Skip to content

episode 1 “Mian Dao Jian Shi”

Di kampungku, malam yang datang selalu membuat kami was-was. Dan ini sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Saat itu, seorang tetanggaku tak sengaja melihat iring-iringan mayat hidup yang dibawa kembali ke daerahnya. Katanya, salah satu mayat hidup tiba-tiba menggigit salah satu murid pendeta yang mengawalnya setelah terpapar sinar bulan purnama.
Sontak murid pendeta itu juga menjadi mayat hidup. Namun, gurunya yang tak menyadari muridnya telah berubah menjadi mayat hidup tetap melanjutkan perjalanan. Sedangkan mayat hidup berwujud murid pendeta berkeliaran di kampungku ini. Meneror kami yang tak tahu bagaimana cara menanggulangi selain bersembunyi di dalam rumah.
Akan tetapi, orang-orang dari luar kampungku justru menganggap kami bergurau. Banyak orang yang mengunjungi kampungku karena ingin melihat ‘mayat hidup’ secara langsung.

***

“Gao Fa, dengar-dengar…, di desa ini ada jian shi berkeliaran jika malam datang,” kata seorang gadis pada salah seorang laki-laki yang jalan di sampingnya.
Gadis itu tampak ketakutan namun laki-laki yang diajaknya bicara tampak tenang. Tak takut sedikitpun. Ia melangkahkan kakinya menyusuri jalanan kampung kami tampak sombong. Ia juga tak menjawab sepatahkatapun.
Aku melihat mereka dari ambang jendela kamarku dengan was-was. Siang telah berlalu. Walaupun sinar matahari masih tampak di ujung barat sana dengan warnanya yang kemerahan, bulan telah nampak di langit. Bulan purnama, tanggal lima belas.
Mereka ada tiga orang. Berjalan beriringan menentang angin yang membawa daun-daun kering untuk menghadapi mereka. Entah arah mana yang ingin mereka tuju. Setahuku, tak jauh lagi dari tempat mereka berasa saat ini, akan ada pertigaan jalan. Jika ambil ke kanan mereka akan bertemu hutan, perbatasan kampung kami. Dan jika ke kiri, mereka akan bertemu satu-satunya pasar di kampung ini.
Akan tetapi, di sore yang gelap ini, manakah pedagang yang buka? Mereka tentu tahu resikonya jika tetap buka hingga malam menjelang. Kukira, aku harus segera menyusul mereka untuk memberitahukan resiko yang akan mereka hadapi jika terus melanjutkan perjalanan. Baik ke arah kiri maupun kanan.
Aku keluar setelah menyambar korek api, lampion sederhana dan kertas jimat kuning yang telah bertuliskan huruf ‘Fu’ dari rak dekat meja makan rumahku. Selain itu aku juga menyambar mantel dari tempat ia kugantungkan.
Kususul mereka dengan terburu-buru. Dengan langkah kaki lebar, selebar yang aku dapat jangkau. Karena waktu sudah cukup lama berlalu sejak aku melihat mereka melintasi depan rumahku.
Entah sudah tiba di pasarkah mereka atau justru tiba di hutan, daerah perbatasan kampungku. Sementara itu, sinar mentari kini mulai terkalahkan oleh digdayanya kegelapan malam dan sinar rembulan tak cukup kuat untuk menggantikan mentari bertarung dengan gelapnya malam.
“HEI… HEI…!!!” teriakku keras-keras di tengah pertigaan jalan. Entah jalan manakah yang mereka pilih untuk dilintasi tadi.
Mata seorang bibi tetanggaku mendelik, berdiri di ambang pintu rumahnya. “Untuk apa kamu teriak seperti itu di pertigaan? Mau panggil jian shi, hah?!?” teriak bibi itu dengan gusar.
“Maaf, Zhao aiyi. Aku mencari tiga orang pendatang yang tadi melintasi depan rumahku. Aku takut terjadi sesuatu dengan mereka,” balasku.
“Pendatang? Tak perlu pedulikan mereka! Urus saja dirimu sendiri! Pulang sana!”
“Aku akan pulang setelah menemukan mereka,” teriakku tak peduli. Mataku sibuk melirik kiri dan kanan. Di mana di sebelah kiri, deretan bangunan begitu padat berbaris rapi sementara di kanan jalan, rumah semakin jarang dan mulai berjauh-jauhan letaknya.
Aku pilih ke arah pasar terlebih dahulu. Jikalau kedua laki-laki itu merasa bertanggung jawab atas keberadaan seorang gadis bersama mereka, kecil kemungkinan untuk memilih hutan sebagai tujuan mereka mengunjungi kampungku di sore nan misterius hari ini.
Kuseluri jalan terlebar di kampungku untuk mencari tiga orang pendatang tak tahu diri yang tak kukenal dalam gelapnya malam. Rasa kuatirku telah mengalahkan rasa takutku dan dengan hati-hati kuperhatikan setiap sudut jalanan berharap menemukan mereka dalam keadaan baik.
Pasar telah terlewati. Namun tak kutemukan satupun dari mereka. Aku mulai berpikir apakah mereka tanpa sadar pergi ke arah hutan. Aku membalikkan badanku, kembali ke pertigaan. Aku ragu apakah harus menyusul mereka ke arah hutan atau pulang ke rumah.
“AAAAHHHH…!!!” jerit seorang gadis yang membuatku sangat terkejut. Sekonyong-konyong, kulihat muncul sosok seorang gadis berlari ketakutan ke arahku. Gadis pendatang tadi. Tapi mengapa ia hanya sendiri?
Ia mendekapku sangat ketakutan. Wajahnya dibenamkan pada dadaku dan kata-katanya bergetar saat bicara.

“Jian shi… ge… dan Gao fa melawan jian shi… tolong… tolong ge… tolong Gao Fa….” Lalu gadis itu menatapku dengan wajah yang minta dikasihani.
Hatiku tergetar. Naluri seorang laki-laki untuk melindungi seorang perempuan membuatku tidak menyadari bahaya yang kuhadapi. Dengan langkah berani, seperti seorang tentara hendak maju ke medan perang aku berjalan tepat di depan gadis itu kembali ke tempat kakaknya dan seseorang yang disebut Gao Fa bertarung melawan mayat hidup.
Aku sampai ke sebuah tempat dengan hamparan rumput, sebuah wilayah yang tak begitu luas karena sebagian telah dipakai untuk lahan kebun penduduk kampung.
Bayangan dua sosok laki-laki yang sedang bergulat mati-matian melawan mayat hidup berwujud pendeta membuatku gemetar. Aku mengeluarkan kertas jimat dari kantung celanaku. Tak hanya selembar. Semua yang kubawa kukeluarkan dengan panik.
Aku berlari sekencangnya ke arah mereka. Melompat dan berguling agar dapat menempelkannya di dahi mayat hidup. Entah akan manjur atau tidak. Mengingat barang tersebut telah ada saat aku masih kecil. Kertas jimat itu adalah peninggalan adik dari kakekku yang menjadi pendeta Shaman sebelum ia meninggalkan kampung ini untuk selamanya. Sedangkan mayat hidup itu sebelumnya telah belajar ilmu Shamanisme.
Mayat hidup itu tampak tak berkutik. Aku tersenyum pada mereka sesaat lalu merengutkan wajahku dengan kesal. Mereka yang cari masalah dengan keluyuran di malam yang penuh misteri.
Lalu kutelusuri wajah dan badan mereka. Mereka menggunakan pakaian barat. Jelas mereka pasti berasal dari kota besar. Semuanya dengan kemeja dan celana. Rambut si gadis bergelombang sebahu. Mungkin model baru di kota karena di kampung kami semuanya masih serba tradisional. Namun tatanannya kini telah hancur karena ikut berkelahi melawan mayat hidup sebelum lari ketakutan ke arahku.
Dengan temaramnya sinar karena satu-satunya penerangan berasal dari lampionku, aku melihat mereka telah banyak terluka. Baik karena cakaran mayat hidup maupun karena goresan rumput dan kerikil selama mereka bergulat dengan mayat hidup.
“Ikutlah ke rumahku!” kataku pada mereka. “Luka itu harus segera diobati.”
“Terima kasih,” sahut mereka dengan jantung masih berpacu cepat. Mereka tampak masih sibuk menetralkan tarikan nafasnya.
“AHHH…,” teriak gadis itu lagi. Dan saat kutolehkan kepalaku untuk melihatnya, aku justru melihat mayat hidup itu tengah melompat-lompat ke arahku. Ia tampak sangat haus darah juga dendam padaku. Matanya memandangku lekat-lekat seperti elang yang mengincar mangsanya.
Kakiku mendadak diam tak dapat digerakkan sedikitpun. Aku terpaku di tempatku berdiri menghadapi kenyataan bahwa kertas jimat itu tak berfungsi pada mayat hidup, musuhku saat ini. Kenyataan berikutnya, kedua laki-laki itu juga terduduk lemas tak berdaya. Sama sepertiku, pikiran kami buntu karena menghadapi mayat hidup yang begitu haus darah di hadapan kami.

***

Iklan
2 Komentar
  1. amalia penulis toh , tidak dibikin buku saja sekalian ?

  2. liazhang permalink

    soalnya belum selesai ceritanya. sebagian sih udah terbit di majalah post media. tapi udah ga terbit lagi. gimana komennya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: