Skip to content

7a – Jung dan Tionghoa

Bagian satu

Batavia saat ini benar-benar sebuah kota dagang. Bahkan setelah nantinya berganti nama menjadi Jakarta, predikat sebagai kota dagang tak pula tanggal—justru bertambah ramai.

Hiruk pikuk para pedagang pun pembeli terus menjadi nafas kehidupan kota ini. Dan senyum kagum terus menghiasi sudut bibir gue seperti juga tatap mata terpana dan bangga.

Menyusuri pelabuhan Sunda Kalapa, salah satu pelabuhan tersibuk di bagian utara Pulau Jawa, denyut nadi sebuah kota dagang tak mungkin tidak gue rasakan. Di sinilah tempat beragam kekayaan negeri diangkut ke negeri lain, baik masih di kawasan Asia ataupun jauh di Barat sana. Kekayaan rempah-rempah yang membuat Belanda betah bercokol menguasai tanah ini. Juga adalah tempat yang mana barang dari beragam penjuru dunia singgah ataupun diperdagangkan dan akhirnya dimiliki oleh orang-orang di kota ini.

Beberapa kapal yang terlihat berbeda dari kapal-kapal lainnya segera menarik perhatian. Menurut cerita Asiu waktu itu, nama kapal tersebut jung. Dia, Yo Sinshe juga Peng Guan datang ke Batavia dengan menumpang kapal seperti itu.

“Lihat, Toahnia! Layarnya berbentuk segi empat. Selain itu, dasar jung datar. Beda dengan kapal meneer,” seru Asiu ketika bercerita. Wajahnya terlihat begitu riang seolah-olah jung itu adalah miliknya.

Ya, memang. Layar jung berbentuk segi empat sedangkan kapal lain umumnya berbentuk segi tiga. Lagipula—Asiu lupa mengatakan hal ini—pada buritan kapal terlihat sebuah ukiran motif khas Negeri Bambu sehingga sekali lihat, asal jung pasti bisa ditebak.

Jika sebuah jung bisa sampai ke Batavia, artinya dia adalah jung besar hingga sanggup mengarungi lautan. Dan kata Asiu pula, jung besar semacam itu bisa mengangkut lima ratus orang sekaligus!

Karena besarnya badan itulah, mereka tak dapat berlabuh dekat dengan pelabuhan. Dan di mata gue, beberapa jung yang berlabuh terlihat seperti manik-manik yang berserakan di sekitar pelabuhan.

Satu… dua… tiga… lima… sepuluh… lima belas… Kelihatannya lebih dari lima belas jung yang sedang berlabuh. Jika separuh dari mereka menetap, artinya jumlah penduduk Batavia dari golongan China akan bertambah lebih dari tiga ribu orang.

Dengan pertambahan jumlah penduduk ini mudah-mudahan jumlah perampok tidak bertambah. Karena peningkatan jumlah penduduk tanpa peningkatan lapangan pekerjaan akan mempertinggi jumlah pengangguran. Padahal setiap orang butuh makan, butuh uang. Banyak kemungkinan para pengangguran akan menambah jumlah perampok yang sekarang sudah cukup meresahkan. Perampok, pengemis, penjambret, bukan hanya masalah di dunia moderen.

Kata Yo Sinshe, beberapa hari lalu hasil panen sawah yang disewakan Aw Sinshe dirampok oleh sekelompok orang. Karena Aw Sinshe menyewakan tanah, kesimpulan gue ia sudah cukup lama tinggal di Batavia—mungkin beberapa generasi sebelumnya. Hal ini berbeda dengan Yo Sinshe yang lebih banyak menyewa tanah yang memang sudah ada beberapa tanah jadi hak milik. Tapi jumlahnya lebih kecil dibanding yang ia sewa.

Para penyewa dan tuan tanah biasanya memiliki perjanjian bagi hasil selain uang sewa tahunan. Berdasarkan obrolan gue dengan Yo Sinshe, besarnya uang sewa dan bagi hasil tergantung pada tingkat kesiapan tanah ditanami. Semakin siap pakai, harga semakin tinggi.

Pada kejadian malang yang menimpa Aw Sinshe, yang dirampas adalah gabah hasil panen yang dibagikan oleh penyewa tanahnya. Jumlah kerugiannya pasti sangat besar karena lahan tanah yang disewakan Aw Sinshe mencapai ribuan hektar.

Di tempat lain, dengan hari berdekatan, perampokan menimpa Tuan Afonso. Orang terakhir ini nasibnya lebih malang karena tak hanya harta yang direngut. Nyawa istri dan anaknya pun entah tak diketahui nasibnya setelah diculik para perampok.

Tapi, apakah perampok pastilah orang Tionghoa? Kekayaan para tuan tanah yang sangat signifikan jika dibandingkan kepemilikan golongan bawah tentu membuat sekian penganggur merasa ingin memiliki. Pertambahan penduduk menyebabkan persaingan mendapatkan kerja semakin meningkat kalau tidak mau dikatakan begitu sengit.

Dan juga siapa yang bisa disalahkan dengan pertambahan jumlah orang Tionghoa? Karena justru dari yang gue dengar, pendiri kota Batavia sendiri yang menarik orang-orang Tionghoa agar menetap di kota barunya. Bahkan ia sampai menculik orang-orang Tionghoa agar bayangan kota harapannya terpenuhi. Apalagi sekarang, ketika Batavia telah menjadi kota ramai. Tak hanya orang-orang dengan kemampuan memadai, mereka yang sebenarnya tak bisa apapun pasti ingin meraih mimpinya di kota ini.

Dengan sampan, gue dekati jung terdekat dari pelabuhan. Setelah minta izin untuk membuat sketsa dengan menyelipkan sejumlah uang, gue boleh masuk. Tidak ada yang perlu diherankan. Uang membuat segala proses menjadi lebih mudah dari yang seharusnya.

Gue mengelilingi kapal sambil mencari tempat yang pas. Setiap dek sampai ke bagian bawah ditelusuri. Sungguh jung satu ini bikin gue terpesona. Apalagi hari ini adalah kali pertama gue naik jung.

Rupanya tak semua penumpang turun. Ada pula beberapa di antara mereka berleha-leha di atas jung, melepas kepenatan dengan tiduran di kabin. Sebagian di antaranya mungkin sudah meraup untung besar sehingga tidur mereka tidak pulas dan waspada dengan isi kantung yang didekap.

Setelah menemukan posisi yang tepat, gue mulai membuat sketsa jung. Seandainya  bisa pulang, sketsa ini bisa dijadikan ide iklan. Kalau hal itu terjadi, iklan gue itu akan menjadi iklan pertama dengan setting sebuah jung.

Atau mungkin gue akan beralih ke dunia film. Gadis-unik pasti bisa diajak kerjasama untuk menuliskan script. Dengan tema film budaya dan sejarah, dia pasti sangat excited. Demikian juga dengan Lala. Bisa jadi seluruh pengerjaan script akan dimonopoli kedua perempuan itu.

Selesai membuat sketsa jung, terlintas dalam benak untuk latihan melukis dalam gaya China klasik. Gue ambil kertas lainnya—untungnya selalu membawa beberapa lembar kertas dan alat lukis cukup lengkap—lalu di atasnya ditorehkan lukisan puluhan jung yang sedang berlabuh. Nanti, bakal gue tunjukkan hasilnya ke guru lukis gue. Entah apa komentar beliau, akankah ada perkembangan atau justru kemunduran.

Ketika selesai lukisan tadi, sambil memandangi hasil lukisan, baru gue sadar rupanya matahari sudah berada di ujung barat. Sinarnya kini berwarna kemerahan menyiram bangunan Gudang Barat[1] yang berdiri tak jauh dari pelabuhan. Sekali lagi gue keluarkan kertas lain lalu kembali larut dalam kesenangan itu.

 

Bagian dua

Ketika kedua lukisan ditunjukkan pada guru lukis, gue begitu senang karena beliau menghujani dengan pujian pun saran. Pujian karena kemajuan dan semangat kemudian saran agar goresan lebih luwes dari hasil sekarang.

Kemudian, atas dasar usul Yo Sinshe, gue tempelkan lukisan pada kertas yang lebih tebal lalu menjadikannya sebagai hiasan di kamar.

Pada saat menggantung lukisan di dinding itulah, seorang gadis berusia belasan tahun muncul di ambang pintu kamar. Yo Kim Nio, putri ketiga Yo Sinshe yang sudah dianggap pantas menikah. Ejekan Peng Guan beberapa bulan lalu juga merujuk pada gadis satu ini.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan gadis ini. Wajahnya juga cantik. Sayang… usianya terlalu muda dan Lala—

“Cui Toahnia,” seruan Kim Nio membuat gue kaget setengah mati dan akhirnya terburu-buru menoleh. Untung saja otot leher tidak terkilir.

“Ternyata Cui Toahnia bisa melukis. Lukisan Toahnia juga sangat indah.”

Tanpa menjawab sepatah katapun—hanya cengiran yang gue pamerkan—firasat gue berkata gadis remaja ini harus diwaspadai. Jangan sampai mata yang saat ini memandangi lukisan dengan penuh kekaguman membuat seorang Enru harus ‘berurusan’ dengan Yo Sinshe.

… Mudah-mudahan gue saja yang terlalu percaya diri.

Gue melirik Kim Nio sekali lagi, ternyata ia juga sedang melihat gue. Dan ketika kedua pasang mata kami saling bertumbukan, gadis itu segera mengalihkan perhatian dengan sikap malu-malu ala gadis perawan.

… Dia memang masih perawan kan? Lalu apa gue ini om-om girang tidak tahu diri? Pedofil?

Gue terdiam. Di kepala sejuta rencana timbul dan tenggelam. Rencana yang aneh dan tak masuk diakal atau lebih layak dijadikan ide iklan pun film berhamburan. Untung Yo Sinshe berniat meninggalkan kamar sehingga ia menarik Kim Nio pergi dari kamar. Katanya, tak baik seorang gadis berada di kamar seorang laki-laki. Ya, memang benar tidak baik. Tidak baik bagi gue.

Berusaha mengalihkan perhatian, lukisan yang baru terpasang itu gue tatap lekat. Sial, feeling gue tetap berkata, gadis itu masih memperhatikan gue sekalipun kakinya menjauh pergi mengikuti sang Ayah. Perlahan gue lirik ke arah mereka pergi. Dia memang sudah cukup jauh, tapi entah mengapa setiap beberapa langkah sekali kepalanya selalu menoleh. Tak pelak membuat kami saling bertatapan sekali lagi dan lagi.

 

Bagian tiga

Benar-benar, tinggal di rumah orang lain selain tak nyaman, gue juga harus menjaga sikap. Apalagi di rumah ini juga tinggal gadis belia putri sang Tuan Rumah. Lebih tepatnya, gue tak bisa bergerak karena keberadaan gadis yang tadinya tinggal di petilasan Yo Sinshe di Timur Batavia bersama sang Ibu.

Sejak beberapa bulan setelah kemunculanku di rumah Yo Sinshe, Kim Nio pindah. Tapi kala itu kesibukan gue dengan konsep marketing toko empunya rumah membuat kami tak pernah bertemu. Sedangkan kini kesibukan mereda. Pengalaman riset pertama cukup membantu untuk pekerjaan gue dengan Tio Sinshe.

Sebelum pertemuan kemarin, pertemuan-pertemuan sebelumnya hanya sekelebat. Seperti secuil punggung ataupun kaki, tergantung secepat apa tolehan gue. Adalah Asiu yang membisiki jika nona mudanya menampakkan diri—tentu saja dengan puja-puji—hingga kepala gue tertoleh ke arah tempat gadis itu pergi.

Untungnya akhir-akhir ini, Yo Sinshe dan Tio Sinshe sering mengikutsertakan gue ketika mereka berkumpul untuk sekedar bercengkrama. Oh ya, gue sengaja menyebut bercengkrama karena yang dibicarakan tak melulu soal bisnis. Dari perkembangan terbaru situasi Batavia sampai masalah keluarga juga menjadi topik pembicaraan.

Sialnya, masa lalu gue menjadi topik teranyar dan penting untuk dikupas. Dari masalah orangtua, Cece, pekerjaan, semuanya ditanyakan oleh mereka. Misalnya saja beberapa saat tadi, dengan tampang tidak merasa salah, Tio Sinshe bertanya apa gue belum menikah.

Sontak saja, masalah itu menjadi perhatian mereka ketika gue jawab dengan jujur.

Kemudian dengan gaya sedang merenung atau sedang menasihati, Yo Sinshe berkata, “Seorang pemuda baru bisa disebut laki-laki jika dia telah menikah.”

“Dan akan disebut laki-laki sejati jika punya beberapa istri sekaligus,” timpal Tio Sinshe disambut tawa oleh kedua pebisnis itu.

Hanya gue yang terdiam dengan wajah merengut. Siapa yang rela disebut bukan laki-laki? Siapa yang mau disebut bukan laki-laki sejati? Apa salah gue jika masih tetap cinta Lala? Toh Lala bukan pacar pertama gue. Namun dialah yang membuat hati gue benar-benar tertambat tak bisa melepaskan diri seolah kecanduan. Gue salah? Menurut mereka gue salah!

“Berapa umurmu?” tanya Tio Sinshe. “Kukira umurmu sudah kepala tiga, Enru,” tegurnya sebelum gue sempat jawab.

Dengan pasrah gue anggukkan kepala. Tapi tebakan dia salah karena tahun ini umur gue minus dua ratus lima puluh tujuh tahun! Lucu kan?

“Pertama kali menikah, usiaku tujuh belas tahun,” sambung Tio Sinshe. Asap tembakau dari cangklong kembali memenuhi udara setelah dia berkata demikian. Namun di telinga gue, Tio Sinshe sebenarnya sedang berkata: Hei, Enru. Di usia tujuh belas tahun aku sudah menikah. Sedangkan umurmu sudah kepala tiga namun belum juga menikah. Kamu tidak suka perempuan atau tidak kuat membayar ‘uang susu’?

Gue tersenyum kecut. Dan semakin kecut ketika Yo Sinshe bercerita bahwa ia menikah di umur yang sama dengan Tio Sinshe. Cukup sudah! Kesabaran sudah habis. Lebih baik pembicaraan ini gue alihkan pada bisnis mereka saja.

“Saya sudah melihat kualitas kayu Tio Sinshe. Menurut saya–”

“Sudah waktunya Kim Nio menikah.”

Melirik ke arah Yo Sinshe, ingin sekali membuat mulutnya itu bungkam dan mendengarkan kata-kata gue dulu.

“Menurut saya, cara terbaik agar–”

“Di depanmu ini ada pemuda belum menikah. Kukira dengan semangat kerjanya, hidup Kim Nio tidak akan kekurangan.”

Sepasang mata Yo Sinshe mengarah pada gue dengan penuh cahaya.

“Terlebih pemuda satu ini tampaknya tidak tertarik dengan banyak perempuan. Bisa jadi Kim Nio akan menjadi istri pertama dan terakhirnya.”

Kedua mata Yo Sinshe menyiratkan bahwa ia telah mendapatkan ide cemerlang. Isyarat tak baik.

Itu adalah isyarat yang membuat gue terduduk bingung karena memikirkan hendak mengelak dengan jawaban model mana. Tegaskah? Atau berputar-putar?

 

Bagian empat

“Kudengar Cukong bermaksud menjodohkan Sam Kouwnio[2] pada Toahnia,” celetuk Asiu kali ini benar-benar membuat gue terperanjat. Untung arak yang baru masuk mulut sudah sempat ditelan. Coba bayangkan jika arak yang didapat dengan susah payah ini sampai muncrat karena kaget.

Arak ini memang bukan arak biasa. Dialah yang disebut arak api. Barang yang diperdagangkan secara ilegal dan pastinya dibuat oleh pabrik yang dimiliki orang Tionghoa, entah di sebelah mana Batavia.

Gue tahu keberadaan arak jenis dari Asiu beberapa bulan lalu. Kemudian gue minta dia cari. Barang unik seperti itu, mana mungkin seorang Enru tak ingin mencoba.

Sam Kouwnio sangat cantik. Kenapa Toahnia kelihatan tidak semangat?”

“Apa menurut elu kecantikan adalah hal utama?” balas gue.

Sam Kouwnio tak hanya cantik, ia juga putri kesayangan Cukong. Aku dengar usaha Cukong mengalami kemajuan pesat bahkan sanggup membeli tanah sangat luas setelah Sam Kouwnio lahir.”

“Seumur hidup gue, gadis cantik juga seksi sudah sering gue lihat. Mungkin ribuan kali. Perempuan kaya juga sering gue temui.”

Arak ini memang pantas disebut arak api. Dia tak butuh waktu lama untuk membakar. Badan gue mulai hangat sekalipun hujan badai terus mengguyur Batavia.

Mungkin gue mulai mabuk karena terlihat Lala sedang melambaikan tangan. Ia memanggil dan bertanya mengapa tidak menemani dia datang ke pesta ulang tahun eyangnya. Dua tahun berturut-turut.

“Bagaima–”

Toahnia!”

Sialan. Teriakan itu membuat Lala pergi.

Tangan yang telah terulur menyambut Lala mendadak diturunkan. Gue menolehkan muka ke asal suara. Terlihat Kim Nio di koridor. Dialah yang berteriak.

Toahnia dicari Apeh[3].”

Mengerutkan alis, gue berdiri.

Asiu juga ikut berdiri. Diterimanya wadah arak dari kulit yang gue sodorkan. Setelah itu gue pergi, meninggalkan Asiu sendiri.

Dengan beragam spekulasi berkeliaran dalam kepala, kaki gue terus melangkah mendekati ruangan dimana, lelaki yang disebut Kim Nio apeh sering berada.

Mudah-mudahan saja Yo Sinshe tidak berniat menanyakan kapan gue akan menikahi Kim Nio. Karena melihat gadis remaja itu tersenyum malu-malu saat mengatakan ayahnya sedang mencari gue, telah membuat gue benar-benar penasaran keperluan Yo Sinshe saat ini.

Kaki belum sempat masuk dalam ruangan ketika terdengar sebuah dampratan penuh emosi. “Dasar meneer sial!”

Jenis makian yang membuat gue sangat terkejut. Belum pernah sebelumnya gue lihat Yo Sinshe semarah ini. Dia seorang pebisnis yang mahir menyembunyikan isi hati dari lawan bicaranya.

Rasa penasaran menuntun mulut untuk bertanya, “Kenapa?”

Masih dalam emosi menggebu-gebu, Yo Sinshe menyuruh Peng Guan yang cerita.

“Penjajah tetap saja penjajah. Setan alas!” mendengar kronologi kejadian membuat gue tak tahan berkomentar pedas.

“Enru, bisa carikan akal agar mereka tidak menyita tanah itu?”

“Aku bisa sedikit bahasa Belanda, mungkin bisa digunakan untuk membujuk para meneer sial.”

Sekarang ini, gue benar-benar tidak tahu bahwa setelah keikutsertaan pada peristiwa ini akan ada kenyataan pahit di kemudian hari. Kalau saja bisa meramal masa depan, mungkin gue akan memikirkannya berulang kali.

-bersambung di 7b-

Catatan kaki:

  1. Gudang Barat: masa ini dialihfungsikan sebagai Museum Bahari
  2. Sam Kownio: Nona Ketiga.
  3. Apeh: ayah
Iklan
%d blogger menyukai ini: