Skip to content

Si Pemetik Qin Xiao Feiyun

Menyiapkan mangkuk nasinya Xiao Feiyun tertegun. Dulu, dulu sekali dia juga menyiapkan mangkuk nasinya sendiri. Riuh dan ramai bungalow tak dipedulikan. Sekalipun para lelaki hidung belang terus menerus meneriakkan namanya agar keluar dari kamar meladeni mereka. Dia juga tak peduli. Karena di kamarnya itu ada seorang lelaki yang telah mengambil hati dan mengunci agar tak lagi dimasuki orang lain selain dia.

Karena lelaki itu, dia rela mengotori jemari lentik yang biasanya hanya digunakan tuk memetik qin[1] demi bawang dan aneka bumbu lain. Karena lelaki itu, dia juga rela membuang jauh-jauh dendam keluarga yang merongrong hatinya. Sebabnya adalah… lelaki itu demikian pandai meyakinkan Xiao Feiyun tuk membuang semua itu demi kisah cinta mereka.

“Mimi,” panggil lelaki itu. Mimi adalah nama kecil yang diberikan orangtuanya selagi masih hidup dan kini hanya laki-laki itu yang tahu. Nama yang semestinya menjadi rahasia seperti arti dari nama itu sendiri. Mimi berarti rahasia. Tanpa menjawab Xiao Feiyun hanya melirik dan menunggu.

“Sepulangnya dari urusan itu, aku pasti akan menjemputmu. Menjemputmu dengan megah dan meriah. Bersama dengan serombongan pemain musik yang memang pastinya akan kalah dari merdunya qin dan suaramu. Tapi… semua orang di kota ini pasti akan cemburu padamu, Mimi sayangku.”

“Asalkan Kakak tidak mempermasalahkan siapa diriku, Xiao Mimi[2] tidak mempermasalahkan hal itu.”

“Tidak, Mimi. Kau bukanlah rahasia kecilku. Kau adalah perempuan yang sangat kucintai. Aku akan menjemputmu dengan kemewahan agar kepalamu bisa tegak meninggalkan semua derita di masa lalu. Asal kau berjanji, melupakan dendammu, tak masalah bagiku jika anak laki-laki kita disematkan nama keluargamu sehingga keluargamu terus berkelanjutan.”

Xiao Feiyun hanya menatap wajah dia dalam bisu. Hatinya yang telah luluh menjadi bertambah lumer. Semakin yakinlah Xiao Feiyun, lelaki itu akan membawa kebahagian yang telah lama meninggalkan ‘kan kembali padanya. Tak lama lagi, ketika chunfen[3] tiba tahun berikutnya.

*~~*

Angin musim semi bertiup mengibarkan rambut bagian bawah Xiao Feiyun yang tergerai. Senar qin terpetik perlahan mengahasilkan dendang yang menggetarkan hati.

Ini adalah hari terakhir rambut indahnya tergerai. Besok dan lusa juga seterusnya dia telah menjadi nyonya muda sang Kakak yang ia cinta. Rambutnya akan digelung seperti pada umumnya para nyonya terhormat.

Jantungnya berdegub. Sungguh ia takut sang Kakak tidak jadi menjemput. Mungkin calon ibu mertuanya atau mungkin istri pertama Kakak  yang melarang. Padahal kisah sang Bunga Raya dilamar pedagang kenamaan kota itu telah tersiar hingga seluruh kota tahu. Akan ditaruh mana mukanya jika sang Kakak yakni si Pedagang Kenamaan membatalkan penjemputan?

Waktu terus beranjak. Sang Bibi yang bertindak sebagai wali orangtua menyisir rambut Xiao Feiyun dengan air mata berderai. Mana rela ia kehilangan bunga rayanya? Sumber penghasilan sejatinya? Bungalow ini ramai karena kehadiran Xiao Feiyun. Suara nyanyi dan petikan qin telah memikat seluruh laki-laki di kota itu. Tawa, nada suara dan pengetahuannya membuat para lelaki tak sanggup mencari bunga raya di bungalow lain. Tapi hari ini… sang Bunga Raya akan menikah. Meninggalkan semua laki-laki yang memuja demi laki-laki itu, satu-satunya lelaki yang bisa menundukkan hati sang Bunga Raya.

Masih teringat di benak Xiao Feiyun hingga saat ini. Kala itu, entah bagaimana dimulai, ia bercerita tentang masa lalunya pada Saudagar yang kini dipanggil ‘kakak’. Berceritalah ia bagaimana seorang gadis desa, cucu dari sarjana yang tak ingin bermandi kekuasaan dan gelimang harta hasil korupsi mengasingkan diri, hidup bersama orangtua dan kakek neneknya.

Dia tiga bersaudara. Adik tengahnya seorang pemuda cilik yang cekatan dan seorang adik bungsu perempuan yang manis. Dari sang ayah dan kakek, Xiao Feiyun dan adik lelakinya belajar di zi gui dan san zi jing. Dari sang kakek pula kemahiran Xiao Feiyun memetik qin berasal. Semua kala itu begitu sempurna dan indah. Tapi, pertikaian keluarga Nie dan Xu mengacaukan semua! Dua keluarga itu merasa memiliki tanah tempat rumah keluarga Xiao Feiyun berdiri. Dari tawar menawar alot hingga berbuntut pembakaran rumah dan ladang sebagai teror untuk keluarganya.

Sebab itulah, Xiao Feiyun berdiri di bungalow ini mencari nafkah dan adik bungsu yang tercecer—entah hidup atau mati—sekaligus menunggu kesempatan balas dendam. Dia tahu, kesempatan akan tiba suatu saat nanti.

Pertama adalah ia harus menjadikan dirinya seterkenal mungkin. Pada saat itulah, kendali atas laki-laki paling berkuasa saat ini bisa jatuh ke tangannya. Siapa lagi kalau bukan Baginda? Baginda suka bermain perempuan adalah selentingan yang sudah acap didengar. Dia tak percaya kemampuannya tidak mampu membuat Baginda memedulikan.

Tapi Kakak mengacaukan semua rencana itu dengan lamaran dan janjinya. Jadilah ia seorang calon pengantin yang akan dihantar ke rumah suami. Sebagai istri kedua jika saja Kakak tetap hidup menghabiskan malam pengantin mereka.

Sayang, Kakak pergi  meninggalkan dia untuk selamanya di hari penjemputan. Kepergian itu membawa serta kebahagiaan dan mimpi yang dibangun untuk Xiao Feiyun. Perempuan pembawa sial, kata mertua dan ‘kakak’, istri pertama kakaknya. Atas dasar itulah ia terusir dan kembali ke bungalow. Bungalow lain di kota lain, tepatnya di Jincheng[4] tuk memudahkan pembalasan dendam karena kedua keluarga itu tinggal di sana.

Kini, setelah pembalasan pertama terjadi sudah, ia kembali terusir dari bungalow tempat bersemayam. Ditemani oleh qin, kawan setianya, Xiao Feiyun mengais rezeki, meninggalkan semua ketenaran sampai saatnya tiba; pembalasan kedua untuk keluarga Xu.

Barulah ketika itu, ia akan menyudahi semua tuk pergi menyusul sang Kakak di alam kematian. Kakak, satu-satunya lelaki yang mencintai dan mengerti dia. Namun kini rencana itu hanya angan belaka. Seseorang yakni adik bungsu yang baru dikenali telah mengambil alih tugas itu darinya.

“Qiū fēng qīng, qiū yuè míng. Luò yè jù hái sàn, hán yā qī fù jīng.  Xiāng qīn xiāng jiàn zhī hé rì, cǐ shí cǐ yè nán wéi qíng. Rù wǒ xiāng sī mén, zhī wǒ xiāng sī kǔ. Zhǎng xiàng sī xī zhǎng xiàng yì, duǎn xiāng sī xī wú qióng jí. Zǎo zhī rú cǐ bàn rén xīn, hé rú dāng chū mò xiāng shí[5].”

Lagunya satir berkumandang hingga ber-lili[6] jauhnya.  Kemudian dilupakannya mangkuk nasi dan cawan arak yang tergeletak dan menggelinding.

“Kak, aku pergi padamu. Jangan tinggalkan aku sendiri. Dendamku terbalas tak ada satupun tujuan hidupku lainnya selain mengabdi padamu. Kak, tunggu Xiao Mimi.”

*~~*

[1] Qin/guqin = kecapi. Adalah alat musik wajib dikuasai oleh para sastrawan/kaum terpelajar

[2] Xiao Mimi di sini mengacu pada nama tokoh yakni Mimi ditambah kata kecil sebagai bentuk merendahkan diri sekaligus mengacu pada arti kata ‘rahasia kecil’ yang tak perlu diungkapkan pada siapapun atau menjadi gundik/perempuan peliharaan.

[3] Chunfen = dari sistem dwi-mingguan China, chunfen ada di bulan kedua dwi mingguan kedua. Baca http://id.wikipedia.org/wiki/Lichun

[4] Jincheng = ibukota

[5] 梅庵琴譜 Meian Qinpu “Clean autumn wind, Clear autumn moon. Falling leaves gathered then scattered. Black raven rests then disturbed. When can we meet and loved to each other. At this moment, this night, difficult for emotion. Enter my lovesick door. Knowing my lovesick sorrow. Long missing, long memories. Short missing endless. Had I known it would fetter my heart so much. I’d rather we not know each other from the beginning” —Translated by Peiyou Chang (Diambil dari http://www.peiyouqin.com/qfc.html).

[6] Salah satu satuan panjang China. Di masa dinasti Ming, 1 li sekitar 400-500 meter.

Disclaimer:

1. kisah Xiao Feiyun adalah potongan kisah bersambung dengan judul Gerimis Di Atas Bakti dari grup Cersil De Jia. yang disajikan di sini adalah penggalan kisah yang hanya diceritakan sekilas dalam kisah Xiao Feiyun versi Kisah Bersambung tersebut.

2. Xiao Feiyun adalah kisah fiktif dengan mengambil setting era Zhengde di masa dinasti Ming.

3. Cerita ngaco bin ngawur ini dibuat hanya untuk senang-senang belaka tanpa editing setelah selesai dibuat.

4. Selamat menikmati dilarang protes dengan akhir kisah. 3:D

Iklan
Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: