Skip to content

Burger

Dibuat atas dasar usil karena mendadak dapat ide yang akhirnya dibuat dengan memenuhi aturan tantangan grup House of Romance.

Waktu itu kau bertanya padaku. Dengan nada halus, lembut dengan suara seperti terseret-seret hingga terasa tak begitu jelas di telingaku. Kujawab padamu dengan tiga gelengan kepala. Entah apa yang kau artikan. Karena setelah itu, kau berlalu dari hadapanku.

Kita semua dalam diam. Masing-masing tak bersuara sepatah katapun. Bahkan ketika udara kering telah menjadi penghantar di antara kita berdua. Satupun di antara kita tak ada yang bersuara. Saat itu, hanya hembusan nafas yang terdengar menemani langkah kaki. Menjauh. Dan semakin menjauh.

Awal kita bertemu. Akhir kita bertemu. Semuanya terpatri jelas dalam ingatanku. Apa kau.ingat? Kala kau dekap dadaku dengan tangan kotormu itu.

Ya, kau memang bukan pengemis. Kau gelandangan! Gelandangan busuk tak punya rumah! Tinggal di stasiun dan di manapun kau suka. Meminta dan mengais rezeki, mengaku-aku sebagai backpackerkehabisan dana.

Kau ingat? Kala itu aku meronta. Marah! Hendak kutampar pipimu yang memerah entah karena apa. Waktu itu, memang musim salju telah datang. Tapi suhu masih tak sedingin sekarang. Ataukah… karena hasratmu yang menggelora?

Waktu itu, setelah mendekapku, kau bungkam mulutku dengan bibirmu yang menghitam oleh cerutu busuk. Aku terpana, terpikat sebelum akhirnya terbius dan menari bersama kuluman lidahmu.

Yah, Beijing, di musim salju. Dinginnya membuatku beku. Kamu juga begitu kan? Aku tahu kau pasti lebih membeku dariku. Kau tak punya perapian di sana. Mungkin karena itukah kau bakar tungku dalam hatiku?

Nyala api bergelora, menjilat jantung dan paru-paru. Sungguh tersiksa rasanya. Tapi kau selalu tak peduli. Kau memang tak peduli.

Burger. Itu katamu. Ya, aku masih ingat dengan jelas istilahmu kala menjelaskan hubungan kita. Burger. Dua lapis roti, yakni kita. Mengapit daging, selada dan saus. Aku tak mengerti mengapa kau gunakan istilah burger. Karena bagiku, pahitnya hubungan kita tak dapat dinikmati seperti sepotong burger.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: