Lanjut ke konten

Jatuh dan Hancur Dalam Semalam

Saling mengaitkan jari resah, aku diajak masuk ke dalam rumah mewah. Kala itu, jantungku berdegup kencang. Bibirku terus kurapatkan dan tak terasa, gigi atas mengigitnya kencang.

Tawaran yang mereka berikan memang sangat menggiurkan. Dengan uang sejumlah itu, beras untuk hidup kami sekeluarga selama dua tahun tak perlu dipusingkan, asal Ayah tak mengambilnya untuk judi dan mabuk.

Tapi… degub jantung ini tetap saja tak berkurang.

Nyonya Rumah berjalan di mukaku dengan gerakan tangkas dan gesit. Aku tergesa-gesa mengikuti langkahnya hingga kadang berlari kecil, tak ingin tersesat di rumah ini. Sedangkan keresahan yang mendera adalah penyebab lambatnya gerak langkahku.

Tibalah kami di muka sebuah ruangan yang pintunya tertutup. Tadi, dari jauh aku sudah bisa melihat isinya dari jendela yang terbuka. Seorang laki-laki muda tengah sibuk menghadap meja, entah apa yang dilakukan olehnya.

Pintu dibukakan oleh pelayan sang Nyonya dan laki-laki dalam ruangan menoleh pada kami, lebih tepatnya pada Nyonya Rumah, menyapa, “Bu.”

Jantungku semakin berdebar tak menentu. Suaranya seperti tetesan air hujan pada sumbat gerabah. Kadang pelan, kadang cepat, kadang tak terdengar.

Tak kudengar apapun. Sekian lama aku bergeming di tempatku berdiri dengan gelisah. Tiba-tiba semua orang sudah pergi kecuali aku dan dia. Kegelisahanku pun bertambah karena ia menghiraukan aku. Katanya, “Kuselesaikan pekerjaanku baru mengurusmu.”

Tak berani duduk, aku berdiri sekian lama. Matahari di langit semakin jatuh dan mendekati ufuk barat. Kakiku kram tak dapat lagi digerakkan sekalipun ingin. Rasanya seperti hampir mati.

*~*~*

Dia baik, lembut dan tidak merendahkan diriku. Apakah mungkin dia, sang tuan muda pengelola pabrik gula jatuh cinta pada perempuan miskin yang menjual keperawanannya ini? Berbaring di dipannya aku terus merenung. Tak mungkin. Siapalah diriku ini. Ketika satu minggu usai, aku akan kembali ke tempat yang kumuh itu dan dia menikahi nona muda kluarga pengusaha itu.

“Siapa namamu?”

“Tuan Muda tak perlu tahu nama hamba. Toh ketika satu minggu terlewati, Tuan Muda dengan cepatnya melupakan nama itu.”

“Kalau begitu bagaimana aku memanggilmu?”

“Panggil saja ‘nduk’.”

“Baiklah. Kau wangi, Nduk.”

Mendengarnya aku tersipu malu.

Dia terdiam, aku pun terdiam sesudahnya. Entahlah, aku merasa banyak yang dipikirkan olehnya. Sesuatu yang membuatku begitu heran. Bukankah dengan semua kekayaan yang dimiliki, tak ada lagi yang perlu dipikirkan? Mengapa ia terlihat sedang bersikeras memikirkan sesuatu.

“Tuan muda, apa yang sedang kau pikirkan? Masalah apa yang membuat dahimu berkerut semacam itu? Bukankah nasi untuk besok pasti tersedia demikian pula kain sutra untuk baju pernikahanmu.”

“Bisakah pernikahan itu batal?”

Pertanyaan yang keluar dalam kata pelan seolah tertahan demikian menyentak hatiku. “Mengapa?” tanyaku ragu. Hak apa yang kupunya bertanya semacam itu. Tapi rasa penasaran itu terlalu mengganggu.

“Aku menemukan seorang perempuan yang entah mengapa membuatku terus memikirkan dirinya.”

Bolehkah aku cemburu? Tidak. Aku sama sekali tak punya hak untuk cemburu. Tapi hatiku sakit dan pilu seolah diiris sembilu.

“Tapi… mas kawin sudah dikirim. Tak mungkin aku membatalkannya. Pula, Ayah bisa mengamuk dan membatalkan hak warisku. Aku tak rela anak-anak gundik rendahan itu mengambil alih hakku.”

Aku terdiam tercekat. Tubuhku mendingin. Dan kala itu ia menyentuhku lagi.

“Nduk, maukah kau lakukan sesuatu untukku?”

Secara mendadak kepalaku bergerak mengangguk. Mungkinkah aku sudah demikian dalam tenggelam oleh rasa ini?

“Jangan pergi ke manapun!”

Aku menoleh, bingung.

“Lakukan saja. Sekalipun ada yang menyuruhmu pergi, memberimu gulden sebanyak apapun, kau jangan pergi.”

“Tapi…”

“Nanti, setelah beberapa minggu atau bulan. Ketika waktu itu dirasa tak lagi mempermalukan perempuan itu, aku akan menjemputmu.”

Jantungku berhenti mendadak ketika mendengarnya.

“Tak ada status yang bisa kuberikan, memang.”

Cepat-cepat aku menggelengkan kepala. “Tak apa. Jadi apapun aku bersedia, sekalipun budak.”

*~*~*

Waktu berjalan dengan amat lambat setelah mereka menyuruhku pulang. Jam berlalu bagai aliran air di kanal di musim kemarau. Ya, hari ini Tuan Muda-ku menikah. Menatap langit cerah di langit, cemburu meliputiku.

Aku berharap hujan tiba membuyarkan pernikahan itu. Serangkaian hujan badai yang membuat tak seorang pun dapat bertandang dan menerbangkan tandu sang pengantin perempuan.

Kemudian Tuan Muda menjadi milikku seorang.

Kuhiraukan Bapak yang berteriak memanggil. Toh tak ada guna berpaling mendengarkannya. Satu yang kutahu, ia hanya meminta uang untuk judi atau tuaknya.

Ke rumah itu aku pergi. Sebuah rumah maha luas dengan pita-pita kain berwarna merah menghiasi setiap pintu. Begitu semarak. Orang-orang yang datang sangat ramai. Semua masuk dari pintu utama.

Aku terpekur dan gelisah. Akankah Tuan Muda masih mengingatku?

*~*~*

Satu bulan.

Dua bulan.

Tiga, empat, lima dan enam bulan berlalu.

Kukira masa-masa itu hanyalah mimpiku. Tak ada berkasnya selain ingatanku semata. Seperti yang dikatakan Nyonya Besar kala kuterima uangnya.

Lalu terlihat sebuah delman parkir di halaman rumahku. Sesosok perempuan yang kukenali sebagai pelayan kepercayaan Nyonya Besar turun darinya menghampiri gubukku.

“Nyonya membutuhkan seorang pelayan lagi. Kau mau kerja padanya?”

Cepat-cepat kuanggukkan kepala. Jadi apapun aku bersedia asalkan setiap hari bisa melihat Tuan Muda-ku.

Nyonya Muda sangat cantik. Kulitnya bagai gading bersinar lembut; memantulkan cahaya matahari. Ketika aku diperkenalkan padanya sebagai pelayan Nyonya Besar yang baru, ia hanya menggangguk angkuh, menunjukkan derajatnya sebagai menantu dari putra sah keluarga ini.

Malam itu, bulan ikut tertidur lelap dalam hembusan angin dingin berselimut awan. Di saat sama, aku pun terbaring pada dipan keras namun tetap lebih baik dari dipan reyot di gubuk itu. Kemudian pintu berkeriut. Aku menajamkan pendengaran. Dan dalam ketakutan berusaha mengambil apapun yang ada di dekatku untuk membela diri. Setan ataupun perampok, semuanya! Ternyata, Tuan Muda yang hadir kemudian. Dia memberi tanda dengan telunjuk ditempelkan di bibir, “Ssst!”

Tak pelak, hatiku diselimuti oleh kebahagian. Rindu merongrongku hingga badan bergerak untuk berlari dan merangkulnya erat.

Kemudian, bermalamlah Tuan Muda di kamarku malam itu.

*~*~*

Semuanya mendekati sempurna hingga Nyonya Muda mendapati hubungan kami. Ketika itu, dia tengah mengandung, hamil muda tepatnya. Keterkejutan Nyonya Muda menghasilkan hasil yang tak pernah kuharapkan. Dan aku tahu, Tuan Muda juga tak pernah mengharapkan hal semacam itu.

Dia keguguran.

Nyonya Besar menyalahkan aku atas hal tersebut. Namun di pihak lain beliau juga menyalahkan menantunya yang terlalu berlebihan. Lelaki dengan beberapa gundik, katanya hal yang lumrah.

Suatu malam, rintihan Nyonya Muda terdengar lirih di tengah nyanyian jangkrik. Tuan Muda tak menyadari hal itu karena sedang berada di kamarku.

“Tuan Muda! Tuan Muda!” jerit seorang pelayan depan kamarku.

Mendengarnya membuat Tuan Muda-ku cepat-cepat berpakaian dan keluar dari kamar penuh tanda tanya.

“Nyonya Muda kembali pendarahan.”

Lalu, malam yang gelap berubah menjadi terang, secerah pagi oleh ribuan lentera dan lampion yang dinyalakan. Bukan karena hari suka cita, melainkan akibat kepanikan penghuni rumah.

Nyonya Muda meninggal.

Nyonya Besar teramat berduka karenanya. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang menerima permintaan putranya agar menerimaku di rumah ini. Tuan Besar terpukul kehilangan calon cucu dan menantu yang merupakan putri dari karibnya.

Ditambah beban kerugian yang dilimpahkan pada Kompeni pada pengusaha gula seperti Tuan Besar, kehilangan calon cucu sekaligus menantu menjadi pemicu kesehatannya yang memburuk.

Tabib berulang kali dipanggil. Mereka tak percaya pada dokter Barat yang disebutnya tak mengerti tubuh manusia.

Di tengah kondisi Tuan Besar yang memburuk, pabrik dipercayakan pada Tuan Muda. Namun kemudian, adik-adik tirinya ribut besar oleh masalah harta warisan. Keributan tersebut, disembunyikan seperti apapun akhirnya terendus oleh Tuan Besar. Penyakitnya tambah parah dan meninggal mendadak setelah mengamuk pada anak-anaknya.

Nyonya Besar pingsan. Ketika sadar, ia menyebutku sebagai siluman rubah berekor sembilan yang ceritanya disebut-sebut dalam opera. Setelah puas memakiku, disumpahinya agar aku lekas mati. Tuan Muda yang sedang disibukkan oleh urusan pabrik gula yang nyaris bangkrut tak membela bahkan mungkin tak tahu apa yang tengah terjadi di rumah. Tapi waktu itu, kuanggapnya sebagai permusuhan.

Malam berlalu, bertemu dengan pagi.

Aku bunuh diri di kamar tempatku memadu cinta dengan Tuan Muda. Melupakan mimpi dan kebebasan kami yang pernah diungkap sebelumnya. Inilah kebebasanku. Lepas dari raga yang membusuk oleh racun.

Entah apa yang terjadi setelah kematianku. Tuan Muda-ku katanya sakit dan tak lagi bangkit. Kiranya, kemakmuran keluarga ini berakhir sudah. Selamanya.

*~*~*

Iklan
%d blogger menyukai ini: