Skip to content

9 – Kompeni di Batavia

Bagian satu

Menurut gue bedanya kompeni dengan pendatang lain adalah kompeni lebih memikirkan keuntungan mereka sendiri. Mereka begitu maruk alias serakah, sampai keputusan salah yang mereka buat ditimpakan pada bangsa lain, terlebih pendatang dari China.

Gue buat kesimpulan seperti ini bukan tanpa alasan. Sekalipun Cece menikah dengan orang Belanda—dalam arti gue punya hubungan kekerabatan dengan mereka—dan di masa depan hubungan kedua negara membaik. Tapi, di abad ke-18 ini seorang Enru selalu uring-uringan jika harus berhadapan dengan pegawai kompeni. Lagipula, keputusan dari kompeni terkait pada orang China yang ada di Batavia gue nilai SANGAT TIDAK ADIL!!!

Contohnya terjadi belakangan ini, mereka sendiri yang memutuskan besaran gula yang akan diekspor. Tapi ternyata berapa ton gula itu tidak laku. Dan mereka timpakan kerugian ke pengusaha gula. Gue memang bukan pengusaha gula. Tapi karena ulah mereka, pengusaha gula menjadi rugi besar lalu merambat ke seretnya pembayaran jasa gue.

Ditambah lagi pajak ini itu yang dikenakan pada orang Tionghoa. Gila! Asal tahu ya, dari sekian banyak bangsa yang berdiam di Batavia, pajak terbanyak keluar dari dompet orang Tionghoa. Jika ada buku sejarah menyebut mereka menjadikan orang Tionghoa sebagai sapi peras, gue sangat amat setuju. Itulah yang terjadi.

“Tidak masuk di akal….”

Toahnia.”

Setelah puas menggebrak meja yang untungnya terbuat dari kayu jati tua sehingga tahan banting, gue tolehkan muka menghadap Asiu yang memanggil.

“Setiap kali pulang dari Stadhuiz, pasti Toahnia mengamuk.”

“Bagaimana tidak mengamuk kalau harus menghadapi meneer sialan sepanjang hari?” gerutu gue masih emosi.

Asiu memang tidak salah hingga perlu kena marah. Tapi kemarahan pada pegawai tadi masih bercokol. Mudah-mudahan dia tidak tersinggung karena gue sendiri sadar nada perkataan gue tadi sangat pedas.

Asiu tidak berkata apapun lagi. Tangannya bergerak mengambil poci teh dan menuangkan isi pada cawan untuk disodorkan pada gue.

Namun yang gue ambil bukan cawan. Sangat repot minum sececap demi cecap teh padahal tenggorokan sangat kering. Jadi, seperti biasa, poci di atas meja jadi sasaran.

Pemuda ini memperlihatkan kulitnya berkernyit—mungkin takut gue tersendak—ketika isi poci gue tuang begitu saja ke dalam mulut. Dia memang selalu seperti itu.

Bunyi air yang masuk dalam kerongkongan terdengar sampai ke telinga sendiri. Gue hanya berhenti setelah yakin semua air di poci telah habis masuk dalam perut.

Gue bukan tipe penyabar. Gue tahu itu dan tidak sedikit orang yang mengatakan hal tersebut. Mama, Cece, Lala, bahkan guru kaligrafi yang dibayari Yo Sinshe juga mengatakan hal sama. Karena ketidaksabaran itulah, gue paling tak betah minum teh sececap demi cecap dari cawan mungil seperti yang biasa dilakukan orang China pada umumnya.

Lucunya… ketidaksabaran ini menghilang ketika dihadapkan dengan kertas untuk menggambar atau membuat konsep. Juga ketika berhadapan dengan laptop kesayangan untuk membuat suatu desain.

Mengatakan laptop, membuat gue rindu padanya. Sekarang ini siapa yang menggunakan? Apakah orang itu merawat laptop tersebut dengan baik? Laptop itu telah membantu gue menghasilkan ratusan desain. Dan dia yang telah membantu pekerjaan gue hingga bisa membeli rumah dengan Lala. Bagi gue dia sangat berarti. Orang yang menggunakannya saat ini apakah menganggap benda itu berarti?

Dan Lala, bagaimana kabarnya sekarang? Apakah dia telah putus asa menunggu? Dia telah pacaran dengan laki-laki lain? Lalu Mama juga Cece…?

Toahnia, bukankah beberapa hari lalu minta diingatkan tentang janji bertemu dengan Oey Sinshe? Seka–”

Terlonjak kaget gue. Buru-buru gue raih topi karena matahari sedang terik lalu berlarian pergi keluar rumah.

Oey Sinshe adalah pemilik pabrik arak yang letaknya tak begitu jauh dari rumah. Setelah satu bulan lebih ‘merayu’, akhirnya dia mau menggunakan jasa gue. Tentu saja karena situasi ekonomi tak menentu yang mengakibatkan omzet penjualan berkurang. Kalau tidak, belum tentu juga dia mau menyisakan uang untuk konsep itu. Orangnya benar-benar keras kepala!

 

Bagian dua

Tempat yang paling gue suka untuk melepaskan beban pikiran di Batavia adalah pelabuhan Sunda Kalapa. Melihat barang-barang yang diangkut keluar masuk dari dan ke dalam kapal rasanya beban gue juga ikut terangkut.

Baru sekarang gue sadar menjual arak di tengah gejolak ekonomi seperti saat ini adalah suatu hal yang merepotkan. Rasanya seperti menawarkan udang kepada sapi. Oh, gue hanya berlebihan. Maksudku orang-orang ‘normal’ di masa seperti ini tentu akan mengurangi kebutuhan mereka terhadap barang-barang seperti itu. Cuma para pemabuk berat atau orang kaya raya saja yang masih mengonsumsi arak. Mereka pun sering kali sudah memiliki merek favorit. Lalu bagaimana caranya agar yang belum tertarik pada arak Oey Sinshe beralih pada arak itu?

Tahu seperti ini susahnya, gue tidak akan merayu pengusaha arak satu itu agar menggunakan jasa konsultan. Namun menyesal disebut-sebut tak ada gunanya. Memang benar, menyesal hanya menyia-nyiakan waktu. Karena itu, yang gue lakukan sekarang hanya melepaskan beban pikiran agar malam ini juga konsep bisa selesai dikerjakan.

Menghela nafas, mata gue tertumbuk pada jung yang tampaknya bersiap-siap untuk berlabuh. Letaknya cukup jauh dari pelabuhan. Sementara itu tak jauh dari gue berdiri mercusuar. Gue kira memandangi lautan dari tempat tertinggi adalah suatu hal terindah. Melihat lautan lepas mungkin akan baik bagi otak dan jung juga bisa terlihat lebih jelas.

Setelah menyogok petugas di mercusuar, gue diizinkan naik ke tempat teratas. Yah, begitulah mereka. Terlepas dari aturan orang sipil diizinkan atau tidak naik ke menara, uang adalah jawaban. Tanpa menyogok, yang boleh pun jadi tidak boleh.

Puas melihat puluhan perahu yang mengangkut penumpang jung ke pelabuhan, gue turun dan melangkahkan kaki keluar dari pelabuhan. Beban pikiran juga telah terangkat. Suatu ide menyusupi otak, tak sabar untuk segera dituangkan ke atas kertas.

 

Bagian tiga

Dengan kepercayaan diri seorang Enru Tirtonegoro, hasilnya Oey Sinshe bersedia menggunakan konsep yang dibuat semalam suntuk. Diam-diam gue hembuskan nafas lega ketika surat kontrak ditandatangani olehnya.

Lepas mempresentasikan konsep pada Oey Sinshe, gue pandangi kuda yang menunggu dengan setia. Tiba-tiba suatu pemikiran terlintas. Sudah lama gue tidak bertemu dengan Yo Sinshe.

Bertemu teman lama yang sudah menolong begitu banyak, terlebih usianya lebih tua, tentunya lebih pantas jika dibawakan oleh-oleh. Maka, setelah membeli berbungkus-bungkus hadiah yang cukup menghabiskan uang namun pantas diberikan pada orang yang berjasa besar, gue menunggangi kuda menghelanya pergi.

Mudah-mudahan ia ada di rumah. Sudah berbulan-bulan kami tak pernah bicara hanya berdua seperti dulu. Terus terang rasanya malu seperti tidak tahu budi. Tapi kesibukan guna terus membuat dapur tetap mengepul yang membuatnya seperti itu. Mudah-mudahan Yo Sinshe bisa memaklumi.

Sampai di rumahnya, hari sudah cukup sore. Matahari tidak lagi menyengat dan angin musim peralihan menghamburkan dedaunan dari pohon-pohon khas negara tropis.

Seperti biasa, di jam seperti ini pasti ada budaknya yang membersihkan halaman. Aku menyapanya dan dia menyambutku dengan ramah, seperti dulu.

Lauya[1] sedang pergi,” jawab sang Kepala Rumah Tangga melihat kedatanganku.

“Pergi ke mana? Kapan dia pulang?”

“Entahlah. Pasti tidak dalam waktu satu dua hari.”

Mengangguk-anggukkan kepala seperti boneka berleher per yang ada di mobil, gue membalikkan badan meninggalkan rumah Yo Sinshe.

Gue meninggalkan rumah itu tanpa curiga. Seandainya bertanya lebih jauh dan memaksa bertemu, mungkin hidup gue di Batavia berikutnya tidak akan sama. Sayangnya, semua sudah terlambat ketika sadar akan hal itu.

Tak jadi bertemu dengan Yo Sinshe, tujuan berikutnya adalah rumah. Hari ini gue tidak punya janji pada siapapun lagi. Lagipula… matahari semakin mendekati ujung barat hendak pulang ke peraduan.

 

Bagian empat

Beberapa hari kemudian, gue bertemu dengan Yo Sinshe di sebuah acara pernikahan Chee Sinshe yang kesekian. Lucunya, Sinshe Yo tak lagi seramah yang dulu. Bahkan terasa seperti menghindar dari gue.

“Yo Sinshe,” tegur gue ramah. Dia sedang duduk bersama Tio Sinshe dalam satu meja bundar yang memuat sepuluh orang. Karena kursi di sebelah Yo Sinshe kosong, gue duduk di sana.

Menoleh singkat dengan senyum ganjil, kemudian ia kembali bicara pada Sinshe Tio. Teguran atas kabarnya dia hanya dijawab dengan satu patah kata pula.

“Enru,” panggil Sinshe Tio. Mungkin ia menyadari keganjilan di antara kami sehingga berniat mencairkan suasana. “Lama kita tidak jumpa. Apakah kesibukanmu membuat kau lupa pada kami?”

Rupanya bukan mencairkan suasana namun lebih ke arah bentuk teguran.

Setelah memberikan cengiran kuda sebagai bentuk rasa bersalah, baru gue menjawab, “Mana mungkin saya melupakan Anda berdua. Budi Anda berdua pada saya begitu tinggi, setinggi bintang di langit.” Mudah-mudahan pujian ini sudah cukup gombal.

Selesai berkata, mata gue terus menatap Yo Sinshe, berharap ada tawa di kedua sudut bibirnya. Biasanya jika gue melontarkan pernyataan aneh seperti tadi ia akan tertawa, sedikitnya pasti tersenyum geli. Namun kali ini tak ada.

Sampai rumah, gue ceritakan hal ini pada Asiu. Gue tentu butuh teman berbagi ganjalan dalam hati.

“Mungkin Yo Sinshe sakit hati karena Toahnia menolak Sam Kouwnio,” telaahnya.

Mungkin Asiu benar. Mendengarnya membuat perasaan bersalah menyelinap ke dalam hati. Tapi bukannya gue tidak sepenuhnya salah? Seharusnya ia bicara dulu ke gue sebelum memberitakan ke semua orang.

Ah, bagaimanapun… dorongan untuk menemuinya semakin demi memperbaiki hubungan kami. Mana mungkin gue biarkan hubungan baik dengan Yo Sinshe kandas seperti ini? Tanpa dia, mungkin rumah ini tidak terbeli.

Toahnia,” sapa Asiu lalu ikut duduk bersama gue di pelataran rumah. Disodorkannya sebuah poci teh yang sarat isi.

Tersenyum sebagai ucapan terima kasih, poci itu langsung gue terima. Teh hasil seduhan Asiu sangat pas di lidah. Dia tahu gue paling tidak suka teh kental.

Sejak terkapar arak api di rumah Yo Sinshe lalu kena amuk tuan rumahnya, Asiu tak pernah lagi memberikan minuman tersebut. Gue juga kapok minum arak jenis itu. Awalnya gue sempat mengira dengan mabuk, bisa pulang ke masa depan. Toh dulu juga datang ke masa ini dalam keadaan mabuk. Tapi ternyata hasilnya nihil. Dan setelah kena omel Yo Sinshe, gue mulai berpikiran kalau teh memang jauh lebih menyehatkan. Biarlah arak dan minuman keras lain hanya menjadi minuman saat harus bercengkerama dengan meneer ataupun para pengusaha, itupun dengan berjaga agar tidak sampai mabuk.

 

Bagian empat

Sekali lagi gue cengklang kuda menuju rumah Yo Sinshe. Lika-liku jalan menuju rumah itu tentu saja masih jelas di ingatan.

Sampai di rumahnya, terik matahari masih menghadang. Siang di musim kemarau cukup membuat kepala pening membuat gue ingin segera masuk ke dalam dan mungkin minta segelas air atau seteko teh dingin. Tapi, gue belum sempat turun dari kuda ketika pintu terbuka dan seorang pelayan muncul dari dalam terkesiap.

Cukong tak ada,” ujarnya.

Tidak ada? Jelas-jelas gue lihat dia masuk rumahnya tadi! Ya, gue tadi membuntuti tandu Yo Sinshe. Memang tidak terlampau dekat, tapi gue yakin itu tandunya dan pasti ada orang di dalam.

Tanpa turun dari kuda terus gue amati rumah besar yang berdiri di hadapan. Ia seperti bos besar sombong di biro iklan tempat gue bekerja pertama kali. Yah, waktu itu status gue masih mahasiswa magang. Mungkin karena status itulah bos besar tersebut bersikap semena-mena.

Gue turun dari kuda sambil berkata, “Kalau begitu gue tunggu saja di sini.”

“Tapi…,” pelayan tersebut tak meneruskan kata-katanya. Ia membisu dengan wajah pucat. “Toahnia,” bujuknya.

Semua pelayan di rumah Yo Sinshe tak ada yang memanggil gue shaoya[2]. Mereka belajar dari Asiu. Nama yang gue sebut terakhir mulutnya gue bungkam jika berani memanggilku shaoya.

“Gue mau bertemu Yo Sinshe,” gue tak mau mengalah meskipun melihat wajah ketakutan milik sang Pelayan.

Toahnia, tolong aku. Kalau Toahnia nekat masuk mencari Cukong, aku akan kena hukuman pukul dua puluh kali.”

Dia benar-benar mengeluarkan ‘jurus’ rengekan! Kelihatannya semua pelayan di rumah ini tahu kelemahan gue.

Dulu gue pernah menyelamatkan Asiu dari hukuman pukulan dengan tongkat kayu ketika tanpa sengaja menumpahkan teh panas ke celana gue. Sekarang ini, ancaman hukuman yang akan dikenakan padanya jika gue nekat masuk, membuat gue terdiam.

Kalau gue masih penghuni rumah ini, menyelamatkannya adalah hal yang cukup mudah. Tapi sekarang gue ini orang luar. Lebih jelasnya, orang luar yang tak diharapkan oleh sang Tuan Rumah.

“Katakan pada Yo Sinshe, gue ingin berbincang seperti dulu lagi dengannya,” kata gue sembari menunggangi kuda lagi.

Pelayan itu menghembuskan nafas lega mendengar kalimat terakhir. Sepertinya ancaman itu memang benar-benar ada. Dia tak berbohong.

Toahnia. Kukira tak perlu lagi berusaha mencari Cukong. Beliau selalu mengamuk jika di rumah ini ada yang menyebut namamu.”

Seketika gue tergagap. Demikian bencinya kah Yo Sinshe pada gue sekarang ini? Apakah hubungan kami benar-benar tidak bisa diperbaiki? Walaupun—cuma seandainya—gue berkeputusan menikahi Kim Nio?

Gue pulang dengan kecewa. Sangat kecewa.

 

Bagian lima

Kesibukan kami di kemudian hari membuat gue sedikit melupakan Yo Sinshe. Karena kesibukan itu pula membuat gue harus membeli dua orang budak karena tak ada orang bebas mau menjadi pelayan seperti pembantu Mama yang tinggal 24 jam di rumah. Rata-rata mereka lebih memilih menjadi petani penyewa, pedagang kecil, pegawai kompeni atau justru perampok.

Meninggalkan Asiu di rumah, agar menggantikan posisi membuat beberapa pekerjaan sederhana, gue menelusuri Batavia menuju tempat penjualan budak. Lebih tepatnya lokasi dimana akan ditemui banyak iklan penjualan budak.

Lucunya di Batavia, budak dijual oleh majikan dengan memasang selebaran yang memamerkan apa yang bisa dilakukan oleh budak itu. Ada yang ditulis bisa membuat baju, konde dan segala remeh temeh lainnya.

Ada pula yang dijual dengan tangan terikat dipamerkan di muka umum. Tak jarang mereka dipamerkan tanpa pakaian. Melihatnya saja tak tega, bagaimana sampai hati menawar?

Gue pilih yang biasa saja. Pokoknya dia bisa masak dan membersihkan rumah. Pastinya lebih murah. Lagipula di rumah gue siapa yang perlu dikonde? Pilihan akhirnya jatuh pada seorang laki-laki dan seorang perempuan. Rumah gue tetap saja butuh kehadiran seorang perempuan untuk merawat.

Para meneer nampaknya senang menangkap orang Bali untuk dijadikan budak. Sebagai contoh, kedua orang yang gue bayar ini mengatakan asalnya dari Bali. Berlaku sebaliknya orang China, mereka senang menjadikan perempuan Bali sebagai gundik dan istri.

Mata kedua orang yang gue pilih bersinar ketakutan saat melihat gue membuat terkikik beberapa waktu lamanya. Ini pertama kalinya seorang Enru ditakuti—di luar masa pertandingan taekwondo saat umur gue baru belasan.

“Hai, nama gue Enru,” ujar gue dengan mengulurkan tangan mengajak mereka berkenalan.

Kedua orang itu menatap gue bingung. Tak satupun hal yang mereka lakukan selain memandangi gue dalam tatapan seperti melihat alien turun dari piring terbangnya.

“Gue uruskan surat bebas kalian sekarang juga. Berikutnya tinggallah di rumah gue bantu pekerjaan rumah. Kalian akan mendapat gaji setiap bulan, gaji ketiga belas, tunjangan hari raya dan asuransi kesehatan….”

Mata mereka tambah heran menatap gue. Oh yeah, istilah gaji ketiga belas, tunjangan hari raya dan asuransi kesehatan memang harusnya belum ada di terminologi mereka.

“Ya sudah, ikut sajalah. Gue jamin enggak akan ada cambuk dan siksaan konyol macam itu.”

Gue sangat berharap mereka tidak akan mengecewakan dengan kabur setelah tali yang mengekang dilepas. Uang gue terbatas. Tak mungkin membeli budak lain kalau berharap memiliki cadangan uang untuk operasional kerja dan keseharian.

Sepanjang jalan, semua mata—baik mata dari si rambut pirang ataupun hitam—melihat kami terheran-heran. Gue berikan senyum terbaik untuk mereka sembari terus menggandeng tangan Made dan Ketut—demikian mereka minta dipanggil—ke Stadhuiz untuk memohonkan surat keterangan bebas.

 

Bagian enam

Pekerjaan gue dan Asiu semakin banyak karena keberhasilan melobi meneer kompeni. Apakah gue ini aneh karena mengatakan benci tapi menerima pekerjaan dari mereka? Apa boleh buat…? Yang terpenting gue bisa kasih gaji anak buah yang sekarang berjumlah tiga orang.

Berdiri di titik hidup saat ini, semua seperti hanya sebuah mimpi. Terlebih sembari mengingat-ingat pengalaman selama beberapa tahun kemarin. Mendadak berada di Batavia, bertemu dengan pemberontak dinasti Qing, Yo Sinshe, Tio Sinshe dan semua kejadian di masa ini sampai kemudian memiliki perusahaan sendiri. Biarlah, walau tak ada laptop tercinta pun Lala, setidaknya satu mimpi berhasil diwujudkan. Apalagi di masa ini usaha gue bisa dikatakan nyaris tanpa saingan.

Selain itu, gue berhasil mendapatkan kontrak untuk mengurus pengumuman lelang kapal, patch dan lain sebagainya. Membuat pengumuman sama dengan membuat iklan. Dengan demikian mendesain pengumuman adalah makanan bagi jiwa gue. Tentu bisa dibayangkan girangnya gue.

Bos di biro iklan tempat gue bekerja dulu selalu mentraktir seluruh karyawannya di sebuah restoran atau di pub jika kantor menang pitching. Gue ingin menjadi atasan seperti dirinya yang tidak membatasi diri bergaul dengan bawahan. Karena itu, gue rayakan keberhasilan kali ini dengan mentraktir Asiu, Made dan Ketut di rumah makan besar. Membuat anak-anak buah bersenang-senang bukan hal berdosa, ‘kan?

Melihat ketiga orang itu makan dengan lahap dan dalam suasana gembira, benar-benar hiburan di kala senggang. Mereka membuat lupa kalau gue bukan orang dari masa ini. Tiga orang itu membuat gue merasa ada di rumah.

 

Bagian tujuh

Hari demi hari terus berlalu. Mungkin sudah lebih dari sebulan sejak mentraktir penghuni rumah makan bersama-sama. Sekaligus, lebih dari sebulan pula sejak kunjungan ke Yo Sinshe tanpa hasil.

Pengusaha satu itu kini benar-benar menjaga jarak. Bahkan ia tak lagi menerapkan konsep gue dalam penjualan hasil ladangnya. Kemudian, satu demi satu klien yang koneksi didapat darinya melepaskan diri setelah menyumpahi dengan segala macam cercaan. Dari yang masuk akal sampai yang hanya terlihat mengada-ada.

Ketika gue sedang memikirkan bagaimana caranya menambah klien, Asiu datang dengan laporan tak jelas, “Beberapa hari l… Peng Guan menemui Yo. CuSinshe Kepala … mengatakan mereka bicara … lama.”

Masalah itu ga gue pikirin. Bukankah wajar pengawas ladang menemui majikannya dalam tempo yang cukup lama?

Kemudian, Asiu juga mengatakan kepala pelayan di rumah Yo Sinshe seperti berusaha menjaga jarak dengannya. Demikian pula dengan pelayan-pelayan lain yang dulu bergaul cukup akrab dengan Asiu.

Kali ini, jantung berpacu lebih keras. Artinya semua orang di rumah itu memusuhi kami. Persoalan bertambah runyam saat ini. Dan bisa jadi para kenalan Yo Sinshe yang menjadi klien menjauh dari gue terkait dengan sikapnya itu.

Terus terang, dengan ditinggalkan oleh klien yang didapat dari Yo Sinshe, pemasukan gue mulai tersendat-sendat. Memang, hubungan gue dengan orang-orang Tionghoa Peranakan akhir-akhir ini bertambah dekat dan beberapa dari mereka juga menjadi klien gue. Tapi tetap saja gue butuh kontrak kerja lebih banyak!

Dengan kaum Tionghoa peranakan, mungkin persamaan identitas yang membuat kami merasakan suatu nasib yang sama. Apalagi, dengan mereka gue tidak harus bicara dengan dialek Hokkian. Malah, rata-rata tidak lagi expert dengan dialek itu. Beberapa di antara mereka telah berpindah agama. Ada yang menjadi Muslim ataupun Kristiani, sama seperti gue.

Apakah kenalan-kenalan dari Yo Sinshe menjauh karena ini? Seperti yang dulu gue katakan, mereka memang tidak begitu rukun. Lalu apa yang harus gue lakukan? Menjauhi mereka demi klien lama? Tidak mungkin. Gue juga butuh kedekatan hubungan dengan mereka.

Berulang kali gue berusaha menemui klien-klien lama tapi hasilnya sia-sia. Jangankan mendapat kesempatan membujuk, ditemui saja tidak. Tio Sinshe misalnya, ia lenyap seperti kabut diterpa sinar mentari pagi dan tak pernah bisa ditemui. Lalu Lim Sinshe juga demikian dan bahkan sebelumnya sempat memaki pekerjaan gue tanpa sebab jelas. Katanya ide untuknya sudah pernah diterapkan ke pengusaha lain, katanya juga bukan ide baru dan terlalu umum. Lalu masih banyak lagi Sinshe lain dengan kelakuan aneh masing-masing.

Ulah mereka membuat gue mulai putus asa.

Ini terlalu cepat. Gue baru merasakan masa jaya tak lebih dari setengah tahun. Mengapa dalam waktu secepat itu keadaan mulai berbalik? Sungguh gue ga mengerti apa yang salah.

“Dalam banyak urusan, uang memegang peranan penting.”

Entah mengapa, kalimat yang dikatakan Yo Sinshe saat gue dulu membantunya mendapatkan ulang surat tanah kembali terngiang. Tak hanya sekali, kalimat itu terus datang dan pergi di kepala. Seperti inikah yang dimaksud olehnya? Atau hanya pikiran jelek karena depresi saja?

Buru-buru gue berdiri lalu pergi ke luar. Tujuan gue adalah rumah orang-orang Tionghoa peranakan. Berdasarkan hubungan tidak mulus mereka dengan Tionghoa totok, gue berharap bisa mendapatkan lebih banyak klien dari golongan tersebut.

Gue tidak akan menyerah di titik ini. Hidup Asiu, Made dan Ketut ada di tangan gue. Kalau di abad ke-21 mungkin gue akan bilang minimal ada uang buat beli telur dan mie instan. Tapi di zaman ini seminimnya beras buat masak nasi atau paling parah bubur kental dan ikan. Keduanya harus tersedia. Itu tekad gue.

 

Bagian delapan

Masa sulit belum juga berlalu. Namun kali ini tak hanya berlaku bagi gue. Hampir semua orang Tionghoa di Batavia merasakan akibat keluarnya peraturan baru dari kompeni.

Setelah peraturan lama tentang pemulangan warga Tionghoa yang tidak punya sumbangan tenaga dan kemampuan bagi kota, kini diterbitkan peraturan baru yang lebih sadis. Tentu saja, tebakan gue—dan mungkin juga semua China dari dua kelompok—tujuan mereka tak lain adalah uang.

Sayang, pengetahuan sejarah gue minim, akan tetapi perasaan bahwa kompeni benar-benar di awal kebangkrutan tetap tidak terbantahkan dengan melihat gejolak saat ini. Gue terlalu bodoh untuk tidak menyimak buku-buku sejarah dan cerita-cerita dari gadis-unik jadi tidak tahu kapan mereka benar-benar bangkrut dan seterusnya.

Karena aturan baru sial itu, dalam beberapa hari terakhir ini, tak henti-hentinya gue memperingati Asiu agar selalu membawa surat-izin-tinggal selama keluar rumah juga agar mengingatkan gue tak lupa membawa barang itu. Karena bisa celaka kalau tidak dapat menunjukkan surat tersebut. Hukumannya adalah dirantai dan dikirim ke daerah koloni kompeni di Asia Barat. Siapa pula yang mau?

Gue tadi bilang soal tujuannya adalah duit karena yang tertangkap itu bisa dibebaskan dengan membayar sejumlah uang yang tentu sangat besar bagi rata-rata warga Tionghoa penduduk Batavia dan sekitarnya. Bisa dikatakan, hanya mereka yang berduitlah yang bisa terbebas dari jeratan hukuman.

Berita lumayan mengejutkan terkait peraturan baru datang beberapa hari kemudian. Oey Shaoya, salah satu menantu Yo Sinshe tertangkap basah tidak dapat menunjukkan surat itu ketika ada pemeriksaan. Untung saja, ayah dan mertuanya adalah orang kaya sehingga bisa cepat menebusnya yang kala itu sudah dimasukan ke dalam tahanan Stadhuiz. Dengan demikian, berita ini cukup menjadi peringatan bagi mereka yang tidak sekaya Oey Shaoya itu. Termasuk juga gue.

*#*#*

 

Iklan
%d blogger menyukai ini: