Skip to content

5 – Hidup Baru

Bagian satu

Masih sangat pagi kala kuda telah membawa gue ke Batavia. Di punggung, terdapat sebuah bumbung yang diikat erat agar tidak jatuh. Karena di dalam benda itulah gulungan kertas berisi ide strategi penjualan gula Yo Sinshe tersimpan. Harta pusaka gue saat ini.

Mengingat ulang masa kuliah dulu, untuk membawa tugas kuliah yang biasanya dosen minta dalam bentuk print di atas kertas selebar A3 itu gue gunakan tabung dari plastik. Sayang, di abad ini tak ada tabung semacam itu sehingga harus membuat sendiri tabung serupa dari bambu. Tabung bambu itu yang disebut dengan bumbung.

Jelas gue tak ingin kehilangan bumbung satu ini.

“Ei, Cui Toahnia[1],” sapa seorang laki-laki yang usianya belum genap dua puluh tahun.

Pemuda yang dipanggil Asiu ini nampak sangat antusias menyambut kedatangan gue. Begitu antusias hingga berlarian hendak mengambil alih kekang kuda sebelum gue sempat turun.

Cukong[2] sudah menunggu pe… pe pere… sen…..”

“Presentasi,” ujar gue cepat, tak sabar menunggu sampai ia bisa mengingat dengan benar. Gue serahkan kuda padanya dan segera berlari masuk ke dalam rumah.

Inilah kali pertama gue presentasi buah pikiran tanpa bantuan software desain andalan, semacam Adobe Flash. Bahkan, software office keluaran Microsoft pun Linux tak mungkin digunakan dalam presentasi kali ini. Terus terang gue merasakan ketegangan. Rasanya seperti orang baru di dunia ini yang menghadapi klien dan presentasi pertamanya. Padahal, ini adalah presentasi gue yang kesekian ratus kalinya. Yah, walaupun kali ini kondisi berbeda drastis dari waktu yang lalu.

Apakah semua akan berjalan lancar? Ada beberapa kekuatiran yang terus mengganggu jalan pikiran. Misalnya saja apakah tenaga bantuan yang gue tugaskan memasang slide bisa menyesuaikan jadwal yang sudah ditentukan? Apakah mereka mengerti jalan pikiran gue dan bisa menjalankan tugasnya dengan baik? Seharusnya semua yang kekuatiran ini tidak perlu. Tapi entah mengapa gue tak dapat mengendalikan.

Tanpa berniat menyombongkan diri, rasanya ini ketegangan pertama yang dialami seorang Enru Tirtonegoro. Sang creative director yang sering mendapat pujian dari klien atas kemampuannya mempersuasi dengan gagasan briliant. Sungguh gue tak pernah menyangka akan mengalami ketegangan semacam ini.

Keringat perlahan mengalir dari sela pori-pori kulit. Apa boleh buat? Ketegangan bercampur dengan udara panas ala musim kemarau Batavia. Lagipula, gue tak menemukan AC dan kipas angin di abad ke-18 ini.

“Bagaimana, Enru?” tegur Yo Sinshe mengawasi kesibukan gue di ruang kerjanya.

“Hampir siap.”

Gue berdiri memandangi kertas slide yang sudah disusun sedemikian rupa. Presentasi kali ini benar-benar mengandalkan data riset, konsep yang telah dibuat dan kemampuan bicara gue. Tak ada lagi bantuan kecil dari efek grafis memukau seperti presentasi-presentasi sebelumnya.

Padahal gue selalu percaya diri dengan kemampuan mengolah grafis dengan software desain. Grafis yang unik dan sesuai tema produk selama ini menjadi andalan untuk menghibur klien kalau saja mereka kelelahan mendengar ‘ceramah’ dari tim kami.

Gue periksa sekali lagi pakaian yang dikenakan. Untuk masalah ini sebenarnya karena gue selalu ingat petuah dari dosen bahwa penampilan juga merupakan poin penting dari berhasilnya suatu presentasi. Dan sepertinya gue sudah siap sekarang.

Beberapa pelayan di rumah Yo Sinshe gue kasih beberapa tugas. Ada yang bertugas mengganti slide dan tampaknya mereka juga sudah siap. Demikian juga yang gue kenai tugas sebagai tukang pencahayaan, nyala api lilin tetap stabil dalam penjagaannya. Maka presentasi gue kali ini bisa segera dimulai.

Udara dalam rumah yang bercampur asap dupa hio memenuhi rongga dada saat menghirup napas panjang. Ruangan yang kena ‘bajak’ untuk presentasi ini adalah ruang depan di mana Yo Sinshe menempatkan altar dewa pelindung keluarganya. Wangi hionya sebenarnya enak tapi karena cukup tajam dan gue menghirup nafas panjang jadi membuat kerongkongan sedikit tak nyaman. Namun gue tak boleh terbatuk karena akan mengacaukan konsentrasi mereka yang membantu. Bersikeras menahan gejala alami seperti itu ternyata menyulitkan.

Jendela sengaja ditutup rapat. Sebagai penerangan, beberapa buah lilin menyala sekaligus di sekitar tempat gue bicara. Pada saat yang ditentukan, gue sudah mengatakan tandanya pada orang yang ditugasi, beberapa lilin lainnya akan menyala. Pada saat itulah presentasi dengan meminjam konsep pewayangan dimulai.

“… Kita tentu saja tahu masalah luas area dan hasil panen tebu tahunan sehingga presentasi saya tidak akan membicarakan masalah itu. Mari mulai dengan ancaman dan kesempatan di depan …”

Sejujurnya topik ini bukan wilayah gue. Di kantor, Reni Quadarsih yang bertugas membicarakan masalah teknis seperti yang sedang gue sampaikan. Namun apa daya, saat ini gue harus mengerjakan dan mempresentasikan semuanya seorang diri.

“… Sekarang, dengan melihat yang telah disebut sebelumnya, mari kita mulai dengan ide-ide untuk peningkatan penjualan.” Di sudut lain, tembok yang gue jadikan layar telah menampilkan bentuk bayangan kebun tebu. “Gula adalah benda penting dalam kehidupan. ….”

 

Bagian dua

Ketika akan mulai bicara, gue lirik matahari masih ada di ufuk timur. Kira-kira empat puluh lima derajat sudutnya dari bumi. Entah jam berapa itu, jam sembilan kah atau sudah jam sepuluh. Kemudian, setelah selesai bicara, kembali gue lihat luar, matahari mulai merangkak mendekati ujung barat. Gila! Berapa jam gue presentasi? Pantas saja mulut rasanya sangat kering.

Pujian Yo Sinshe atas presentasi tidak gue pedulikan demi mengisi kerongkongan melalui puluhan cangkir teh. Tak puas dengan cangkir teh yang terlalu mungil, gue tuang begitu saja air teh langsung dari poci ke mulut.

“Kamu sudah menikah?”

Tak menjawab, gue lirik Yo Sinshe dengan tatapan penuh tanda tanya. Selagi itu, air teh terus mengalir membasahi kerongkongan.

Orang-orang China menganggap teh itu sangat berharga. Karena itu biarkan saja pandangan Yo Sinshe yang sepertinya menganggap gue sinting. Gue terlalu haus hingga tak ingin peduli anggapan orang lain atas bagaimana cara minum teh yang benar.

“Berapa usiamu sekarang?”

Meletakkan poci, barulah berhitung. Tahun 2012 gue merayakan ulang tahun yang ke tiga puluh dua tepat di bulan Mei. Sekarang tahun 1722 bulan Agustus. Berapa umurku sekarang?

“Tiga puluh tiga,” itulah jawaban yang keluar dari mulutku tak ingin sibuk menghitung lebih lanjut. Orang waras mana yang akan menjawab umurnya minus sekian ratus tahun? Gue tidak mau menjadi orang pertama yang melakukan itu.

“Sudah menikah?” pertanyaan itu kembali diulangi Yo Sinshe.

“Baru saja berencana melamar pacar saat dirampok dan mendadak berada di Ommelanden.” Terlintas lagi ingatan akan cincin yang senantiasa berada di kantung celana, pertanyaan itu sukses membuat gue kembali merindukan Lala.

“Menurutmu apakah usahaku punya masa depan?”

Akhirnya ia kembali membicarakan bisnisnya. Selain gula, setahu gue Yo Sinshe juga membuka beberapa toko di Batavia dan seputaran Ommelanden yang khusus menjual hasil pertanian. Itulah yang dibicarakannya saat ini.

Sebenarnya, pertanyaan itu adalah jenis pertanyaan yang tak perlu gue jawab. Ia sudah tahu jawabannya sendiri dan hanya ingin membuat gue tidak merasa terbebani dengan pertanyaan yang telah diajukan sebelumnya. Karena itu, gue merasa jawaban paling standar sudah cukup untuk membuat hatinya senang.

“Setiap orang butuh makan. Dan agar makanan lezat, dibutuhkan gula. Adalah hal baik membuka usaha di bidang ini.”

Lihat saja, ia segera tertawa setelah mendengar jawaban itu. Perutnya yang besar naik turun seirama dengan nafas.

Asap tembakau dari cangklongnya kembali mengepul memenuhi penjuru ruangan. Sembari mengisap, ia masih terus mengajak gue bicara. Obrolan kami memang lebih banyak berputar sekitar bisnis. Gue pikir, ketertarikannya pada gue sama seperti awal pertemuan kami. Dan gue bersyukur memiliki pengetahuan cukup untuk berhubungan dengan pebisnis macam Yo Sinshe itu.

 

Bagian tiga

Sampai di rumah Peng Guan, ternyata masih belum ada orang. Penasaran akan surat yang pernah gue lihat beberapa bulan lalu tetap mendera. Maka, sekali lagi gue nekat  memasuki kamar Peng Guan yang selalu tertutup. Surat waktu itu selalu mengganggu pikiran hingga ingin melihatnya sekali lagi.

Gue buka pintu kamar perlahan. Seperti yang lalu, berusaha agar tidak ada bunyi derit sedikitpun. Kemudian secara cepat masuk dan langsung menutupnya seolah pintu itu tak pernah dibuka.

Kali ini gue menelan kecewa.

Gue pandangi tumpukan kertas yang diselipkan dalam buku dengan tatapan kosong. Tak ada kertas yang gue cari. Sebagai gantinya, di sana malah terselip kertas lain… atau mungkin amplop. Ini pertama kalinya gue melihat benda itu. Memang, kemarin Peng Guan terlihat menggenggam amplop yang tentu saja sebenarnya gue tidak boleh tahu.

Perlahan gue tarik kertas yang ternyata amplop itu dari tumpukan dan membukanya. Sesuatu yang ditemukan di sana membuat gue tak bersuara sedikitpun. Gue tercengang. Sama sekali tak percaya dengan apa yang telah terlihat.

Sekarang ini huruf China yang gue kenal mulai banyak. Sekitar delapan puluh persen dari tulisan yang ada di dalam surat itu gue kenali. Kemajuan ini buat gue cukup pesat. Bayangkan, gue baru belajar sekitar satu tahun.

Kembali pada isi surat di tangan, sebenarnya jika memperhatikan Peng Guan dengan seksama tentunya bisa melihat ada sesuatu yang disembunyikan. Tapi rasanya seperti mimpi. Sungguh, gue tak pernah menyangka bahwa orang yang menampung gue di rumahnya ini adalah seorang buronan. Lebih tepatnya buronan dinasti Qing!

Kertas di tangan gue berisi gambar diri di atas keterangan bahwa dia dicari hidup atau mati. Bahkan orang yang bisa menemukannya akan mendapat uang dalam jumlah yang sangat besar.

Entah darimana kertas itu didapatkan. … Berarti, dia punya kawan di Batavia dan kawan lain di sana sebagai penghubung.

Gue benar-benar terpana melihat kertas tersebut hingga tak sadar Peng Guan telah pulang. Bahkan suara derit engsel pintu pun tak membuat gue sadar dengan datangnya penghuni kamar.

Mata kami bertatapan sama-sama kaget. Dan akhirnya api kemarahan mulai tampak di mata orang itu. Lalu terdengar suara bentakan yang sangat keras, “Apa yang lu lakukan di kamar gua?!?”

Gue terdiam. Memang memasuki kamar Peng Guan tanpa izin adalah sebuah kesalahan. Tapi otak gue sudah telanjur terkejut karena teriakannya hingga kata maaf tak mampu keluar dari mulut yang membisu.

Peng Guan melangkahkan kakinya lebar-lebar. Dalam beberapa langkah ia sudah sampai di hadapan gue. Kertas yang masih gue pegang diserobot tanpa peduli membuatnya robek atau tidak.

Kemudian, ia menarik tangan gue pergi. Kamarnya kini berada di belakang kami. Setelah itu pintu rumahnya yang ganti berada di belakang gue. Mendadak pegangannya melunak dan kemudian pintu rumah mendadak dibanting tepat di belakang gue.

“Dasar orang gila!” gue memakinya kesal.

Gue pandangi pintu rumah dengan tampang marah. Gue lupa pintu itu terbuat dari kayu jati—bukan kaca—sehingga Peng Guan tak mungkin dapat melihat tampang gue yang tengah kesal.

Sial, tempat ini cukup jauh dari Batavia, salah satu tempat peradaban di abad ini. Warung tidak ada, apalagi hotel. Lalu ke mana gue harus menginap malam ini? Gue juga belum makan malam.

Berkemah gue pernah. Tapi tidur di jalanan karena tak punya rumah, sepertinya belum pernah terjadi selain di hari kedatangan gue di Batavia dalam keadaan mabuk itu. Lagipula, selain tidur gue juga butuh makan. Mencuri tebu untuk makan bukanlah seorang Enru.

Kurang ajar! Orang satu itu benar-benar patut gue hajar kelak. Tega-teganya dia mengusir seorang Enru Tirtonegoro dari gubuknya. Kelak, kalau dia sampai terlempar ke abad ke-21, gue tidak akan sudi menampungnya di rumah!

Mengambil kuda lalu gue putuskan segera berlalu. Mudah-mudahan di sekitar gerbang besar masih ada penginapan kosong. Gue bisa makan, mandi dan menikmati ranjang yang sesungguhnya. Tapi pastinya tetap saja tak ada springbed seperti di hotel yang berhamburan di Jakarta….

 

Bagian empat

Dari penginapan ini, gue tidak perlu lagi berangkat pagi-pagi buta hanya untuk menemui Yo Sinshe seperti biasa. Bahkan, gue hanya perlu jalan kaki beberapa menit lamanya.

Pengiritan waktu bukan berarti pengiritan biaya. Gue kira untuk malam berikutnya lebih baik pura-pura kemalaman di rumah Yo Sinshe. Toh di sana ada puluhan kamar yang masih kosong.

Nanti jika sudah memiliki cukup banyak uang Batavia—hanya istilah gue saja—dan masih juga tak menemukan jalan pulang, akan gue beli rumah di dalam tembok kota Batavia.

Saat itu, pasti akan beli rumah yang berada di pinggiran Grootegracht[3]. Kemudian pemandangan gadis-gadis penghuni Batavia yang sedang mandi di kali bisa gue nikmati setiap pagi. Hidup seperti itu pasti sungguh nikmat. Gue tertawa puas dan buru-buru aku habiskan sarapan lalu menyeruput teh. Semangat kerja gue meningkat ratusan kali lipat kali ini.

“ARG… PANAS!!!” teriakku serta-merta. Cangkir pun terlepas dari tangan karena kaget oleh panasnya teh. Gue sibuk mengipasi lidah menghiraukan sebagian kecil baju yang basah tersiram teh panas.

Ingin sekali berteriak dan memaki. Tapi siapa dan apa yang tepat dijadikan sasaran? Teh itu memang panas. Dari kepulan yang muncul di atasnya siapapun juga tahu teh itu masih panas. Sial! Pastinya akan mengundang bahan lelucon baru bagi Yo Sinshe.

Lebih sialnya adalah baju-baju gue masih ada di rumah Peng Guan. Padahal baju itu gue beli sendiri dari fee yang diberikan Yo Sinshe atas bantuan mengurus hasil perkebunannya yang aneka ragam.

Tekad gue hari ini membeli satu stel baju sebelum pergi ke rumah Yo Sinshe. Sedangkan mengambil baju di rumah Peng Guan bisa dilakukan kapanpun setelah tahu akan tinggal di mana hari-hari selanjutnya.

 

Bagian lima

Untungnya semua berjalan sesuai rencana. Gue kemalaman kemudian ditawarkan menginap di rumah Yo Sinshe. Bahkan ia menawari agar seterusnya tinggal saja di rumah itu! Katanya daripada setiap hari gue mondar-mandir ke ladang tebunya yang nun jauh di sana itu. Hati gue benar-benar berdecak gembira tapi tentu saja gue tidak akan membiarkan ia tahu itulah tujuan bekerja sampai larut malam di hari ini.

Perlu tahu saja, agar ditawari menginap ini, konsep-konsep dan pembukuan untuk semua keperluan yang gue keluarkan dikerjakan sampai jam penutupan pintu gerbang besar yang sekitar jam tujuh malam itu. Kalau saja ia tidak menawari gue menginap, malam ini pastinya gue bermalam di hotel termurah se-Batavia—yang ranjangnya penuh kutu dan kuman sipilis dan lain-lain bekas dibuat one night stand itu!

Rumah di pinggiran grootegracht harganya lebih mahal dari rumah di gang-gang lain. Bila dibandingkan, rumah-rumah di sana seperti kawasan perumahan elit Pondok Indah ataupun Pantai Indah Kapuk di Jakarta. Gue harus benar-benar ngirit agar keinginan membeli rumah di sana segera terpenuhi.

 

Bagian enam

Selesai sudah desain selebaran itu. Dengan segala aspek keterbatasan cetak di masa ini, gue harap dia mampu menarik perhatian calon pembeli. Yah, gue harap demikian. Karena gue lihat selebaran yang umumnya tersebar di Batavia minim hiasan. Rata-rata terdiri dari tulisan berisi pengumuman lelang dari Kompeni.

Kali ini gue buat yang beda.

Gue gambar tebu sebagai ilustrasi. Gue jelaskan pada mereka, gula milik Yo Sinshe ini beda dari gula pengusaha yang lain. Lebih manis. Gue juga mencantumkan sedikit proses penyulingannya. Dan gambar kuali yang mengkristal karena gula. Lalu ditambah lagi ‘bumbu penyedap’ ini dan itu agar tampak wuaw.

Ketika semua selesai, jantung gue berdegup aneh. Kali ini, meskipun dengan riset yang gue kerjakan sendiri entah mengapa kepercayaan diri tidak sekuat biasanya. Mungkin karena biasanya khalayak sasaran gue adalah masyarakat yang tinggal di abad ke-21? Aku punya ketakutan ide brilliant itu tidak diterima masyarakat Batavia.

Ketakutan tersebut membuat gue ketat mengawasi pergerakan barang dagangan Yo Sinshe. Bayangkan, sudah dua hari berlalu sejak selebaran dibagikan tapi penjualan tak juga mengalami peningkatan.

Hari berikut dan berikutnya lagi. Sungguh gue sudah ga sabar. Apa yang salah? Isi pesan dalam konsep yang tidak ditangkap mereka? Atau….

Gue ambil beberapa lembar selebaran lalu berlari keluar menjumpai orang-orang yang berlalu lalang.

“Lihat ini,” kata gue pada mereka, tentu saja setelah berbasa-basi sejenak. “Apa yang dirasakan?” tanya gue dengan jantung berdebar.

“Gula tetap gula. Gula di sini sama di sana ada beda? Manisnya sama.”

Gue tercengang.

“Kata Ibu belinya di sana,” jawab seorang anak yang kudapati membawa pulang bungkusan gula melewati tokonya Yo Sinshe.

“Tapi di sini Adek bisa dapet lebih murah. Jadi bisa pakai sisanya untuk beli manisan.”

“Tapi kata Ibu di sana….”

“Ok. Cukup,” sekujur tubuh gue terasa lemas dan tulang seperti mencair.

Gue selalu percaya diri pada kemampuan desain visual yang dimiliki. Sungguh tak gue sangka, kemampuan tersebut kalah dengan perintah ibu ataupun ‘sekedar’ kebiasaan. Padahal bukankah biasanya orang-orang seperti gue yang menanamkan kebiasaan itu? Membuat sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu butuh menjadi amat dibutuhkan. Sesuatu yang biasa menjadi luar biasa.

Lalu, bagaimana pertanggungjawaban gue?

 

Bagian tujuh

Gue butuh sofa yang nyaman, lebar, besar dan empuk. Karena kayu keras ini membuat tulang-tulang menjerit saat menjatuhkan badan ke atasnya. Yah, salah gue juga sudah tertahan di Batavia sekian waktu masih juga tak sadar keberadaan.

Tadi Yo Sinshe tak terlihat menyalahkan gue sedikitpun. Tapi kelakuannya itu justru membuat gue semakin tertekan. Harga diriku sebagai creative director sirna ketika desain dan hasil riset tak dapat memenuhi harapan klien dan tak ada kata satupun menyudutkan keluar dari mulutnya. Bagaimana mungkin hal itu terjadi?

Coba bayangkan seseorang yang keluar modal cukup besar untuk sebuah riset dan pemasaran tidak protes apapun ketika modalnya terbuang percuma. Aneh? Buat gue itu sangat aneh. Gue sudah siap menerima makian atau apapun yang ternyata tidak ada. Se di kit pun!

“Cobalah lagi,” itu frase yang terdengar dari mulutnya dengan senyum tipis mengembang di kedua sudut bibir Yo Sinshe. Sebuah frase yang membuat gue tertegun. Antara malu, kecewa dan penasaran.

 

Bagian delapan

Kali ini, malu yang meradang membuat gue lebih serius memahami pola kehidupan masyarakat Batavia. Tak mau kena malu sekali lagi. Sembari itu, semua ajaran dosen gue ingat ulang. Sepertinya, seorang dosen pernah berkata iklan yang amazing—seperti yang pernah gue dan rekan-rekan dunia periklanan buat—belum berlaku di zaman ini.

Kali ini gue tak boleh gagal. Karena seorang Enru hanya boleh gagal di kali pertama. Tapi tak boleh untuk yang kedua kalinya! Dengan demikian, gue ulangi prosedur riset dari awal. Mengumpulkan lebih banyak responden dan mengajukan lebih banyak pertanyaan.

Kemudian, satu bulan telah berlalu ditambah beberapa hari. Waktunya pelaksanaan. Tidak ada kertas yang dibagi. Gue keluar menjumpai beberapa target market. Harapannya dengan keahlian bicara—menurut cukup banyak orang mulut gue ini pintar mempengaruhi—gue bisa membuat mereka mempengaruhi kawan-kawan dan kenalannya agar belanja di toko-toko milik Yo Sinshe.

Memang, tak ada proses kreatif ala iklan di sini. Gue harus cukup puas menggunakan kemampuan menggambar hanya untuk membuat presentasi yang memikat. Tak ada setumpuk tinggi brosur. Terlebih iklan media massa.

Setelahnya, gue tinggal duduk menunggu hasil dengan jantung berdebar.

Ketika akhirnya toko menjadi semakin ramai dan ramai, senyum mulai tersungging di bibir gue. Terlebih kemudian Yo Sinshe memberikan cukup banyak uang sebagai timbal balik kerja gue. Dan satu yang paling gue suka, janjinya merekomendasikan kemampuan gue pada teman-temannya.

Senyum gue berkembang tiada tara.

 

*#*#*

 

Iklan
%d blogger menyukai ini: