Skip to content

Bab 8

Bai Yu baru saja meninggalkan kedai tahu ketika Zhu Bu datang. Jika saja Bai Yu keluar dari arah yang sama dengan tempat Zhu Bu masuk, mereka akan bertatap muka. Tapi waktu itu Bai Yu terburu-buru pergi menyusul Xiao Tian yang berusaha mengejar pembunuh gagal. Ia pergi ke arah kanan pemilik kedai. Sedangkan Zhu Bu masuk dari arah depan pemilik kedai.

Kala Zhu Bu masuk, si marga Lu masih berlutut gemetar menatap punggung Bai Yu yang telah pergi menjauh darinya. Hal itu membuat Zhu Bu heran. Ia bertanya sembari ikut memandangi punggung Bai Yu sesaat barulah memperhatikan pemilik kedai. “Kenapa? Apa orang itu buat masalah denganmu?”

Masih gemetar, si marga Lu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Matanya tetap berfokus pada jalan yang dilalui Bai Yu tak peduli tubuh orang itu pun tak lagi terlihat.

“Dia pergi ke arah sana?” pertanyaan Zhu Bu ini diajukan dengan nada tergesa dan cukup marah. Kakinya hendak bergerak melangkah ke arah perginya Bai Yu namun tangannya ditarik oleh marga Lu.

“Jangan ganggu Da Yao Wangzi, Gongzi. Kumohon… Aku yang salah. Aku… Tidak seharusnya aku menuruti musuhnya menaruh racun di sup tahu. Untung saja… untung saja….”

Zhu Bu benar-benar tidak sabar lagi. Tapi orang di hadapannya ini masih larut dalam kekalutannya, kekuatirannya. “Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?”

Orang ini benar-benar ketakutan. Tak hanya lutut yang gemetar, tangannya dan bahkan bibirnya pun gemetar ketika menjawab pertanyaan Zhu Bu. “Ada… ada yang… memaksaku menaruh… racun… di sup tahu… Da Yao Wangzi. Aku… aku… aku tidak mau… tapi… tapi dia… mengancamku… dia… dia…” selagi menjawab, terus menerus tangannya saling mengusap berusaha mengurangi ketakutannya. Namun usaha itu nampaknya tak memberi pengaruh berarti.

Da Yao Wangzi… baru kudengar ada wangzi dengan gelar seperti itu. Tapi mana mungkin seorang wangzi bersedia makan di kedai seperti ini? Apakah orang ini hanya melantur? Atau salah mengenali orang?

“Anak-anakmu?”

Ia dan Bai Leng Yu sering melakukan komunikasi dengan orang ini sebelum merencanakan pembunuhan terhadap Yuan Feng. Karena itu Zhu Bu hafal bahwa orang yang masih berlutut dengan wajah ketakutan ini memiliki dua orang anak perempuan.

Mendadak pemilik kedai teringat dan wajahnya bertambah cemas. Seketika itu pula ia bangkit dari posisi berlutut dan berlari meninggalkan kedainya.

*

Di rumah, semua tampak normal. Kedua putrinya baru selesai makan ditemani tetangga rumah. Setiap hari ia menitipkan kedua putrinya pada tetangganya itu.

Setelah gagal membunuh musuhnya, orang itu tidak mungkin melepaskan dia. Malam ini pasti orang itu akan bergerak. Kira-kira, apa yang dilakukannya?

Kali ini Zhu Bu meminjam gaya serius Bai Leng Yu ketika sedang berpikir. Ia melipat tangan kirinya di atas dada. Siku tangan kanan bertengger tepat di atas punggung tangan kiri. Dan jari telunjuk tangan kanan mengetuk-ketuk pelan kening.

Bai Leng Yu selalu cepat menemukan dan beradaptasi dengan cara kerja musuhnya. Mungkin jika ia meminjam gaya berpikir Bai Leng Yu, cara kerja mereka juga akan cepat terpikir.

“Siapkan air sebanyak-banyaknya,” perintah Zhu Bu kemudian.

Rumah ini letaknya di luar tembok Jingcheng. Jarak dengan rumah tetangganya terpaut cukup jauh. Bahan utama rumah inipun kayu. Kemungkinan terbesar, sang musuh akan menggunakan api untuk melenyapkan marga Lu.

Dibandingkan dengan pembantaian, menggunakan api lebih mudah. Sang musuh bisa membuat seolah-olah api itu datang karena ketidaksengajaan penghuni rumah. Beda dengan pembantaian massal yang akan mendatangkan tanda tanya besar.

Sebenarnya tanpa menggunakan gaya Bai Leng Yu ketika menganalisa pun, jawaban ini juga dengan mudah Zhu Bu dapat. Karena ia seorang yang cerdas namun kecerdasannya tersembunyi oleh ketergantungannya pada Bai Leng Yu. Tiadanya Bai Leng Yu memaksa Zhu Bu untuk berpikir seorang diri. Seperti kata Ku Youzhu, meninggalnya Bai Leng Yu adalah cara terbaik untuk menempa bakat Zhu Bu.

Malam pun bertambah larut. Zhu Bu benar-benar menunggu di halaman depan rumah marga Lu. Di sekitarnya terdapat tidak kurang dan sepuluh gentong dan ember kayu besar penuh air tersebar di mana-mana.

Ia duduk di salah satu dari empat bangku yang mengelilingi meja sederhana berbentuk kotak di tengah halaman. Baik meja pun bangku semuanya terbuat dari kayu kasar. Sama sederhananya dengan rumah yang menjadi latar belakang Zhu Bu menikmati arak.

Arak yang diminum Zhu Bu juga bukan arak terbaik. Namun ia tak peduli. Yang terpenting bisa minum arak. Karena minum arak membantu melepaskan kecenderungannya untuk terburu-buru. Dengan arak, ia bisa lebih tenang dalam penantian.

Kiranya zishi[1] pun telah berlalu. Waktu yang telah terlewati sudah lumayan panjang dengan menghitung sejak petugas waktu lewat.

Tadi, seperti biasa di kala tengah malam, petugas waktu berteriak dan memukul gentanya dengan irama tertentu. Dengan demikian, penduduk yang masih belum tidur tahu kalau malam telah larut.

Zhu Bu benar-benar sudah tidak sabar lagi. Ia tahu hari ini juga sang musuh pasti akan datang guna menghabisi nyawa si marga Lu. Tapi kapan waktu pastinya?

Si marga Lu sekali lagi keluar dari rumah membawa guci arak bagi Zhu Bu. Kemudian ia turut duduk di bangku lainnya, menghadap Zhu Bu. Ia tegang, cemas dan tak sabar tapi juga tak tahan mengomentari perilaku Zhu Bu.

“Dulu juga pernah pengikut Baiyu Jiao datang. Ada dua orang, satunya pendiam dan satunya sangat ceriwis. Begitu ceriwisnya hingga kedua putriku ikut ramai.

Menghela nafas berat, Zhu Bu menjawab, “Yang pendiam itu sudah meninggal.”

Tiba-tiba Zhu Bu terdiam. Kupingnya tegak waspada. Bau asap tercium dari tempat mereka duduk. Dengan senyum senang, ia berpesan pada marga Lu, “Baik-baiklah kamu bersembunyi. Pesta penyambutan sudah waktunya dimulai.” Kemudian ia berdiri, melompati rumah bersembunyi di balik wuwungan atap.

Marga Lu juga bangkit dari duduknya. Ia cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Suasana rumah kembali hening dan gelap. Bahkan nyala api lilin pun tak ada. Sedangkan di luar, malam menjadi terang. Obor yang dibawa musuhlah penyebabnya.

Kiranya orang itu tak hanya satu. Melainkan ada lima atau enam orang. Dan hanya satu orang yang tidak membawa obor. Bisa dibayangkan bagaimana terangnya dengan lima obor menyala sekaligus.

Semua orang itu menyerbu rumah. Masuk dari pintu yang sengaja tidak dikunci. Benar-benar tak sadar oleh maut rupanya. Didekatinya setiap pintu dan jerami. Mereka membakarnya dengan obor yang mereka bawa.

Tiba-tiba, semua air dari ember dan gentong naik ke atas hingga nyaris setinggi atap rumah. Semakin tinggi air itu naik, maka ia semakin dingin dan membeku. Tak sempat mereka terperangah karena udara dingin menghempas mereka dari segala arah dan dalam waktu yang sama, air yang kini telah menjadi es berbalik turun menghajar mereka juga api yang mereka buat.

Api itu mati. Hanya meninggalkan kepulan asap.

Bau asap tercium memenuhi rongga dada. Sesak, teramat sesak. Asap itu datang dan terus datang, masuk dari setiap lubang berusaha memenuhi udara di ruangan bawah tanah yang tersembunyi di balik dipan dalam rumah si marga Lu. Ruangan tempat ia dan kedua putrinya bersembunyi sesuai perintah Zhu Bu. Dan yang bisa dilakukannya adalah membantu anak-anaknya menutup hidung mereka.

Ia yakin sang Pelindungnya, pengikut Baiyu Jiao yang datang ke rumahnya hari ini pasti bisa melindunginya dari musuh. Musuh itu sebenarnya musuh Da Yao Wangzi. Sialnya, ia kena getah di tengah pertikaian mereka.

Para penyerang kalang kabut menghindari serbuan es. Hanya satu orang yang cukup lihai menghindari dan menebas es yang turun menghujamnya. Orang itu adalah yang tidak membawa obor. Ia hanya membawa pedang dan setiap waktu memberi perintah-perintah. Kiranya ia yang memimpin penyerangan malam itu.

Ketika hujan es itu selesai – karena air sudah habis – Zhu Bu datang dari balik wuwungan atap dengan ilmu meringankan tubuh. Ia turun dalam posisi menyerang, siap untuk membunuh pemimpin musuhnya malam ini.

Musuh Zhu Bu kali ini ilmu kungfunya cukup baik. Kiranya ia murid dari seseorang pesilat yang telah lama menghilang dari dunia persilatan. Karena ilmu silat yang dikuasainya berbeda dari yang pernah ditemui oleh Zhu Bu.

Orang ini wajahnya tidak cacat namun juga tidak bisa dikatakan tampan. Sekalipun demikian, ia memiliki sesuatu sehingga bisa memerintah orang-orang dan mereka menurut padanya.

Mungkin suatu kharisma. Kharisma yang juga dimiliki oleh Bai Leng Yu. Tapi kadar mereka berbeda. Memang Bai Leng Yu jelas lebih unggul dalam memancarkan kharismanya. Namun orang ini juga tidak dapat dianggap remeh.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, mereka saling menyerang. Berkenalan pun tidak. Kedua orang itu benar-benar bertarung. Menggunakan ilmu kungfu terbaiknya untuk membunuh lawan. Sekalipun ilmu meringankan tubuh orang ini tidak begitu baik, kemampuan kungfunya bukan kelas kacang.

Puluhan jurus telah dikeluarkan. Tampaknya orang itu sadar bahwa si marga Lu memiliki pelindung yang sangat kuat di belakangnya. Hal tersebut membuatnya berpikiran untuk mundur. Sebab itu, langkahnya selalu bergerak ke belakang. Keluar dari halaman rumah marga Lu sampai akhirnya mendekati gerbang barat Jingcheng.

Sampai di sini, Zhu Bu tentu mengerti apa yang diinginkan musuhnya ini. Ketika orang itu berusaha melompati tembok dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tak begitu baik, Zhu Bu mengeluarkan pisau kecilnya dan melemparkan benda tersebut pada sang Musuh.

Pisau yang dilempar Zhu Bu telak menancap pada punggung orang itu. Pisau tersebut segera membuat lawannya ambruk dan menabrak helai-helai rumput yang menutupi permukaan tanah. Setelah yakin orang itu telah meninggal, Zhu Bu mendekati dan memeriksa bawaannya.

Kediaman Tian Wei Wangzi? Berarti… yang menyuruh penjual tahu ini membunuh Da Yao Wangzi adalah Tian Wei Wangzi?

Zhu Bu menghela nafas berat menatap plakat yang ditemukan pada balik pakaian orang itu.

Masalah yang dihadapi marga Lu terlalu besar.

Sembari memikirkan hal itu, ia pergi meninggalkan mayat di balik rimbun rumput setinggi pinggang.

Kembali ke rumah marga Lu, Zhu Bu berlari masuk ke dalam rumah, membongkar dipan dan pergi ke dalam terowongan yang ditemukan.

“Kau harus segera pergi,” ucap Zhu Bu tegas. Hal tersebut tentu membuat marga Lu bingung. Namun Zhu Bu sepertinya mengerti apa yang membuat orang ini bingung. “Masalah tugasmu biar aku yang mengatasinya. Aku akan meminta jiaozhu menempatkan orang lain sebagai penggantimu.”

“Tapi… tapi…,” perintah yang mendadak dan ia juga tidak tahu jabatan pemuda yang berdiri di hadapannya membuat si marga Lu tak berani berbuat seperti yang diperintahkan.

Dengan gerakan yang seperti terpaksa, Zhu Bu merogoh balik pakaiannya. Dikeluarkannya plakat tanda jabatan, “Zhuyaozhu Baiyu Jiao. Melihat ini, perintahku tidak kau dengar?”

Serta merta si marga Lu berlutut  menyembah meminta ampun. Status zhuyaozhu hanya setingkat di bawah jiaozhu. Dia tidak di bawah guwen juga tidak di atasnya. Kedudukan zhuyaozhu lain dari yang lain dan tak bisa dibandingkan dengan jabatan apapun juga dalam struktur organisasi Baiyu Jiao karena dari merekalah jiaozhu generasi berikutnya akan dipilih. Dan dibandingkan dengan kedudukan marga Lu, si marga Lu ini benar-benar di bawah. Bersoja pada mereka adalah hal yang pantas sekalipun umur mereka lebih muda darinya.

“Sudahlah. Lakukan saja seperti apa yang kukatakan. Masalah lainnya serahkan padaku.”

Zhuyaozhu, boleh saya minta tolong pada Anda?” melihat gerak wajah Zhu Bu, ia langsung melanjutkan. “Aku ingin menitipkan kedua putriku pada Anda.”

Terdengar kedua anaknya menjerit protes tak ingin berpisah dengan ayahnya. Tapi si marga Lu ini tetap bersikeras, katanya, “Tugasku sangat berbahaya. Aku tidak ingin kedua putriku menanggung akibat dari tugas-tugasku. Jika saja zhuyaozhu berkenan membawa mereka ke markas dan mengajari mereka kungfu, hatiku sangat tenang. Dan aku yakin setiap tugas yang diberikan aku bisa mengerjakannya lebih baik.”

Die… aku tidak mau pisah dengan Die. Aku mau bersama Die,” ujar putrinya yang lebih tua. Matanya telah basah oleh air dan ia menangis sesenggukan.

“Aku juga, Die. Aku tidak mau pisah.” Putrinya ke dua juga tak beda jauh. Mereka berdua menangis membujuk si marga Lu agar membawa mereka besertanya.

“Anakku, kalian ikut Gege ini saja. Ia dan kawan-kawannya di sana akan mendidik kalian. Kelak kalian bisa kungfu dan kita bisa berkumpul kembali,” tak terasa, dua tetes air mata mengalir turun dari pelupuk mata marga Lu. “Yun’er, jadi anak baik, ya. Bawa adikmu ikut Gege pergi.”

Dihapusnya air mata yang membasahi kedua pipi anaknya yang terbesar lalu anaknya yang kecil. Ia menggenggam tangan Yun’er lalu menggenggam tangan Rong’er dan menyatukan tangan itu agar mereka saling bergandengan tangan.

Dengan langkah tertahan karena rasa berat hati meninggalkan kedua putrinya, ia membawa mereka pada Zhu Bu. “Tolong, Zhuyaozhu.”

Zhu Bu menganggukkan kepala. Ia mengambil sebelah tangan Yun’er dan Rong’er lalu mengajak mereka pergi dari tempat itu. “Pergilah ke Utara. Negeri di sana bermusuhan dengan pemerintahan sini. Kau tidak akan mendapat masalah karena yang telah terjadi di sini. Setelah menemukan tempat, segera kabari kami.”

“Baik, Zhuyaozhu.”

Selesai mendengar jawaban itu, Zhu Bu melanjutkan jalannya pergi bersama Yun’er dan Rong’er.

Zhuyaozhu, satu lagi,” melihat Zhu Bu tak jadi melangkahkan kaki, marga Lu baru berani melanjutkan permintaannya. “Tolong lakukan sedikit kebaikan pada Da Yao Wangzi. Aku takut ia yang akan dituduh membunuh orang itu.”

“Dia bukan anggota keluargamu, bukan tanggung jawabku melindunginya.”

“Tolong. Ia tidak menuntutku adalah berkat kebaikannya. Ia orang baik. Kumohon, sekali ini saja.”

“Kita lihat nanti.”

***

Di gua, waktu demi waktu terus berlalu. Huo Mei Er juga terus memeluk Bai Yu. Ia tidak melepasnya sekalipun Bai Yu terus berusaha melepaskan jemari Huo Mei Er yang mencengkram pinggangnya dengan erat dan kuat.

Menangis terisak-isak Huo Mei Er berujar, “Lalu bagaimana kalau mereka menemukan kita di sini, Bai Yu Ge? Matikan apinya! Matikan! Matikan biar mereka tidak menemukan kita.” Mendadak Huo Mei Er melempari api unggun dengan benda apapun yang ditemukan di sekitarnya. Batu, pasir dan apapun juga. Membuat api berpercikan kemana-mana, kadang membesar dan mengecil

“Jangan, Mei Er! Tenang! Tenangkan dirimu. Mereka tidak akan mencari kita. Tidak akan… Dan api ini kita butuhkan untuk menghalau binatang buas,” memandangi Huo Mei Er dengan tatapan mata yang dalam, Bai Yu seolah berusaha menanamkan keyakinan bahwa tak terjadi sesuatu pada mereka. Tak akan ada yang mendapati mereka di gua itu.

“Aku takut, Bai Yu Ge…,” perlahan, Huo Mei Er kembali mendekap Bai Yu. Kali ini posisi mereka berhadapan. Dada mereka saling bertemu karena dekapan Huo Mei Er yang erat.

Berusaha menghalau perasaan aneh yang timbul karena dadanya bersentuhan dengan buah dada Huo Mei Er, Bai Yu berusaha membujuk Huo Mei Er, “Tidurlah lagi. Aku akan terus berjaga. Setelah langit cerah, kita bisa pergi dari hutan.” Dengan perlahan dan ragu-ragu, tangan Bai Yu menggapai kepala Huo Mei Er dan mengusapnya perlahan dan lembut.

Tak butuh lama, Huo Mei Er mau menurutinya. Ia menidurkan kepalanya dengan menjadikan paha Bai Yu sebagai bantalnya. “Bai Yu Ge tidak boleh meninggalkan Huo Mei Er.”

“Ya, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan menjagamu.”

Pada saat bersamaan, terdengar suara rumput-rumput yang diinjak di luar. Suara yang terdengar cukup ramai itu kiranya berasal dari beberapa pasang kaki sekaligus. Lalu ada suara berkata, “Kukira mereka di sini.”

Huo Mei Er kembali ketakutan. Didekapnya Bai Yu dengan seluruh tubuh bergidik. Ia benar-benar ketakutan kali ini. Rasa takutnya bahkan lebih parah dari saat ia berusaha melawan perampok sore tadi.

Diam-diam tangan Bai Yu mengambil batu atau apapun yang ada di dekatnya. Ia tak melihat jelas benda apa yang diraih tangannya karena pandangannya tertutup oleh Huo Mei Er yang mendekapnya. Jika mereka yang datang itu adalah musuh, ia sudah siap mengorbankan jati dirinya. Dengan demikian, tangannya bersiaga menjentikkan benda ke arah pintu masuk.

Orang-orang itu benar-benar masuk ke dalam, membawa obor sebagai penerang jalan mereka. Bai Yu sudah hampir menjentikkan benda di tangannya ketika salah seorang dari mereka berteriak dengan suara amat sangat terkejut, “Bai Yu! Apa yang kamu lakukan di sini?!?”

Melihat putranya didekap seorang perempuan demikian erat, tak mungkin Zhang Sha Hai tidak terkejut. Terlebih putranya itu tak berpakaian lengkap. Serangkaian prasangka muncul di benak Zhang Sha Hai.

Die?” Bai Yu tak menyangka ayahnya akan mencari dengan menurunkan beberapa prajurit sekaligus.

“Zhang Bobo?!?” giliran Huo Mei Er yang terkejut. Ia membalikkan badannya, yang tadinya membelakangi Zhang Sha Hai karena mendekap Bai Yu, kini mukanya dihadapkan pada Zhang Sha Hai.

Mendapati dengan siapa Bai Yu berada di gua ini, Zhang Sha Hai ingin menangis tak bisa menangis. Tertawa pun tak bisa tertawa. Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa pada kedua anak-anak ini. Dengan prajuritnya yang dibawa serta, sudah cukup banyak saksi mata yang dapat menyebarkan gossip ke luar.

Zhang Sha Hai melirik pada jubah terluar Bai Yu yang masih digantung sedang dikeringkan. Ia mengambil dan menarik Bai Yu agar segera memakai semua bajunya dengan lengkap. “Hantar Mei Er pulang lalu ikut Die menemui Huangshang.”

Huangshang kenapa, Die? Mengapa harus bertemu malam ini juga?” nadanya menyiratkan kekuatiran. Ia bertanya sembari mengikuti perintah ayahnya agar segera  mengenakan pakaian.

“Putra angkat Tian Wei Wangzi terbunuh di luar gerbang barat. Penjaga gerbang melihatmu keluar pertama kali dari gerbang itu–”

“Jadi, aku dicurigai sebagai pembunuhnya?”

Belum sempat Zhang Sha Hai menganggukkan kepalanya Huo Mei Er sudah berteriak mengamuk, “Tidak mungkin! Tidak mungkin Bai Yu Ge melakukan itu. Pagi tadi tidak ada apa-apa. Bahkan mayat pun tak terlihat.”

“Mei Er, kamu tak perlu ikut campur. Huangshang paling hanya bertanya-tanya saja. Kamu istirahat baik-baik di rumah. Besok Bobo akan menemui orangtuamu.”

“Tidak, Bobo. Mei Er ikut pergi menemui Huangshang. Mei Er bisa menjadi saksi. Bai Yu Ge sungguh tidak melakukan apapun di luar gerbang barat.”

Menyadari hal ini juga bisa dijadikan kesempatan memohon restu kaisar untuk menikahkan kedua anak muda ini, akhirnya Zhang Sha Hai mengalah dan membiarkan Huo Mei Er ikut bersamanya. “Xiao Tian, pergilah ke rumah Huo Laoban. Kabari Huo Mei Er baik-baik saja bersama kita. Dan beritahu juga bahwa besok aku ingin menemuinya.”

“Baik, Daren,” setelah menjawab, Xiao Tian menunggang kuda memisahkan diri dari rombongan.

Di ruang audiensi yang kini sudah tampak seperti ruang pengadilan, Tian Wei Wangzi duduk dengan menangis tersedu-sedu. Tangisan yang menurut Bai Yu terlihat berlebihan.

Sebelum masuk ruang audiensi, petugas bagian pengadilan tadi sudah menanyainya. Bertanya dengan sangat mendetail hingga rasanya tak satupun peristiwa yang terlompatkan. Bahkan peristiwa Huo Mei Er terkena racun sampai bertemu perampok pun terkuak.

Petugas pengadilan itu tak hanya menanyai Bai Yu, Huo Mei Er juga ditanyai dan jawaban mereka saling diputar. Mau tak mau Bai Yu menjawab sejujur-jujurnya selain siapa orang yang melempar batu pada para penjahat dan mengapa ia baik-baik saja setelah menghisap darah beracun dari tangan Huo Mei Er.

Setelah mendengar isi laporan dari petugas pengadilan, tampaknya kaisar masih ingin bertanya padanya. Itulah sebabnya mengapa ia berada di ruang audiensi ini bersama Huo Mei Er.

Selesai mengucapkan salam ketika Kaisar masuk ke dalam ruangan, suasana tegang menyeruak di ruangan itu. Bagaimana bisa tidak jika mata Tian Wei Wangzi terus melihat Bai Yu dengan penuh kebencian dan tatapannya juga dibalas tak beda jauh.

Bai Yu memandangi Tian Wei Wangzi seperti ketika An Bei memandangi mangsanya. Atau seperti Bai Leng Yu ketika hendak membunuh Wang Yin Huo dan Shi Bui Yi.

Huangshang, chen ingin melihat mayat yang katanya dibunuh oleh chen,” ujar Bai Yu. Sorot matanya kali itu begitu dingin. Tak ada rasa takut dan tak ada rasa nyeri.

Fuhuang, biarkan anak angkat erchen beristirahat dengan tenang,” pinta Tian Wei Wangzi masih dengan terisak-isak.

Tapi permintaannya ini tak dipenuhi oleh kaisar karena jenazah putra angkatnya tetap dibawa masuk ke dalam. Pengawal yang membukakan kain penutup jenazah untuk Bai Yu.

Begitu melihatnya, Bai Yu mundur ke belakang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Pisau itu… A Bu, benarkah dirimu yang membunuhnya?

Jenazah putra angkat Tian Wei Wangzi memang dibawa masuk masih tetap dengan pisau tertancap di punggungnya. Seperti keadaan ketika ditemukan.

“Kenapa, Bai Yu? Apakah melihat mayat itu membuatmu takut?” selidik kaisar.

Bai Yu menggelengkan kepalanya. “Pisau itu… aku pernah melihat pisau seperti itu.”

Mata kaisar dan Zhang Sha Hai memperhatikannya. Demikian juga dengan putra mahkota dan petugas pengadilan. Bisa dikatakan semua mata di ruangan itu tertuju padanya.

“Aku pernah menolong orang korban pisau itu. Katanya pelaku adalah seseorang muda. Ilmu kungfunya bisa dipastikan berasal dari Baiyu Jiao.” Tentu saja kali ini ia berbohong. Tak pernah ada korban lemparan pisau Zhu Bu yang masih bisa tetap mempertahankan nyawanya. Bahkan dalam hitungan jam pun tak ada.

“Lalu kamu bisa menyelamatkan nyawa orang itu? Bawa pada zhen.”

Bai Yu menggelengkan kepalanya. “Ia meninggal sesaat setelah mengatakan siapa pelakunya.”

“Rupanya masih ada juga yang tidak bisa kamu tolong. Kupikir kamu ini benar-benar shen yi, Bai Yu.”

“Bai Yu hanya manusia biasa.”

Fuhuang. Dia pasti pelakunya. Dia yang membunuh putra angkat erzhen,” seru Tian Wei Wangzi menunjuk-nunjuk Bai Yu.

“Atas dasar apa?” kali ini Bai Yu yang bertanya. “Bertemu saja belum pernah, bagaimana bisa membunuh putra angkatmu.”

“Kau…,” sahut Tian Wei Wangzi. Salah bicara justru bisa membuat kelakuannya terungkap.

“Oh…,” Bai Yu seolah-olah teringat oleh sesuatu. “Jangan-jangan Tian Wei Wangzi-lah yang menyuruh putra angkatmu untuk meracuniku di kedai tahu.”

“Lapor, Huangshang. Seorang penduduk bisa membuktikan bahwa ada yang pernah memaksa pemilik kedai tahu langganan Bai Yu menaruh racun di mangkuk putra chen.”

“Kapan kejadian itu?” tanya Kaisar. Ia tidak mendengar laporan masalah ini sama sekali.

“Kemarin.”

“Mengapa kejadian keterlaluan seperti ini tidak dilaporkan pada Zhen? Jika malam ini kau tidak dipanggil karena dituduh membunuh putra angkat Tian Wei Wangzi, selamanya zhen tidak akan tahu kalau ada yang berniat meracunimu, Bai Yu? Jawab!”

“Ampun, Huangshang,” Bai Yu cepat-cepat berkowtow[2]. “Bai Yu hanya berniat melindungi pemilik kedai. Kedua putrinya masih kecil. Bai Yu takut, karena tak sanggup membunuhku maka orang itu akan menghabisi keluarga pemilik kedai. Bai Yu tak tega membiarkan itu terjadi. Jadi… Bai Yu bersikap seolah tidak terjadi apapun.”

“Kau punya dugaan siapa yang berniat meracunimu?”

Chen…,” Bai Yu benar-benar ragu untuk menjawab. Ia takut salah satu kata akan membuat mereka tahu bahwa ia punya hubungan dengan Baiyu Jiao. “… Dia,” akhirnya Bai Yu menunjuk Tian Wei Wangzi.

Kaisar memandangi Tian Wei Wangzi tak ingin percaya. Dengan penunjukkan itu, berarti Bai Yu juga menunjuk Tian Wei Wangzi sebagai dalang percobaan pembunuhan putra mahkota.

“Kamu?” tanya Kaisar memandangi putranya yang dituduh Bai Yu.

Fuhuang, erchen tidak mungkin melakukan hal itu. Tidak mungkin, Fuhuang. Tuduhan itu tanpa bukti. Aku tidak melakukannya!” Tian Wei Wangzi benar-benar panik.

Sejak kecil ia tidak pernah dipercaya oleh ayah kandungnya ini. Dan ia tahu, anak haram Zhang Da Jiangjun yang diangkat sebagai cucu benar-benar menarik perhatian ayah kandungnya. Bahkan ia percaya sang Ayah Kandung itu lebih mencintai Bai Yu daripada cucu kandung yang lahir dari istrinya, darah daging Tian Wei Wangzi.

Wangzi Ye. Putra angkat Anda meninggal dengan cara seperti itu harusnya Anda sudah sadar.”

Ucapan Bai Yu membuat Tian Wei Wangzi menoleh cepat padanya.

“Apa kamu tak tahu mengapa aku terus makan di kedai tahu itu? Kau kira aku ini bodoh?” tersenyum menertawakan kebodohan lawannya, Bai Yu baru melanjutkan, “Aku melakukan hal itu karena pernah melihat pemilik kedai berhubungan dengan orang yang kuketahui sebagai pengikut Baiyu Jiao. Aku benar-benar tidak menyangka anak angkatmu sangat bodoh.”

Kaisar, Putra Mahkota dan Zhang Sha Hai terpana mendengar jawaban Bai Yu. Mereka mengira Bai Yu hanya tabib biasa dengan pola pikir sederhana. Seorang tabib yang tujuan hidupnya hanya untuk menyelamatkan pasien. Siapa yang menyangka seorang tabib yang kelihatan lemah ini ternyata juga pandai bersiasat dan mengatur strategi.

“Darimana kamu tahu pemilik kedai punya hubungan dengan Baiyu Jiao? Semua orang sudah tahu bahwa Baiyu Jiao aliran rahasia,” yang bertanya adalah Putra Mahkota. Tapi pertanyaan ini juga timbul di pikiran semua orang yang ada di ruangan itu.

“Jawab, Taizi. Karena Bai Yu pernah bertemu dengan seseorang yang mengaku dirinya adalah Fan Ku, jiaozhu Baiyu Jiao. Ketika itu ia tengah bertandang ke rumah Gan Yeye. Sekalipun hanya singkat karena Gan Yeye langsung mengusirnya pergi, tapi waktu itu sudah cukup untuk mengingatnya secara fisik. Kebetulan beberapa bulan lalu selama beberapa hari aku melihatnya di kedai tahu itu. Mereka mengobrol sekian waktu lamanya dan pemilik kedai menunjukkan sikap hormat.”

“Pemilik kedai tentu menghormati pelanggannya,” timpal Kaisar.

“Tapi sikap hormat yang diberikan tentu berbeda dengan seorang bawahan ketika bertemu dengan atasannya.”

“Berarti kamu mengakui kalau kamu merencanakan pembunuhan ini?”

“Tidak. Hamba hanya mengakui bahwa chen merencakan pengamanan terhadap orang-orang di sekeliling hamba. Pasti ada hal yang dilakukannya kemudian sehingga orang Baiyu Jiao membunuh dia. Menurutku itu salahnya sendiri karena terlalu bodoh.”

Dengan jawaban Bai Yu, akhirnya kaisar menyerahkan Tian Wei Wangzi untuk ditangkap. Kasus akan diselidiki lebih lanjut terutama kemungkinan ialah perencana pembunuhan putra mahkota. Sedangkan masalah terbunuhnya putra angkat Tian Wei Wangzi sepertinya bukan masalah penting yang harus dibahas lagi. Bahkan kaisar juga tidak meminta bagian pengadilan untuk menyelidiki hal tersebut.

Huangshang, ada satu hal lagi yang harus disampaikan.” Buru-buru Zhang Sha Hai menghadap sebelum Kaisar meninggalkan ruangan. Setelah ia diizinkan bicara, katanya, “chen berniat menikahkan Bai Yu dengan gadis ini.”

Huo Mei Er tersentak dan tersipu malu. Sedangkan Bai Yu demikian terkejutnya hingga terdiam beberapa saat. Ia menggelengkan kepalanya pada Zhang Sha Hai.

“Ada hal yang harus chen bicarakan dengan Huangshang secara pribadi.”

“Baiklah, temui zhen di ruang baca.”

Di ruang baca, Zhang Sha Hai baru menjelaskan alasannya hendak menikahkan Bai Yu dengan Huo Mei Er. Penjelasannya bukan tentang Bai Yu yang sepertinya tertarik pada Huo Mei Er, melainkan kenyataan yang terlihat oleh Zhang Sha Hai bahwa Bai Yu telah bermalam dengan Huo Mei Er di hutan dalam pakaian tidak lengkap.

Dengan alasan seperti ini, sekalipun Kaisar ingin menjodohkan Bai Yu dengan Gao Qhing Nu pun tak bisa berbuat apa-apa. Dan bahkan walau ia telah berjanji tidak mengurusi masalah pernikahan Bai Yu. Baginya Bai Yu harus mempertanggungjawabkan perbuatan itu. Baik mau ataupun terpaksa.

***

Tiba di kediaman keluarga Zhang, Zhang Sha Hai yang naik pitam, menyeret Bai Yu ke Grha Sentosa. “Berlutut!” perintahnya sampai di hadapan altar papan arwah leluhur keluarga. Tak hanya memberi perintah ia juga menekan pundak Bai Yu agar berlutut sesuai perintahnya.

Di dalam ruangan itu, terdapat cambuk dan tongkat kayu. Sepertinya memang dipersiapkan untuk menghukum anggota keluarga yang melakukan kesalahan. Zhang Sha Hai mengambil cambuk dari tempatnya lalu melepaskan ikatan. Tali cambuk pun terurai hingga menyentuh lantai.

Zhang Sha Hai mencambuk Bai Yu sepuluh kali. Ia tak peduli pakaian Bai Yu robek dan memperlihatkan kulit yang kemerahan oleh cambukannya. Ia juga tak peduli hatinya sendiri yang juga terasa dicambuk ketika tali cambuk menghantam tubuh Bai Yu. Ia kecewa dan marah.

Kecewa karena anaknya tega mempermalukan nama baik putri sahabatnya. Dan marah karena setelah kejadian itu anaknya ini tidak mau menikahi putri sahabatnya.

“Kau masih tidak bersedia menikahi Huo Mei Er?” nadanya bertanya masih menunjukkan amarah yang belum padam. Di kala ini, Qhing Gongzhu, Zhang Yi Lang, Zhang Er Bao sampai Zhang Yu Er datang karena mendengar keributan ini dari para pelayan.

Melihat Bai Yu berlutut dengan punggung terluka karena sabetan cambuk, Zhang Yu Er berlari mendekati dan merangkul Bai Yu berusaha menghalangi ayahnya. “Die, jangan pukul Bai Yu Ge lagi. Jangan!” jerit Zhang Yu Er putus asa karena ayahnya menarik tangannya agar tidak menghalangi lagi.

“Menjelang pagi seperti ini kenapa Fuma mengamuk? Sampai mencambuk darah daging sendiri seperti itu.”

Bai Yu sendiri tidak bersuara sedikitpun. Bahkan rintihan menahan sakit tak terdengar dari mulutnya. Ia tetap berlutut di sana. Diam, membiarkan punggungnya menjadi sasaran cambuk.

“Dia… dia menodai Huo Mei Er dan tidak mau menikahi gadis itu. Mau ditaruh di mana muka Huo Mei Er?”

“Aku tidak percaya anakmu yang dingin seperti tidak punya perasaan ini bisa menodai putri sahabatmu itu. Katakan pada Daniang apa yang terjadi, Bai Yu.”

Bai Yu kembali mengulang kisahnya, bercerita sesuai yang diinginkan ibu tirinya ini. Dari sejak ia masuk ke hutan, pergi mengambil air dan menemukan Huo Mei Er yang pingsan.

Katanya yang menotok aliran darah para perampok adalah seseorang pendekar bertopeng. Ia tidak tahu siapa yang terpenting Huo Mei Er selamat. Dan karena mendung cukup pekat, Bai Yu jadi tidak tahu arah pulang lalu membawa Huo Mei Er berteduh di gua.

Bajunya basah oleh hujan sehingga dilepas dan dikeringkan. Baju lapis kedua digunakan untuk menyelimuti Huo Mei Er yang mengeluh kedinginan. Dan suara angin yang masuk ke dalam gua membuat Huo Mei Er takut sehingga memeluknya. Kala itulah Zhang Sha Hai tiba di gua itu.

Tapi rupanya cerita itu tidak membuat kemarahan Zhang Sha Hai reda. Di matanya adalah Bai Yu dalam baju tak lengkap berangkulan dengan Huo Mei Er. Hal itu pula yang dilihat para prajurit yang dibawanya.

Terlebih Zhang Er Bao justru memanas-manasi ayahnya. “Pingsan? Apa saja yang kau lakukan selama Mei Er pingsan? Jangan-jangan….”

Melirik dengan pandangan tajam ke arah Zhang Er Bao, Bai Yu menjawab, “Tidak ada yang perlu kujelaskan padamu.”

Kesimpulan Qhing Gongzhu adalah Zhang Sha Hai ingin Bai Yu mempertanggungjawabkan masalah itu. Terlepas Bai Yu melakukan sesuatu atau tidak karena itulah yang dilihat semua orang. Sedangkan Bai Yu tetap pada pendiriannya untuk tidak menikah. Entah apa alasannya tidak menikah.

Pendirian dan pendapat Zhang Sha Hai tidak mungkin diubah. Ia sendiri merasa pendapat itu benar adanya. Karena itulah yang dilihat orang dan gosip biasanya akan melebih-lebihkan peristiwa itu. Hal ini sangat tidak baik tak hanya bagi Bai Yu dan Huo Mei Er, tapi juga hubungan Huo Yin Qian dan Zhang Sha Hai. Oleh sebab itu, Qhing Gongzhu harus bisa merubah pendirian Bai Yu. Dan yang pertama kali wajib dilakukan adalah mengetahui mengapa Bai Yu bersikeras tak ingin menikah.

Zhang Sha Hai kembali mengayunkan cambuknya. Sesaat kemudian terdengar bunyi cambuk yang mengenai tubuh Bai Yu. Begitu pilu suara itu sampai Zhang Yu Er menangis terisak-isak.

Di saat yang sama, Zhang Er Bao bersikap tak peduli. Sedangkan Zhang Yi Lang meringis pilu namun tidak berani melakukan apapun.

“Cukup, Fuma Ye. Kamu mau cambuk dia sampai mati?” tegur Qhing Gongzhu. “Berhenti mencambuknya atau teruskan sampai dia mati.” Cambuk itu direbutnya dari tangan Zhang Sha Hai. Tatapannya seolah menantang Zhang Sha Hai untuk merebut cambuk dari tangannya.

Tak berani melawan karena kalah status bangsawan dan rasa hormat pada sang istri, membuat Zhang Sha Hai terdiam sejenak. Kemudian ia berteriak pada Lao Zhen yang berdiri di luar pintu. “Kurung dia di gudang. Kalau tidak bersedia menikahi Mei Er, biarkan saja mati kelaparan.”

Qhing Gongzhu membiarkan Lao Zhen menjalankan perintah majikannya. Dilihatnya Lao Zhen menggiring Bai Yu pergi keluar dari ruangan dan Zhang Sha Hai juga berlalu darinya. Kini gilirannya membereskan semua masalah.

“Masuklah, Shaoye,” ujar Lao Zhen di depan pintu gudang. Wajahnya prihatin namun tak dapat berbuat apapun.

Bai Yu masuk ke dalam tak ingin Lao Zhen mendapatkan masalah karena dirinya. Pintu gudang hampir ditutup dari luar ketika Qhing Gongzhu datang pada mereka.

“Katakan obat mana yang kamu butuhkan, Bai Yu. Lukamu itu harus diobati. Kalau sampai membusuk bisa celaka.”

Setelah Bai Yu memberitahu obat yang harus diambil di kamarnya, Qhing Gongzhu memerintahkan Ku Ayi untuk mengambil obat itu sekaligus pakaian Bai Yu dari kamarnya. Ia sendiri duduk menunggu di sana.

Dengan gaya dan perhatian seorang ibu yang mengobati anaknya yang terluka, Qhing Gongzhu mengoleskan obat berupa salep itu ke punggung Bai Yu. “Bekas luka apa ini, Bai Yu?”

“Tidak tahu,” jawab Bai Yu singkat. Ia tidak akan pernah mau membicarakan bekas luka tusukan pedang di punggung yang sampai menembus perut itu. Ketika tangan Qhing Gongzhu sepertinya tak lagi bersentuhan dengan kulitnya tanda bahwa obat selesai dioles, cepat-cepat Bai Yu memakai pakaian yang disiapkan.

Penerangan dari nyala api lilin minyak kecil dan tidak begitu terang membuat Qhing Gongzhu tak dapat melihat jelas bentuk luka di punggung Bai Yu. Namun ia yakin, luka itu tadinya pasti sangat parah.

Apakah karena luka itu Bai Yu bertemu dengan Chu Langzhong? Siapa Bai Yu sebelumnya? Anak ini hanya mengatakan ‘hilang ingatan’, ‘semua ingatan sebelum bertemu Chu Langzhong hilang’, dan ‘kepalanya sakit seperti akan pecah jika dipaksa mengingat hal itu’.

Tapi Qhing Gongzhu juga tahu. Memaksa seperti apapun, Bai Yu tak akan mau bicara tentang luka itu. Lebih baik ia menanyakan alasan Bai Yu tak ingin menikah lalu membujuknya agar menurut pada kemauan Zhang Sha Hai.

“Kamu bukan karena berpikiran melepas diri dan menjadi biksu?”

Pertanyaan itu hanya dijawab dengan satu kali gelengan kepala.

“Lalu mengapa Bai Yu? Setiap laki-laki dewasa menikah adalah suatu hal yang wajar. Apalagi Daniang tahu kamu mencintai Mei Er, mengapa tidak mau menikahinya?”

“Mencintai tak harus memiliki, bukankah begitu?”

“Kata siapa itu? Chu Langzhong yang mengatakan itu padamu? Apa kakek angkatmu itu melarangmu menikah?”

Bai Yu kembali menggelengkan kepala.

“Atau sebenarnya kamu sudah beristri?”

Menoleh sesaat lalu kembali memalingkan pandangan dari Qhing Gongzhu, lagi-lagi Bai Yu menggelengkan kepalanya.

Tindakannya membuat Qhing Gongzhu kehabisan akal kali ini. Dengan cara apakah Bai Yu baru mau terbuka dengan mereka? Mengapa ia merasa ada hal yang sangat besar disembunyikan oleh Bai Yu?

Perlahan Qhing Gongzhu beranjak meninggalkan gudang. Ia butuh waktu untuk memikirkan cara terbaik yang dapat membuat Bai Yu bicara. Dengar cerita dari Zhang Sha Hai, bahkan giok kupu-kupu itu pun baru ditunjukkan pada suaminya setelah memancing Bai Yu nyaris semalaman.

Mengapa mencari keluarga saja tak mau dibantu orang lain? Mengapa dengan mudahnya Bai Yu itu berniat pergi hanya karena Zhang Yu Er menyampaikan pertanyaan apakah sudah menikah atau belum? Mengapa menahan satu kakinya agar tetap tinggal di Jingcheng sama susahnya dengan mengambil rembulan?

Setelah Qhing Gongzhu pergi, Lao Zhen mengunci pintu gudang, meninggalkan Bai Yu di dalam gudang seorang diri.

Gudang yang dipakai untuk mengurung Bai Yu awalnya gudang bahan makanan. Namun karena gudang ini tidak aman dari serangan tikus, bahan makanan telah dipindah ke tempat yang lebih baru sejak beberapa tahun lalu. Yang tertinggal di sana hanya beberapa balok kayu dan peralatan pertukangan.

Setelah Lao Zhen pergi demikian juga Qhing  Gongzhu bersama pelayannya, Bai Yu mendengar suara gemeritik dari atas. Tiba-tiba genting sudah berpindah tempat sehingga langit malam menjelang pagi dapat terlihat jelas oleh Bai Yu. Tentu saja ia langsung tahu siapa yang menemuinya.

“Kau sangat hebat! Bahkan aku dikurung di gudang pun bisa langsung tahu.”

“Pujian yang terlalu berlebihan.”

“Jadi… apakah Xiao Tian adalah dirimu?” Bai Yu tak ingin membuang waktu lagi. Pertanyaan terbesarnya langsung diucapkan.

Putra Wanshang Bianfu menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Ugh…,” keluhnya. “Mana rela seorang putra penyelidik dunia persilatan terkenal jadi kacung orang pemerintahan. Dengan tugas menjaga seorang… Bai… Leng… Yu… pula,” kata Bai Leng Yu diucapkannya dengan berbisik.

“Lalu apa maumu sekarang?” tanya Bai Yu tak sabar. Lebih baik orang di hadapannya ini segera pergi agar ia bisa istirahat.

“Kau benar-benar galak. Padahal, aku hanya ingin bertanya bagaimana rasanya menghabiskan malam dengan seorang gadis? Aku yakin sebelum malam ini, gadis itu masih perawan.”

Bai Yu tak menjawab dengan sepatah katapun. Dengan melihat mata orang itu saja, ia sudah tahu putra Wanshang Bianfu tengah meledeknya.

“Betapa indahnya ketika matahari terbit nanti. Kala semua orang membicarakan Da Yao Wangzi meniduri putri sahabat ayah kandungnya. Aku mau tahu apa kau masih berani menampakkan dirimu lagi.” Melihat Bai Yu yang tetap diam, ia kembali melanjutkan, “Aku lupa. Kau dikurung di gudang pengap seperti ini mana mungkin bisa keluar, bukan? Ah… itu juga salah. Seorang Bai… Leng… Yu… yang ilmu kungfunya demikian tinggi, tak mungkin tak bisa keluar dari gudang. Diriku saja bisa datang kemari. Bukankah begitu?”

Ejekan itu juga tak dibalas oleh Bai Yu. Bahkan kini Bai Yu memejamkan mata bertindak seolah semua kata-kata putra Wanshang Bianfu adalah dongeng sebelum tidurnya.

Lelah diacuhkan oleh Bai Yu, akhirnya laki-laki yang selalu menutup wajah dengan topeng ini pergi meninggalkan Bai Yu. Tapi sebelum pergi, ia menyempatkan diri meninggalkan pesan, “Nanti pasti akan ada orang mencarimu. Lihat saja! Kau tak mau keluar pun tetap harus keluar. Sampai jumpa.”

Melirik sesaat pada laki-laki yang tak pernah mau menunjukkan wajah padanya, kemudian Bai Yu memejamkan mata. Namun ingin tidur pun tak bisa tidur. Ia terus menerus memikirkan apa yang sebenarnya diinginkan putra Wanshang Bianfu darinya.

Lalu mengingat Zhang Sha Hai mengancam akan membiarkan ia mati kelaparan jika tetap tak mau menikah, tanpa bisa ditahan mulutnya tersungging senyum aneh lalu ia tertawa miris. “Mati kelaparan dalam gudang dengan mati karena pedang manakah yang lebih baik? Fan Ku dan Zhu Xu tak pernah melakukan ini padaku. Bahkan Gan Yeye juga begitu. Mengapa ayah kandungku sendiri seperti ini?”

“Bukan aku tak mau, Die. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa melibatkan Mei Er dalam hidupku. Aku sendiri saja tidak tahu apakah saatnya nanti bisa melindungimu. Musuhku sangat banyak. Dan kala masa laluku terkuak, mereka pasti menginginkan nyawaku. Mana mungkin aku tega membawa kalian mati bersamaku?”

***

Dalam saat yang sama, Zhang Er Bao mengendap-endap masuk ke dalam Grha Taman Harapan dan menggeledah barang-barang di kamar Bai Yu. Namun ia tidak bisa menemukan satu barangpun yang menguatkan kecurigaannya.

Dicarinya di lemari, dipan, bawah meja dan dimanapun juga, semua bukti yang dibutuhkannya tak didapatnya. Bahkan di balik kain tebal yang menutupi dipan, di balik bantal dan di dalam lipatan selimut, ia juga tak menemukannya. Dengan kecewa, ia berlalu pergi dari tempat itu.

“Darimana kamu, Er Bao?” tegur Qhing Gongzhu. Tak perlu menunggu jawaban, Qhing Gongzhu langsung menebak anak keduanya ini dari kamar Bai Yu.

Dalam keadaan seperti itu, Zhang Er Bao mau tak mau menjawab jujur. Mengangguklah ia perlahan karena takut kena marah ibunya ini.

Qhing Gongzhu menggelengkan kepala tak percaya. Bai Yu bukan seorang yang bodoh. Seiring berlalunya waktu ia kini benar-benar yakin atas hal ini. Tentunya Qhing Gongzhu sudah mendengar jawaban Bai Yu ketika disidang oleh kaisar malam ini.

Jika ia menyembunyikan sesuatu, tak mungkin mudah diraih oleh orang lain. Pasti disembunyikannya di tempat yang tak terduga. Anak keduanya ini memang sedikit ceroboh.

“Cukup Er Bao. Tak perlu menyelidiki siapa Bai Yu lagi dan tak perlu protes pada Niang karena memberinya izin tinggal bersama kita.”

Niang tak hanya memberinya izin. Tapi juga menyayanginya. Sepertinya Niang lupa kalau dia bukan anak kandung Niang.”

“Yi Lang bisa menerimanya, Jin Lan, Jin Xi juga. Dan Yu Er justru sangat dekat dengannya. Hanya kamu yang terus mempermasalahkan kehadirannya. Apa kamu perlu Niang beri tahu, yang memberi usul agar kamu mengajarinya panahan adalah Niang, tahu?”

Melirik barang yang dibawa Ku Ayi, Zhang Er Bao bertanya, “Niang mau kemana? Menyelundupkan makanan untuk orang itu, benar dugaanku, Niang?” ia merebut keranjang anyaman kulit kayu yang dibawa Ku Ayi dan memeriksa isinya. Ditemukan dua buah mantau dan selimut tebal dalam keranjang itu.

“Kamu tak perlu lapor pada ayahmu. Niang punya cara sendiri untuk membuatnya menuruti kemauan ayahmu. Mengerti? Hari hampir pagi, pergilah tidur.”

***

Hari berlalu setelah pagi benar-benar datang disusul siang kemudian malam. Jadi sudah satu hari pula Bai Yu dikurung dalam gudang. Memang, apa yang dikatakan putra Wanshang Bianfu ada benarnya. Dengan kemampuan kungfu seorang Bai Yu, gudang seperti itu tak mungkin dapat mengurungnya. Mengapa menyiksa diri dalam gudang?

Jawabannya tentu karena Zhang Sha Hai. Bai Yu tak ingin menyakiti hati ayahnya dengan kabur dari rumah dan ia juga tak ingin orang-orang mempertanyakan bagaimana cara ia bisa kabur. Lagipula Qhing Gongzhu terus menerus hilir mudik datang ke gudang. Dari membawa mantau, selimut, mengganti obat untuk luka cambuknya, bertanya ini dan itu. Bagi Bai Yu, gerakan itu tak beda dengan mengawasi.

“Sore kemarin ayahmu sudah menemui Huo Yin Qian,” ujar Qhing Gongzhu sembari menjalankan ‘tugas’ hariannya mengganti obat di punggung Bai Yu. “Mereka sudah membicarakan kapan hantaran lamaran akan dikirim dan barang apa yang diminta mereka. Satu hou[3] yang akan datang, Huo Mei Er sudah resmi menyandang status sebagai calon istrimu.”

Bai Yu bersikap acuh seolah tak mendengar apa yang dikatakan Qhing Gongzhu padanya.

“Pada harinya nanti tak peduli kamu setuju atau tidak, Huo Mei Er tetap jadi istrimu.”

“Mengapa kalian selalu memaksaku menikah? Apa setiap laki-laki harus menikah? Tidak bisakah aku menentukan jalan hidupku sendiri?”

Qhing Gongzhu diam. Tak habis pikir atas sikap anak tirinya ini. Bukankah perlakuannya sudah sangat baik? Tapi mengapa ia masih tak juga dapat membuka pintu hati dan berkomunikasi layaknya seorang ibu dengan anak?

“Ada orang yang datang,” ucap Bai Yu sesaat sebelum Qhing Gongzhu hendak bicara menyanggah pertanyaan Bai Yu sebelum ini. Memang benar, selang beberapa waktu kemudian seorang pelayan datang memberi salam pada Qhing Gongzhu lalu melaporkan kalau ada seorang bocah laki-laki di luar mencari Bai Yu Gege. Pesannya Su laogong sakit. Pelayan itu terlihat seperti sedang panik.

Seketika Bai Yu terbawa panik. Dipandanginya Qhing Gongzhu berharap ia bersedia melepaskannya. Tak mungkin ada tabib mau memeriksa orang-orang seperti mereka. Karena tak sanggup membayar maka A Gou mencari Bai Yu. Hubungan mereka juga cukup dekat sehingga A Gou tak pernah memanggil Bai Yu dengan sebutan gongzi ataupun wangzi ye.

“Bagimu nyawa seorang kakek tua miskin sangat penting hingga kamu panik mendengarnya sakit. Lalu bagaimana dengan Huo Mei Er? Untuk seorang perempuan, kehormatan lebih penting dari nyawanya. Orang-orang di luar mana mungkin peduli apa yang sebenarnya kalian lakukan di hutan. Bagi mereka, kenyataan adalah kamu ditemukan dalam baju tak lengkap dan kalian berpelukan.” Melirik sesaat pada Bai Yu, Qhing Gongzhu kembali melanjutkan, “Pergilah. Tapi kamu harus segera pulang. Xiao Tian akan mengawalmu dan memastikan kamu pulang ke rumah.”

“Terima kasih, Daniang. Bai Yu akan segera pulang. Tidak akan menyulitkanmu.”

Sampai di rumah Su Laogong, kiranya penyakit yang diderita tidak terlampau parah. Serupa dengan flu, badan terasa pegal, suhu menghangat dan lain sebagainya. Hanya A Gou yang terlampau panik sampai membuat pelayan yang menyampaikan pesannya juga panik dan akhirnya membuat Bai Yu ikut panik.

Bai Yu menulis resep untuk meningkatkan daya tahan tubuh Su Laogong dan A Gou. Ia memberikan pada Xiao Tian bersama uang menyuruhnya segera pergi membeli.

“A Gou, mainlah dulu di luar. Aku mau bicara dengan Bai Yu Gege-mu,” perintah Su Laogong setelah Xiao Tian pergi.“Bai Yu, aku tidak pernah menganggapmu orang luar sejak pertama kali kamu datang,” ujarnya setelah A Gou menuruti kemauannya.

“Aku tahu. Dan aku selalu merasa nyaman bersama kalian.”

Tersenyum bijak Su Laogong kembali bertanya, “Boleh kakek tua ini memberikan beberapa patah kata untukmu?”

Bai Yu menganggukkan kepala. Dalam hati ia bertanya-tanya mengapa sampai menunggu Xiao Tian pergi dan menyuruh cucu yang sering sakit untuk main di luar demi bicara dengannya.

“Tidak peduli seperti apapun masa lalumu tapi kamu harus hidup untuk masa depanmu.”

Terpana Bai Yu mendengarnya. Tapi ia membiarkan Su Laogong terus bicara, “Jatuh cinta adalah hal yang baik. Menikah juga demikian. Karena setelah kamu menikah akan ada teman berbagi masalah hidup. Kamu tidak akan merasa kesepian.”

“Aku tidak ingin masa laluku mencelakai mereka.”

Su Laogong menggelengkan kepalanya tidak setuju. “Artinya kamu egois, Bai Yu. kamu ingin dirimu tenang tanpa memikirkan apa yang sebenarnya membuat orang yang kamu cintai itu tenang.”

“Lalu menurut Su Laogong aku harus bagaimana?” rasanya Bai Yu nyaris frustasi. “Tahukah Laogong, mengapa aku jarang datang beberapa bulan kemarin? Karena ada orang yang mengincar nyawaku. Beberapa hari lalu dia memaksa pemilik kedai tahu langgananku menaruh racun dalam mangkuk kami. Untung saja indra penciumanku peka. Orangnya kini sudah mati. Tapi masih banyak musuhku yang lain.”

“Apakah kamu tega nama baik gadis yang kau cintai hancur karena perbuatanmu? Isu itu sudah sangat santer. Dimanapun orang-orang membicarakan perbuatan kalian. Sekalipun Huo Guniang terlihat seolah gadis tegar, tapi dalamnya rapuh. Jangan sampai kamu menyesal nantinya.”

“Karena masalah inikah Laogong menyuruh A Gou memanggilku?”

Su Laogong menganggukkan kepalanya. Ia memandangi Bai Yu dengan lembut. Tatapan itu sama dengan Chu Langzhong ketika bicara pada Bai Yu.

Gongzi, obatnya sudah dibeli. Apa perlu kurebus sekarang?”

Bai Yu menganggukkan kepalanya setelah melirik pada Xiao Tian.

“Sudah waktunya pulang, Gongzi,” tegur Xiao Tian mengingatkan.

“Pulanglah. Dan ingat kata-kataku.” Kali ini yang bicara Su Laogong.

Pergi mengunjungi Su Laogong membuat hati Bai Yu semakin gundah. Apakah ia egois? Bukankah yang dilakukan untuk melindungi mereka? Di saat yang sama, ia tidak mempedulikan lirikan mata orang-orang yang berpapasan dengannya. Bai Yu seperti orang buta dan tuli.

Gongzi. Di depan ada Huo Guniang berpakaian ala laki-laki. Tapi sebaiknya Gongzi tidak berteriak memanggilnya karena semua mata sedang memperhatikan Anda,” bisik Xiao Tian.

Bisikan Xiao Tian membuat Bai Yu sadar dari lamunannya. Dan memang benar, di hadapannya ia bisa melihat punggung Huo Mei Er dalam pakaian ala laki-laki berjalan dengan langkah pelan sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Namun buntalan yang disandang di bahu menarik perhatian Bai Yu. Saat seperti ini, ia tak peduli pada semua mata yang memperhatikan gerak-geriknya. Buru-buru Bai Yu mengejar dan menarik tangan Huo Mei Er. “Mei Er mau pergi kemana?”

Melihat Bai Yu yang mengejar dan menahannya, Huo Mei Er bertambah sedih. Terlihat ia menahan sekuat tenaga agar air mata tidak mengalir turun. “Mei Er tidak mau merepotkan Bai Yu Ge. Jadi… aku…”

Kata-kata Huo Mei Er seperti anak panah yang menembus tepat di jantung Bai Yu. Jadi Huo Mei Er kabur dari rumah karena isu telah ditiduri Bai Yu di gua dalam hutan. Karenanya Bai Yu merasa menyesal.

“Mei Er dengar Bai Yu Ge dikurung di gudang karena tidak mau menikah…,” sampai di sini air matanya tak dapat dibendung lagi. Kata-kata berikutnya diucapkan Huo Mei Er dengan terisak-isak. “Jadi Mei Er.. jadi….” belum selesai bicara, ia berusaha melepas pegangan tangan Bai Yu lalu menghambur pergi.

Buru-buru Bai Yu kembali mengejar Huo Mei Er. Ia tak peduli pada orang-orang yang memperhatikan ulahnya mengejar seorang laki-laki lain di jalan raya. Juga tak peduli mereka menggunjingkan perbuatan apa saja yang telah dilakukannya bersama seorang gadis di dalam hutan. Ia harus mendapatkan Huo Mei Er, dan tak akan membiarkan gadis itu berhasil kabur dari kejarannya.

Huo Mei Er kembali tertangkap. Bai Yu berhasil menahan tangan gadis itu. Dan kali ini ia akan menggenggamnya erat. Tak akan dibiarkan gadis itu kabur lagi darinya. “Jangan pergi, Mei Er. Jangan pergi!” kata-katanya seirama dengan nafas yang masih berderu setelah berlarian mengejar Huo Mei Er.

Menundukkan kepala, Huo Mei Er sedikitpun tak berani melirik laki-laki yang berdiri menghadang jalan dan mencengkram tangannya erat ini. Air mata terus menerus turun dari pelupuk.

“Kalau kamu pergi, siapa yang akan dijemput tandu pengantinku?”

Perlahan Huo Mei Er melirik Bai Yu tak percaya.

“Kita menikah.”

“Tapi… Bai Yu Ge bilang tidak–”

“Aku tidak mau hidupku diatur orang lain,” potong Bai Yu cepat-cepat. “Kuhantar kamu pulang dan aku sendiri yang akan bicara pada Huo Shushu atas niatku.”

Merengut, Huo Mei Er mendapatkan akal yang tentunya menguntungkan bagi dirinya. “Aku mau pulang tapi dengan syarat.”

“Katakan,” jawab Bai Yu agar masalah cepat selesai.

“Pertama, setelah menikah Bai Yu Ge tidak boleh menikahi perempuan lain. Cuma Huo Mei Er seorang istri Zhang Bai Yu.”

Bai Yu menganggukkan kepala tanda setuju. Kalau bukan karena terpaksa mana mungkin ia mau menikah. Punya istri satu saja ia tidak tahu apakah bisa mengurus dengan baik rumah tangganya, buat apa pula punya istri lebih dari satu?

“Kedua, Bai Yu Ge tidak boleh pergi ke rumah pelacuran.”

Sekali lagi Bai Yu menyetujui. Kapan ia pernah ke rumah pelacuran? Dulu, ketika Bai Yu masih bernama Bai Leng Yu sekitar dua atau tiga kali. Tapi dengan tujuan membunuh seseorang. Tak sempat ia bercengkrama dengan gadis-gadis di sana. Jadi syarat kedua juga bukan sesuatu yang tak mungkin.

“Ketiga, dengan alasan apapun Bai Yu Ge tidak boleh memiliki anak dengan perempuan lain.”

Mungkin Huo Mei Er belajar dari pengalaman Qhing Gongzhu dimana Zhang Sha Hai ternyata sebelum menikah pernah kawin lari hingga melahirkan seorang Bai Yu.

“Aku belum pernah menikah dan berhubungan dengan seorangpun perempuan,” tandas Bai Yu. “Sekarang waktunya kamu pulang.” Selesai bicara, diajaknya Huo Mei Er pulang ke rumah. Ia tak peduli sepanjang jalan Huo Mei Er terus meliriknya malu-malu. Juga tak peduli Xiao Tian tertawa cekikikan sambil mengikuti langkah mereka. Karena ia sendiri ingin tertawa. Menertawakan dirinya sendiri.

*

Pulang dari kediaman keluarga Huo, hari sudah sore. Pastinya ia akan kena amuk lagi. Karenanya langkah kaki Bai Yu dipercepat. Ketika ia tiba di depan gerbang kediaman keluarga Zhang, terlihat Gao Qhing Nu baru saja keluar dari dalam gerbang. Mereka berpapasan tepat di depan pelataran gerbang.

Tanpa menyapa, Gao Qhing Nu menampar pipi kiri Bai Yu keras. Warna merah berbentuk jemari membekas pada pipi kiri Bai Yu. Pasti sakit rasanya. “Kenapa aku ditampar?”

“Bai Yu Ge bilang tak ingin menikah, tak ingin Huangshang meributkan pernikahanmu tapi… tega-teganya kau bawa Huo Mei Er ke hutan. Aku tidak percaya pernah begitu mempercayai Bai Yu Ge. Aku tidak percaya pernah menganggap Bai Yu Ge beda dari laki-laki lain… Ternyata sama saja…,” Gao Qhing Nu rupanya benar-benar sedang emosi.

“Yang aku inginkan adalah tidak ada yang mengatur pernikahanku. Aku mau menikah kapan dan dengan siapa biarkan aku sendiri yang mengatur.”

“Karena Bai Yu Ge tahu Huangshang bermaksud menjodohkan aku denganmu, benar dugaanku?”

“Qhing Nu, sejak awal aku hanya menganggapmu sebagai teman. Aku tidak pernah berpikiran untuk jatuh cinta padamu. Dunia kita berbeda. Kau tidak akan tahan dengan cara hidupku.”

“Lalu Bai Yu Ge akan menikahi Huo Mei Er?”

Bai Yu mengangguk. Cukup sekali untuk memberitahukan keputusannya yang sudah bulat itu.

“Karena Bai Yu Ge pernah menidurinya?”

“Terserah Qhing Nu bicara apa. Sudah sore, ayahku pasti sedang menunggu. Aku permisi.” Dengan kata terakhir itu, Bai Yu meninggalkan Gao Qhing Nu di pelataran.

Benar dugaannya. Wajah Zhang Sha Hai telah memerah menahan marah. Ayahnya ini berdiri di depan pintu gudang tempat Bai Yu harusnya berada membawa cambuk yang sama dengan yang dipakainya malam lalu.

Laoye, jangan cambuk Shaoye lagi. Luka kemarin saja belum sembuh,” pinta Lao Zhen di hadapan Zhang Sha Hai.

Fuma, aku yang mengizinkan dia pergi. Cambuk itu berikan padaku,” kali ini Qhing Gongzhu yang membujuk Zhang Sha Hai.

Selagi itu Zhang Sha Hai tetap diam. Tangkai cambuk dipegangnya erat tak membiarkan Qhing Gongzhu mengambilnya. Bai Yu juga diam. Menatap ayahnya tanpa ada rasa gentar sedikitpun. Padahal jika anak-anak Zhang Sha Hai lainnya berada di tempat Bai Yu saat ini, mereka pasti sudah menunduk ketakutan karena tatapan marah Zhang Sha Hai.

Die boleh mencambukku lagi tapi nanti. Biarkan aku bicara dengan Daniang dulu.”

Kesal setengah mati Zhang Sha Hai mendengar nada bicara Bai Yu. Lagaknya Bai Yu tak peduli dengan luka cambuk di punggungnya dan malah mengajukan permintaan seperti itu. Ia membalikkan badan, tentu saja maksudnya mengizinkan Bai Yu bicara dengan Qhing Gongzhu seperti permintaannya.

“Maaf, Daniang. Bai Yu pergi lama hingga Die sudah keburu pulang.”

“Su Laogong sakit apa sampai membuatmu pergi selama ini?”

“Penyakitnya bukan masalah besar. Hanya A Gou yang terlalu panik saja. Bai Yu baru pulang sesore ini karena tadi Bai Yu bertemu dengan Mei Er. Lalu Bai Yu menghantar dia pulang sekaligus bicara beberapa patah kata dengan Huo Shushu. Maaf, Bai Yu telah membuat Daniang panik.”

“Apa yang kau bicarakan dengannya?” Qhing Gongzhu bertanya sembari melirik Zhang Sha Hai karena ia melihat suaminya itu kini menengok dan memperhatikan setiap kata yang diucapkan Bai Yu.

“Hanya… menyampaikan maksud Bai Yu meminang putrinya.”

Zhang Sha Hai sangat terkejut sampai membelalakkan matanya lebar-lebar. “Apa katamu?”

“Dia bilang pulang sesore ini karena pergi menemui sahabatmu guna melamar putrinya untuk dia sendiri,” Qhing Gongzhu yang menyampaikan ulang maksud Bai Yu dengan menatap Zhang Sha Hai.

“Masalah lain dengan terpaksa Bai Yu merepotkan Die dan Daniang.”

“Tidak, kami tidak merasa direpotkan. Bukankah begitu, Fuma ye?”

Tidak tahu harus marah atau senang, Zhang Sha Hai berdiri melangu di tempatnya berdiri sejak tadi. Mengapa cara istrinya ini justru lebih ampuh daripada caranya? Padahal yang dihadapinya adalah anaknya dengan Nu Lei, bukan anak yang lahir dari rahim istrinya ini.

“Ayahmu terlalu senang sampai sepatah katupun tak ada yang bisa keluar dari mulutnya.”

Die, kalau Die mau mencambukku lagi, cambuklah,” ujar Bai Yu pada Zhang Sha Hai. Tak lupa ia sengaja berlutut di hadapan Zhang Sha Hai.

Perlahan Zhang Sha Hai menggelengkan kepalanya. Dengan tangannya sendiri ia membantu Bai Yu bangkit berdiri. “Die tidak akan mencambukmu. Tidak akan… Tidak akan lagi…”

Memandangi Zhang Sha Hai yang merangkul Bai Yu pergi dari tempat itu, Qhing Gongzhu tahu inilah saatnya menanyai apa yang telah terjadi pada Xiao Tian. Dipanggilnya Xiao Tian ke ruang baca.

“Xiao Tian tidak begitu jelas tentang apa yang dibicarakan Gongzi dengan Su Laogong. Setahu saya, Su Laogong awalnya peramal keliling. Ketika kami hendak pulang, ia hanya berpesan pada Gongzi agar mengingat pesan darinya,” jawab Xiao Tian.

“Bagaimana Bai Yu bertemu Mei Er?”

“Huo Guniang hendak kabur dari rumah. Kami bertemu dengannya di jalan. Ia memakai pakaian ala laki-laki membawa buntalan kain.”

Setelah mengizinkan Xiao Tian meninggalkannya, ia sendiri juga pergi dari ruang baca. Benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikir Bai Yu. Dicambuk tak merubah jalan pikirannya tapi hanya karena melihat Huo Mei Er bermaksud kabur dari rumah, seketika pula berubah pikiran.

Bukankah artinya Huo Mei Er lebih berharga dari dirinya sendiri? Tapi mengapa sampai membuat Huo Mei Er berpikiran kabur dari rumah? Jika saja mereka tidak bertemu, apakah akibatnya bisa diterima oleh Bai Yu? Tapi… semuanya sudah berlalu. Bai Yu sendiri yang mengatakan akan menikahi Huo Mei Er bahkan pergi sendiri menemui orangtua Huo Mei Er. Pernikahan ini tak perlu lagi dirisaukan. Dan ia tahu, Huo Mei Er adalah ‘rantai’ yang sangat baik untuk menjerat Bai Yu.

Namun rupanya keributan belum berakhir. Masih ada hal yang diributkan Zhang Sha Hai dengan Bai Yu. Suara mereka terdengar sampai ke taman di samping taman dimana Grha Taman Harapan berdiri. Buru-buru Qhing Gongzhu pergi ke kamar Bai Yu.

Rupanya yang diributkan adalah dimana Bai Yu dan Huo Mei Er akan tinggal setelah menikah. Bai Yu meminta agar ia bisa tinggal di rumah yang diberikan oleh kaisar untuknya. Rumah yang berdasarkan kata kaisar disediakan untuk balai pengobatannya. Renovasinya memang hampir selesai. Tapi Zhang Sha Hai menginginkan Bai Yu tinggal di rumah itu bersama dia.

Kedua orang itu, ayah dan anak sama-sama keras kepala. Keduanya juga tidak mengenal kata mengalah.

Menggelengkan kepalanya bingung melihat kelakuan mereka Qhing Gongzhu baru berkomentar. “Apakah tinggal di rumah ini buatmu benar-benar menyiksa, Bai Yu?”

“Bukan begitu. Aku hanya berpikiran setelah menikah tidak sebaiknya menggantungkan diri pada orangtua. Aku ingin punya rumah tanggaku sendiri.”

Kata-kata Bai Yu masuk akal. Lagipula bertahun-tahun ia hidup tanpa figur seorang ayah. Jika sekarang Bai Yu menjadi laki-laki yang tak ingin serba diatur dan sangat mandiri adalah suatu hal yang wajar. Tapi seorang ayah yang tak dapat merawat dan melihat anaknya tumbuh dewasa menjadi begitu melindungi juga menganggap anaknya masih kecil adalah sesuatu yang tak bisa diabaikan.

Kemudian jika ia terlihat sangat mendukung keputusan Bai Yu, Zhang Sha Hai pasti akan mengira ia memang bermaksud membuat Bai Yu pergi dari sisinya. Tapi jika Qhing Gongzhu menuruti kemauan Zhang Sha Hai, Bai Yu yang mulai terbuka akan kembali menjauhinya. Padahal ia tak ingin kedua hal itu terjadi.

“Bisakah kalian menghentikan pembicaraan ini? Sudah waktunya makan malam dan aku benar-benar tidak ingin waktu makan nanti pembicaraan ini berlanjut. Kepalaku pusing.”

Berhasil. Dengan frase ‘kepalaku pusing’ ia telah membuat Bai Yu beralih memperhatikannya. Anak tirinya itu mendekati dan meminta tangannya untuk memeriksa denyut nadi.

“Tidak ada masalah, Daniang,” setelah terdiam sesaat Bai Yu mengerti bahwa ‘pusing’ itu hanya untuk mengalihkan perhatiannya.

Fuma, anak-anakmu yang lain menunggu di ruang makan. Bisakah kau segera ke sana?”

“Aku tahu kamu terbiasa hidup mandiri, Bai Yu. Tapi kamu harus pikirkan baik-baik. Calon istrimu itu adalah seorang gadis yang selalu dimanja orangtuanya. Apakah ia sanggup mengatur semuanya sendiri? Sedangkan jika kalian tinggal di rumah ini, tak ada yang perlu diurusnya selain dirimu.”

“Tak terbiasa pun harus membiasakan diri. Jika tidak membiasakan diri, selamanya tidak akan bisa.”

“Kamu benar-benar keras kepala.” Ucapan ini tak dihiraukan oleh Bai Yu.

“Rumah itu juga masih dalam kota Jingcheng. Jika aku egois, maka aku akan bawa Mei Er kembali ke Nanshan.”

“Aku akan bicarakan dengan ayahmu. Ia sudah terlampau kecewa tidak merawatmu selagi kau kecil. Mengertilah perasaannya, Bai Yu. Kalian jangan bertengkar hanya masalah seperti ini.”

Aku tahu.

“Cepatlah turun. Jika tidak saudaramu yang lain akan menghabiskan semua lauk dan tak ada sisa untukmu,” Qhing Gongzhu bicara sambil menuruni tangga.

***

[1]Zishi : China kuno membagi 1 hari menjadi 12 satuan. Zishi antara jam 23.00-01.00. Dan karena di masa lalu jam sangat mahal, maka hanya sebagian orang yang memilikinya. Karena itu, pada jam-jam tertentu dibunyikan genta untuk memberitahukan saat itu sudah jam apa.
[2]Berkowtow : memberi hormat dengan berlutut dan dahi menempel ke lantai
[3]Hou : satu minggu dalam kalender China. 1 hou = 5 hari.

5 Komentar
  1. panda permalink

    belum baca habis, tapi:
    1. tumben bai yu kali ini kurang ‘rapi’ kerjanya. dia cukup parah dengan melibatkan si marga Lu itu. kalau saja A Bu gak kebetulan nongol di sana, mungkin si marga Lu sudah tidak lolos dari maut. setelah kejadian di kedai dia hanya menyuruh pergi tanpa ada ide lain. 😉
    2. kenapa bai yu juga akhirnya ikut menyeret baiyu jiao dalam kejadian pembunuhan anak angkat wangzi itu? bukannya itu malah akan merugikan bagi baiyu jiao karena mereka akhirnya ‘bersinggungan’ dengan pihak istana?
    3. gak gitu ngerti budaya dan adat zaman kuno, tapi apakah kaisar mengizinkan kehadiran jenazah di dalam ruang istana? gak ada istilah pantang gitu kah? kan biasanya di istana maunya yang ‘bagus’ aja. hehe
    4. Qing (atau Qhing yah?) gongzhu luar biasa! cerdas, lemah lembut, sayang pada keluarga, bisa ‘menekan’ suami di saat2 genting :P, bisa mencari solusi yang baik untuk semua orang, serta bisa menyayangi Bai Yu bagaikan ibu sendiri meskipun di saat yang bersamaan masih juga sedikit curiga padanya (masih kata yang sama, wanita, sungguh menyeramkan. haha). tapi karakter fave ane sejauh ini. 🙂

    nanti sambung lagi. 😉

  2. 1. alasan untuk pertanyaa nomer 1
    a. karena di sana banyak orang yang membuatnya tak bisa ‘berkutik’
    b. ada ancaman dari fan ku untuk membunuhnya. dan dia kenal sifat gurunya yang teges itu.
    c. dia tahu orang2 baiyu jiao juga ada di sekitar jingcheng sehingga si lu ini masih ada kemungkinan selamat.
    d. satu2nya ide yang terpikir daripada melukai orang2 yang ga tahu harus berbuat apapun untuk melindungi dirinya sendiri.
    2. karena kalo ga gitu g ga isa nulis bab2 berikutnya. :p
    3. yeah.. tapi ini yang meninggal masih keluarga dalam… kalau kaisar ga melakukan itu, orang2 ga mungkin bisa lihat reaksi bai yu pertama kali lihat jenazah. tentunya dia mengizinkan dengan maksud tertentu.
    4. wuaw… saya laporkan pada Qhing gongzhu kalau dia punya penggemar. mungkin panda mau tandatangannya? hihihi… saya kan ngerangkap jadi manager gichu..

  3. panda permalink

    eh? apa hubungan ancaman fan ku akan membunuh bai yu dengan dia melibatkan si marga lu pada poin 1?

    itu si mei’er juga gimana sih? menimbulkan kesalahpahaman aja dan gosip2 hot. tapi btw, si bai yu meskipun tidak berpakaian lengkap tapi kan si mei’er masih berpakaian lengkap. kan itu yang lebih penting. dasar tuh ZSH. mau2nya aja si bai yu cepat2 nikah. 😛

  4. masalahnya di jaman itu, cewek dipegang dikit aja sama cowok, namanya cemar. tu cowok harus ngawinin. nah ini.. bukan cuma dipegang.. tapi pelukan… hihihi…

    hubungan ancaman fanku dengan point 1 adalah bai yu ga bisa menunjukkan dirinya sebagai anggota baiyu jiao yang boleh memerintahkan si marga lu untuk meninggalkan jingcheng. padahal jika dia menggunakan jabatan zhuyaozhu, terhitung si marga lu adalah bawahannya.

  5. panda permalink

    oh, gitu toh. hehe. untung saja si marga lu gak celaka gara2 ulah bai yu. hihihi..

    nah lho, cewek dipegang ma cowok namanya cemar. tapi kalo ceweknya yang meluk si cowok gimana hayo? hehehe.. dasar nih si mei er. 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: