jiaozhu sampai bersumpah akan memburu dan membunuhku jika kugunakan nama Bai Leng Yu dan atau menganggap diri sebagai anggota Baiyu Jiao.”

“Apa Bai Yu Ge lupa? Aku pernah cerita kalau sangat menyukai kisah Bai Leng Yu. Ketika semua orang membicarakan kematiannya, aku justru berharap ia tidak benar-benar mati.”

Melepaskan pelukannya, Huo Mei Er bercerita dengan menundukkan kepalanya, “Aku paling suka kalau pendongeng menceritakan kisah penyerangan itu. Aku selalu membuatnya mengatakan puluhan bahkan ratusan kali bagaimana Bai Leng Yu mengalahkan Shi Bui Yi.”

“Kamu ini gadis yang aneh.”

“Ketika pendongeng bercerita bahwa Bai Leng Yu telah meninggal, aku membuatnya bercerita bahwa Bai Leng Yu tidak mati. Ia hanya hidup di tempat lain dengan nama lain karena lelah dengan pertikaian dunia persilatan. Kubayar berapapun juga asal dia lakukan itu. Tak kusangka, sebagian besar cerita yang kupaksakan itu benar adanya. Jadi mana mungkin aku membiarkan Bai Yu Ge meninggalkanku setelah tahu Bai Yu Ge adalah Bai Leng Yu?”

Menghela nafas karena kalah argumen, Bai Yu baru bertanya, “Kau tahu resikonya? Musuhku ada di mana-mana. Semuanya menginginkan nyawaku jika mereka tahu aku belum mati. Bahkan Baiyu Jiao sekalipun, Mei Er! Tidak ada dalam kamus Baiyu Jiao istilah keluar. Sekali menyatakan sumpah, seumur hidup bagian dari mereka. Orang sepertiku jika ketahuan mereka, akan diburu ke mana pun, termasuk keluarga bahkan sahabat. Dan tak tertinggal Fan Jiaozhu yang sengaja melepaskan dan menyebarkan berita kematianku. ”

“Aku tidak peduli. Asal aku bersama Bai Yu Ge. Asal aku menjadi istri Zhang Bai Yu.”

“Tak lama lagi Zhang Bai Yu akan mati.”

“Jadi apapun Bai Yu Ge, aku tak peduli. Pergi kemanapun Bai Yu Ge, aku harus ikut.”

“Ikut denganku, artinya kau putus hubungan dengan orangtuamu, mengerti?”

Gugu berani melakukannya, mengapa aku tidak? Kalau Bai Yu Ge berani meninggalkan Mei Er, aku akan bunuh diri.”

Lama kelamaaan Bai Yu menjadi tak tega. Apalagi ancaman Huo Mei Er yang akan bunuh diri jika ia berani meninggalkannya. Suatu hal mustahil bagi Bai Yu membiarkan Huo Mei Er menghabisi nyawanya sendiri.

“Rahasiakan semua ini. Setelah berita kematianku, aku pasti akan menjemputmu.”

“Bai Yu Ge harus janji. Kalau sampai tidak menjemput, Mei Er akan–”

“Cukup!” potong Bai Yu dengan tangan menutupi mulut Huo Mei Er. “Apa yang kukatakan pasti kulakukan. Sekarang pulanglah. Kiranya zishi pun telah berlalu. Qian’er pasti sudah sangat panik mencarimu.”

“Bai Yu Ge juga?”

Bai Yu menganggukkan kepalanya. Ia tahu hari-hari berikutnya akan disibukkan dengan persiapannya. Tak mungkin dibiarkannya ada kekurangan sedikitpun karena bisa berakibat fatal. Baginya juga Huo Mei Er.

“Tapi Bai Yu Ge….” Bai Yu mengira Huo Mei Er berubah pikiran. Ia hampir saja menyuruh gadis itu pulang ketika Huo Mei Er melanjutkan ucapannya, “Kita harus menikah dulu. Suatu hal yang dikuatirkan Niang adalah tentang pernikahanku. Aku ingin Die dan Niang bisa sedikit terhibur.”

Tanpa bicara apapun, Bai Yu hanya menganggukkan kepala.

***

[1]Waigong : kakek luar, kakek dari pihak ibu
[2]Yuefu : ayah mertua; ayah dari pihak istri
[3]Niang-niang : panggilan untuk selir di istana
[4]Gong-gong : panggilan untuk kasim.
[5]Bai : mengatupkan tangan untuk memberi hormat.
[6]Shichen : satuan jam China. Setara dengan dua jam saat ini
[7]Gugu : bibi; adik ayah
[8]Dasao : kakak ipar; istri dari kakak laki-laki
[9]Guzhang : suami dari bibi adik ayah
[10]Xia yang berarti pendekar : ‘侠’ sedangkan xia yang berarti sempit/berpikiran sempit : ‘狭’ (keduanya dibaca xia dengan nada 2)
[11]Persinggahan Gunung Hijau : Puisi yang ditulis oleh Li Bai, penyair dinasti Tang. Diterjemahkan dari http://www.mountainsongs.net/
[12]Sambungan puisi Persinggahan Gunung Hijau
[13]Bu : satuan panjang China kuno. Pada masa peralihan dinasti Tang ke Song 1 bu sekitar 6chi atau setara dengan 1,773 meter (1 chi = 0,2966 meter)
[14]Haishi : nama satuan jam China, sekitar pukul 21.00-23.00
[15] Dashi: guru besar

4 Komentar
  1. panda permalink

    jiaah, si mei er ini. jam 10 malam masih berkeliaran di luar, sampe tengah malam pula. gak ada jam malam yah ma emaknya? hehehe

  2. emaknya dah ga sanggup ngelarang lagi. kan mei er bocah bandel…

  3. panda permalink

    kalo dilarang ma bai yu ge nya dia bakal nurut gak?

  4. Liat aja ntar.. hihihi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: