Skip to content

8 – Perjodohan

Bagian satu

Siapa yang akan menyangka kalau Yo Sinshe sengaja menyebarkan isu bahwa gue calon menantunya di hadapan orang-orang kaya Batavia? Gue pikir orang satu itu kehilangan akal sehat. Bayangkan saja dengan umur gue sekarang yang menginjak minus dua ratus… ah… anggap sajalah tiga puluh empat. Artinya usia gue hanya terpaut sepuluh tahunan dari usia Yo Sinshe.

Dan gue harus mengawini bocah belasan tahun itu? Dia pikir Enru Tirtonegoro adalah om-om girang yang hobi bermain dengan gadis belasan tahun, hah?!

Sial! Sial! Sial!

Hebatnya… tak satupun yang bersedia mendukung gue. Bahkan Asiu terus-menerus membujuk agar menyetujui usul majikannya. Tio Sinshe sama saja. Sudah pasti dia akan berpihak pada Yo Sinshe. Bahkan seluruh Sinshesinshe kaya teman-teman mereka juga menunjukkan gejala serupa.

Hah… harusnya gue jangan meminta dukungan dari Tio Sinshe. Baru beberapa bulan lalu dia mengambil istri muda lagi. Istri yang terakhir itu baru berusia tujuh belas tahun. Selain itu, artinya jumlah perempuan di sisinya kini empat orang. Di luar pelayan atau budak yang bisa jadi juga dipakai juga olehnya.

Karena sangat kesal, gue banting begitu saja pantat pada tanah berumput tak jauh dari kanal.

Batavia memang dikelilingi banyak kanal. Orang-orang Belanda itu mungkin takut tak betah tinggal di negeri yang jauh sehingga membuat puluhan kanal agar menyerupai tanah kelahiran mereka.

Sayang… gue ga punya mood menikmati cantiknya kanal di masa ini. Kepala ini terlalu penat dengan beragam urusan hingga ingin rasanya banting meja atau sejenis itu. Mungkin, kalau ada yang menantang berkelahi, sekarang juga gue penuhi tantangannya.

Singkatnya, sejak pertemuan yang terjadi sehari setelah gue mendapatkan izin tanahnya kembali, tak kurang dari lima kali masalah keberadaan gue di rumah Yo Sinshe menjadi bahan pembicaraan. Dan tak kurang dari jumlah yang sama pula, Yo Sinshe menyebutkan secara tersirat bahwa gue tak hanya saudara sepupu dari salah satu istrinya, namun juga berstatus calon menantu.

Jawaban yang membuat gue hanya dapat tertawa getir. Bagaimanapun gue tak ingin menyakiti hatinya. Dia telah begitu banyak membantu selama ini. Tapi mengapa sampai detik ini otak gue masih juga tidak mendapatkan alasan tepat untuk menolak kemauannya itu? Gue jadi merasa nasib gue benar-benar malang.

Merebahkan diri, gue anggap sedang pergi berkemah. Gue biarkan rambut dan pakaian yang pastinya akan kotor kena tanah. Lalu mata dipejamkan berusaha untuk tidur.

 

Bagian dua

Mudah-mudahan gue tidak sedang bermimpi.

Gue sedang duduk di kursi makan menghadap punggung Lala yang sibuk masak pasta dengan saus bolognaise. Terkadang harumnya bau tumisan bawang bombay tersebar sebelum asapnya ditelan oleh cooker hood.

Gue mengambil garpu dari dalam laci. Sungguh tak sabar menanti matangnya spageti dan kemudian dihidangkan di hadapan dengan ketrampilan Lala menghias piring.

Toahnia.”

Sebelumnya Lala tak pernah manggil gue dengan sebutan seperti itu. Bahkan memanggil dengan sebutan kokoh pun tak pernah. Dia selalu memanggil dengan julukan ‘Ruru’. Gue pernah protes karena merasa seperti seekor kucing. Tapi balasnya gue memang kucingnya. Kucing nakal yang suka usil. Sial! Tapi mau marah juga tidak bisa. Lalu mengapa sekarang Lala manggil gue dengan cara seperti itu?

Toahnia!”

Suara Lala tergolong jenis soprano. Mengapa kali ini terdengar seperti suara tenor? Gue menolehkan wajah ke arah asal suara dengan hati berdebar-debar.

Asiu?

Sial! Ternyata gue benar-benar hanya bermimpi. Dan lebih sial lagi Asiu menganggu mimpi indah tadi.

Rupanya gue masih tetap berada di abad ke-18. Tepatnya di taman samping kamar gue dalam rumah Yo Sinshe. Dan gue tertidur dengan tololnya di atas meja batu di bawah rindangnya pohon bidara untuk dibangunkan dengan paksa oleh Asiu ini.

Gue pandangi pemuda ini dengan tatapan malas sekaligus memohon agar tidak menganggu sementara waktu. Tapi dia memamerkan cengiran super lebar sambil menunjukkan tangan yang membawa sesuatu dari balik tubuhnya.

Arak api!

Dia kembali mendapatkan barang langka itu lagi. Bagaimana mungkin gue bisa marah sekarang? Setelah kejadian lebih dari satu bulan lalu—saat pertama kali mencobanya lalu diganggu oleh Kim Nio—baru sekarang gue lihat barang itu lagi.

Mudah-mudahan kali ini arak itu bisa gue nikmati tanpa ada gangguan.

Sejak ketiduran di tepi kanal beberapa hari lalu, mood gue belum juga membaik. Bahkan rasanya niat bekerja bertambah turun sampai titik terendah. Hari-hari gue sekarang diisi dengan tidur, pura-pura tidur atau keluyuran tanpa tujuan jelas. Dan… minum arak unik yang didapat Asiu dengan susah payah ini.

Padahal sepanjang ingatan, sejak masa kuliah tahun kedua—dimana gue mulai menerima pekerjaan dengan sistem freelance—ini pertama kalinya gue mengalami kehilangan niat kerja. Total!

Baru kali ini juga gue ingin membiarkan arak bikin gue mabuk beberapa hari sekaligus. Sayangnya, gue tak pernah mabuk lebih dari satu hari.

Kebuntuan otak merangkai alasan agar Yo Sinshe tak jadi menjadikan gue sebagai menantunya membuat etos kerja mengalami beberapa perubahan. Enru Tirtonegoro di masa lalu… salah… di abad ke-21 mana pernah mabuk-mabukan pada jam kerja seperti ini? Tidur pun rela ditunda demi mengejar deadline yang nyaris tak pernah habis.

Gue melirik Asiu. Ternyata ia sedang memandangi gue dengan tatapan yang aneh. Mungkin heran atau miris, gue tidak tahu pasti dan tak bisa menebak dengan tepat apa yang ada di pikirannya saat ini. Gue kira… arak api telah menghilangkan lebih dari separuh kesadaran.

 

Bagian tiga

Natal sudah berlalu demikian pula tahun baru. Masalahnya adalah mood kerja belum juga kembali.

Hari ini gue kembali berjalan santai di pelabuhan. Entah sudah hari keberapa puluh sejak terkapar mabuk karena arak api dari Asiu. Asiu mengatakan dalam mabuk itu gue terus memanggil Lala hingga membuat dia bingung siapakah Lala itu.

Jung-jung besar masih terlihat di pelabuhan, berhamburan seperti ceceran mutiara. Tapi gue yakin mereka tidak sama dengan jung yang gue lukis tahun lalu. Karena di pelabuhan bernama Sunda Kelapa ini, setiap hari ada puluhan kapal besar yang datang dan pergi.

Demikian pula kapal-kapal lain yang dengan melihat benderanya saja ketahuan bahwa mereka kapal VOC. Kehadirannya menyemarakkan pelabuhan bernama Sunda Kalapa ini, salah satu pelabuhan penting di bagian utara Pulau Jawa.

Kalau gue tidak salah ingat, pada pertemuan orang-orang kaya Batavia beberapa hari lalu tersiar gosip bahwa Gubernur Jenderal Zwaardecroon dipecat dari jabatan. Jadi mungkin kapal VOC yang sedang berlabuh itu membawa beberapa pembesar VOC untuk pelaksanaan seremonial serah terima jabatan.

Sebenarnya gue tidak tahu pasti bagaimana kejadian sebenarnya, apakah benar dipecat atau mengundurkan diri. Namun mengingat nasib naas Pieter Erberveld dan tanah Yo Sinshe yang tiba-tiba kehilangan izin, gue berharap dia benar-benar dipecat. Membicarakannya saja sudah membuat gue ingin marah. Gue benci pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaan seperti orang itu.

Lelah berjalan-jalan, gue duduk di tepi pelabuhan dengan kaki dibiarkan menggantung begitu saja di atas permukaan laut.

Toahnia,” sapa Asiu yang jenis suaranya langsung gue kenali tanpa perlu melihat dulu.

Dengan tangan,  gue tepuk kayu papan pelabuhan di sisi pertanda menyuruh dia duduk di tempat itu.

Toahnia tak bermaksud bunuh diri, kan?”

Gue lirik dia dengan tampang terkejut. Rasanya gue belum pernah berpikiran untuk mati sekalipun saat ini otak terasa buntat dengan begitu banyak pikiran berkeliaran di dalam.

“Kenapa lu tanya seperti itu?”

“Soalnya akhir-akhir ini kulihat Toahnia tak punya semangat hidup.”

Gue hembuskan nafas panjang tanpa alasan pasti. Mata gue menerawang kapal di kejauhan.

Toahnia ini aneh. Disuruh menikah dengan banyak kemudahan malah terlihat seperti orang disuruh bunuh diri.”

Dia tak hanya sekali mengatakan itu membuat gue hapal satu demi satu kata penyusun kalimatnya.

“Laki-laki yang punya harga diri tidak akan mau dibeli dengan uang dan kemudahan. Lu ngerti?” gue lirik dia sesaat untuk kembali memandangi laut lepas dengan kapal-kapal yang terombang-ambing di permukaannya.

“Lagipula gue tidak punya perasaan apapun pada Kim Nio. Menikahinya hanya meninggalkan kesengsaraan bagi kami.”

“Lalu mengapa Toahnia tidak segera mengatakan pada Cukong?”

“Gue belum menemukan waktu dan kata yang tepat agar Yo Sinshe tidak tersinggung. Hutang budi gue ke dia sudah terlalu banyak.”

Ia terdiam di sisi tak lagi bicara.

“Sejak umur berapa lu ikut Yo Sinshe?”

“Delapan tahun.”

Artinya sudah sepuluh tahun lebih dia menjadi pelayan di rumah Yo Sinshe. Waktu yang cukup panjang. Dalam waktu yang panjang itu, pernahkah dia berpikiran untuk melepaskan diri dari status orang rendah? Pelayan? Seperti gue, sekalipun gaji di biro iklan itu terbilang besar dan memuaskan tetap saja ada keinginan untuk berhenti kerja. Mimpi gue dari dulu  mendirikan biro iklan sendiri.

“Kita pulang,” ujar gue yang sebenarnya lebih mirip sebagai perintah.

 

Bagian empat

Sampai di muka kamar, seorang pelayan memberitahu bahwa gue dicari Yo Sinshe. Menahan nafas sejenak, baru gue langkahkan kaki menemui sang pemilik rumah. Apa yang ingin dikatakannya sudah sangat jelas.

“Mendadak jadi pemabuk seperti itu sebenarnya apa maumu?” tegur Yo Sinshe sebelum kaki sempat masuk ke dalam ruangan.

Ternyata salah tebak. Gue kira yang dibicarakannya mengenai kapan gue melamar Kim Nio.

Setumpuk kertas berisi tulisan tangan gue yang dipegang olehnya mendadak dibanting ke meja. Benturannya pada meja menimbulkan bunyi keras yang cukup untuk membuat burung gereja kabur ketakutan. Beberapa kertas terlempar dari tangannya dan melayang turun ke lantai.

Gue sendiri terkejut karena kemarahan Yo Sinshe. Namun belum sempat menjawab, suaranya kembali terdengar, marahnya masih setara dengan tadi. Akan tetapi gue paham, kali ini dia memposisikan diri sebagai seorang kakak.

“Kau bilang mau beli rumah dan segala jenis impianmu itu. Bagaimana mungkin rumah akan terbeli kalau kau tak juga kerja?!” tegurnya pedas. “Lihat! Lihat! Lihat konsepmu ini. Dari sekian banyak, apa saja yang sudah kau lakukan?” orang itu mengacak kertas konsep di atas meja. Beberapa di antaranya jatuh karena terdorong-dorong.

Gue perhatikan konsep-konsep yang berhamburan di lantai. Dari semua konsep itu, apa saja yang telah gue kerjakan? Nyaris nol.

“Tio Sinshe dan Seng Sinshe terus menerus menanyakan hasil pekerjaanmu, tahu?!”

Mulut gue membisu. Bagaimanapun gue tetap salah. Kesalahan gue adalah meninggalkan profesionalisme kerja. Apalagi bekerja dalam dunia strategi marketing seperti ini adalah pekerjaan yang memang gue cintai.

Yo Sinshe menghembuskan nafas cepat. Nampak sekali emosinya belum padam. “Kalau kau mau jadi pemabuk, terserah. Tapi tinggalkan rumahku. Aku tidak sudi menampung pemabuk, mengerti?!”

Seketika gue terdiam dengan mata mendelik kaget. Pemabuk? Gue tidak mau disebut pemabuk. Juga tidak ingin mati di abad ini sebagai pemabuk. Gue mau pulang, ingin mati setelah rambut memutih di rumah gue sendiri. Dan bukan dengan predikat pemabuk.

“Maaf,” ucap mulut ini dengan suara pelan namun mata sudah bisa menatap lurus ke depan. Gue kira semangat kerja sudah mulai bergelora. Orang-orang bisa melihatnya dari pancaran mata gue.

Salah satu cara agar tidak perlu menikahi Kim Nio adalah meninggalkan rumah ini secepatnya. Namun gue bukan orang yang suka menjadi gelandangan. Karena itu, uang untuk pembelian rumah harus segera gue dapatkan.

“Aku janji tidak akan mabuk-mabukan lagi. Hari ini juga konsep strategi Seng Sinshe kubuat.”

“Kerjakan malam ini juga. Akan kubuatkan janji dengan Seng Sinshe besok sore.”

Gue menatap Yo Sinshe dengan wajah tak percaya. Besok sore bertemu artinya konsep harus sudah jadi selambat-lambatnya pada jam makan siang besok. Padahal saat ini matahari sudah mulai istirahat.

Yo Sinshe membelalakkan mata ke arah gue. Rupanya itu terlihat sedang berusaha mengusir. Hal terbaik yang harus gue lakukan adalah masuk ke kamar, lalu keluarkan isi otak dalam kertas. Tak ada laptop juga mesin tik. Penulisan konsep pastinya memakan waktu lebih lama.

 

Bagian lima

Tepat pada saat matahari bersinar di atas kepala, konsep untuk Seng Sinshe jadi. Konsep itu gue kerjakan semalam suntuk tanpa tidur. Omelan Yo Sinshe entah mengapa membuat otak gue dapat berpikir jernih dan hasilnya konsep dapat diselesaikan kurang dari 24 jam! Nanti gue traktir dia di rumah makan elit jika Seng Sinshe menyetujui konsep ini.

Melihat ke sudut meja, tergeletak poci teh yang tak lagi mengeluarkan uap panas. Juga masih ada piring yang isinya tinggal beberapa potong kue ku dan kue mangkok. Asiu yang membawakan dan mengganti ketika piring dan poci itu telah gue kosongkan semalam. Pemuda itu pasti tidak tidur demi melakukan hal itu. Ia memang paling baik ke gue.

Kelak, gue akan melepaskannya dari status pelayan. Dia akan tinggal bersama gue sebagai adik angkat, bukan seorang pelayan.

Toahnia tidur saja sekarang,” ujar Asiu kembali mengganti piring dan poci. “nanti menjelang waktunya akan Asiu bangunkan.”

Gue gelengkan kepala sebagai jawaban dengan sebuah senyum tanda terima kasih. Sekalipun konsep sudah selesai, bahan presentasi belum tuntas. Waktu juga semakin mepet. Bagaimana mungkin gue tidur?

Kali ini, gue menggunakan seni lukis China klasik untuk membuat ilustrasi pendukung presentasi. Dan ketika semua itu sudah selesai, sudah waktunya pergi ke tempat pertemuan.

Pertemuan kali ini diadakan bukan di rumah Seng Sinshe, namun di salah satu rumah makan peranakan di antara Molenvliet[1] dengan Nieuwpoort Straat[2]. Dinamakan Molenvliet karena banyak terdapat kincir dari penggilingan gula dan tempat produksi arak pun mesiu.

Asiu membantu gue merapikan semua kertas konsep, menggulung dan memasukkannya ke dalam bumbung. Orang satu ini juga menggulung kertas konsep dengan sangat hati-hati, bahkan lebih hati-hati dari cara gue menggulung.

Asiu sudah seperti asisten gue. Dia cerdas dan mudah menangkap kemauan gue. Bahkan sangat perhatian pada kebutuhan-kebutuhan gue. Memang dia adalah orang yang paling dekat di Batavia, bukan Peng Guan sekalipun dialah orang pertama yang gue temui.

Dalam presentasi kali ini, gue sengaja mengikutkan Asiu. Harapan gue, dengan bantuan Asiu, presentasi kali ini akan jauh lebih baik dari presentasi gue sebelumnya di Batavia.

Begitu gue bersiap keluar rumah, dia membawakan kuda ke depan. Katanya, sekalipun Molenvliet tak jauh, menungganginya akan mengirit banyak waktu daripada jalan kaki. Dia memang benar.

 

Bagian enam

Dengan bayaran yang gue dapat dari Sen Sinshe dan beberapa sinshe lainnya yang menjadi klien, hari ini gue mulai menjelajahi sekitar Grootegracht. Sayangnya… tak ada rumah yang dijual di daerah itu sekarang.

Saat ini, perekonomian sebenarnya sudah mulai memburuk. Rasanya seperti akan terjangkit krisis moneter tahun 1998. Namun rupanya krisis tingkat kecil ini belum mempengaruhi kondisi ekonomi penghuni sekitar Grootegracht. Tentu saja, bukankah mereka mampu beli rumah di sana karena kaya?

Rasanya memang gue harus mencarinya di luar tembok kota. Molenvliet atau Jacatraweg.  Tapi Jactraweg kelihatannya tak mungkin. Tanah di sana sama bergengsinya dengan daerah Grootegracht, mereka pastinya belum terkena imbas memburuknya perekonomian hingga berpikiran menjual rumah yang ditempati.

Sedangkan Molenvliet, sekalipun banyak pabrik, masih bisa dikatakan tertinggal daripada Jacatraweg dan daerah di sekitar Nieuwpoort Staart. Dengan demikian, harga tanah di sana pastinya lebih murah. Mungkin tempat itu bisa menjadi tempat tinggal gue.

Menyusuri Molenvliet, siapa yang akan mengira air pada kali yang saat ini masih cukup jernih kelak menjadi hitam bagai arang cair? Beberapa minggu lalu, gue baca buku yang didapat dari ruang baca rumah Yo Sinshe yang membuat sadar akan suatu hal, kali di samping gue ini adalah terusan kali Ciliwung yang diluruskan oleh kapiten China bermarga Phoa lebih dari lima puluh atau mungkin hampir seratus tahun lalu untuk menghindari banjir yang sering menimpa Batavia.

Di tepi kali, terdapat dua buah jalan yang mengapit. Dan pada pinggir jalan, masih banyak kebun. Tak bisa disebut dengan pasti kebun apa saja karena setiap kebun diisi oleh beragam tanaman.

Hanya beberapa rumah yang terlihat di tepi jalan itu. Seperti yang gue katakan tadi, sebagian di antaranya adalah tempat pembuatan arak, gula dan mesiu. Melihat hal itu, gue bertambah yakin wilayah ini cocok menjadi tempat tinggal gue. Rumah di daerah ini tentunya masih lebih murah daripada di dalam kota. Terpenting, kedekatan rumah dengan usaha-usaha seperti itu mungkin akan memudahkan usaha gue membujuk pemilik usaha agar menggunakan gue sebagai konsultan mereka.

Entah adakah rumah yang dijual. Karena untuk membangun sebuah rumah dari nol, pastinya membutuhkan waktu lama. Lebih lama jika dibandingkan ketika membangun rumah untuk gue dengan Lala.

 

Bagian tujuh

Setelah bertanya-tanya pada beberapa orang, akhirnya gue dapatkan sebuah rumah yang sesuai dengan isi kantong. Tak seberapa besar jika dibandingkan dengan rumah Yo Sinshe ataupun Tio Sinshe. Tapi untuk tempat tinggal gue dan Asiu atau mungkin dengan satu dua pelayan sebagai teman, sudah sangat luas.

Hal yang paling gue suka dari rumah ini karena sebagian besar terbuat dari kayu. Terus terang, gue mulai suka rumah kayu sejak melihat arsitektur klenteng lebih dari setahun yang lalu.

Di rumah ini, hanya terdapat satu ruang tamu yang langsung berhadapan dengan pintu gerbang. Kemudian bangunan samping kanan difungsikan sebagai ruang makan, dapur dan tempat tinggal pelayan dan bangunan kiri bisa gue gunakan untuk tempat tidur kalau ada tamu. Atau mungkin sebagai ruangan kerja. Kiranya gue sudah bisa memulai usaha membangun biro perencanaan strategi marketing dari rumah ini.

Selain itu masih ada bangunan dalam yang letaknya di bagian belakang rumah. Di sana ada tiga kamar. Satu bisa digunakan untuk gue sendiri. Satu kamar untuk Asiu dan sisanya entah siapa yang akan menggunakan.

Kini waktunya untuk berpamitan.

Pulang ke rumah Yo Sinshe, gue sampaikan padanya kalau sudah mendapatkan rumah sendiri. Gue pamit sekaligus mengucapkan terima kasih atas tumpangannya lebih dari setahun. Kemudian, suatu hal yang telah dipikirkan sejak lama, gue ungkap, “Aku ingin melepaskan Asiu,” tanpa ragu.

Yo Sinshe tersenyum. Tampaknya ia telah menduga hal itu sebelumnya. Dikatakannya sejumlah uang yang digunakan untuk membeli Asiu. Gue ga tega menyebutkan jumlah pastinya. Yang jelas, gue segera memberikan uang sejumlah yang disebut Yo Sinshe ditambah beberapa puluh rijksdaalder lagi. Anggaplah sebagai ganti makan dan ongkos tinggal Asiu selama ini.

“Sekarang kamu sudah punya rumah, lalu kapan kamu pikirkan nyonya rumahmu?”

Entah mengapa pernikahan seorang Enru menjadi penting dibicarakan selain oleh Mama dan Cece.

“Aku…,” awalnya ada keraguan untuk mengatakannya. Tapi gue pikir lagi, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan dengan jujur bahwa gue tidak bersedia menikahi putrinya.

“Maaf, Yo Sinshe. Sampai sekarang ini saya belum memikirkan masalah itu. Pertama karena saya ragu sampai kapan akan tinggal di Batavia. Saya masih ada keinginan untuk pulang. Dan kedua… saya masih mengharapkan kekasih di kampung halaman.”

Terlihat, dia sudah mengerti arah pembicaraanku. “Jadi maksudmu?” tebakan gue adalah ia menginginkan sebuah pernyataan tegas.

“Saya tidak bisa menikahi Kim Nio. Tak baik bagi Kim Nio menikahi seorang laki-laki yang tidak mencintainya.”

Mudah-mudahan saja dia tidak marah.

Gue ga mau menikahi Kim Nio. Terlebih… tak ingin menikahi seorang perempuan hanya karena hutang budi pada orangtuanya. Lagipula, hati gue masih milik Lala. Sekalipun sampai detik ini belum menemukan jalan pulang, sebuah harapan masih tersimpan rapat dalam hati. Ya, hati gue untuk Lala seorang.

 

Bagian delapan

Gue bersyukur membeli rumah sekaligus dengan perabotannya. Kalau tidak, malam pertama tidur di rumah ini harus diisi dengan berbaring di lantai. Pastinya sangat tidak nyaman.

Di hari pertama, tadi, Asiu sudah sibuk di dapur. Tangannya dengan terampil membuatkan bola-bola dari tepung ketan disiram dengan air jahe yang rasanya manis. Katanya agar kehidupan di rumah baru selalu manis. Sebelum itu, tepatnya ketika kami baru masuk, ia menaburkan beras dan garam di setiap sudut rumah. Disebut-sebut juga penaburan ini besok juga harus dilakukan. Kali ini, gue tak ingin menanyakan maksudnya.

Dan masih ada seratus enam puluh delapan koin—tak boleh kurang pun lebih—yang harus disebar di sudut rumah. Hebatnya, dia berhasil memaksa gue untuk melakukan hal itu.

Dia terkikik melihat gue mengeryitkan dahi menatap seratusan koin yang ditumpakannya pada tangan gue. Ya, Asiu terlihat sangat senang. Bagaimana tidak senang jika di rumah ini statusnya adalah majikan, sama seperti gue? Atau mungkin dia senang karena berhasil ngerjain gue? Entahlah… Yang jelas, begitu senangnya Asiu sampai tak keberatan tetap mengerjakan tugas dapur.

“Maaf, Asiu, uang gue belum cukup untuk menggaji beberapa pelayan.” Mungkin ini frase teraneh untuk mengemukakan bahwa yang gue maksud adalah membeli satu atau dua budak. Gue sengaja menggunakan kata ‘pelayan’ karena menurut gue manusia tidak mungkin dibeli, yang dibeli hanya tenaga, waktu dan pikirannya dengan gaji. Bukankah begitu?

Dia menggelengkan kepala. Matanya seperti berkata, “Toahnia tak perlu kuatir. Asiu tak keberatan merawat rumah ini sendirian.”

Melirik halaman bagian depan, nafas terhembus dengan lemah. Rumah ini terlalu luas untuk dikerjakan Asiu seorang diri. Terlebih gue juga membutuhkan dia sebagai asisten saat melakukan presentasi. Memang, memiliki setidaknya satu orang pembantu adalah hal yang gue butuhkan dengan status mendesak.

Gue baringkan kepala di bantal panjang berbentuk kotak. Kelelahan mengurus rumah di hari pertama membuat mata gue cepat terpejam. Ini bukan kepindahan pertama ke rumah baru. Bukankah gue sudah punya rumah sendiri di abad ke-21? Namun pindahan kali ini jauh lebih melelahkan.

 

Bagian sembilan

Rumah sudah terbeli. Maka, pekerjaan berikutnya adalah menjaga agar dapur tetap mengepul. Artinya gue harus memikirkan cara agar semakin banyak orang menggunakan jasa gue. Sementara itu juga sialnya, perekonomian Batavia justru cenderung memburuk.

Pelbagai pertemuan non formal diadakan para pelaku bisnis. Gunjang-ganjing perekonomian menjadi topik utama yang terus menerus didengungkan dan menyita banyak perhatian, termasuk gue.

Dengar-dengar sebab awalnya adalah kompeni telah salah perhitungan dalam menentukan jumlah ekspor gula ke daerah Eropa. Lucunya mereka tak mau menanggung kerugian karena keputusan itu seorang diri. Dilimpahkannya sebagian besar kerugian pada para pengusaha tebu. Jadinya pengusaha tebu pontang-panting lalu jadi seperti rantai yang menarik usaha-usaha lainnya sehingga turut mengalami kerugian, nyaris termasuk gue.

Di situasi seperti ini, hanya pengusaha dengan modal kuat bisa bertahan. Misalnya saja Tio Sinshe dan Yo Sinshe. Mereka masih duduk kipas-kipas merasa tenang. Namun para pengusaha kecil, entah sampai kapan bisa bertahan.

Situasi yang tidak menentu membuat pemegang modal besar mulai banyak yang melirik strategi marketing ala gue. Sayangnya gue tidak mungkin mengerjakan lebih dari satu bidang yang sama. Dan terlebih semua masih harus gue kerjakan seorang diri.

 

*#*#*

Catatan kaki:

  1. Molenvliet terbagi 2 jalan. Timur (oost) dan barat (west). Nantinya setelah Indonesia merdeka, Molenvliet Oost akan dikenal sebagai Jalan Gajah Mada. Sedangkan Molenvliet West berubah menjadi Jalan Hayam Wuruk.
  2. Nieuwpoort Straat : Jalan Pintu Besar Selatan
%d blogger menyukai ini: