Skip to content

episode 3 “Jian Duan Le”

Aku tak ingin pasrah. Tak sekalipun aku ingin mati sebagai vampire. Dan akupun tak ingin mati sekarang. Karena itu, vampire ini harus kukalahkan, tekatku kuat bagai baja.

Dengan semua kekuatan yang tersisa, aku berontak. Kucengkram balik pundak vampire tersebut dan kuhempaskannya ke lantai sekuat tenagaku.

Vampire itu tak kesakitan sedikitpun setelah tubuhnya beradu dengan lantai cukup keras. Ia segera bangkit berdiri dan kembali berloncatan mengejar kami yang tampaknya telah diincar sebagai mangsanya malam ini.

Nafasku terengah-engah. Tak hanya karena aku merasa lelah setelah menguras tenagaku sehari ini. Aku lelah. Lelah untuk hidup ketakutan. Lelah untuk bersiaga sepanjang waktu. Dan lelah bertarung dengan vampire yang tak kenal takut di hadapanku ini.

Sebuah jeritan perempuan dengan mendadak membuat telingaku tuli mendadak. Rupanya seorang vampire mengejarnya. Huang Niang demikian panik berlarian mengitari ruang gudang dikejar vampire yang berloncatan di belakangnya.

Belum selesai terkejutku oleh jeritan Huang Niang, Gao Fa tiba-tiba berteriak mengaduh kesakitan. Suaranya yang berat terdengar seperti raungan macan yang kalah bertarung.

Tangannya berdarah. Rupa-rupanya terkena cakar vampire yang menjadi lawannya. Keringat dingin membanjiri tubuhnya. Dari kepala hingga kaki semuanya berlumur air asin yang keluar dari pori-pori tubuhnya.

Pendeta itu juga. Berlumur keringat hingga jubahnya lengket menempel pada tubuhnya. Dan ketiga muridnya. Semuanya tak lepas dari basah oleh keringatnya masing-masing.

“Mushi, kalau seperti ini bagaimana kita bisa menang? Mushi, tidak adakah akal untuk membuat mereka kembali jinak?” tanyaku terburu-buru dengan berteriak sembari berlari menghindar dari kejaran dua vampire di belakang dan sisi kananku.

Hawa dingin menyebar meliputi gudang. Hawa kematian yang sangat pekat menyelimuti kami. Hawa yang membangkitkan bulu kuduk, membuat kulit kami merinding.

“TOLOONNGG!!!” teriak Huang Feng tak kalah keras dengan jeritan adik perempuannya. Aku tidak heran. Jika aku dalam posisinya aku juga akan berteriak sekeras itu. Malam yang menakutkan dengan seonggok tubuh manusia mati yang hidup sebagai vampire memburunya penuh napsu.

Sekali lagi, pendeta Shaman mengeluarkan perlengkapan ‘perangnya’. Tali yang telah dimantrai, kertas jimat bertuliskan huruf ‘Fu’ yang lebih banyak dari sebelumnya, ba gua dan sebuah pedang kayu.

Terburu-buru ia mengeluarkannya dari dalam tas kotak dari kayu yang ia bawa. Bebrapa pernak-pernik kecil jatuh ke lantai mengeluarkan suara dentingan. Dan ia memungutnya satu demi satu dengan mata menoleh ke kanan kiri mengawasi pergerakan para vampire.

Aku mendekatinya dan membantu memungut pernak-perniknya. Memasukkan kembali ke dalam tasnya saat sekonyong-konyong Gao Fa merenggut sebuah lonceng dari tanganku.

Ia berlarian dengan lonceng di tangannya. Gerakan tangannya membuat lonceng bergemiricing dan rupanya menarik perhatian semua vampire di gudang. Dan Gao Fa bertambah panik dan berlari semakin kecang mengitari gudang setelah menyadari ia diikuti lebih dari 3 vampire sekaligus.

Situasi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh pendeta dan murid-muridnya. Mereka membangun altar dadakan di dalam gudang.

Taplak meja berwarna kuning dibentangkan pada sebuah kotak kayu yang mereka temukan di gudang rumahku. Ba gua, dupa besar berikut abu bekas pembakarannya, dua buah lilin besar dan beberapa barang lain semua ditempatkan dan diatur di atas taplak meja tersebut. Kemudian digambarnya lambang yin-yang di tengah lambang ba gua di lantai gudang tepat di hadapan altar dadakan buatan mereka. Mereka menggambarnya dengan abu pembakaran dupa. Sehingga warna hitam bercampur keabuan tergores pada lantai.

Setelah itu, sang pendeta bersiap-siap. Ia merapikan pakaiannya yang carut marut setelah kejar-kejaran dengan vampire lalu berdiri di belakang altar tersebut. Salah satu tangannya terkepal di depan dadanya sementara tangan lain teracung di dadanya. Mulutnya berkomat-kamit mengucapkan mantra-mantra. Lalu, ia meminum sesuatu dari sebuah wadah dan menyemburkannya keluar tepat di atas lilin. Nyala api lilin seketika membesar dan mengikuti arah semburannya.

Kini ia beralih dengan mengambil pedang kayu yang juga diletakkan di atas altar. Sementara tangannya menggenggam pedang kayu, dari mulutnya kembali terucap rangkaian mantra. Setelah itu, ia menusuk setumpuk kertas jimat dengan pedangnya itu dan membakarnya di atas nyala api lilin.

Aku sempat terpana melihatnya. Pendeta itu tampak sangat mahir melakukan semuanya. Gerakannya terasa begitu luwes. Mungkinkah demikian juga dengan shu gong? Shu gong, shu gong, di manakah dirimu berada sekarang ini?

Selagi aku terpana, ia mengambil lagi beberapa kertas mantra. Kini dengan tangannya. Di kertas mantra itu ia tuliskan huruf ‘Fu’ dengan sebuah kuas yang tintanya dibuat dari campuran bakaran dupa dan air yang sebelumnya telah dimantrai.

Lalu dengan sekali salto ia melompati altarnya dan menghadang kawanan vampire yang berlompatan di belakang Gao Fa.

Gao Fa berhenti mendadak karena gerak refleknya melihat orang bersalto ke arahnya. Gerakannya yang mendadak itu membuat para vampire di belakangnya menabraknya bertubi-tubi sehingga ia terjepit antara tembok gudang dengan para vampire.

“Mushi…., tolong aku…,” jerit Gao Fa meringis ketakutan. Hanya berjarak beberapa inchi saja antara gigi vampire dengan lehernya.

Dengan sigap, sang pendeta mendorong satu demi satu vampire agar menjauh dari Gao Fa sembari menempelkan kertas jimat pada masing-masing dahi vampire.

Sementara itu, para muridnya mengikat vampire menjadi satu dengan tali yang juga telah dimantrai.
Gao Fa berjingkrakan senang. Ia melihat ke arah para vampire dengan pandangan sinis dan mengejek.

Namun dasar vampire yang asalnya murid pendeta. Vampire tersebut berontak, berusaha melepaskan diri dari mantra-mantra. Tali yang mengikatnya terlihat bersinar terang, demikian juga dengan kertas jimat yang ditempelkan pada dahinya saat ia mengadakan pemberontakan.

Berkali-kali, tali dan jimat terlihat seperti bersinar hingga kemudian mantra terseut kalah oleh kekuatan vampire yang bertambah setelah tertimpa cahaya rembulan yang muncul setelah sebelumnya tersembunyi di balik awan.

Cahaya rembulan tersebut masuk ke gudang dari lubang udara di salah satu muka dinding gudang, menimpa vampire yang dulunya murid seorang pendeta.

Vampire lain, yang tidak kebagian cahaya rembulan tetap tertidur di tempatnya walaupun tali yang mengikat mereka lepas karena kertas jimat masih tetap bertahan pada dahi mereka. Sedangkan vampire mantan murid pendeta ini mengamuk dan mengincar kami dengan buas, lebih buas dari sebelumnya.

Kami semakin panik. Pendeta pun turut panik. Mungkin sebelumnya ia tak pernah bertemu dengan vampire sekuat ini. Kini kusebut ia raja vampire karena begitu sulit ia ditaklukan.

Tampaknya, walaupun Gao Fa pura-pura berani, ia punya kecerdikannya. Dengan lincah ia memanjat tiang penyangga bangunan gudang. Memeluk erat tiang tersebut agar tubuhnya tidak melorot ke bawah. Kini ia aman dari kejaran vampire untuk sementara waktu.

Di dekatku, pendeta kembali bersalto menuju belakang altar untuk mengambil pedang kayunya. Sedangkan murid-muridnya berlarian manghadang raja vampire yang bermaksud menghalangi guru mereka mengambil pedang.

Setelah pedang dipegang pada tangannya, ia melompat bermaksud menghunuskan pedangnya pada dada raja vampire. Namun sayang, mantra pada pedang ternyata kalah dari kekuatan raja vampire. Pedang itu justru patah menjadi dua bagian.

Kami semua terbelalak dan keringat dingin kembali membasahi tubuh kami. Kaki kami gemetar ketakutan menghadapi teror tak berkesudahan malam hari ini.

***

Iklan
Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: