Skip to content

6 – Tio Sinshe

Bagian satu

Bisa dikatakan saat ini adalah masa keemasan bagi orang Tionghoa yang tinggal di Batavia. Peraturan-peratuan kompeni yang dibuat di masa ini selalu memudahkan orang Tionghoa dalam menjalankan usahanya.

Misalnya saja terakhir ini gue dengar VOC mengeluarkan aturan yang bunyinya: “Para pengusaha Tionghoa yang datang ke Batavia harus diperlakukan dengan rasa hormat dan kesopanan.”

Dan memang harus diakui, hampir di setiap sektor, pasti ada seorang Tionghoa yang terlibat. Entah itu pembangunan rumah, pelebaran dan pendalaman kali, perkebunan, sampai di sektor perdagangan. Mungkin gue boleh menyebut kota Batavia sebenarnya dibangun oleh orang Tionghoa untuk VOC.

Selesai mengagumi kota, gue berbelok keluar dari Batavia melalui Pintu Kecil. Mengingat nama pintu ini mendadak jadi teringat di daerah Kota. Dekat dengan gedung dimana Pasar Asemka berada, ada sebuah jalan yang cukup dilalui oleh dua mobil. Jalanan itu bernama Pintu Kecil. Mungkin, memang di situlah Pintu Kecil—tempat gue saat ini berdiri—berada.

Jadwal hari ini bertemu dengan Tio Sinshe, pengusaha di bidang perkayuan. Yo Sinshe yang merekomendasikan gue ketika tahu ia ingin mengembangkan sayap perusahaan. Kedua pengusaha itu memang memiliki hubungan baik. Setahu gue, semua kayu yang dipakai di rumah Yo Sinshe berasal dari Tio Sinshe. Tak hanya itu, mereka juga memiliki hubungan persahabatan.

Dengan adanya calon klien baru seperti Tio Sinshe, mungkin kelak gue bisa membangun biro perencanaan strategi marketing di Batavia. Dan sepertinya perusahaan seperti itu belum pernah ada di masa ini. Bisa jadi punya gue akan jadi yang pertama. Ide terbaru itu membakar semangat hingga kedua kaki ini melangkah semakin cepat.

Langkah gue berakhir di pinggir jalan tak beraspal. Semua jalan di masa ini belum beraspal, bukan? Adalah batu atau tanah diperkeras atau tanah yang dengan sendirinya mengeras karena sering dilalui. Dan nantinya, jalan tempat gue berdiri selalu dibayangi kemacetan tak terkira—menurut laporan Mama yang kadang belanja di Pasar Petak Sembilan.

Tempat tersebut adalah klenteng kecil yang hanya berisi satu ruangan. Berdasarkan cerita Tio Sinshe di kemudian, dewa yang dihormati di sana adalah Dewa Tanah. Gue tidak begitu ingat dengan nama yang tadi disebutnya. Toa? Toa Pe Kong?

Dengan langkah perlahan, gue masuki gapura klenteng dan berdiri sekian waktu lamanya di pelataran dalam sembari mengamati api pembakaran kertas.

Menurut gue, Tio Sinshe termasuk orang yang taat beribadah. Bayangkan gue diminta menemuinya di halaman klenteng ini. Padahal biasanya para pengusaha lebih suka janjian bertemu di rumah makan atau tempat plesiran semacam Ji Lak Keng[1].

Maka hari ini terdamparlah gue di halaman kelenteng. Melamun dan sedikit terkantuk-kantuk. Karena tiba sebelum waktu yang dijanjikannya, gue harus menunggu sampai dia selesai sembahyang. Sembari menunggu, mungkin seharusnya waktu luang ini dimanfaatkan sebaik mungkin, salah satunya dengan menikmati arsitektur klenteng.

Sebagian besar tempat ini disusun dari kayu dan kayu lagi. Tak ada paku yang digunakan untuk membangun tempat ini, sepertinya. Semua kayu itu disambung dengan sistem pasak. Sungguh membuat gue berdecak kagum. Sebenarnya, tak jauh dari sini juga ada kelenteng lain yang usianya lebih tua. Gue ga tahu alasan Tio Sinshe itu lebih memilih klenteng ini dan merasa tak enak untuk menanyakan di sela obrolan tentang bisnis.

Di Jakarta, gue tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat ini. Semua anggota keluarga gue pindah agama. Dan seorang Enru juga bukan orang yang benar-benar tertarik pada budaya. Mungkin gadis-unik. Harusnya memang dia yang terlempar ke masa ini, bukan gue.

Selesai mengelilingi bangunan luar, gue putuskan untuk duduk saja tak jauh dari altar Tian. Gue tak punya kepercayaan diri masuk ke dalam bangunan melihat setiap altar dewa yang ada di dalamnya.

Sebenarnya tak masalah menginjakkan kaki di tempat ibadah manapun. Hanya saja saat ini merasa sedang ‘menyetani’ klenteng dengan membawa konsep marketing, sesuatu yang gue akui sangat duniawi.

Melihat dari tempat gue duduk, seorang laki-laki dengan pakaian berkualitas baik tengah sembahyang di depan patung dewa sebelah kiri dari altar dewa utama klenteng tersebut. Hio di tangannya tinggal beberapa. Tampaknya tak lama lagi ia selesai sembahyang. Dialah orang yang akan gue temui.

Selepas sembahyang dan menyapa, ia  mengajak gue pergi meninggalkan halaman kelenteng dalam kebisuan. Gue hanya perlu mengikuti langkah kakinya.

Sementara itu tepat di belakang Tio Sinshe, empat orang budak dengan setia membawakan semua keperluan. Ada yang membawakan cangklong, inang dan wadah untuk meludah juga payung.

Inilah bedanya abad ke-18 dan ke-21. Berdasarkan ingatan gue yang minim, perbudakan baru dihapus dari muka bumi di abad ke 19. Kasihan, mereka harus menunggu sekurangnya seratus tahun lagi.

Di mata gue, Tio Sinshe dan rombongan pembantu … eh, budaknya terlihat sangat heboh. Namun dia belum seberapa karena pernah kuihat seorang pembesar kompeni membawa rombongan budak dalam jumlah besar. Kira-kira sepuluh orang budak, mungkin lebih, untuk melayani satu majikan.

Memang, setiap orang kaya di Batavia—tidak terkait dengan suku bangsa—memiliki budak dalam jumlah cukup banyak. Karena bagi mereka, kepemilikan budak adalah salah satu cara untuk memamerkan jumlah kekayaan selain perhiasan berkilauan di setiap anggota tubuh.

Apalagi ketika hari Minggu tiba. Sepanjang pengamatan, pernah terlihat seorang nyonya dengan gaun yang menurut gue seperti kurungan ayam berjalan dengan satu cincin di setiap jari tangan, setumpuk gelang, kalung dan masih pula terlihat sepasang anting pada daun telinganya.

Gue hanya tak habis pikir, sebenarnya kemana tujuan nyonya setengah bule itu. Ke gereja kah? Belum lagi budak perempuan yang mengikuti jalannya. Seorang membawakan kitab, ada pula yang memayungi. Ada lagi yang membawakan inang. Juga ada yang membawakan wadah tempat meludah. Tak kurang heboh dari rombongan pesirkus rasanya.

Yo Sinshe sendiri sering pergi dengan membawa enam orang budaknya kalau jalan kaki dan ditambah empat lagi kalau ia pergi dengan tandu. Jadi bisa dibayangkan ketika gue pergi dengannya naik tandu, mengingat satu tandu hanya dapat diisi satu orang, artinya ia membawa empat belas budaknya sekaligus.

Jumlah yang fantastis.

Tio Sinshe berdiri di muka sebuah rumah makan China menunggu. Gue hapus lamunan dan mempercepat langkah untuk menemuinya. Bersama-sama kami memasuki rumah makan. Ia meminta ruangan khusus—semacam VIP room—karena tak ingin diganggu  oleh tamu lain. Tentu saja, mana ada pengusaha yang ingin rencana ke depannya diketahui orang banyak? Bisnis bisa berantakan jika terdengar oleh pihak saingan.

Sekalipun dari Yo Sinshe sudah dengar secara garis besar kemauan Tio Sinshe, tapi tak apa jika gue dengar sekali lagi dari orangnya langsung. Tahu secara pasti kemauan dan kebutuhan setiap klien adalah prinsip utama gue.

Secara pasti, tak beda jauh dari Yo Sinshe dan para pebisnis lain bahkan di masa gue terlahir, mereka pasti menginginkan barangnya laku keras. Hanya saja setiap bidang usaha memiliki kebutuhan spesifik. Contohnya saja bidang perkayuan milik Tio Sinshe ini. Jelas, tidak bisa menggunakan konsep yang dibuat untuk hasil tani milik Yo Sinshe. Demikian juga sebaliknya.

 

Bagian dua

Setelah tinggal di rumah Yo Sinshe berminggu-minggu, akhirnya pertanyaan yang tampak sudah lama mengganjal pikirannya dikemukakan. Memang, berhadapan dengan orang seperti Yo Sinshe tak mudah untuk terus-menerus menutupi suatu masalah.

“Peng Guan memang seperti itu,” ujarnya setelah menghembuskan nafas panjang yang membawa serta asap dari cangklongnya. “Kau salah jika menganggap kata-katanya hanya angin lalu.”

“Sekarang aku sudah tahu,” sahut gue sebagai tanggapan.

Dalam kebisuan berikutnya, gue terus mengamati Yo Sinshe. Apakah dia tahu bahwa anak buahnya itu buronan dinasti Qing? Orang ini tidak terlihat tahu sekaligus sebaliknya membuatku ragu harus bertanya atau tidak.

“Yo Sinshe tahu asal usul Peng Guan?”

“Dia datang dari Tiongkok sekitar lima tahun yang lalu. Kulihat orangnya cekatan dan bisa dipercaya karena itu ladang tebu di dekat Meester Cornelis diserahkan padanya.

“Dia bisa menulis juga melukis. Kupikir Peng Guan adalah seseorang yang berpendidikan.”

Gue berharap Yo Sinshe akan mengerti maksud tersirat dalam kata-kata gue. Namun rupanya ia tak terpancing. Mungkin karena memang ia sudah tahu atau justru tak berpikir ke arah sana.

“Tak hanya itu, kuntao[2] yang dikuasainya juga sangat baik. Ladang tebu itu sangat aman di bawah pengawasannya,” celotehnya sebagai tanggapan. Dari wajahnya, gue tak dapat menerka isi kepalanya. Tahu atau tidak bahwa Peng Guan adalah buronan. Serupa dengan pemain pocker handal, begitulah Yo Sinshe.

Sebagai kepala pengawas ladang, gue akui Peng Guan sangat efisien dan cekatan. Lagipula, sekali melihatnya orang-orang akan langsung tahu dia bisa ilmu bela diri. Perawakannya menyiratkan sifat tegas dan lugas tidak seperti Enru yang tidak dipercayai orang bisa taekwondo.

“Bagaimana rencanamu berikutnya?”

“Eh…,” melamun karena memikirkan Peng Guan membuat gue terkejut ditanyai seperti itu. “Yang jelas aku tidak berencana menumpang di rumahnya lagi. Juga tidak selamanya tinggal di rumah Anda. Aku sedang mengumpulkan uang, kelak akan beli rumahku sendiri.”

“Tidak lagi berencana pulang?” tanyanya antara bersemangat dan heran.

Gue mendesah, pasrah. “Apa boleh buat. Jalan pulang juga tak dapat kutemukan. Jadi kukira memikirkan tempat tinggal di sini jauh lebih baik daripada keluyuran tak jelas.”

Ia menatap gue, pandangannya bimbang sesaat. Mungkin heran, tempat macam apa yang mencari jalan pulang saja susahnya setengah mati. Sado ada. Kapal atau perahu juga tersedia.

Lalu, dalam sekejap wajahnya seperti sedia kala dengan seulas senyum tipis menghiasi bibir. “Punya cita-cita seperti itu sangat baik,” jawabnya memuji. “Tapi, sungguh aku ingin tahu, di luar pulau kah rumahmu? Padahal dari logat kukira kamu berasal dari wilayah kekuasaan Mataram.”

Gue hembuskan nafas putus asa lalu menggelengkan kepala. “Suatu tempat yang tak pernah kalian bayangkan.”

“Bagaimana kau bisa tiba-tiba ada di sini?”

“Pertanyaan itu sering pula kutanyakan pada Tuhan.”

Yo Sinshe bungkam sejenak barulah ia kembali membalas, “Bagiku tak masalah kamu orang manapun. Batavia butuh banyak orang sepertimu dan aku juga tak keberatan jika kamu tinggal di rumahku.”

“Terima kasih atas tawaran Yo Sinshe…,” gue jawab tawaran dia dengan setengah hati. Mudah-mudahan Yo Sinshe tidak marah. Siapa yang tidak ingin pulang? Jelas gue teramat sangat ingin pulang. Tapi bagaimana lagi? Saat ini gue belum juga menemukan caranya. Karena itu, seperti yang tadi gue katakan, membangun mimpi memiliki sebuah rumah jauh lebih baik dibanding luntang-lantung tak tentu arah.

Melirik langit di luar, ternyata hari sudah cukup siang. Seharusnya Peng Guan sudah ada di rumah, ladang sudah kosong karena masa panen telah berlalu beberapa minggu lalu juga belum masanya tanam. Waktunya mengambil baju-baju itu. Maka, gue pun berdiri dan berpamitan pada Yo Sinshe.

 

Bagian tiga

Jalan Gunung Sahari menjadi jalan yang paling sering gue lewati di abad ke-18 ini. Terlebih ketika masih tinggal di rumah Peng Guan. Bedanya adalah di masa ini jalanan itu dikenal sebagai De Groote Zulderweg. Nama tersebut gue dengar dari penarik sado yang dulu menghantar dan menjemput.

Melalui pengetahuan berbahasa Belanda gue yang sangat minim, nama itu berarti jalan pintas ke selatan. Ya, memang. Lu bakal sampai Bogor kalau terus berjalan melalui jalanan satu ini.

Cara gue mengenali jalan ini mudah saja karena sebagian jalanan berada di sisi timur kali. Pada sisi barat kali, berdiri pepohonan yang tampak berusaha menutupi luasnya pemakaman binaan sebuah kongkoan atau perserikatan dagang. Kemudian, menjelang pasar yang hanya buka di hari Senin, kali itu seolah menghilang karena berada di balik rumah dan pohon-pohon besar.

Dan di masa ini, berkuda juga menjadi suatu pengalaman yang tak mungkin gue lupakan. Sekalipun tak senyaman naik mobil, namun rindangnya pepohonan di tepi jalan membuat gue betah pergi berkuda kemanapun dan seberapa jauhnya. Padahal, biasanya gue menghindari acara menghantar pergi Mama pun Lala dengan alasan panas dan takut macet. Seandainya Jakarta bisa senyaman ini…

Tak terasa perjalanan telah berakhir. Rumah Peng Guan seperti biasa, selalu tertutup. Sama seperti penghuninya yang suka menutup diri.

Di zaman ini bel elektrik belum dikenal dan Peng Guan juga tak memasang lonceng atau sesuatu yang bisa dibunyikan. Mau tak mau, gue ketuk daun pintu rumah yang terbuat dari kayu jati. Sakitnya bukan main karena harus mengetuk puluhan atau mungkin ratusan kali sebelum pintu dibukakan oleh penghuninya.

Kali ini gue datang dengan persiapan. Tak akan gue biarkan pintu itu tertutup sebelum berhasil masuk. Karenanya, gue langsung mengganjal pintu dengan kaki begitu pintu terbuka. “Mau ambil baju gue.”

Untung saja orang ini tidak menutup paksa pintu. Kaki gue akan terjepit di antara pintu jika hal itu terjadi dan rasanya pasti sangat sakit. Ya, ia memberikan jalan masuk ke rumahnya. Tentu saja dengan pengawasan ketat. Matanya yang tajam tak pernah luput mengawasi tindakan gue.

“Lihat,” seruan gue memecah keheningan dalam rumah itu. “Yang gue bawa cuma barang-barang gue.”

Gue tunjukkan barang yang sudah dikumpulkan. Beberapa di antaranya adalah kertas kosong sisa kegiatan membuat konsep dan tinta pemberian Yo Sinshe.

Gue juga melihat kertas yang telah berisi coretan tintaku. Kertas tempat gue menggambar karikatur wajah Peng Guan. Namun gue biarkan kertas tersebut tetap tergeletak di tempatnya.

Juga lukisan gue yang sedang tertidur karena mabuk, gue biarkan tetap di tempatnya. Jujur, gue sakit hati dengan kelakuan Peng Guan, karena itu tak ingin menyimpan sesuatu tentangnya.

Selesai merapikan semua barang, rumah itu gue tinggalkan tanpa pamit lagi. Toh dia sudah mengusir. Untuk apa ramah tamah palsu? Apalagi dia juga tidak terlihat ingin beramah-tamah. Bahkan ia sama sekali tak bertanya di mana sekarang gue tinggal. Sangat mungkin ia justru lega dengan kepergian gue.

Tunggu sebentar! Dia mengusir gue?!? Apa tidak takut gue laporkan ke pihak berwenang? Namun di belakang, pintu rumah sudah tertutup rapat. Ya sudahlah. Pastinya dia punya pertimbangan. Gue ga percaya Peng Guan adalah seseorang yang polos dan berani melepas gue begitu saja tanpa ada perhitungan.

 

*#*#*

 Catatan kaki:

  1. Sederetan ruko berjumlah 26 dengan gaya Tionghoa di mana lantai bawah digunakan untuk madat dan atasnya adalah tempat pelacuran kini berada di Jalan Perniagaan Barat.
  2. terminologi Hokkian untuk ilmu beladiri China (kungfu).

 

%d blogger menyukai ini: