Skip to content

Episode 06 “Zhua Dao Le”

Satu hal yang secara otomatis kulakukan adalah berlari sekuat tenaga. Tak tahu arah, aku hanya asal berlari selama ketiga vampire itu tidak dapat menangkapku dan menjadikan aku bagian dari mereka.

Sekuat tenaga aku berlari. Hawa dingin yang berhembus di awal musim gugur tidak kuhiraukan. Sekalipun saat itu aku tidak mengenakan baju tebal.

Langkah kakiku bergerak tak menentu. Terkadang aku merasa tubuhku limbung seolah hampir jatuh. Keseimbanganku tampaknya sangat buruk di waktu-waktu mengecam seperti saat ini.  Dapat ditebak akibatnya, ketiga vampire itu semakin mendekat.

Menyadari hal tersebut aku bertambah panik. Nafasku yang menderu di tengah malam mungkin akan terdengar seperti badai kala musim dingin.  Hatiku nyaris putus asa tapi tubuhku untungnya tidak. Rasa takut mengalahkan semua kelelahan. Aku tidak ingin mati. Sekalipun tidak ingin mati sebagai vampire. Lompat kesana kemari mencari darah untuk tetap hidup di dunia ini dan menambah banyak jumlah vampire yang berkeliaran. Membayangkannya saja buluku kembali merinding sampai ke ubun-ubun.

Berulang kali aku menoleh ke belakang. Melihat apakah mereka masih terus mengejarku. Ternyata benar. Mereka sama sekali tidak ada maksud melepasku. Seperti harimau atau binatang-binatang pemangsa lainnya. Dan aku seperti kelinci yang berlari panik ketakutan tak ingin nyawa direnggut dariku.

Kakiku melangkah semakin cepat. Tercepat yang aku bisa sambil terus berusaha tidak menimbulkan kegaduhan. Bagaimanapun, aku tidak ingin para tetangga tahu aku pulang.

Dan ternyata langkah kaki membawaku kembali ke rumah. Berusaha mencari tempat persembunyian aman, aku berhenti sesaat. Mataku berputar ke segala arah mencari dan otak kupaksa memberikan keputusan secepat mungkin. Namun belum sempat harus kemana dan bagaimana, sebuah tangan menarikku kencang masuk melalui pintu yang terbuka sebagian.

Darah dalam tubuhku berhenti mengalir sesaat. Aku gemetar dan lemas. Kukira aku akan mati saat ini juga. Air mata tergenang di pelupuk mata tak rela harus mati menjadi vampire. Hingga tiba-tiba kudengar suara pamanku menghardik, “Bantu cari barang halangi pintu, cepat!”. Terkejut aku melirik ke arahnya. Melihat dari atas sampai bawah memastikan ia benar-benar pamanku. Bukan vampire.

Ternyata benar, ia berjalan dengan kaki kanan sedikit diseret sama dengan cara jalan pamanku yang memang menderita kelainan di kaki kanannya sejak lahir. Kutarik dan kuhembuskan nafas lega sembari membantu mengangkat kursi dan meja juga barang berat lainnya untuk menguatkan pintu.

 

Kekuatan vampire mungkin berkali-kali lipat dari kekuatan manusia hidup. Atau mungkin vampire tidak mengenal rasa sakit sehingga pintu bergetar begitu keras akibat gebrakannya. Sekali, dua kali, tiga kali… jika saja pintu kayu tersebut tidak diganjal banyak barang berat dan besar, sejak tadi ketiga vampire pasti sudah ada di dalam rumah mengejar kami semua.

Untung saja, pamanku punya inisiatif. Tapi berapa lama lagi pintu kayu dapat menghalangi ketiga vampire yang haus darah? Keringat dingin terus mengucur dari sekujur tubuhku. Bahkan pamanku juga. Mulutnya tak hentinya-hentinya bergetar. Ketakutan atau mungkin juga sedang berkomat-kamit mengucapkan doa kepada para dewa agar segera menyelamatkan kami.

Di tengah-tengah komat-kamitnya, pamanku tiba-tiba tersentak seolah ingat sesuatu. Ia berlari makin masuk ke dalam rumah. Lalu keluar lagi dengan menghembuskan nafas lega.

“Aiyi kemana?” tanyaku tiba-tiba teringat bahwa sekalipun aku tidak melihat istri pamanku ini. “Sudah kusuruh pergi ke rumah adiknya,” jawabnya singkat. Sekalipun demikian, aku tahu apa sebabnya. Tentu karena teror vampire ini.

Tiba-tiba terdengar suara ‘krak’ yang keras. Kami berdua bersamaan menoleh ke asal suara. Nampak dua buah lubang selebar tangan manusia di pintu.

Debar jantungku bertambah keras seiring dengan tambah derasnya keringat dingin yang mengalir keluar dari kulitku. Demikian juga dengan pamanku. Kami berdua sangat ketakutan. Seandainya ada shugong, mungkin kami tidak perlu ketakutan seperti sekarang ini. Seandainya saja. Seandainya…

Pamanku meraih tanganku lalu menarikku masuk ke dalam. Di dalam kamarnya, yang berpintu itu, ia kembali menarik meja bahkan ranjang kayunya untuk menghalangi pintu. Berharap kali berikutnya vampire tidak dapat menembus pertahanan kami. Atau setidaknya menghambatnya sampai matahari terbit nanti beberapa jam lagi.

Mereka tidak juga pergi. Tetap berusaha menjebol pintu rumah. Bunyi ‘krak’ tanda kayu pintu patah terus mewarnai malam itu menambah ketakutanku juga pamanku.

“Kalau saja kamu tidak ikut orang-orang asing itu, kita tidak mungkin seperti ini,” keluh pamanku setengah berbisik. Tapi bagiku, berbisik ataupun tidak sama saja. Aku hanya bisa menundukkan kepala antara sedih dan rasa bersalah.

Aku mulai menghembuskan nafas lega ketika dengan tiba-tiba bunyi ‘krak’ itu berhenti dan tak ada lagi setelah sekian waktu. Kuberanikan diri membuka jendela kusadari kemudian matahari mulai terbit. Sinarnya yang keemasan muncul dari seberang timur di belakang hutan bambu.

Perlahan, kusingkirkan semua barang yang kami jadikan penghalang pintu tadi malam. Keluar dari kamar kemudian keluar dari pintu belakang. Untung saja otak vampire tidak jalan seperti otak manusia. Mereka tidak berpikir untuk masuk dari pintu belakang yang kemarin malam kami biarkan begitu saja tanpa barang-barang mengganjal pintu.

Dari pintu belakang, aku ke depan melihat keadaan. Ketiga vampire itu tak ada lagi di sana. Halaman depan rumah sepi. Di tanah terdapat jejak kakiku yang berlarian tak beraturan dan tiga pasang kaki lain. Setiap pasang jejak kaki berjarak cukup jauh dari jejak kaki yang sama di depan pun dibelakangnya. Tanda satu lompatan vampire itu cukup jauh. Begitu niatnya mereka ingin menghisap darahku. Keringat dingin kembali mengucur pada dahiku mengingat kejadian semalam.

Susah payah kutenangkan kembali hatiku dan memeriksa hal lain. Dan kutemukan lubang-lubang yang timbul akibat ulah ketiga vampire semalam membuatku pusing mendadak. Pamanku yang menyusul di belakang juga berdiri terpana di sebelahku menatap pintu rumah yang kini rusak parah.

Bagaimana caranya menutup lubang-lubang pada pintu rumah? Mentupnya pasti akan memakan waktu cukup lama. Begitu banyak lubang di pintu itu. Angin dingin dengan mudah masuk ke dalam rumah. Tak hanya itu, vampire itupun akan lebih mudah masuk jika pintu itu tidak segera diganti. Mengganti memang pilihan terbaik.

Ketika sedang memikirkan hal ini, tiba-tiba terdengar sorak-sorai penuh nada amarah para tetanggaku penduduk kampung ini dari arah jalan. Mereka seolah-olah hendak membakar hidup-hidup seseorang. Penasaran, aku menoleh melihat jalan yang ada di balik pundakku.

Apa yang kulihat ini tak dapat kupercaya, Huang Feng, Huang Niang dan Gao Fa tengah mereka giring dengan tangan terikat entah mau dibawa kemana. Kutinggalkan pintu dalam keadaan seperti sebelumnya buru-buru mengikuti mereka. Peringatan dari pamanku tak kuhiraukan karena dari nada kemarahan mereka, aku tahu akan ada akhir tak baik bagi mereka bertiga. Sekalipun aku baru mengenal mereka, tapi bukankah mereka juga manusia? Setidaknya sampai saat ini mereka tetap manusia, bukan vampire yang menghisap darah manusia.

 

Tiba di alun-alun, sebuah lapangan terbuka dengan tanah yang diperkeras oleh batu-batu di muka rumah kepala kampung, suasana bertambah ramai nyaris tak terkendali. Mereka mengikat kawan-kawan baruku masing-masing di sebuah tiang seolah-olah babi yang akan disembelih Ting dashu.

Wajahku memucat tak percaya dengan yang dilihat oleh mataku. Sedangkan teriakan-teriakan penuh nada amarah terus terdengar. Menurut para penduduk, mereka bertigalah yang menyebabkan teror ini terjadi. Mereka yang membuat istri Ting dashu kehilangan suaminya, pencari nafkah keluarga.

Gao Fa berteriak tak menentu menuntut agar dibebaskan. Katanya mereka tidak bersalah. Pada awalnya memang kampung ini sudah tak layak dihuni lagi karena sudah dikuasai vampire. Seharusnya para penduduk berterima kasih karena menyadarkan mereka pada sebuah bahaya. Teriakannya yang tak terkendali itu justru semakin memperparah kemarahan para penduduk.

Huang Feng berusaha tetap tenang. Sekalipun aku tahu ia pasti tak ingin mati konyol di kampung penuh teror seperti ini. Mungkin, ia sedang memikirkan sesuatu. Memikirkan alasan yang masuk diakal agar penduduk desa melepaskan mereka. Sementara itu, wajah Huang Niang begitu pucat ketakutan. Ia terus menerus melirik pada Huang Feng segera menemukan akal agar ia bisa selamat. Melihat wajahnya saat itu, membuatku merasa tak tega. Merasa ia adalah gadis paling malang sedunia.

Aku berlari ke hadapan mereka panik. Berteriak-teriak tanpa kendali mencoba menghentikan mereka. Tanpa kusadari tindakanku justru menjadi bumerang bagi kami. Kemarahan para penduduk makin menjadi. Bahkan ada pula yang tampaknya ingin membakarku sekaligus. Teror yang melanda kami rupanya belum berakhir.

 

 

***

Iklan
Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: