Skip to content

Bab 7

Selepas kepergian Zhang Sha Hai, nampaknya Bai Yu juga tidak berencana istirahat. Xiao Tian mengawasinya yang hilir mudik antara lemari obat di tembok lantai bawah Grha Taman Harapan ke meja panjang sekitar sepuluh langkah jaraknya dari lemari obat.

Terus begitu. Mengambil sejumput obat dari laci satu ditaruh ke meja, lalu mengambil obat di laci lainnya, juga kemudian di taruh ke meja. Entah sudah berapa kali orang yang harus diawasinya mondar-mandir seperti gangsing.

Wangzi Ye, kapan Anda akan istirahat?” tegur Xiao Tian. Kepalanya telah lelah menoleh kanan dan kiri berulang kali. Matanya juga lelah untuk terus mengikuti gerakan Bai Yu.

“Sebentar lagi,” pertanyaan itu dijawab tanpa menoleh sedikitpun.

Diperhatikannya, tampaknya Bai Yu sedang sibuk membungkus sesuatu dengan kertas. Sesuatu itu jumlahnya tak hanya satu dan semua dibentuk menjadi seperti sebuah kotak balok. Isi mereka beraneka ragam, setiap bungkus tidak ada yang sama persis. Ada yang terdiri dari daun-daunan kering saja, ada yang bercampur kulit pohon, ada yang dicampur beberapa jenis bunga kering dan beragam campuran lainnya.

Setelah selesai membungkus, Bai Yu mengambil peralatan menulis, baik tinta, alas tinta dan kuas.

Tinta berbentuk batangan digosokkan pada alas tinta yang terbuat dari batu. Kemudian ia mulai menulis suatu kata pada setiap bungkusan. Tak begitu lama, ia telah selesai. Mengecek sebentar lalu memanggil Xiao Tian. “Tolong bantu aku membagikan obat-obat ini.”

Merengut tak percaya, Xiao Tian menjawab, “Kata Daren, saya diperintahkan untuk mengawasi Anda.”

“Jika obat-obat ini kamu hantar, aku akan istirahat. Tidak pergi ke mana pun,” wajah yang diperlihatkan Bai Yu membuat Xiao Tian mendapatkan pemikiran lain.

“Baiklah,” jawab Xiao Tian. Diperhatikannya nama pada bungkusan di atas meja. Semuanya nama orang-orang yang tinggal di pemukiman kumuh. “Harga obat-obat ini saya tidak tahu, Wangzi Ye.”

Dilihatnya Bai Yu menggelengkan kepala. “Obat ini diberikan, bukan dijual. Segeralah pergi.”

Sambil mengambil bungkusan, Xiao Tian menghitungnya. Lebih dari sepuluh bungkus yang harus dihantar. Jika obat ini dibeli dari toko obat, entah berapa perak yang harus dirogoh tapi obat ini akan diberikan secara cuma-cuma.

Ia benar-benar tidak paham. Apakah karena jatah pemberian kaisar dengan statusnya sebagai cucu angkat itu berlebihan hingga dibagi-bagikan cuma-cuma dalam bentuk obat atau memang perintah mendiang kakek angkatnya.

Sampai saat ini, Xiao Tian masih tak percaya ada orang seperti itu. Mungkin nanti ia bisa bertanya pada pasien-pasien Bai Yu, sebenarnya apakah mereka benar-benar tidak mengeluarkan uang dengan menerima pengobatan dari Bai Yu. Ataukah Bai Yu mengetahui asal usulnya sehingga bertindak pura-pura murah hati seperti ini.

***

Masuk ke kamar Bai Yu, Zhang Sha Hai heran karena kamar demikian sepi. Waspada jika Bai Yu berkeliaran, ia menengok lantai atas. Menghela nafas legalah Zhang Sha Hai melihat pemilik kamar sedang duduk di dipan bersandar pada tiangnya, dengan serius membaca buku. Tapi Xiao Tian yang ia suruh menjaga justru tak ada di tempat.

“Mana Xiao Tian?”

Melihat ke arah Zhang Sha Hai, Bai Yu baru menjawab, “Kuminta menggantikanku menghantar obat ke pasien-pasien, Die.”

Tanpa memberi komentar apapun lagi, Zhang Sha Hai meminta Bai Yu membuka bajunya. Ia akan kembali memeriksa luka di lengan Bai Yu itu. “Obat?”

“Di bawah. Aku turun ambil dulu.”

Zhang Sha Hai melarang Bai Yu turun mengambil obat. Katanya ia yang akan ambil obat itu sendiri. Kakinya masih sangat kuat untuk naik turun tangga, pamernya.

Kembali naik setelah sukses menemukan kotak seukuran telapak tangan, Zhang Sha Hai menunjukkan benda tersebut pada Bai Yu. Ketika kemudian Bai Yu menganggukkan kepala, ia duduk di sisi dipan mengaplikasikan obat di luka anaknya.

Sembari mengoleskan obat, ia bicara dengan nada seorang ayah yang bijak menasihati anaknya yang nakal, “Kalau kamu mencari istri yang baik, Gao Qhing Nu adalah gadis yang tepat…”

Die bicara apa? Mengapa tiba-tiba membicarakan masalah itu?”

“Dengarkan Die bicara dulu, Bai Yu.”

Bai Yu mengatupkan bibirnya tak lagi berkata.

“Ia seorang gadis yang mengerti banyak hal dan pandai menjaga sikap. Tapi kalau kamu lebih memilih teman hidup, menurut Die, Huo Mei Er adalah pilihan yang tepat.”

Bai Yu terus diam tanpa komentar, karenanya Zhang Sha Hai kembali melanjutkan, “Die tahu, terhadap Huo Mei Er, kamu lebih terbuka. Ia gadis yang bebas, tidak mau dikekang peraturan. Karena sifatnya itulah, pengetahuannya sedikit tak umum dibandingkan dengan Gao Qhing Nu.

Die… aku sama sekali belum ada rencana ke arah itu. Boleh?”

Zhang Sha Hai menghirup nafas lalu mengeluarkannya cepat.

Jelas ia kecewa. Walaupun tak lama lagi Zhang Yi Lang akan menikah, yang ia inginkan adalah Bai Yu – putra yang tidak tumbuh besar dalam perlindungannya – segera menikah. Lebih baik sebelum Zhang Yi Lang menikah.

Die, bisakah aku tidak perlu menikah? Dengan masa laluku ini, aku tidak ingin mencelakai siapapun.

“Apa yang sedang kamu pikirkan?”

Bai Yu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak ada, Die.”

Daren?” ujar Xiao Tian tak menyangka Zhang Sha Hai sudah pulang dan ada di kamar orang yang harus dijaganya ini. Padahal ia baru saja kembali setelah disuruh mengirim obat.

Zhang Sha Hai melirik ke arah Xiao Tian, “Kusuruh kamu menjaga putraku mengapa  pergi? Tugasmu justru tidak kau laksanakan!”

“Aku yang memintanya, Die. Kukatakan padanya asal dia bagikan obat itu, aku tidak akan beranjak dari kamar. Yang dilakukannya adalah membuatku istirahat dengan hati lebih tenang. Itu sama juga dengan menjagaku.”

“Tapi dia melanggar perintah atasan. Pelanggaran seperti itu, hukumannya dua puluh kali cambuk.” Melihat muka Bai Yu yang merengut tidak setuju, Zhang Sha Hai menambahkan, “Ini aturan militer, Bai Yu. Sekalipun kamu putraku, kau bukan seorang prajurit, tidak akan mengerti masalah ini dan tidak berhak ikut campur.”

Aturan Baiyu Jiao keras, Fan Ku juga tegas. Tapi dia masih bisa menerima alasan. Apakah seorang prajurit benar-benar tidak peduli pada proses? Apakah hasil akhir demikian penting? Tanpa proses, tidak akan ada hasil, bukankah proses sama pentingnya?

“Cambuk, ya cambuklah,” jawab Xiao Tian. Jawabannya antara acuh dengan pasrah terima nasib.

“Kalau begitu cambuk aku juga. Aku yang membuat Xiao Tian melanggar perintah atasannya,” tandas Bai Yu dengan nada tegas membuat Zhang Sha Hai melotot tak percaya. Xiao Tian juga mendelikkan matanya dengan alasan sama.

“Apa-apaan kamu ini? Luka panah masih belum cukup untukmu?”

Saat Die menerima Xiao Tian, apakah Die menerima dia sebagai prajurit? Status Xiao Tian adalah pengawalku dan gaji Xiao Tian tidak diambil dari anggaran prajurit. Lagipula menurutku Xiao Tian tidak benar-benar melanggar perintah. Coba Die bayangkan… kalau Xiao Tian tidak menggantikan aku menghantar obat, mana mungkin aku bisa istirahat dengan tenang? Kalau istirahatku tidak tenang, lukaku juga tidak mungkin membaik. Kemudian setelah dicambuk, apakah besok Xiao Tian bisa menjagaku? Berarti tanggung jawabnya akan terbengkalai, apakah kemudian dia akan dicambuk lagi?”

Baru kali ini sekali bicara, seruntun kalimat sudah diucapkan Bai Yu. Jelas ia sangat berniat melepaskan Xiao Tian dari hukuman ala militer yang diterapkan ayahnya ini.

Peraturan di kediaman ini, bukannya ia tidak tahu. Lao Zhen sudah menjelaskannya pada awal statusnya terungkap. Baunya memang sama kerasnya dengan bau peraturan ala militer.

Zhang Sha Hai cukup terperangah mendengarnya. Kalau ia benar-benar menjalankan hukuman itu pada Xiao Tian, pastinya Bai Yu tak akan diam saja. Karena ia juga menyadari sifat keras Bai Yu yang mungkin sudah bawaan lahir.

Ia sangat sayang pada Bai Yu hingga tak mungkin sanggup membayangkan apa yang terjadi kelak. “Xiao Tian, ingat baik-baik! Tugasmu adalah menjaga keselamatan Da Yao wangzi. Lainnya kau bisa utus orang lain. Tahu?”

“Mengerti, Daren!”

Setelah itu, Zhang Sha Hai keluar dari kamar Bai Yu. Hembusan nafas keras terdengar ketika ia menuruni tangga. Nafasnya Zhang Sha Hai sendiri karena sifat kerasnya ternyata masih kalah dengan cinta dan penyesalannya.

“Terima kasih Wangzi Ye telah melindungi Xiao Tian.”

“Sudahlah. Kamu meninggalkan tugas juga karena diriku. Berikutnya juga tak perlu panggil Wangzi Ye, Wangzi Ye. Kupingku sakit mendengarnya.”

Berpikir sejenak, Xiao Tian baru menjawab, “Baiklah, Gongzi.”

“Kamu pergi istirahat saja. Aku ingin sendirian.”

Tak ada yang bisa dilakukan Xiao Tian selain menyingkir keluar. Beberapa hari pertama mengawal sudah cukup untuknya mengetahui orang ini sangat tertutup dan senang sendiri.

Ketika ia keluar dari pintu, anak kecil yang diketahuinya sebagai anak bungsu di kediaman ini berlari masuk dan langsung meniti tangga naik menjumpai Bai Yu.

“Bai Yu Ge… Bai Yu Ge masih marah pada Yu Er?” terdengar suara rajukan samar-samar. Tapi ia tidak mempedulikan. Anak itu tidak mungkin mengancam jiwa orang yang harus dilindunginya. Dia hanya seorang anak yang haus perhatian dan membutuhkan teman. Karenanya ia menutup pintu dan duduk di lorong tak jauh dari grha terus melakukan kewajiban dari kejauhan.

Dalam kamar di lantai atas, kedatangan Zhang Yu Er membuat Bai Yu tak bisa melakukan apa yang ingin dilakukannya. Satu bulan telah berlalu sejak bocah ini mengecewakan kepercayaannya. Satu bulan pula Bai Yu selalu berusaha menyibukkan diri agar tidak dekat dengannya. Sekarang ia tak mungkin mengelak. Melihat wajah sedih anak itu pun Bai Yu tak tega.

Perlahan, senyum tersungging di bibirnya. Dan ia berkata pada Zhang Yu Er, “Ada banyak hal yang lebih baik kamu simpan sendiri. Kamu bisa tidak dipercaya oleh teman-temanmu jika semua hal diceritakan pada orang lain.”

“Walaupun orangtuaku sendiri?”

Bai Yu mengangguk mantab.

“Kalau mereka bertanya bagaimana?”

“Ada yang perlu dijawab jujur tapi ada pula yang tidak. Kamu bisa bilang tidak jelas, tidak tahu. Seperti ibumu bertanya aku sudah menikah atau belum, punya anak atau tidak, tidak perlu ‘kan lalu kamu menggantikannya bertanya padaku?”

Tersenyum masam, Zhang Yu Er mengamati Bai Yu. “Luka Bai Yu ge sudah sembuh?”

“Hampir.”

“Yang ini kalau Niang tanya aku boleh bilang?”

Bai Yu mengangguk.

“Bai Yu Ge… temani Yu Er main. Yu Er ingin main layangan.”

Menggelengkan kepalanya, Bai Yu baru menjawab, “Tidak bisa, Yu Er. Bai Yu Ge harus istirahat agar lukanya cepat sembuh. Kalau Bai Yu Ge menemanimu main dan luka ini tidak segera sembuh, Die bisa marah besar. Jangan-jangan Bai Yu Ge dikurung di kamar.”

“Kalau begitu Bai Yu Ge ceritakan sesuatu saja untuk Yu Er, ya?”

Bai Yu berpikir sejenak dengan mata menerawang. “Kamu sudah pernah dengar cerita tentang Guan Gong?” melihat Zhang Yu Er menganggukkan kepalanya, Bai Yu berpikir lagi. “Liu Bang dengan Xiang Yu?” dilihatnya Zhang Yu Er kembali mengangguk. “Kisah Tiga Negara? Kaisar Kuning?” selain itu seruntun kisah klasik tentang perjuangan pendekar dunia persilatan juga ditanyakan. Tapi semua dijawab sama, yaitu dengan anggukan.

Sedikit frustasi, akhirnya Bai Yu mendapatkan akal. Mengapa tidak diceritakan saja pengalamannya berkelana? Banyak hal berbeda yang ia temui. Dari gurun di utara, sampai kawasan pegunungan di selatan dan barat. Mudah-mudahan, Zhang Xiao Yu belum pernah mendengarnya.

“Apa yang Bai Yu Ge lakukan di sana?”

“Jalan-jalan dengan Gan Yeye. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, itu adalah kesempatan Bai Yu Ge mempraktikkan ilmu yang diajarkannya.”

“Apakah di sana banyak yang butuh pertolongan?”

Bai Yu menggelengkan kepala.

“Sayang sekali… mereka tidak akan pernah tahu kehebatan Bai Yu Ge.”

“Kamu salah. Buatku, mereka tidak butuh pertolongan itu justru baik. Aku jadi bisa puas menikmati pemandangan dan melihat bagaimana cara mereka hidup.”

“Memangnya bagaimana mereka hidup?”

“Mereka menggembalakan ternak. Ada kambing, ada kuda. Mereka juga makan daging dan susu ternak mereka.”

“Hiii…,” Zhang Yu Er bergidik.

“Mengapa jijik? Tentu saja daging itu dimasak terlebih dahulu.”

“Apa yang kalian bicarakan?” tiba-tiba saja, Qhing Gongzhu sudah ada di sana dengan wajah tersenyum. Kiranya pertanyaan yang diajukannya hanya basa-basi karena obrolan Bai Yu dan Zhang Yu Er tentu sudah didengarnya.

Daniang,” sapa Bai Yu menganggukkan kepala hormat.

“Bagaimana lukamu, Bai Yu?” selesai bertanya Qhing Gongzhu memperhatikan guci dan kotak obat tak jauh dari dipan tempat Bai Yu berada. “Kelihatannya sudah ada orang yang mengganti perban.”

Die yang mengganti perban.”

Ia mengangguk pelan tanda mengerti lalu pandangannya beralih pada putra bungsunya. “Yu Er, Bai Yu Ge sedang sakit. Tidak baik kalau kamu mengganggunya. Sini, biar Niang yang bercerita. Biarkan Bai Yu Ge istirahat ya?”

Zhang Yu Er memasang wajah merengut pada ibunya. Sepertinya ia tak rela menyudahi dengar cerita-cerita Bai Yu.

“Aku tak apa, Daniang.”

“Qhing Nu tadi datang, tapi ayahmu bilang kau sedang tidur.”

Kata-kata Zhang Sha Hai tadi tiba-tiba kembali terngiang di benak Bai Yu. “Kalau kamu mencari istri yang baik, Gao Qhing Nu adalah gadis yang tepat… Tapi kalau kamu lebih memilih teman hidup, menurut Die, Huo Mei Er adalah pilihan yang tepat.”

Mengapa tiba-tiba aku memikirkan ini?

“Bai Yu, mengapa melamun seperti itu?” setelah menegur, ia menyuruh Zhang Yu Er keluar terlebih dahulu. Ketika Zhang Yu Er telah pergi, ia baru melanjutkan. “Daniang tahu Huo Mei Er yang terbuka dan ceria itu tampaknya sudah mulai mengikatmu.”

“Aku tidak–”

“Daniang jamin, Fuhuang akan tepati janjinya. Siapapun yang kamu pilih, kami akan merestuimu,” Qhing Gongzhu bicara dengan menepuk-nepuk pundak kirinya lalu pergi menuruni tangga dan keluar kamar.

“Bagaimana permainanku?” tanya putra Wanshang Bianfu yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat dipan Bai Yu.

“Kau tidak sedang mengatakan bahwa kaulah yang membuat Gao Qhing Nu datang lagi?”

“Harus kujawab bagaimana, ya?” jawaban yang bukan jawaban.

“Apa maumu? Apa maksud ‘main’ yang kau katakan?”

“Oh, Tian…, aku sangat senang melihat sang zhuyaozhu pintar di hadapanku marah seperti ini.” Sekali lagi putra Wanshang Bianfu tertawa. Kali ini seiring waktu tawanya mengeras lalu mendadak berhenti.

Dilihatnya wajah Bai Yu yang menatapnya tanpa ekspresi. Padahal beberapa saat tadi ia masih sempat melihat ekspresi kemarahan. Namun kali ini tak ada ekspresi sama sekali. Wajah laki-laki itu hanya seperti sebuah batu yang menatapnya dingin.

“Tak lama lagi… akan ada yang datang. Kita tunda kesenangan ini dulu, setuju?” tanpa menunggu jawaban, yang pastinya dijawab tidak, putra Wanshang Bianfu telah pergi dengan melompati jendela. Gerakannya sangat cepat. Begitu cepatnya kemudian tak terlihat lagi.

Shaoye, Huo Guniang mencari Anda. Apakah boleh ia naik kemari?”

“Aku yang turun,” jawab Bai Yu bangkit dari dipannya. Mengizinkan seorang gadis masuk ke dalam kamar tentunya tak baik bagi kehormatan gadis itu.

Dilihatnya Huo Mei Er sedang bermain air di pinggiran danau buatan Taman Harapan di bagian samping kediaman keluarga Zhang. Dengan telanjang kaki, ia merendam kakinya di air danau sampai batas betis dengan duduk di pinggiran, berkecipaklah kakinya membuat air danau beriak dan menciprati teratai yang dibiarkan tumbuh di sana dan pakaian Huo Mei Er. Namun gadis ini tampaknya tak peduli bajunya lembab dan basah. Kakinya terus berkecipak sambil tertawa-tawa riang.

“Mei Er,” tegur Bai Yu. Ia ikut duduk di sisi Huo Mei Er tapi dengan melipat kakinya seolah pendeta yang sedang meditasi. Ia tak akan membiarkan ujung celananya basah oleh air danau.

“Kata Xiao Tian Ge, sakit Bai Yu Ge tambah parah. Kelihatannya aku dibohongi.” Huo Mei Er memasang muka cemberut setelah memperhatikan Bai Yu. “Luka Bai Yu Ge sudah membaik?”

Bai Yu menganggukkan kepalanya. Dalam hati ia menyalahkan Xiao Tian yang lancang menyampaikan berita seperti itu.

“Kukira besok juga sudah sembuh,” sambil berkata, Mata Bai Yu memandangi Huo Mei Er syahdu. Merasa diperhatikan, Huo Mei Er juga berbalik memandangi Bai Yu dengan bibir tersungging senyum.

“Besok Bai Yu Ge sudah bisa pergi?”

“Seharusnya sudah.”

“Lalu besok Bai Yu Ge mau kemana?” tanya Huo Mei Er bersemangat.

“Mengunjungi Su Laogong dan Agou, menengok renovasi bangunan untuk balaiku. Entahlah. Hanya itu yang terpikir.”

“Mei Er boleh ikut?”

“Rumah Su Laogong sempit. Pemukiman itu juga tidak begitu baik. Kalau Mei Er tidak keberatan, maka akupun tak melarang.”

Terperangah senang, Huo Mei Er berdiri mendadak. Kakinya yang tiba-tiba keluar dari air membuat air menciprati manapun termasuk pakaian Bai Yu, membuat Bai Yu turut berdiri mendadak berusaha menghindari air. Seandainya ia tidak perlu menyembunyikan ilmu kungfunya, tak perlulah ia menghindari. Dengan tenaga dalamnya, ia bisa membuat air itu tak dapat membasahinya. Tentu saja dengan membekukan lalu melemparnya kembali ke danau. Tapi keadaan kali ini tak memungkinkan.

Beberapa tempat di bajunya telah basah. Untung air tidak mencapai lengannya dan membasahi luka yang mulai mengering. Luka seperti itu terkena air danau, pastinya tambah parah.

Lalu dilihatnya Huo Mei Er tengah melirik dengan wajah menyesal membuatnya ingin marah pun tak bisa marah. Memang ia selalu tak bisa marah. Dengan Zhu Bu tak pernah marah, kini dengan Huo Mei Er juga tak bisa marah. Mau tak mau ia tertawa. Tertawa kecil menertawakan ketololannya.

Sifat A Bu tak jauh dari Huo Mei Er. Apakah karena itu aku jadi merasa dekat dengan gadis ini?

“Kenapa Bai Yu Ge tertawa?” pertanyaan Huo Mei Er ini diajukan sembari memperhatikan wajah Bai Yu dari dekat. Amat dekat hingga jarak wajah mereka hanya terpaut satu setengah jengkal.

Diperhatikan dari jarak sedekat itu tentu saja membuat Bai Yu salah tingkah. Terlebih bibir Huo Mei Er dipulas tipis gincu dan harum kantong pewangi Huo Mei Er berhasil mempengaruhi indra penciuman Bai Yu. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasa. Seperti degub jantung ketika sedang latihan kungfu, ia terburu-buru memenuhi kebutuhan tambahan setiap organ tubuh lainnya.

“Bai Yu Ge! Katanya sedang sakit, kenapa main air?” jerit Zhang Xiao Yu cemburu. Tadi ia mengajak Bai Yu main di luar tapi tidak dipenuhi keinginannya. Dan sekarang, kakak tirinya ini justru bermain air dengan seorang gadis yang ia panggil Mei Er Jie.

Seandainya saja, Zhang Yu Er tidak berteriak seperti itu, Bai Yu benar-benar tidak tahu hasil akhirnya. Mungkin saja ketika mentari terbit esok, Zhang Sha Hai akan membawakan banyak bingkisan dalam bungkus kertas berwarna merah dan berhias huruf ‘shuangxi[1]’ ke rumah Huo Mei Er. Bai Yu sadar, hampir saja ia bertindak lancang.

Berlarian Zhang Yu Er menghampiri Bai Yu. Begitu sampai, ditariknya tangan Bai Yu, “Tadi Yu Er ajak main, Bai Yu Ge tidak mau katanya sakit, takut Die menghukum Bai Yu Ge karena tidak istirahat. Sekarang… Bai Yu Ge malah main air dengan Mei Er Jie.”

“Bai Yu Ge hanya duduk mengobrol di sini tapi kecipratan air,” Bai Yu berusaha membela dirinya sendiri.

“Kenapa tidak mengobrol di kamar saja? Tadi Bai Yu Ge juga mengobrol denganku di kamar.”

“Jelas tidak bisa, Yu Er. Mei Er Jie seorang gadis. Tidak baik masuk ke kamar laki-laki.”

“Tapi…”

“Tapi kamu jangan lapor pada Die kalau bajuku basah. Mengerti? Nanti malam aku lanjutkan cerita tadi, Yu Er pasti mau?”

“Mei Er Jie juga ikut dengar cerita Bai Yu Ge?”

“Tentu saja tidak. Bai Yu Ge sudah bilang tadi kalau tidak baik Mei Er Jie masuk ke kamar laki-laki. Bai Yu Ge dan Yu Er adalah laki-laki. Nanti Mei Er Jie harus bagaimana menghadapi orang?”

Entah benar-benar sudah mengerti atau tetap bingung, yang jelas Zhang Yu Er mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Langit mulai gelap, aku suruh Xiao Tian menghantarmu pulang.”

“Tapi besok…”

“Besok sekalian aku menjumpai Cheng Ming.”

“Kalau begitu kutunggu di Fukejiulou, ya?”

Bai Yu menganggukkan kepalanya. Di saat yang sama Zhang Yu Er cemberut karena tidak diajak. Tapi Bai Yu memang tidak ada rencana mengajaknya. Jadi ia memilih pura-pura tidak tahu saja. Paling nanti malam ia harus mempersiapkan diri bercerita lebih banyak untuk Zhang Yu Er.

***

Kemudian, pagi kembali tiba. Malam kemarin benar-benar harus dilalui Bai Yu dengan bercerita sampai larut malam. Dan pagi ini untungnya Zhang Sha Hai mengizinkan ia keluar rumah. Tapi dengan pesan, “Jangan memaksakan diri! Lukamu belum sembuh benar.” dan lain-lain.

Keadaan putra ketua biro pengawalan tempat Cheng Ming bekerja sudah lebih baik. Kiranya, ia tidak perlu lagi pengawasannya. Besok mereka juga sudah bisa kembali ke rumah.

“Terima kasih, Xiao Langzhong,” ucap orang itu. Ia juga memberikan beberapa liang perak kepada Bai Yu. “Aku tahu, jumlah itu sangat kecil dibandingkan pertolonganmu. Tapi kuharap Xiao Langzhong bersedia menerimanya.”

Bai Yu tersenyum sebagai jawaban bahwa ia tidak mempermasalahkan jumlah uang yang diterima. Memang, jumlah itu tak dapat dibandingkan dengan yang diterimanya dari Huo Yin Qian. Tapi jatah bulanannya sebagai cucu angkat kaisar sudah cukup untuk hidupnya sehari-hari. Apalagi pakaian masih dapat pemberian dari Zhang Sha Hai. Juga makan. Bisa dikatakan ia tak keluar apapun seandainya saja tidak keluyuran sepanjang hari mengobati orang-orang sakit dan memberikan obat gratis pada pasien dari pemukiman kumuh.

Dulu, bersama Zhu Bu ia sering makan sup tahu di kedai pinggir jalan Jingcheng. Ia tahu pemilik kedai itu pengikut Baiyu Jiao. Tapi Bai Yu benar-benar rindu harumnya sup tahu di kedai itu kembali membelai indra penciumannya.

Hari ini, ia ingin pergi bersama Xiao Tian dan Huo Mei Er. Sekalipun kaya, seorang Huo Mei Er tampaknya tidak akan mempermasalahkan dimana ia makan. Juga Xiao Tian, seharusnya tidak bermasalah. Mungkin juga membelikan Su Laogong dan A Gou.

Besoknya ia juga membawa Xiao Tian makan di sana. Juga esok dan esoknya. Kiranya setelah ia bersama Huo Mei Er dan Xiao Tian makan di kedai itu, membawa Xiao Tian makan di sana sudah menjadi kebiasaan Bai Yu.

Kini tiga hari telah terlewati. Luka panah itu juga sudah sembuh total. Sudah seharusnya Bai Yu kembali masuk ke istana mengikuti audiensi harian dengan pejabat dan pangeran lainnya.

Suasana cukup ricuh pada audiensi kali ini yang membahas percobaan pembunuhan terhadap putra mahkota. Ada yang beranggapan kejadian itu benar-benar percobaan pembunuhan. Ada yang mengatakan kejadian itu hanyalah akal-akalan Da Yao Wangzi agar dekat dengan calon penguasa berikutnya. Karena memang, setelah kejadian itu, hubungan Bai Yu dengan putra mahkota menjadi dekat. Putra mahkota yang merasa jiwanya diselamatkan oleh Bai Yu selalu melindungi kepentingan Bai Yu di istana.

“Tian Wei Wangzi,” tegur Bai Yu. “Kiranya Anda adalah seseorang yang pandai mengarang cerita. Mendekati putra mahkota, apa tujuannya? Apa kedudukan dan siapa diriku, aku tahu dengan sangat jelas. Hal ini sangat berbeda jika Anda yang merencanakan pembunuhan tersebut.”

Bai Yu sedang emosi. Karenanya ia tak dapat menjaga nada bicara dan memilih kata-kata tepat agar tampak sama berkelasnya dengan cara bicara orang-orang yang ada di sana.

Jelas kata-kata Bai Yu membuat Tian Wei Wangzi bertambah marah. Karena artinya adalah Bai Yu tahu bahwa ia mengincar kedudukan putra mahkota.

Tian Wei Wangzi juga putra Kaisar, sama seperti Putra Mahkota. Namun ia lahir dari rahim seorang selir tingkat rendah dan bukan favorit. Kedudukan itu membuat tak sedikitpun perhatian kaisar tercurah dan tak satu pun usahanya dihargai. Akibatnya tentu dapat diterka. Kedudukan putra mahkota tetap jauh di tangannya jika sang putra mahkota masih tetap hidup.

Sedangkan sang Putra Mahkota adalah putra dari permaisuri kesayangan Kaisar. Sejak kecil memang sudah dididik menjadi calon pengganti kedudukan ayahnya. Padahal kala itu, sang ayah belum menduduki kursi kaisar tapi pendidikan yang didapatnya lebih ketat dari putra mahkota dinasti yang digulingkan mereka.

Ucapan Bai Yu juga membuat Kaisar sadar. Bisa jadi percobaan pembunuhan putra mahkota disebabkan perebutan kedudukan calon penggantinya. Dan jika itu yang terjadi, pelakunya adalah salah satu dari putranya.  Tentu hal ini membuatnya sedih dan kecewa.

“Bagian pengadilan, usut kasus ini sampai tuntas. Laporkan setiap perkembangan pada zhen. Siapapun pelakunya pasti zhen hukum dengan adil,” ucap Kaisar dengan suara tegas. Tidak terlalu keras seperti orang marah tapi juga tidak lembut. Cukup untuk membuat semua orang tahu bahwa apa yang diucapkannya akan benar-benar dilakukan.

Lepas dari audiensi, Bai Yu dipanggil menghadap Kaisar. Entah apa yang akan dibicarakan oleh kaisar dengannya, Bai Yu pergi dengan dihantar kasim yang menyampaikan pesan itu.

Di ruang baca, Kaisar tengah berbincang sesuatu yang serius dengan putra mahkotanya ketika Bai Yu tiba.

“Semoga Huangshang berumur puluhan ribu tahun.”

Kaisar segera menyuruhnya kembali berdiri. Pertama-tama ia berkata kalau nada bicara Bai Yu di audiensi tadi sama seperti Zhang Sha Hai yang langsung menuju sasaran. Itu juga sebab Zhang Sha Hai tak begitu banyak bicara. Mengingat hal itu, ia dan Putra Mahkota tertawa.

Lalu Kaisar menanyakan satu hal ke hal lainnya. Ia sengaja memutar jauh menanyakan banyak hal barulah kemudian tiba-tiba bertanya, “Jika kejadian itu adalah usaha perebutan kedudukan Taizi, menurutmu siapa yang melakukannya?”

Setelah diajak bicara tentang kondisi rakyat kelas bawah, xiangqi, chuiwan[2] dan beragam hal lain yang terkadang percakapan sederhana namun sebenarnya mengandung strategi tertentu, pertanyaan yang terakhir ini tentunya tujuan utama ia dipanggil. Tak ingin mengambil resiko lebih lanjut, Bai Yu baru menjawab, “Hal seperti itu Bai Yu sebagai orang luar tidak mengerti. Bukankah hanya ayahnya sendiri yang dapat mengetahui tabiat anak-anaknya?”

Di pihak lain, kaisar juga mengerti bahwa Bai Yu sebenarnya memiliki dugaan tapi tak ingin menjawab. Dengan mengatakan diri sebagai orang luar, tentu Bai Yu merasa dirinya dekat dengan titik aman. Padahal menurutnya tidak. Siapapun dalang usaha perebutan kedudukan calon penggantinya tentu kini benci setengah mati pada Bai Yu. Terlebih kata-kata tajam yang diucapkan Bai Yu pada audiensi tadi tak mungkin membuat siapapun dalangnya merasa dirinya aman. Kemungkinannya adalah, akan ada usaha pembunuhan pada Bai Yu.

Jika Bai Yu meninggal, orang itu akan lebih bebas menaruh racun atau usaha-usaha lain. Karena tak ada tabib sehebat Bai Yu. Dan ilmu pengobatan yang dipelajari Bai Yu juga belum ada penerusnya. Apalagi Bai Yu sehari-hari berada di luar istana, berkeliaran di jalan mengobati orang satu ke orang lainnya, dari rumah satu ke rumah lainnya. Ada banyak kesempatan untuk membunuh Bai Yu.

Sebenarnya, karena inilah ia pernah membicarakan pada Zhang Sha Hai lalu melakukan sayembara tertutup pada para pendekar untuk mencari pelindung cucu angkatnya ini. Pilihan mereka jatuh pada Xiao Tian. Seseorang yang kungfunya terbilang tinggi. Ilmu meringankan tubuhnya juga baik. Dengan kedua hal tersebut, ia percaya bahwa Xiao Tian dapat menyelamatkan Bai Yu di saat kritis.

“Mulai sekarang kamu harus berhati-hati, Bai Yu. Dalang kasus ini tentunya kini juga mengincar nyawamu. Lebih baik kau pikirkan baik-baik siapa orangnya agar dapat melindungi dirimu sendiri.”

Bai Yu memandangi sang Kaisar tak percaya. Ucapan itu baginya jelas-jelas mengandung maksud bahwa kaisar tahu kalau sebenarnya dirinya memiliki perkiraan siapakah dalang percobaan pembunuhan terhadap putra mahkota. Dan orang itu kini mengincar nyawanya.

“Kamu boleh pulang sekarang.”

Berdasarkan perintah terakhir, Bai Yu pamit dan mengundurkan diri perlahan.

Di jalan, tak henti-hentinya ia memikirkan hal itu. Nyawanya kembali diincar seseorang. Namun sepertinya hal ini bukan hal yang akan dipikirkan terus menerus. Ancaman lebih besar bagi Bai Yu adalah putra Wanshang Bianfu. Dengan kelihaian orang itu menganalisa, tak lama lagi putra Wanshang Bianfu itu tahu bahwa ada orang yang juga mengincar nyawanya. Entah mereka akan kerjasama atau tidak. Jika saja mereka kerjasama, tamatlah riwayatnya.

Padahal Bai Yu belum tahu siapakah nama putra Wanshang Bianfu. Bahkan Wanshang Bianfu itu sendiri pastinya hanya nama samaran. Bukan nama sebenarnya.

Dalam dunia persilatan, semua orang tahu Wanshang Bianfu. Dan semua orang pasti merekomendasikan Wanshang Bianfu jika mereka ingin tahu rahasia sesuatu dan seseorang. Tapi, siapa nama sebenarnya Wanshang Bianfu tak ada yang tahu. Bahkan Wanshang Bianfu beristri dan beranak juga tak seorang pun yang tahu.

Seperti kata orang-orang dulu, membongkar rahasia orang lain tentu harus berhati-hati dengan rahasianya sendiri. Wanshang Bianfu tentunya benar-benar menerapkan hal tersebut dengan baik.

Gongzi, sepanjang jalan Anda melamun, sebenarnya apa yang sedang dipikirkan?” tegur Xiao Tian. Ia yang tadinya berjalan di belakang Bai Yu berlari menjejeri langkah Bai Yu.

Sadar ditegur, Bai Yu menggelengkan kepala bertindak tak terjadi apapun. Bagi Bai Yu, tak ada yang dapat diajak berbagi rahasianya. Ia tidak tahu siapa Xiao Tian. Bisa jadi Xiao Tian-lah putra Wanshang Bianfu. Sedangkan Huo Mei Er hanya seorang gadis kecil yang tak kenal masalah pelik. Dan Zhang Sha Hai sudah punya setumpuk masalahnya sendiri. Lagipula Bai Yu tak ingin ayah kandungnya tahu siapakah Bai Yu sebelum dijadikan cucu angkat Chu Langzhong.

Bai Yu berbelok menuju pemukiman kumuh. Sekalipun ia tidak pernah berbagi cerita masa lalunya dengan Su Laogong, namun kakek tua itu selalu bisa memberikan nasihat yang menyejukkan hatinya.

Ketika tiba di rumah Su Laogong, tak hanya Su Laogong dan A Gou yang ia temui. Di sana juga sudah ada Huo Mei Er membawa beberapa pelayannya. Terkejut, Bai Yu bertanya, “Mei Er, apa yang kamu lakukan?”

“Seperti yang Bai Yu Ge lihat, Mei Er sedang membantu membersihkan rumah ini,” jawab Huo Mei Er dengan bangga. Kemudian ia sibuk meemerintahkan pelayan yang dibawanya melakukan ini dan itu. Ia sendiri juga turun tangan memindahkan barang-barang.

Tak urung Bai Yu berlari menghalangi dan mengambil barang tersebut membantu mengangkatnya.

“Luka Bai Yu Ge?”

“Sudah sembuh. Tenang saja.”

Huo Mei Er tersenyum senang menatap Bai Yu. Dia memang benar-benar terlihat seperti remaja yang tengah dimabukkan oleh cinta.

“Bai Yu Ge, Jiejie ini kekasihmu, ya?” sahut A Gou yang sedari tadi memperhatikan polah Huo Mei Er di rumahnya.

Bai Yu terperanjat kaget karenanya. Ketika melirik Huo Mei Er terlihat gadis itu tengah tersenyum malu-malu. Sedangkan di dekat pintu Xiao Tian berusaha sekuat tenaga menahan tawa.

Perlahan, Bai Yu menggelengkan kepala. “Tebakan macam apa kamu ini? Sini kulihat apakah kesehatanmu sudah membaik atau belum.”

Tanpa diperhatikan Bai Yu, Huo Mei Er merengut kecewa. Tapi ia adalah gadis yang penuh tanggung jawab. Apa yang telah dimulainya tak mungkin tidak diselesaikan. Sehingga walaupun kecewa atas jawaban Bai Yu, kegiatan bersih-bersih rumah Su Laogong tetap ia selesaikan.

Matahari makin condong ke barat. Tak lama lagi sudah waktunya makan malam. Pastinya Huo Yin Qian dan istrinya sudah cemas karena anak gadis mereka tak juga pulang. Menghela nafas, barulah Bai Yu berkata pada Huo Mei Er, “Sudah waktunya kamu pulang. Ayo, aku hantar sekarang.”

Di perjalanan, untungnya Huo Mei Er sudah dihantar sampai rumah, entah mengapa Bai Yu merasa ia sedang diikuti orang. Tentu orang itu bukan Xiao Tian. Ia telah terbiasa diikuti Xiao Tian.

Orang ini pasti orang lain yang tidak pernah ia kenal sebelumnya, juga bukan putra Wanshang Bianfu. Yang jelas, ilmu meringankan tubuhnya tergolong rendah.

Dan sepertinya, Xiao Tian juga merasakan hal serupa dengan dirinya. Berkali-kali ia melihat Xiao Tian mengawasi sekitar mereka. Kanan, kiri dan belakang. Wajah Xiao Tian yang biasanya tidak begitu serius, kali ini benar-benar menampakan keseriusan dan kewaspadaan.

Sebagai seorang pesilat yang telah malang melintang dalam dunia persilatan, Bai Yu dan Xiao Tian tentunya memiliki suatu firasat. Sama seperti jika seseorang memperhatikan orang lain sedemikian rupa. Orang yang diperhatikan itu pasti bisa merasakan.

Kali ini, firasat mereka sepertinya sama. Seseorang yang belum pernah mereka temui sebelumnya dengan ilmu meringankan tubuh di bawah mereka.

Gongzi, kita diikuti orang,” lapor Xiao Tian akhirnya.

Bai Yu tak ingin Xiao Tian merasa ia sudah lebih dulu tahu sehingga menjawab, “Benarkah? Apa untungnya dia mengikuti kita? Kamu terlalu berlebihan, Xiao Tian.” Setelah bicara, ia berbelok ke jalanan dimana kedai tahu tempat biasa ia membeli berada.

Dipesannya sup tahu yang sama untuk ia dan Xiao Tian. Duduk dengan menghela nafas, ia menikmati sup tahu seolah-olah makanan itu adalah makanan terlezat di dunia. Tingkahnya ketika menikmati sup tahu tersebut sekilas mirip dengan seorang nyonya yang memberikan selembar kertas pada Zhu Bu selang bulan yang lalu.

Si pedagang bermarga Lu terus duduk di kursi belakang mejanya. Diam mengamati pelanggannya ini. Ia tidak mungkin tidak tahu kalau pembeli yang duduk di sana adalah Da Yao Wangzi. Kiranya semua orang di Jingcheng kini mengenal siapakah Da Yao Wangzi. Banyak pula di antara mereka yang berobat padanya, menaruh rasa hormat sekaligus iri.

Tapi jika ia bercerita pada mereka bahwa Da Yao Wangzi sering makan di kedainya, tak mungkin seorang pun yang percaya.

“Mau lagi, Xiao Tian?” tak lama berselang, Bai Yu berteriak pada marga Lu. “Dua porsi lagi!”

Di kedai itu, tak hanya Xiao Tian dan Bai Yu yang sedang makan. Ada sekitar dua orang lain duduk di meja lain berseberangan dengan meja yang ditempati Bai Yu. Dan kedua orang itu terperangah. Apa yang beda dari sup tahu di kedai ini?

Sebenarnya Bai Yu memiliki alasan khusus. Ia tahu dirinya diikuti. Yang mengikutinya pasti tidak punya maksud baik. Sedangkan marga Lu pemilik kedai ini adalah orang Baiyu Jiao yang ditempatkan di garis depan sebagai mata-mata. Dengan demikian, si marga Lu tak mungkin akan mendapat kesulitan berarti. Kalaupun yang mengikutinya saat ini berani ‘mengganggu’, tentu saja laki-laki berumur pertengahan tiga puluhan bermarga Lu ini tinggal melaporkannya pada petinggi Baiyu Jiao dan dalam waktu singkat, masalah selesai.

Karena itulah Bai Yu sengaja makan di sana setiap waktu. Agar orang yang mengikuti tahu kebiasaannya makan di tempat itu. Jika seseorang tahu musuhnya terbiasa makan di tempat itu, akan ada dua kemungkinan. Pertama, orang itu akan turun tangan di tempat itu mengira musuhnya tidak akan waspada. Kedua orang-orang di tempat itu mengenal musuhnya sehingga saat orang itu turun tangan, orang-orang di tempat itu akan melindungi musuhnya.

Selesai makan dengan menghabiskan tiga porsi sup tahu, Bai Yu baru kembali ke rumah. Tentu saja, kala itu matahari sudah tenggelam.

Hari dan hari terus berlalu. Musim gugur pun berubah menjadi musim salju dan kemudian musim semi kembali datang.

Hari-hari itu dilalui Bai Yu dalam pengawasan seseorang dan dalang percobaan pembunuhan terhadap putra mahkota masih belum menemukan titik terang. Artinya sang dalang memiliki kekuasaan dan kekayaan untuk ‘menutup mulut’ orang-orang yang terlibat di dalamnya. Beberapa orang memang tiba-tiba ditemukan hilang. Seperti bayangan yang tidak memiliki jejak, kasus itupun demikian.

Gongzi, hari ini Anda masih akan makan sup tahu di kedai itu?” tanya Xiao Tian.

“Apa kamu tidak suka rasanya?”

“Bukan begitu, Gongzi. Anda sendiri tahu kalau seorang musuh setiap hari mengawasi kegiatan Anda. Jadi menurut saya sebaiknya Anda tidak sering makan di suatu tempat.”

Tersenyum misterius, Bai Yu baru menjawab, “Kamu takut orang itu menaruh racun di sup tahu? Tenang dan teruslah waspada.”

Terdiam beberapa saat barulah Xiao Tian kembali berjalan mengekori Bai Yu masuk ke dalam kedai.

Kedai tampak seperti biasa. Ketika Bai Yu datang, pemilik kedai segera menyiapkan sup tahu tanpa perlu lagi Bai Yu meminta.

Tak lama, sup tahu dihantarkan ke meja tempat Bai Yu duduk. Ketika marga Lu berjalan ke meja Bai Yu terdengar suara gemerincing mangkuk keramik yang beradu dengan nampan. Suatu suara yang sebenarnya tidak pernah didengar Bai Yu ketika makan di kedai itu sebelumnya. Jadi mengapa hari ini pemilik kedai begitu gugup?

Di luar kedai, kerumunan orang tampak biasa. Mereka berjalan kaki hilir mudik tak ada yang mencurigakan tapi si pemilik kedai terus melirik ke arah gang yang berada di sisi kanan tempatnya tadi duduk. Apakah ada seseorang yang mengawasi si marga Lu ini dari gang itu?

Sup disajikan depan Bai Yu. Harumnya saja sudah tercium sejak panci kuah sup dibuka. Tapi ada sesuatu bau yang aneh dari bau sup yang disajikan di hadapan Bai Yu. Seorang Bai Yu tidak mungkin salah mengenali.

Seluruh rambut di sekujur tubuhnya menegang. Ternyata hari ini adalah hari pelaksanaan pembunuhan pada dirinya. Tapi tak butuh waktu lama, ia sudah kembali normal. Musuhnya ini menggunakan jalur yang salah. Artinya putra Wangshang Bianfu tidak berada di pihak orang itu.

“Xiao Tian, jangan makan sup itu!” perintah Bai Yu dengan mengambil mangkuk Xiao Tian. Mungkin Xiao Tian akan mengira Bai Yu sedang amat sangat lapar hingga tak membiarkan ia makan bersama-sama. Tapi Bai Yu tak peduli.

Bai Yu mengeluarkan jarum peraknya dan memasukkan ke dalam kuah sup. Dalam beberapa hitungan, jarum perak diangkatnya lagi. Nampak perubahan warna pada jarum perak yang terendam air sup. Jarum tersebut menghitam!

Sekalipun Xiao Tian adalah seorang pesilat, tentunya ia juga merasa nyeri menyadari itu semua. Dan di balik itu ia juga penasaran bagaimana seorang Bai Yu bisa tahu kalau sup mereka hari ini beracun. Pertanyaan itu tak mungkin dibiarkan hanya menjadi pertanyaan dalam hati. “Bagaimana Gongzi bisa tahu?”

“Pertama, pemilik kedai terus melirik ke arah gang itu. Kedua, sup ini dihantarkan dengan tangan gemetar. Ketiga…,” kali ini Bai Yu sengaja menahan diri untuk tidak segera mengatakan. Ia sengaja membuat semua orang penasaran. “Karena indra penciumanku lebih tajam dari kebanyakan orang sehingga racun tidak berbau dan berasa itu tetap berbau bagiku.”

Xiao Tian terperangah mendengarnya. Entah pura-pura atau sungguh-sungguh, Bai Yu tak tahu dan untuk sementara ini tak mau tahu.

Sementara itu, pemilik kedai yang melihat Bai Yu mengetes sup tahunya dengan jarum perak tiba-tiba mendatangi dan berlutut menyembah Bai Yu. “Ampun Wangzi Ye, ampun,” katanya dalam tangis pilu, panik dan takut.

Ketakutannya tentu beralasan. Kalau Bai Yu menuntutnya ke pengadilan, ia tak mungkin selamat. Lalu bagaimana nasib kedua anak gadisnya yang baru sepuluh tahunan usianya itu?

Di saat yang sama, Xiao Tian sudah cukup sadar dari rasa kagetnya. Ia berlari ke arah gang yang sering dilirik pemilik kedai. Namun tampaknya, kemahiran dalam ilmu meringankan tubuh tak membantu banyak. Orang itu tetap tidak tertangkap.

Bisa jadi karena orang itu sudah pergi sejak memaksa pemilik kedai menaruh racun dalam sup pesanan Bai Yu. Hanya saja, pemilik kedai yang ketakutan terus melirik ke arah situ. Mungkinkah karena diancam tindakannya sedang diawasi?

Tanpa perlu diberitahu, Bai Yu juga tahu bahwa si marga Lu ini punya dua gadis yang masih sangat muda usianya. Ia tak mungkin tega membiarkannya mendapat masalah dengan pengadilan. Sebenarnya bukan pengadilan yang ditakutkan. Tapi sang Dalang itu. Kalau sampai orang itu menawan kedua anak pemilik kedai atau membunuh mereka, nuraninya sebagai seorang tabib terusik. Juga nuraninya sebagai sesama pengikut Baiyu Jiao.

Dengan status sebagai Da Yao Wangzi dan di hadapan banyak orang, tak mungkin Bai Yu mengeluarkan kode bahwa ia pengikut Baiyu Jiao. Apalagi ia masih ingat ancaman Fan Ku yang akan membunuhnya jika mengaku diri sebagai pengikut Baiyu Jiao. Dengan ketegasan Fan Ku, bisa jadi ancaman itu menjadi kenyataan.

“Pulang dan bawa kedua anakmu meninggalkan Jingcheng! Sekarang juga!”

Setelah meninggalkan pesan, ia pergi mencari Xiao Tian dan mengajaknya pulang. Di musim semi, siang dan malam sama panjangnya. Dan saat ini matahari nyaris beranjak tidur.

“Kejadian tadi tak perlu laporkan siapapun.”

“Tapi Gongzi–”

“Kalau kamu laporkan, pemilik kedai akan tertimpa masalah. Kamu cerdas, Xiao Tian. Seharusnya bisa mengira-ngira siapakah yang menginginkan nyawaku.”

“Dalang percobaan pembunuhan Taizi?”

Bai Yu mengangguk. “Kalaupun bukan sang Dalang, pasti orang suruhannya. Dan  kejadian seperti ini tak mungkin lagi terjadi. Ia gagal dengan cara pertama, sangat kecil kemungkinan ia akan menggunakan cara yang sama. Sedangkan di dekatku selalu ada kamu. Berapa besar kesempatan ia turun tangan membunuhku?” tersenyum, Bai Yu melanjutkan “Aku percaya, kesempatan itu sangat kecil.”

Daren benar, harusnya Gongzi segera menguasai ilmu kungfu keluargamu dan ilmu panahan. Tapi sudah berbulan-bulan belajar, mengapa kemajuannya sangat lambat?”

Bai Yu hanya menjawab dengan sebuah senyuman.

Bagaimana ia bisa menjawab selain sebuah senyuman? Sebenarnya ilmu kungfu keluarga Zhang telah berhasil dikuasainya. Setelah satu dua kali latihan. Tapi ia berpura-pura tetap tidak bisa seiring waktu. Hal ini justru dilakukannya agar musuhnya tidak waspada. Tapi putra Wanshang Bianfu tampaknya tahu hal tersebut.

Orang itu pernah datang untuk menertawakannya beberapa bulan lalu. Ketika salju terus menerus turun dari langit tanpa mengenal pagi, siang pun malam. Orang itu menertawakannya. Ia bilang, ia tahu bahwa Bai Yu hanya berpura-pura tidak bisa. Sepertinya memang benar kalau dikatakan musuh bebuyutan adalah orang yang paling mengerti lawannya.

Sedangkan masalah panahan…, yang ini Bai Yu benar-benar tidak mampu memegang busur dengan kuat di tangan kiri dan menahan anak panah di tangan kanan. Kekuatannya berkurang drastis karena harus melakukan dua hal di saat yang sama. Dan sebagai akibat, anak panah itu tidak pernah mengenai papan target bahkan justru menabrak tanah tempat Bai Yu latihan.

Toh tidak menguasai panahan juga bukan masalah besar. Ia sanggup melempar puluhan kerikil, biji atau benda-benda kecil lainnya dan semuanya tak pernah luput dari sasaran. Karena itu, ia tak begitu niat belajar selain untuk menyenangkan hati Zhang Sha Hai.

“Ayo latihan lagi!” tarik Zhang Yi Lang. Ia ditunjuk Zhang Sha Hai mengawasi Bai Yu latihan pedang dan tombak. Sedangkan Zhang Er Bao mendapat tugas mengajari Bai Yu panahan.

Tak mungkin mengelak, Bai Yu membiarkan dirinya ditarik, dibawa ke tanah lapang yang masih ada di dalam kediaman keluarga Zhang. Di tanah lapang itulah anggota keluarga Zhang biasa berlatih. Termasuk para pelayan yang dibeli seperti Lao Zhen, semua menguasai ilmu kungfu juga panahan.

Keluarga ini memang seperti keluarga pesilat dalam dunia persilatan. Tapi mereka tidak pernah ikut campur dalam dunia persilatan. Dalam perhatian mereka hanya negara, negara dan kaisar.

***

Ini kali ke lima Zhang Er Bao menutup mukanya malas melihat kekacauan yang ada di hadapan. Dua puluh anak panah. Kakak tirinya ini telah menghabiskan anak panah sebanyak itu. Tapi tak satupun yang mengenai papan sasaran. Ada satu tapi di garis terluar papan sasaran.

Kondisi Zhang Yi Lang juga tak beda jauh. Untungnya ia mewarisi sifat pengertian dari ibunya sehingga tidak menuntut semua putra dan putri keluarga Zhang wajib menguasai kungfu dan panahan.

Pemuda ini duduk diam di pinggiran lapangan melihat setiap kekacauan yang terpapar di hadapannya. Menghela nafas pasrah, ia menasihati adiknya, “Sudahlah… ia memang tidak berbakat panahan. Kamu jangan seperti Die memaksa semua anaknya bisa segalanya.”

Die menyuruhku mengajari dia sampai bisa. Kalau bukan perintah Die, mana mau aku melakukan,” sahut Zhang Er Bao emosi.

Die datang,” Zhang Yi Lang melirik Grha Sentosa, bangunan terdekat dari lapangan tersebut. Di Grha Sentosa, papan arwah leluhur mereka ditempatkan.

Kala itu Zhang Sha Hai berdiri di koridor yang mengarah ke Grha Sentosa. Dari koridor itu ada juga ada jalan menuju lapangan tempat mereka berada.

Serempak Zhang Yi Lang dan Zhang Er Bao bangun memberi salam untuk ayah mereka. Namun Bai Yu nampaknya tidak sadar atas keberadaan ayahnya. Ia tetap memegang busur dan anak panah. Belajar memanah tanpa ada hasil berarti.

“Bai Yu, bahkan Yu Er saja dari sepuluh anak panah, enam di antaranya sampai ke sasaran. Mengapa dari dua puluh lebih anak panahmu ini hanya ada satu yang menancap di papan? Itu pun di garis luar.”

Bai Yu memandangi Zhang Sha Hai tak dapat menjawab apapun. “Die, bisakah aku tidak perlu latihan memanah?” pinta Bai Yu dengan wajah memelas.

Berkali-kali Zhang Sha Hai memandangi papan sasaran, anak panah yang menancap di tanah dan Bai Yu baru kemudian ia menjawab, “Baiklah tapi pedang dan tombak kamu harus bisa.” Kemudian Zhang Sha Hai pergi dengan kecewa.

Ia tidak percaya dari anak-anaknya akan ada satu orang yang tidak bisa memanah. Karena semua keluarganya bisa. Bahkan kakak-kakaknya yang semuanya perempuan, bibi-bibi dan anak-anak gadisnya, mereka semua bisa memanah. Mengapa hanya anaknya dengan Nu Lei yang tidak bisa?

Bai Yu tahu ayahnya kecewa karena ia tidak bisa memanah. Untuk menghiburnya hanya ada satu cara, membiarkan ayahnya tahu bahwa ia telah menguasai ilmu pedang keluarga mereka. Tapi… tidak mungkin hari ini atau besok. Harus menunggu beberapa hari mendatang. Selagi itu ia akan berpura-pura serius belajar sehingga keberhasilannya menguasai ilmu pedang seolah terjadi alamiah dalam waktu beberapa bulan ini.

Tapi besok… besok ia tidak mungkin bisa belajar. Bukankah ia sudah berjanji pada Huo Mei Er jika pergi ke hutan mencari bahan obat, akan membawa gadis itu ikut serta untuk mengajarinya mengenali tanaman obat? Gadis itu juga sudah tahu bahwa besok ia akan berangkat.

Shaoye,” tegur Lao Zhen tiba-tiba. “Laoye mencarimu.”

Baru bertemu tapi kembali mencarinya. Bai Yu bingung setengah mati. Pasti ada suatu masalah hingga Zhang Sha Hai kembali mencarinya.

“Bai Yu!” begitu masuk Zhang Sha Hai langsung membentaknya.

Xiao Tian sedang berlutut di hadapan Zhang Sha Hai tak berani bergerak sedikitpun.

“Sup tahu yang kamu beli mengandung racun mengapa tidak lapor?”

Bai Yu melirik Xiao Tian mengira pengawalnya itu yang melaporkan pada Zhang Sha Hai.

“Tak perlu melirik Xiao Tian. Yang memberitahuku bukan dia. Sekarang katakan padaku mengapa kamu tidak melaporkan?”

“Kalau aku lapor, pemilik kedai itu yang akan celaka. Siapa dalangnya tetap tidak akan terbuka. Lalu mengapa harus lapor?”

“Kamu ini anakku, Bai Yu. Tidak bisakah membuatku sehari tanpa mencemaskanmu?”

“Aku justru sengaja tidak melaporkan agar Die tidak cemas padaku,” mendekati Zhang Sha Hai, Bai Yu baru melanjutkan. “Indra penciumanku lebih tajam dari orang lain, Die. Karena itu, Die tidak perlu cemas. Dan aku tetap latihan kungfu juga ada Xiao Tian yang menjagaku.”

“Cambuk Xiao Tian tiga puluh kali!” kali ini perintahnya ditujukan pada Lao Zhen.

Die!!!” jerit Bai Yu tak percaya. “Kenapa Xiao Tian dicambuk? Dia tidak bersalah. Aku yang menyuruhnya tidak mengatakan pada Die.”

“Sudah dua kali dia melanggar perintahku. Atas alasan apapun, dia tetap akan terima hukuman.”

“Kalau begitu cambuk aku juga!”

Zhang Sha Hai tidak mengindahkan teriakan Bai Yu dan tetap menyuruh Lao Zhen segera melaksanakan perintahnya.

***

Gongzi, besok Anda tetap pergi bersama Huo Guniang?” Xiao Tian berbaring telungkup di kamarnya selagi itu Bai Yu membubuhkan obat ke luka akibat cambukan.

Tentu tidak mudah membuat Xiao Tian mau berbaring untuk diobati oleh seorang Bai Yu. Mereka sempat ribut beberapa waktu lamanya. Membuat malam yang harusnya sunyi menjadi riuh karena bentakan Bai Yu dan elakan Xiao Tian.

Bai Yu menjawab pertanyaan Xiao Tian dengan sebuah anggukan.

“Tidak bisakah diundur? Saya kira sangat tidak aman bagi Anda pergi ke hutan bersama Huo Guniang. Sekalipun Huo Guniang pernah belajar kungfu, tapi…”

“Aku tahu kemampuan Mei Er sangat terbatas. Tapi persediaan obatku juga menjelang habis. Ini musim semi. Saat terbaik memetik banyak tanaman obat.”

“Aku ikut.”

“Tidak! Jika semua berjalan lancar, sebelum gerbang Jincheng ditutup aku sudah kembali. Kamu istirahat baik-baik di kamarmu dan ingat hukuman yang akan menimpamu jika kamu nekat kabur, mengerti?”

“Tapi…, Gongzi.”

“Aku bisa jaga diriku… dan Huo Mei Er.”

Bai Yu keluar membawa obat-obatnya dalam pengawasan Xiao Tian yang menghela nafas tak tahu harus berkata dan berbuat apapun lagi.

Keputusan Bai Yu memang sudah bulat. Terkadang terbersit rasa curiga bahwa Xiao Tian adalah putra Wanshang Bianfu. Hal itu yang membuatnya bersikeras tidak membiarkan orang itu tahu bahwa obat-obat yang dicarinya sebenarnya mengandung racun tingkat tinggi. Bahwa obat-obat yang besok dicarinya itu harus diminumnya agar racun dalam tubuhnya tidak bereaksi.

Sudah banyak kelemahannya diketahui putra Wanshang Bianfu. Tak akan ia biarkan kelemahannya yang ini juga diketahui orang itu.

***

Mentari belum beranjak dari tidurnya tapi Bai Yu sudah siap dengan keranjang di pundak. Dengan langkah perlahan dan hati-hati, ia menyusuri lorong-lorong dalam kediaman keluarga Zhang menuju kandang kuda di bagian belakang kediaman yang sangat luas ini.

“Pagi-pagi buta seperti ini kamu mau pergi kemana, Bai Yu?” tegur Qhing Gongzhu.

Benar-benar seorang nyonya rumah yang bangun pagi hari sebelum suami dan anak-anaknya bangun. Padahal ia seorang putri kaisar, seorang bangsawan. Mungkin ibunya seorang permaisuri yang telah meninggal sebelum ia menikah yang mengajari. Atau mungkin juga ia melakukan tugas seorang istri sebaik mungkin agar Zhang Sha Hai tidak akan pernah berpikir meninggalkannya demi Nu Lei.

“Pagi, Daniang. Bai Yu mencari bahan-bahan obat di hutan dulu.”

“Hutan mana?”

“Sebelah barat.”

“Xiao Tian?”

“Bukankah Xiao Tian dalam masa hukuman? Tak apa, Daniang. Setelah peristiwa kemarin, seharusnya tidak ada peristiwa aneh lagi. Bai Yu permisi.”

Di bawah pengawasan Qhing Gongzhu yang rupanya cukup cemas itu, Bai Yu terus berjalan ke tempat yang ditujunya. Setelah mendapatkan kuda, ia menuntun keluar kediaman, menuju pintu gerbang Jingcheng bagian barat.

Dari arah lain, Huo Mei Er juga berjalan menuju arah yang sama. Kuda berjalan perlahan dituntunnya, sepertinya kuda itupun masih mengantuk.

“Bai Yu Ge,” sapa Huo Mei Er.

“Ayo kita berangkat sekarang.”

Menganggukkan kepalanya sekali dengan semangat, Huo Mei Er lalu naik ke kudanya. Bai Yu juga naik ke kudanya sendiri lalu mereka beriringan keluar gerbang yang baru saja dibuka.

Mereka melewati batas pinggiran Jingcheng dimana masih terdapat penginapan kecil dan rumah makan bagi pengelana kemalaman yang ingin masuk ke Jingcheng. Kemudian menembus pedesaan dan padang rumput barulah mereka tiba di tepi hutan.

Huo Mei Er turun dari kudanya dengan sangat bersemangat. Ia tak sabar menanti petualangan yang tengah menanti di hutan. Diliriknya Bai Yu, seperti biasa, laki-laki ini selalu bersikap acuh kala ia sedang semangat. Tapi di kala ia sedang sedih, laki-laki ini selalu bisa membuatnya kembali tertawa.

“Ingat, Mei Er. Jangan sentuh mereka sembarangan! Cukup laporkan padaku jika kamu melihat tanaman seperti dalam gambar di buku tadi, mengerti?”

“Aku tahu…,” jawab Huo Mei Er seadanya sembari menambatkan tali kuda ke pohon yang cukup besar dan kuat.

Selesai mengikat kuda, berlarian Huo Mei Er dengan tawa gembira. “Ayo, Bai Yu Ge! Ayo!” melihat Bai Yu yang berjalan dengan santai, Huo Mei Er benar-benar tidak tahan lagi. Ia segera menarik tangan Bai Yu agar petualangan bisa segera dimulai.

*

“Lihat! Lihat, Bai Yu Ge! Aku menemukan tanaman seperti di gambar itu,” Huo Mei Er berteriak memberitahu dengan berlompatan riang. Tingkahnya memang benar-benar mirip anak kecil. Seperti layaknya Zhang Yu Er.

Bai Yu awalnya sedang sibuk memperhatikan sebuah tanaman di sudut lain. Jaraknya terpaut puluhan langkah dari tempat Huo Mei Er menemukan tanaman.

“Bai Yu Ge!!!” jerit Huo Mei Er bertambah keras. Ia kesal karena mengira Bai Yu mengacuhkan. Tak juga diperhatikan, Huo Mei Er mengambil keputusan mencabut sendiri tanaman itu dan menunjukkannya pada Bai Yu dengan bangga. Nanti ia bisa berkata, “Lihat, aku bisa mencabutnya sendiri tanpa keracunan.”

Membayangkan hal itu saja sudah membuat dirinya senang bukan kepalang. Perlahan ia berjongkok tepat di hadapan tanaman itu. Tangannya terulur dengan gerakan hendak mencabut tanaman itu beserta akarnya.

Tanaman itu berduri. Durinya terdapat di setiap pangkal dahan dan daun. Hal ini yang membuat Bai Yu tidak mengizinkan Huo Mei Er memetiknya sendiri. Tapi semakin dilarang, orang akan semakin ingin melakukannya. Apalagi seorang Huo Mei Er.

Karena ini musim semi dan di masa Qingming[3], angin selalu berhembus. Angin tersebut menggerakkan dahan-dahan dan tanaman-tanaman muda seperti tanaman di hadapan Huo Mei Er ini.

Ketika tangan Huo Mei Er telah menyentuh batang tanaman, angin kembali berhembus, cukup kencang membuat dahan tanaman doyong mengikuti arah angin. Gerakan dahan tanaman itu membuat duri pada pangkal dahan terdekat dari tangan Huo Mei Er menembus kulit punggung tangan.

“AH!!!” jerit Huo Mei Er segera menarik tangannya. Di sekitar titik luka itu, kulitnya mulai menghitam. Untung saja, Bai Yu mendengar jeritannya dan berlari menjumpai.

Melihat punggung tangan Huo Mei Er yang mulai menghitam, buru-buru Bai Yu mengambil tangan Huo Mei Er dan menghisap darah yang telah mengandung racun dengan mulutnya. Ia benar-benar tidak memikirkan akibatnya sedikitpun.

Huo Mei Er memandangi wajah Bai Yu cemas. Tangannya saja langsung menghitam karena tertusuk duri tanaman itu. Dan Bai Yu menghisap darah beracun dari tangannya. Apa jadinya?

Tapi mengapa wajah Bai Yu tampak biasa-biasa saja? Laki-laki itu justru memetik daun dari tanaman perdu di sekitar mereka. Ia memamahnya lalu membubuhkan mamahan daun ke atas luka di tangan Huo Mei Er. Setelah itu, laki-laki ini menyobek bajunya dan menjadikan sobekan kain itu sebagai perban yang membungkus tangan Huo Mei Er.

“Sudah kubilang jangan ikut petik! Mengapa tidak bisa dikasih tahu?” gerutu Bai Yu kesal setelah rasa cemasnya berangsung hilang.

Huo Mei Er tetap menatap Bai Yu cemas lalu heran. “Bai Yu Ge, tanganku saja langsung menghitam kena duri di tanaman itu. Apakah Bai Yu Ge baik-baik saja?”

Bai Yu menganggukkan kepalanya. Cukup sekali. Kemudian sambil memetik tanaman yang telah melukai tangan Huo Mei Er, Bai Yu menjawab, “Aku dilatih Gan Yeye mencicipi racun ini dan itu. Racun dosis kecil seperti itu buatku tak masalah.”

Kelihatannya Huo Mei Er percaya dengan bualan Bai Yu. Ia mengangguk-nggukan kepalanya beberapa kali sebagai tanda mengerti dan tidak lagi menanyakan hal tersebut. Hal ini benar-benar membuat Bai Yu lega.

Bai Yu memasukkan tanaman yang dilihat Huo Mei Er ke dalam keranjang. Ia juga mencabut beberapa tanaman yang sama dengan itu dan memasukkannya ke keranjang.

Kali berikutnya, Huo Mei Er sudah tidak berani berbuat macam-macam. Ia hanya berteriak dan terus berteriak memberitahu Bai Yu setiap kali menemukan tanaman dengan ciri-ciri serupa dengan gambar yang pernah diperlihatkan padanya.

*

Matahari terus bergerak ke barat sehingga bayangan pohon terlihat semakin panjang. Awan kelabu tipis terlihat di langit terlihat seperti sapuan.

Melirik keranjangnya sudah cukup penuh dan semua kebutuhan untuk bahan obat tercukupi, Bai Yu berinisiatif untuk pulang tak lama lagi. Pemandangan di tepi sungai dalam hutan ini cukup indah kala matahari hendak terbenam. Ia ingin menyaksikannya bersama Huo Mei Er sebelum mereka pulang. Mudah-mudahan saja awan tipis itu tidak berubah menjadi awan tebal dan turun hujan.

“Tunggu baik-baik di sini. Aku ambil air untuk minum kita dulu,” pesannya pada Huo Mei Er sembari mengambil termos yang terbuat dari batang bambu diberi penutup dari pelana kudanya.

Setelah Huo Mei Er menjawab dengan anggukan, barulah ia berani meninggalkan gadis itu seorang diri. Toh ia pergi tak terlalu jauh. Dari tempat Huo Mei Er berada, punggung Bai Yu masih dapat terlihat.

“Gadis cantik, buat apa meladeni laki-laki bodoh macam Bai Yu Ge-mu itu? Sini ladeni kami saja,” ucapan itu disambut oleh tawa beberapa laki-laki lainnya yang muncul di belakang laki-laki yang bicara.

Jumlah mereka sekitar sepuluh orang. Dari pakaian dan gaya rambut mereka, Huo Mei Er sudah dapat memastikan mereka pastinya kawanan perampok. Gentar juga hati Huo Mei Er menghadapi kawanan perampok yang sesungguhnya.

Begundal-begundal jalanan Jingcheng tak seorang pun yang sanggup menjadi lawannya. Ilmu kungfu yang dikuasai dirasa cukup mampu menghadapi orang macam itu. Lagipula, kekuasaan ayahnya dalam bidang penginapan dan rumah makan dikenal orang di seluruh Jingcheng. Ia yakin, kaisar saja juga mengetahui penguasa rumah makan dan penginapan di negara yang dikuasainya adalah Huo Yin Qian.

Kali ini yang dihadapi Huo Mei Er adalah orang berbeda. Sepuluh orang ini jelas-jelas lebih berpengalaman dari begundal manapun yang pernah ditemuinya di Jingcheng. Lirih ia memanggil Bai Yu karena hatinya dipenuhi rasa takut.

Tapi Bai Yu terpaut cukup jauh. Sebuah suara lirih mana mungkin terdengar jika angin membawa pergi gelombang suaranya ke arah berseberangan dengan tempat Bai Yu berada. Maka yang bisa diandalkan oleh Huo Mei Er saat ini hanyalah dirinya sendiri.

Kaki dan tangannya membentuk kuda-kuda untuk mempertahankan diri. Apalagi setahu dia, Bai Yu tak bisa kungfu. Dengan cara apa laki-laki itu bisa menolongnya? Luput-luput mereka berdua menjadi tawanan perampok itu.

“Tahu kungfu rupanya? Baik, seru juga jika bisa mendapatkan gadis cantik yang pandai kungfu,” ujar orang sama dengan yang memanggil Huo Mei Er sebagai ‘gadis cantik’ di awal pertemuan.

Maka, Huo Mei Er menendang dan memukul. Ia mengeluarkan seluruh jurus yang dikuasai. Tapi bukan perampok ulung namanya jika seorang Huo Mei Er saja tidak bisa mereka kalahkan. Dengan tongkat kayu, sekali pukul di tengkuk, Huo Mei Er sudah jatuh tidak sadarkan diri. Mereka tertawa-tawa merayakan kemenangannya dan membayangkan betapa indahnya malam ini dengan seorang gadis cantik di tangan mereka.

Tawa mereka yang keras rupanya adalah langkah yang salah, Bai Yu dapat mendengar suara mereka dari tepi sungai. Merasakan ada firasat buruk, buru-buru Bai Yu kembali ke tempat ia meninggalkan Huo Mei Er.

Tapi Huo Mei Er sudah tak ada di sana. Karena Huo Mei Er yang pingsan telah dibopong, dibawa pergi oleh salah seorang kawanan perampok tadi.

Bai Yu mendengar derap suara kuda menjauh darinya di arah barat. Suara itu kiranya berasal lebih dari sepuluh kuda. Jumlah yang tergolong kecil. Ia menyempatkan diri mengambil batu-batuan kecil di atas tanah, juga biji dan semua benda kecil yang bisa dijumpainya di atas tanah dalam hutan.

Atas kemampuan memanah, Bai Yu jelas tidak percaya diri. Tapi kemampuannya melempar benda kecil tepat sasaran, tidak pernah ia ragukan. Maka Bai Yu mengejar suara kuda itu. Dengan jarak yang cukup, tidak terlalu jauh pun dekat, ia melemparkan semua benda kecil itu ke arah para perampok yang menunggang kuda.

Semuanya mengenai titik meridian membuat kawanan perampok tak dapat bergerak. Hanya satu orang yang luput karena orang tersebut dengan tangkas menghindar dari serbuan benda yang dilempar ke arahnya. Tapi tak begitu masalah. Toh orang itu tidak melihat siapa yang melemparnya juga bukan orang yang membawa Huo Mei Er.

Sekali lagi Bai Yu melempar benda-benda kecil itu. Ia ingin membuat mereka semua buta sesaat agar tidak melihat dirinya terbang dengan ilmu meringankan tubuh mengambil Huo Mei Er yang kiranya masih tidak sadar.

Totokan itu dalam beberapa jam akan terbuka sendiri. Semakin tinggi kemampuan kungfu mereka, semakin cepat pula totokan akan terbuka.

Beberapa jam sebenarnya adalah waktu yang cukup untuk membawa Huo Mei Er pergi ke luar hutan. Dengan ilmu meringankan tubuh yang dikuasai Bai Yu, seharusnya mereka sudah kembali masuk gerbang Jingcheng.

Masalahnya adalah Bai Yu tidak boleh mengeluarkan tenaga dalamnya. Kalau nekat, racunnya akan kembali bereaksi. Itulah yang terjadi pada dirinya saat ini. Demi menyelamatkan Huo Mei Er, ia mengeluarkan tenaga dalam untuk melemparkan benda-benda kecil tersebut. Hal itu membuatnya harus kembali mengalami siksaan racun.

Tubuh Bai Yu menjadi dingin seolah beku. Butuh waktu beberapa jam untuk kembali pulih. Kali ini ia tidak membawa jarum perak untuk akupuntur. Yang bisa dilakukannya hanya mengobati dengan bahan obat-obat yang masih berupa tanaman utuh. Semuanya itu membuat proses pemulihan lebih lambat dari saat Chu Langzhong ada dan memberikannya terapi akupuntur ketika reaksi pertama muncul.

Untungnya adalah Huo Mei Er masih pingsan. Gadis itu tidak perlu melihat Bai Yu yang sedang berjuang menyelamatkan nyawanya sendiri sebelum mati membeku. Sangat tidak lucu kalau gadis itu sampai menyaksikan Bai Yu mati membeku pada musim semi seperti ini.

Ketika kondisinya hampir pulih total, mendung pekat di atas langit membuatnya tak dapat melihat arah matahari kalau belum terbenam atau bintang penunjuk arah jika malam telah tiba. Buru-buru Bai Yu mengangkat Huo Mei Er yang masih antara sadar dan tidak sadar. Karena terdengar suara keluhan, tapi mata gadis itu masih terpejam.

Bai Yu juga mengambil sejumlah kayu ranting yang bertebaran sekaligus keranjang berisi obatnya. Ia harus segera menemukan tempat berteduh.

Untungnya tak jauh dari tempat itu terdapat sebuah gua. Liangnya cukup sempit tapi masih bisa dilalui dengan membawa Huo Mei Er. Walau hal itu membuatnya harus keluar masuk beberapa kali membawa barang-barangnya yang lain. Mudah-mudahan tidak ada binatang liar seperti macan yang berlindung dalam gua tersebut.

Ketika ia hilir mudik memasukkan barang, hujan mulai turun. Awalnya kecil dan membesar dalam hitungan tak sampai lima. Hujan itu membuat ranting-ranting yang dibawanya basah sehingga ia harus berjuang keras demi menyalakan api unggun.

Sedangkan Huo Mei Er tampaknya melanjutkan acara tidak sadar dengan tidur pulas. Mungkin bunyi tetesan hujan dan air yang menetes dari stalaktit terdengar seperti nyanyian penghantar tidur Huo Mei Er.

*

Lengkap sudah penderitaan Bai Yu. Baju lapis terluarnya basah kuyup karena hujan kini dikeringkan di dekat perapian. Kemudian tiba-tiba dalam tidurnya Huo Mei Er mengeluh kedinginan. Akhirnya Bai Yu mengorbankan baju lapis kedua yang sebenarnya juga lembab menjadi selimut Huo Mei Er. Baju yang dikenakannya saat ini tinggal selapis.

“Dingin, Bai Yu Ge…,” keluh Huo Mei Er sekali lagi dalam tidurnya.

Bai Yu benar-benar pusing. Apakah baju terakhirnya ini juga harus diserahkan untuk menjadi selimut Huo Mei Er? Tidak diserahkan, Huo Mei Er kedinginan. Jika diserahkan, apakah baik bagi Huo Mei Er ketika bangun nanti melihatnya bertelanjang dada?

Ketika Bai Yu sedang kebingungan, Huo Mei Er terbangun perlahan. Melihat wajah bingung Bai Yu, justru membuatnya ingin menambah kebingungan.

Saat itu, Bai Yu duduk di sebelah Huo Mei Er. Mudah bagi Huo Mei Er untuk menarik tangan Bai Yu membuat Bai Yu juga berbaring di sisinya. Dan itulah yang dilakukannya.

Tak cukup dengan itu, ia menindih perut Bai Yu dengan tangannya. Bai Yu yang mengira Huo Mei Er masih tidur dan hanya mengigau membuatnya tak berani bergerak sedikitpun.

Mereka berdua berbaring bersebelahan di sisi api unggun. Jarak mereka tidak jauh dari api unggun yang dibuat Bai Yu sehingga hangatnya udara karena api membelai kedua pasang kaki. Sementara itu di luar, hujan tak juga berhenti.

Jantung Bai Yu berdegub demikian keras. Ketika matanya melirik Huo Mei Er yang tidur di sisinya, tak mungkin ia bisa menampik bahwa gadis yang tengah berbaring ini memang telah menawan hatinya.

Berbaring di sisi Bai Yu sepertinya membuat Huo Mei Er merasa nyaman layaknya seorang bayi tidur di sisi orangtuanya. Ia merasa terlindungi sehingga kembali tidur pulas.

Tak tega bergerak sedikitpun karena takut membangunkan Huo Mei Er, Bai Yu hanya dapat berbaring menatap stalagtit di langit-langit gua. Kemudian Bai Yu sengaja memejamkan mata takut tergoda lagi-lagi melirik wajah Huo Mei Er yang sedang tidur.

Angin dingin yang lembab merasuk masuk ke dalam gua. Sampai di bagian dalam, angin itu membuat suara ‘Woo’ panjang. Artinya, gua itu menyempit ke dalam.

Mendengar suara itu, Huo Mei Er terbangun dan berteriak ketakutan. Didekapnya Bai Yu erat-erat. Ia sungguh tak peduli apakah Bai Yu bisa bernafas atau tidak dengan dekapan seperti itu.

“Aku takut, Bai Yu Ge… mereka…,” rupanya suara angin tadi justru mengembalikan ingatan Huo Mei Er atas kejadian sore tadi. Tubuhnya bergidik karena merasa seram.

Berusaha menenangkan Huo Mei Er, Bai Yu memeluk Huo Mei Er dan menepuk pelan pundaknya. “Tidak apa-apa. Sudah tidak apa-apa. Tidurlah lagi. Kalau bintang sudah terlihat, kita bisa mencari jalan keluar dari hutan.”

Sementara itu, di luar hujan tetap turun meskipun sudah tidak sederas tadi.

***

[1]Shuangxi : kebahagiaan ganda (囍) biasa ditemukan pada kala pernikahan atau lamaran
[2]Chuiwan :  permainan tradisional China cara mainnya serupa dengan golf.
[3]Qingming : mengacu pada kalender tradisional China dimana membagi satu musim menjadi tiga bulan dan setiap bulan terdapat dua periode. Qingming pada bulan ketiga periode pertama. Salah satu hari pada periode ini digunakan sebagai hari mengunjungi makam leluhur.

7 Komentar
  1. Huaaa.. kupikir bai yu cewek. habis orangnya lembut bgt si.. gak pernah nonton mandarin asli sih, jadinya aku ga paham gitu…
    la terus, zhang sha hai itu siapanya kaisar?? koq ga ikut dicurigai gitu?

  2. Baca dari bab 1 aja. Nanti ketahuan Zhang Sha Hai punya hubungan apa dengan kaisar. thanks dah baca. semoga menyukai dan berkesan

  3. dikau pelit spoiler..
    tp bagusnya, aku udah ngelahap semua bab..
    cepetan ya kutungguin lanjutannya..

    aku sih ga ngerti mandarin ya.. tapi kalo ni yang maenin orang korea, kayaknya yandari yang di tamra the island itu cuocok bgt ma karakternya bai yu.. jadinya tiap baca adegannya yang aku bayangin dia.. maap ya, melenceng jauh dr mandarin

  4. spoiler kayaknya berhamburan di facebook deh… makasih atas pujiannya. Mudah-mudahan tertarik untuk baca kisah lainnya.
    sebenarnya untuk casting sedang dipikirkan. belum semua tokoh didapat. yang jelas, tokoh Bai Yu aka Bai Leng Yu itu dimainkan oleh Alec Su (yang jadi Zhang Wu Ji di To Liong To yang lagi tayang di Indosiar saat ini)

  5. panda permalink

    so sweet.. bai yu lumayan juga, gak jadi bersikap lancang dalam 2 kesempatan. good job! hehe..

  6. haish… itukan karena ga mau disuruh nikah… eh.. lebih tepatnya takut melibatkan orang yang dia cintai dalam kekelaman masa lalunya. trus… yg pertama di rumahnya sendiri… mau mati kali yah… ketahuan langsung dah dikirim itu barang2 dihiasi huruf shuangxi…

  7. panda permalink

    wakakaka.. tapi kan biar dia dah berhasil ‘lulus’ ujian pertama dengan susah payah, tetap aja gak lulus ujian nasional. tetap aja dia harus nikah. hihihi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: