Lanjut ke konten

Toaha di Atas Kepala

Kemarin, aku melihat. Dia berdiri di depan sana termenung. Aku tak mengerti apa yang dilakukannya dan mengapa ia melakukan hal itu. Tak memberikan komentar, aku pulang membawa ribuan pertanyaan dalam hatiku. Mungkin besok kutanyakan padanya.

* * *

Putih itu seperti susu. Tercampur oleh jelaga bagaikan secangkir capuchino yang bertengger di atas kepala. Ini hari ke tiga. Dia tetap di sana. Seolah tak beranjak akupun tak tahu. Lalu, orang demi orang datang. Melalui diriku seolah aku tak ada di sana. Berjalan padanya dan menyapa dia.

Sanak saudara kukira. Tapi melihat sikap hormat yang ditunjukkan dia, kukira derajat mereka di atas dirinya. Tak sebaiknya aku berprasangka, kelak ‘kan kutanyakan. Tapi, akankah aku menjadi terlalu mencampuri urusannya?

Aku mematung menyaksikan drama di hadapanku. Jarum jam mengalir detik demi detik. Pagi berubah menjadi siang. Aku tetap di sana. Mematung, menyaksikan semua yang bisa kulihat.

* * *

Senyum itu pahit. Begitu pahit kurasakan. Mungkin ia juga merasakan hal yang sama atau bahkan lebih pahit dari yang kurasakan. Ya, harusnya memang lebih pahit dan getir kala disodorkannya benda putih, sama dengan yang ada di atas kepala dia.

Diam menjadi hiasan. Kukira tangan mereka akan bergetar kala menerima benda tersebut. Kubayangkan sebuah drama haru-biru. Tangis rindu dan ketidakberdayaan manusia menghadapi kematian orang terdekat.

Tapi ternyata… ternyata… drama di hadapanku tak seperti yang kuperkirakan. Aku salah besar. Salah telak.

Mereka tak menerima! Mencaci! Membuang dan menghempaskan benda tersebut ke lantai, bagaikan seonggok sampah tak berguna dan menjijikkan.

“Benda jelek!” seru yang satu. “Benda kasar!” timpal satunya. “Mana bisa ditaruh di atas kepala!” sambut lainnya lagi.

Aku terpana tak percaya dengan pemandangan di muka. Melihat ia termangu. Kecewa tanpa kata. Atau mungkin ada banyak kata yang seharusnya ia ungkap namun tak keluar dari ujung bibirnya. Tertahan oleh suatu kata yang disebut manusia sebagai tata krama. Sayang, mereka yang menghempaskan itu tak mengenal dua kata tersebut.

Kudengar bisik dari dia. Berkata pelan pada mereka seolah tak ingin kudengar. Aku tahu mengapa. Aku orang luar. Tak berhak ikut campur dalam urusan ini sekalipun lidahku tak tahan untuk berucap.

Bukan urusanku, bukan urusanku, kataku. Menundukkan kepala seolah tak melihat. Menutup telinga berusaha tak mendengar. Pula menutup bibirku agar tak berkata kasarlah ia. Bukankah aku hanya penonton di sini?

Upacara terus berlanjut di mataku.

Tanpa atau dengan mengenakan toaha[1]. Segelintir suara tinggi mengalir ke telinga, menggetarkan bulu, menyampaikan serantai lagu seperti sebuah pengharapan kepada otakku.

“… aeeia… ee… … Loi aaaa…”

Sedih lagu itu di hatiku. Teriring sendu dari dia di muka altar.

Kembali kutengadahkan kepala. Melihat altar yang ramai dengan persembahan. Melihat si dia dan sanak saudaranya. Toaha terpasang di sana. Bertengger di atas kepala. Tanpa suka hanya nestapa.

Kelak saat kau meninggal. Akankah anakmu mengeluh dengan keberadaan benda berwarna putih itu di atas kepalanya? Akankah ia berlaku sama sepertimu membantingnya di mukaku mengeluhkan ketidaksukarelaannya?

Tabuhan berlanjut. Nyanyian terus dilagukan. Irama-irama lagu berngiang di telingaku kala kaki melangkah pergi dari rumah duka itu.

 

 

[1] Toaha (hokkian)/daixiao (pinyin) adalah secara simbolik mengenakan tanda berkabung selama periode tertentu (biasanya 3 bulan atau lebih) setelah kematian kerabat. Tanda tersebut baik berupa ikat kepala, tudung kepala atau kain yang diikat pada lengan, pakaian dan asesoris lainnya. Namun, saat ini rata-rata para Tionghoa di Jawa mengartikanya sebagai menggunakan pakaian berkabung yang biasanya dikenakan sampai pada acara penguburan/pembakaran jenazah. Dalam cerita ini, toahayang dimaksud berupa ikat kepala bagi laki-laki dan tudung kepala bagi perempuan.

Iklan
%d blogger menyukai ini: