Skip to content

1 – Kabut Gunung Menguning Diterpa Fajar

Xuanjing

Perguruan ini berselimutkan kabut adalah hal biasa. Begitu biasa. Hal yang luar biasa adalah saya jumpai seorang anak bermain di hutan belakang perguruan, seorang diri. Saya dekati dia dengan waspada dan penasaran. Tak mungkin saya tidak penasaran. Perguruan ini terletak di puncak gunung. Puluh hampir ratus li ke bawah tak ada rumah penduduk. Saya juga jadi waspada sebab letaknya yang jauh dari rumah penduduk membuat saya berpikiran, mungkin anak itu jelmaan siluman atau makluk tak kasat mata lainnya.

“Hei!” seru saya. Anak itu dengan cepatnya menoleh. Matanya tajam begitu cemerlang. Seorang anak perempuan yang usianya belum sampai sepuluh tahun. “Bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanya saya curiga. Dia menoleh ke kanan dan kiri tak memedulikan pertanyaan saya seolah sedang mencari seseorang. Wajahnya tak berubah sedikitpun. Tak ada ketakutan yang terpancar di wajah anak tersebut. Ada sedikit bingung tapi entah apa yang membuatnya bingung. Keberadaan saya kah? Keberadaan seseorang yang bersamanya? Atau …?

“Mei[1]!” seru seorang anak lain terdengar di telinga dari arah timur. Anak itu berlari ke arah si Anak Perempuan. Larinya demikian cepat seolah menguasai ilmu meringankan tubuh. Siapakah kedua anak ini? Mengapa mereka ada di wilayah terpencil hanya berdua? Begitu tiba di hadapan anak yang perempuan, ia bertanya dengan nada kuatir, begitu penuh perhatian, “Kamu tak apa? Ke mana saja kamu? Dage[2] tinggal mencari air minum lalu kau menghilang begitu saja.” Anak yang perempuan hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak bersuara sedikitpun.

Seusai memperhatikan anak yang dipanggilnya ‘mei’ anak tersebut barulah berpaling pada saya. Pandangan matanya seolah sedang meneliti siapakah saya ini. Sungguh, anak tersebut begitu cermat dan hati-hati. “Jiujiu[3],” katanya. “Apakah Jiujiu murid perguruan itu?” tanyanya menunjuk bangunan yang bertengger di tebing nyaris mendekati puncaknya, perguruan di mana saya bernaung. Saya menganggukkan kepala lalu melihatnya mengeluarkan sepucuk kertas dari tas kain yang disandang. Ia tunjukkan kertas tersebut kepada saya seraya berkata, “Bersediakah jiujiu membawa kami menemui Lin Shigong[4]?”

Saya ambil kertas tersebut membaca tulisan yang tertera di atasnya sekilas. “Jiujiu akan menghantar kalian menemui beliau,” sahut saya kemudian. Singkat kata, akhirnya kedua bersaudara itu menjadi tanggung jawab saya untuk mendidik. Anak yang besar dinamai shifu[5] Lingtong. Sedangkan si Kecil dinamai beliau Lingyan.

Lingyan rupanya bisu. Itulah mengapa ketika pertama saya melihat dan menegurnya, ia hanya diam melihat kiri kanan tak menjawab sepatah katapun.

-*-

Xuanli

Tanggung jawab Da Shixiong[6] adalah tanggung jawabku juga. Jadi, begitu shifu menyerahkan padanya kedua anak tersebut, kewajiban dia dan aku untuk mengajari mereka.

Hari ini, kubawa keduanya ke lapangan bersama anak-anak lainnya. Lingyan dan Lingtong nampak berbakat dalam ilmu bela diri. Kakak beradik sungguh bisa disebut pasangan maut. Khususnya Lingyan. Matanya tajam menembus gelap malam. Tak seekor semut bisa lolos dari incarannya jika ia menginginkan. Tapi begitulah dirinya, jika tidak sedang berminat, apapun dan siapapun tak dapat mengendalikan. Bahkan shifu pun angkat tangan dan hanya menghukumnya melakukan sesuatu yang sederhana entah mengambil air, memotong kayu atau hal lain.

Hari itu, perguruan didatangi seorang pemuda. Pemuda tengil nan sombong. Ia menantang kami untuk duel dengannya. Tentu saja Da Shixiong tidak mengindahkan tantangan tersebut. Akan tetapi, pemuda tersebut tak kurang akal. Rupanya ia memang mengincar duel dengan Xuanjing. Pemuda tersebut memegang kartu mati Da Shixiong. Siapa yang bisa disalahkan jika begini. Aku sadar, masa muda Xuanjing memang banyak diwarnai kenakalan. Adalah shifu yang susah payah membuatnya bisa dikendalikan hingga kembali ke perguruan, sampai saat ini. Dan sekarang, dengan adanya yang menantang Da Shixiong duel, aku cukup kuatir akan mengembalikan ke perangai lamanya.

Di saat seperti itulah, Lingyan mendadak muncul membawa pedang andalannya. Tidak ada yang pernah tahu kemampuan si Pemuda itu. Sampai di mana kemampuan bertarung Lingyan juga belum pernah kami ketahui. Karena lawan Lingyan selama ini hanya murid-murid di sini. Gadis yang belum menginjak usia remaja itu belum pernah ada pengalaman bertarung dengan orang luar.

Lingyan menatap Xuanjing dalam. Dengan matanya, ia seolah sedang berkata pada Xuanjing agar mengizinkannya turun. Aku terus diam mengawasi pergerakan Xuanjing dan tercekat ketika kepalanya terangguk sekali.

Bagaimanakah Lingyan? Apakah lawannya itu dapat ia atasi? Aku kuatir jika ia kalah lalu terjadi sesuatu padanya atau laki-laki itu menerapkan suatu kecurangan agar dapat mengalahkannya. Bagaimanapun Lingyan masih di bawah umur pemuda tersebut dan seorang perempuan. Jika pemuda itu kalah pasti akan jadi bahan tertawaan.

-*-

Lingtong

Begitulah Meimei. Sejak awal aku amati, ia mengagumi Shifu. Bahkan ketika mengetahui kisah masa lalu Shifu yang penuh kenakalan sekalipun, meimei tetap mengaguminya. Jadi jika hari ini ia minta untuk turun menggantikan Shifu duel, aku tak heran. Aku cuma berharap dia tidak terluka entah menang atau kalah. Apalagi melihat lawannya yang jauh lebih tua darinya—bahkan dariku juga. Mudah-mudahan diampuninya meimei manisku itu.

Tadi penantang Shifu memperkenalkan dirinya bermarga Bao[7]. Ketika mendengar itu, raut wajah Shifu memucat. Entah apa hubungan di antara marga Bao dengan Shifu di masa lalu. Shishu juga pasti tak akan mau menceritakan padaku. Ia pasti akan berkata, “Tanyalah sendiri padanya.”

“Wahai adik manis, menyingkirlah. Lawanku bukan kau,” kata si Marga Bao. Nadanya terdengar meremehkan. Tapi bukan Meimei jika hanya dengan dasar kata itu akan menurut mundur. Lihat saja, pedangnya yang masih tersarung sudah teracung. Kakinya membentuk kuda-kuda yang mantap dan dalam seketika sudah dalam jarak dekat, memulai serangan.

Ia meluncur cepat seperti anak panah dilepas dari busur. Bagai terbang. Pedang di tangan bagaikan mata panah, teracung di depan. Namun si Marga Bao juga tidak bodoh. Dengan cepat dan sigap ia mengelak. Tubuhnya melayang tinggi dengan berputar beberapa kali ke udara dalam sekali hentakan dan kemudian mendarat tepat di mata pedang Meimei. Pertarungan ini sepertinya tidak seimbang, khususnya dari sisi pengalaman.

Nyaris satu shichen sudah berlalu. Mereka masih bertarung. Si Marga Bao justru bersemangat melayani Meimei. Bagai bermain dengan anak kecil, mungkin, di pikirannya. Pedang di tangan mereka sudah terlepas setelah Meimei tak sanggup pertahankannya di serangan sebelum ini. Lalu dengan anehnya si Marga Bao juga menanggalkan pedang dan melanjutkan serangan dengan tangan kosong.

Meimei meninju, si Bao menangkis dengan punggung tangan. Lalu berbalik menyerang dengan tendangan menyapu. Meimei berkelit dengan meloncat tinggi sembari mengarahkan punggung tangan sebagai senjata menyerang kepala lawan. Sesuai dugaanku, dengan mudahnya serangan tersebut dipatahkan. Bahkan kini musuh Meimei mengincar ulu hatinya. Aku mulai berkeringat. Dingin.

Sampai di titik itu, Meimei tetaplah tak menyerah. Padahal aku tahu pukulan tadi telah menyebabkan luka dalam. Tapi ia selalu melarang siapapun tuk datang membantu apalagi menggantikan. Tiba-tiba saja, celah kelemahannya terbuka. Ia selalu kesulitan menangani jika diserang di bagian punggung dengan jurus yang dipakainya saat ini. Aku tak tahan lagi!

-*-

Xuanjing

Sampai saat ini, saya masih tak yakin dia benar-benar datang. Dulu saya mengenalnya sebagai anak yang sopan, pintar dan manis. Mungkin salah saya. Salah saya telah mencampuri kehidupan mereka dan membuat ia menjadi seperti sekarang ini.

Lalu, turunnya Lingyan menggantikan saya apakah juga sebuah kesalahan? Gadis itu masih begitu belia. Belum lima belas tahun umurnya. Dibandingkan dengan Bao Feng, tahun ini pastinya sudah hampir dua puluh tahun. Walau saya tahu, pengalaman bertarung adalah baik untuknya, tapi entah… saya merasa sesuatu akan terjadi kelak.

Sekalipun sudah terluka, Lingyan tak kenal patah arang. Saya tak tahu apa yang menyebabkan ia seperti itu. Akhirnya Lingtong tak dapat menahan diri. Tanpa menunggu dan meminta persetujuan saya, ia maju menolong adiknya.

“Laoxiong[8],” katanya setelah menangkis satu serangan bagi Lingyan. “Xiaodi adalah Lingtong, kakak dari Lingyan,” ujar Lingtong dengan melirik adiknya yang memasang muka cemberut. “Xiaodi dan Xiaomei biasanya dilatih Shifu berdua. Mungkin bagi Laoxiong baru akan menyenangkan jika mencoba kolaborasi kami.”

-*-

Xuanli

Celaka! Kakak beradik itu begitu kompak. Sampai menantang musuh gurunya pun kompak. Aku melirik Xuanjing sedang yang dilirik tak bergeming. Aku tahu, Shixiong justru merasa cukup tenang setelah Lingtong juga maju ke depan. Lingtong dan Lingyan bagaikan dua mata pada sebuah pedang. Bersatunya mereka harusnya membawa hasil yang baik.

Tadi, ketika mengenalkan diri, sempat Lingtong melirik ke Shixiong. Mungkin karena itu, si Marga Bao merasa tak ada ruginya melawan kakak beradik itu. Sebab jika keduanya kalah, sama rasanya seperti mengalahkan Xuanjing, guru mereka.

Lingtong memungut pedang Lingyan dan memberikan pada pemiliknya. Demikian pula dengan si Bao, juga mengambil pedang yang tadi ditanggalkan. Kini mereka terdiam dalam sikap kuda-kuda masing-masing. Aku sudah tidak mengenali tujuan kedatangan Bao kemari ketika melihat pertarungan ini dan merasa, akan ada yang terjadi. Tak lama lagi.

-*-

Lingyan

Tong Ge[9] menghantarku kembali ke kamar dengan celoteh panjang-pendek. Sesaat selesai namun kemudian kembali berlanjut. Di saat sama, aku terus menunduk dalam muka cemberut. Ingin aku membalas namun sayang tak mungkin bisa. Aku bisu. Tidak bisu dari lahir, sebuah peristiwa yang terjadi pada keluarga kami menjadi penyebab. Aku sendiri tidak ingat sedikitpun. Tong Ge sepertinya ingat namun tak pernah mau membicarakan bagaimanapun cara aku minta ia bicara.

Selepas menantang Bao Feng duel—yang akhirnya aku dan Tong Ge terjun berdua dengan hasil akhir bisa dikatakan seimbang—Shigong memanggil kami berdua termasuk Shifu. Bahkan, Bao Feng juga diundang menemui beliau di ruangan. Intinya, Shigong meminta kepada Bao Feng agar memberikan kesempatan pada Shifu untuk menebus kesalahannya yang dahulu dengan ikut dia ke kediaman keluarga Bao. Selain itu, Shigong juga menyuruh Shishu untuk menemani sekaligus menjaga aku dan Tong Ge yang dianggap beliau sudah waktunya tahu dunia luar. Setelah waktu keberangkatan dipilih beliau dengan perhitungan-perhitungan, kami diminta untuk kembali ke kamar, istirahat.

Di sela-sela Tong Ge mengobati lukaku—tentunya sambil terus mengomel karena kenekatanku menggantikan Shifu duel dengan Bao Feng—aku mendengar suara langkah kaki yang tak biasa di luar kamar. Hampir aku loncat keluar guna melihat keadaan namun Tong Ge menahan langkahku dan berkata, “Diam di sini. Aku yang melihatkan untukmu.”

Di luar, kudengar Tong Ge bercakap dengan seseorang. Sepertinya suara Bao Feng, jadi musuh Shifu yang mencariku? Untuk apa?

“Ini ramuan keluarga kami. Gunakan untuk luka adikmu,” sebut suara si Tamu. “Kalian kakak beradik sungguh pasangan yang saling melengkapi. Seandainya kalian terlahir puluhan tahun lalu, mungkin akan menjadi lawan seimbang bagi pasangan Buntalan Emas[10].”

Pasangan Buntalan Emas adalah pasangan terkenal di dunia persilatan di waktu lampau. Aku dengar dari saudara-saudara di sini, mereka berdua telah dijodohkan sejak bayi dan tumbuh besar bersama, berlatih bersama hingga akhirnya malang melintang di dunia persilatan berdua. Tapi kemudian, nama pasangan tersebut menghilang dari peta pendekar terkenal zaman itu. Apakah Bao Feng mengenal mereka? Melihat dari kesamaan marga si Tamu dengan pendekar perempuan itu, mungkinkah adiknya? Lalu apa hubungan Shifu dengan mereka? KetikaShigong menyuruh Shifu meminta maaf pada keluarga Bao tadi, beban yang dirasa Shifu bagaikan menanggung ribuan kati di pundak. Kesalahan apa yang dilakukan Shifu pada masa mudanya?

-*-

 

 

[1] Panggilan untuk adik perempuan
[2] Panggilan untuk kakak laki-laki
[3] Panggilan kepada paman/orang yang dianggap paman
[4] Panggilan untuk kakek guru (guru dari orangtua)
[5] Panggilan kepada guru
[6] Panggilan untuk kakak seperguruan tertua
[7]
[8] Saudara (lebih tua)
[9] Kakak Tong
[10] 金包 JinBao secara literal bermakna ‘buntalan emas’

%d blogger menyukai ini: