Skip to content

7b – Tanah di Ommelanden

Bagian lima

“Jadi lu tinggal di rumah Yo Tauke?” si pendiam Peng Guan akhirnya buka suara. Itupun setelah hampir setengah perjalanan terlampaui dalam kebisuan.

“Begitulah,” jawab gue singkat. Gue masih tak bisa melupakan peristiwa pengusiran itu.

“Kelihatannya Yo Tauke benar-benar berminat menjadikan lu sebagai menantunya.”

Komentar tersebut gue acuhkan. Gue lebih baik hidup sengsara daripada jadi laki-laki yang ‘dibeli’. Lagipula, gue yakin kemampuan dalam mendesain dan membuat strategi marketing bisa dihandalkan untuk hidup di abad ini.

Setelah komentar itu, kebisuan kembali merajai perjalanan kami. Dalam perjalanan ini, hanya terdengar derap langkah kuda dan nyanyian burung. Gue diam dia pun demikian. Kekakuan memang sudah menjadi sesuatu yang tidak aneh di antara kami.

Kicauan dari aneka ragam jenis burung itu seakan-akan sedang berusaha mengusir kegalauan dalam diri gue. Mereka terlihat begitu riang dan ingin mengajak gue ikut serta dalam keceriaan mereka. Namun sayang, gue telanjur menyadari bau sebuah masalah besar menghadang di akhir perjalanan ini.

Masalah itu, apalagi kalau bukan mengenai tanah Yo Sinshe.

Di masa ini, perebutan tanah adalah hal lumrah. Tak hanya menyangkut pejabat dengan orang biasa. Semua orang—sesama pejabat ataupun sama-sama orang biasa—juga sering terlibat dalam masalah pelik kasus tanah yang tak dapat dicari ujung pangkalnya.

Dan menurut gue, masalah yang dihadapi Yo Sinshe kali ini memiliki beberapa kesamaan dengan kasus yang menimpa Pieter Erberveld.

Sangat lucu jika tanah yang awalnya baik-baik milik seseorang tiba-tiba dikatakan bermasalah dan melangkahi hukum. Belajar dari nasib orang indo-eropa malang itu, gue yakin jika masalah ini tidak ditangani dengan hati-hati, sangat besar kemungkinan Yo Sinshe mengalami nasib sama.

Jadi gue ga heran jika pengusaha itu sangat marah. Begitu marahnya dia hingga istri muda kesayangan pun tak dapat meredakan emosinya. Dan dengan tingkat emosi seperti itu, gue tak mungkin membiarkan Yo Sinshe mengurus masalah ini seorang diri. Bisa celaka jika dia berhadapan dengan meneermeneer egois yang hanya ingin untung doang.

Putra Yo Sinshe tertua saat ini baru berumur sepuluh tahunan. Memang, anak itu sudah mulai diserahi tugas mengurus kebun mereka yang lain. Tapi kasus ini adalah masalah besar. Apakah bocah belia seumur itu sudah bisa melobi para meneer? Gue sangsi. Oleh sebab itu, gue bantu dia, hitung-hitung membalas budi baiknya selama ini.

Membicarakan putra Yo Sinshe, membuat gue teringat pada putrinya. Putri pertama dan keduanya telah dinikahkan keluar. Maksudnya bukan keluar negeri atau keluar kota.

Bagi orang China, seorang gadis setelah menikah akan ikut suaminya. Karena pihak suami kedua anaknya juga memiliki usaha yang tak kalah baik dari Yo Sinshe, tentu saja mereka tak akan sanggup mengurus usaha mertuanya ini.

Salah satu orang yang bisa diharapkan Yo Sinshe saat ini adalah suami dari putri ketiganya. Terkait masalah ini, dugaan bahwa dia memiliki niat menjadikan gue sebagai menantunya semakin lama menguat. Alasannya gue seorang laki-laki yang belum menikah juga belum punya rumah sendiri di Batavia. Alhasil, jika Kim Nio jadi istri gue, maka statusnya adalah istri pertama. Sebuah status yang tertinggi yang bisa dimiliki seorang perempuan di masa ini.

Ah iya… gue mana boleh melupakan Nyonya Janda Liem. Ia mengurus harta peninggalan suaminya seorang diri dan disegani oleh pengusaha lain yang mayoritas laki-laki. Tapi perlu diingat, statusnya di keluarga Liem adalah istri pertama dari anak laki-laki satu-satunya. Anak-anaknya pun belum cukup umur. Karena itu, ketika suaminya meninggal, ia bisa leluasa melakukan hal tersebut.

Jadi singkatnya gue mau bilang bahwa di sini, dalam hidup rumah tangga, istri pertama memiliki kedudukan sosial terbaik daripada istri berikutnya terlebih gundik. Sebab itulah, orang-orang—mungkin juga Yo Sinshe —berpikiran gue akan bersedia menikahi putrinya dan—tak boleh tertinggal—masuk ke dalam keluarganya. Sayang… dia salah orang. Karena bagi seorang Enru, lebih baik membantu menyelesaikan masalah Yo Sinshe tanpa menjadi menantunya.

 

Bagian enam

Tingkah laku para meneer mengingatkan gue pada birokrasi rumit ala orang-orang pemerintah negara gue. Bagaimana rekan kantor mengeluhkan rumitnya mengurus izin memasang billboard dan spanduk tak mungkin terlupakan. Beberapa kali ia mengalami nasib naas dengan dilempar ke sana ke mari. Tak sangka, di Batavia dalam abad ke-18 ini gue mengalami nasib serupa.

Masalah Ommelanden harusnya ditangani oleh Collegie van Heemraden[1]. Namun nyatanya, ketika menemui dewan itu, gue disuruh menemui Collegie van Schepenen[2]. Kemudian, ketika menemui dewan yang terakhir gue sebut itu, mereka menyatakan kalau masalah itu adalah urusan Collegie van Heemaraden.

Kurang ajar!

Setengah hari gue habiskan hanya untuk mondar-mandir antara dua dewan pengurus Batavia dan sekitarnya. Untung saja kedua dewan ini bermarkas di gedung yang sama, Stadhuiz[3], membuat gue tak perlu terjemur terik matahari dengan sia-sia. Belum lagi urusan dilempar antara orang satu dengan orang lainnya membuat gue mondar-mandir naik turun tangga dan dari ruangan ujung satu ke ujung lain.

Kelakuan mereka buat gue amat sangat menjengkelkan. Hampir gue ngamuk dan berteriak untuk memaki mereka. Untung saja dengan sigap Peng Guan membungkam mulut dan menyuruh gue bersabar agar tidak mendapat masalah baru.

Setelah berhasil membungkam mulut gue, ia ‘membungkam mulut’ seorang meneer dengan beberapa keping perak. Tentu saja, orang itu menerimanya dengan senang hati. Kemudian, ia berlalu dari hadapan kami dengan memamerkan sebuah senyum yang menurut gue terlihat sangat licik.

Sebelum pergi ia berkata agar kami menunggunya. Namun tunggu hanyalah tunggu. Tak kurang dari tiga jam—menurut perkiraan gue—kami menunggu, meneer satu itu tak juga kembali pada kami. Dan ia baru kembali setelah hari terlampau sore hanya untuk mengatakan agar kami kembali saja besok karena atasannya sudah pulang.

Sial! Sial! Sial!

Kalau saja gue tidak sedang membutuhkan bantuannya dan tidak tahu akibat yang akan ditanggung, meneer satu itu pasti sudah menerima bogem mentah dan sebuah tendangan. Semua diarahkan tepat ke ulu hati!

 

Bagian tujuh

Esok paginya, setelah kemarin malam melaporkan usaha tanpa hasil pada Yo Sinshe, gue dibekali ratusan rijksdaalder. Sembari memberikan bekal perjalanan, ia berpesan, “Sering kali otak cerdas bukan jalan menuju kesuksesan.”

Gue hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. Namun ia kembali menambahkan, “Dalam banyak urusan, uang memegang peranan penting.”

Sekali lagi gue mengangguk. Namun saat mengangguk itu, gue kira pernyataan itu hanya berlaku pada urusan kali ini. Tak disangka kata-kata itu akan berlaku juga pada urusan lain di kemudian hari.

Tiba di Stadhuiz, gue cari meneer maruk kemarin. Setelah minta maaf atas emosi yang meledak-ledak kemarin, disertai kemampuan bicara dengan bahasa Belanda, akhirnya ia bersedia diajak makan keluar.

Kali ini, gue harus berterima kasih pada Papa. Beliau yang mendorong gue ikut kursus bahasa Belanda. Maksud Papa agar selepas SMA, gue lanjutkan studi di Belanda. Sayang, sebelum semua itu terlaksana, Papa meninggal dan perekonomian kami memburuk.

Tujuan kepergian gue bersama meneer maruk ini adalah rumah makan ala China yang terkenal mahal tak jauh dari tembok kota. Hanya orang-orang kaya yang sanggup makan di rumah makan ini. Gue berharap, meneer satu ini cukup puas dengan service itu.

Gue memanfaatkan pengetahuan tentang agama Nasrani tanpa perlu membuatnya tahu orang di hadapannya ini beragama Katolik. Dua tahun lewat beberapa bulan tinggal di abad ke-18 sudah cukup membuat gue sadar bahwa agama itu mengalami penekanan luar biasa dari kompeni.

Asal tahu saja, sebagian dari kaum Mardjikers itu awalnya beragama Katolik. Mereka baru dilepaskan dari status budak setelah pindah ke agama yang dianut kebanyakan orang Belanda. Oleh karenanya, gue tak ingin membuat agama yang gue anut menjadi ganjalan bagi usaha membalas budi Yo Sinshe.

Selama perjalanan kali ini, ada satu hal yang terus menerus gue tanam dalam ingatan. Kepergian kali ini hanya seorang diri karena Peng Guan harus mengurus ladang tebu yang menjadi tanggung jawabnya. Yo Sinshe juga punya janji bertemu dengan sesama pengusaha tebu. Itu artinya, gue harus menjaga emosi sendiri. Jangan sampai ada masalah lain karena emosi gue meledak.

Mudah-mudahan gue sanggup bertahan. Soalnya terus-terang gue paling males berurusan dengan keruwetan birokrasi. Apalagi harus menyuap, menyogok dan menyatakan sesuatu yang yang berlawanan dengan hati seperti saat ini. Rasanya sungguh tidak nyaman.

Berulang kali dan dengan diam-diam gue mengurut dada berusaha mengontrol emosi dan nafas. Lepas dari acara makan-makan tak wajar, manusia kurang ajar satu ini masih menuntut agar diajak main ke tempat pelacuran. Ji Lak Keng, katanya menyebut sebuah nama tempat. Tempat apa itu tentunya gue ingat di luar kepala. Nama tersebut sangat tenar saat ini. Setengah mati gue membujuknya agar mengurus surat tanah terlebih dahulu.

Kemudian setelah pulang dari melakukan kegiatan yang sebenarnya tidak dihendaki itu, gue menunggangi kuda menuju Jacatraweg. Daerah itu merupakan daerah elit di masa ini juga dekat dengan lokasi berdarah tempat hidup Peter Erberveld dipaksa berakhir.

Gue berharap pemandangan sore di kali yang terdapat di sisi jalan membuat hati ini lebih nyaman. Dengan demikian, dalam langkah perlahan gue susuri tepian kali. Masa ini, kali di sini tak sehitam abad ke-21 nanti. Walaupun juga tak dapat dikatakan bersih sempurna, tapi masih bisa ditoleransi.

Pada tanah tempat mereka mengakhiri hidup Erberveld, kini terdapat sebuah tugu peringatan. Di atas tugu, terpancang tengkorak yang ditancapkan pada pedang. Gue tertawa miris ketika melihatnya dari jarak cukup dekat. Tampak tulisan dua bahasa tertera di sana. Satu dalam bahasa Belanda dan sisanya huruf Jawa kuno.

Gue justru hanya bisa membaca yang ditulis dalam bahasa Belanda. Kira-kira artinya sebagai berikut:

“Sebagai kenang-kenangan yang menjijikkan pada si Jahil terhadap negara yang telah dihukum Pieter Erberveld. Dilarang mendirikan rumah, membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apapun di tempat ini sekarang dan selama-lamanya. Batavia, 14 April 1722.”[4]

Jelas peristiwa yang membuat gue nyaris mati karena tak enak makan terjadi tepat pada tanggal 22 April. Bagaimana mungkin peristiwa yang hanya berselang satu dua tahun mengalami kesalahan penulisan tanggal dan dibiarkan oleh para meneer itu?

Keganjilan tentang isu pemberontakan Erberveld semakin nyata. Karena itulah, gue tak bisa membiarkan Yo Sinshe bernasib sama dengan Erberveld.

Lepas tiga sampai empat hari setelah itu, meneer serakah kembali menghubungi. Katanya pengurusan surat pembuktian menemui masalah di atasannya. Kembali gue menghela nafas berusaha menahan diri. Gue tahu apa yang dia maksud hingga langsung janjikan agar mengajak atasannya makan bersama.

Tak lupa, gue berikan sejumlah rijksdaalder sebelum pulang dari pertemuan itu. Kalau saja tidak hutang budi pada Yo Sinshe, tak akan mau gue menghadapi meneer-meneer serakah itu.

 

Bagian delapan

Setelah menghabiskan banyak uang, bukti kepemilikan tanah Yo Sinshe akhirnya gue dapatkan. Gue benar-benar tidak tahu harus bersyukur atau tertawa miris atas hal itu. Rupanya korupsi dan salam tempel sudah ada di zaman ini. Atau gue yang terlalu tidak peduli sejarah hingga tak tahu korupsi sama tuanya dengan kebudayaan manusia?

Gue bawa surat tersebut pada Yo Sinshe yang tentu saja disambutnya dengan suka cita. Bahkan ia memuji segala macam hingga bikin kerepotan menimpali. Orang-orang Tionghoa selalu merasa sungkan dipuji sekalipun menginginkan pujian tersebut. Mereka akan menjawab pujian tersebut berlebihan dan segala macam sebagai bentuk kesopanan dan kerendahan hati.

Sekarang ini gue sudah sangat lelah pun tak ingin melakukan basa-basi semacam itu. gue jawab semua pujian itu dengan sebuah senyum kecut dan wajah pucat. Gue hanya ingin bisa tidur dengan pulas lalu dibangunkan oleh dering ponsel panggilan Lala yang merajuk minta dijemput. Dan tentu saja, terbangun di atas springbed dalam kamar gue yang sesungguhnya.

Namun sayang, Yo Sinshe masih tak juga melepaskan gue. Ia justru membujuk agar menemaninya pergi menemui beberapa kawan. Sepertinya, mau tak mau, gue tetap harus pergi.

*#*#*

Catatan kaki:

  1. Collegie van Heemraden : dewan balai kota Batavia yang mengurusi masalah Ommelanden (tanah di luar tembok kota) dan penduduknya
  2. Collegie van Schepenen : dewan balai kota Batavia yang mengurusi masalah kependudukan dalam tembok kota Batavia.
  3. Saat ini Stadhuiz telah diubah fungsi sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahilah
  4. Mengikuti kutipan dari Ensiklopedia Jakarta: Buku II. 2006
%d blogger menyukai ini: