Lanjut ke konten

31b – Cui Enru

Bagian tiga

Kira-kira tiga bulan lebih sudah dilalui di penjara ketika mereka lagi-lagi menyeret gue keluar. Namun tidak ke ruang penyiksaan itu. Gue dibawa ke ruangan lain dimana seperangkat kursi dengan meja berdiri di hadapan gue.

Setelah mereka sukses memaksa gue agar berlutut, seorang meneer masuk ke dalam ruangan tersebut dan duduk di kursi itu. Rupanya, pengadilan yang sesungguhnya baru dimulai.

Tak ada perkataan hakim yang benar-benar gue dengar. Hanya suara samar seperti sebuah bisikan di tengah suara denging yang menggangu gendang telinga. Bahkan gerak bibirnya saja tak jelas terlihat oleh kedua mata ini.

Semua samar. Rupa ruangan ini pun gue tak begitu jelas. Apakah gambar yang ada pada di dinding belakang meneer yang menjabat sebagai hakim itu? Benda apa saja yang ada di meja? Gue hanya tahu meja itu cukup penuh. Tapi tak jelas apakah penuh oleh tumpukan dokumen atau benda lainnya. Bahkan, ketika mata dipicingkan dan telinga gue pasang lebar tetap saja semua tidak jelas.

Tamparan, cambukan pun siksaan lain yang diterima hampir setiap hari gue sinyalir sebagai penyebab melemahnya semua indra termasuk pendengaran dan penglihatan. Tak ada gunanya gue bersikeras mendengar tuduhan atau apapun yang keluar dari mulutnya. Maka, gue biarkan saja ia berkata sampai mulutnya kering. Toh hasilnya sama saja.

Yang diinginkannya adalah nyawa gue. Secepat mungkin mengakui Ni Hoe juga turut andil, maka semakin cepat pula gue mati. Tapi mana tega gue biarkan kakak ipar yang tak tahu apa-apa itu turut mati bersama gue?

“Dia tidak tahu apapun yang gue rencanakan. Apa lu-lu semua masih tidak sadar juga? Cihu hanya seorang laki-laki yang lebih senang larut dalam musik daripada bersusah payah memikirkan segala sesuatu,” gue terus bicara tak peduli itukah yang mereka tanyakan atau hal lainnya.

Dia masih bicara lagi, dalam suara samar berbahasa Belanda. Ya, sepertinya bahasa Belanda. Walau tak terpungkiri ada selipan bahasa Melayu-batavia pada beberapa kata-katanya itu.

Tiba-tiba seorang pengawal mencengkram dagu gue. Kemudian ia melotot dengan wajah begitu dekat—tak lebih dari dua jengkal—dari muka.

Dia berkata, “Tuan Hakim sedang bertanya di mana anak buahmu.” Selesai berkata, dihempaskannya dagu gue seperti seonggok sampah. Hal yang tak akan gue biarkan sebenarnya. Tapi dengan tangan dan kaki terantai seperti ini, gue hanya bisa melotot menunjukkan ketidaksukaan diperlakukan seperti itu.

Plak!

Tamparan menjadi balasan atas ketidaksukaan gue. Ditambah lagi dengan suaranya yang berteriak demikian dekat dengan telinga. “Jawab!”

“Tidak tahu!” jawab gue tak kalah keras.

Tamparan kembali gue terima. Kali ini lebih keras dari sebelumnya membuat gue terpelanting mencium ubin dari batu. Darah kembali mengalir dari sudut bibir gue. Ada rasa asin di sana.

Kerah baju gue ditarik dari belakang membuat gue kembali dalam posisi berlutut. Rasa asin kembali terasa dalam mulut. Sudah tak terhitung lagi berapa gigi yang patah pun luka di mulut karena tamparan yang diterima. Kepala gue begitu pusing tapi mereka masih juga menginterogasi.

Beberapa jam telah berlalu. Selama waktu itu, seperti yang sudah-sudah, gue jawab mereka dengan ketus lalu tamparan menjadi hadiah. Begitu, terus menerus. Kemudian, terdengar hakim itu memberi suatu perintah. Karena telinga gue sudah tak berfungsi baik, perintah yang disampaikan dengan suara cepat itu tidak gue mengerti. Tiba-tiba, mereka membawa gue pergi dari ruangan tersebut.

Rupanya karena menjelang malam natal. Mereka tak ingin berlama-lama lagi menginterogasi seorang Enru demi sebuah kepalsuan sebagai anak Tuhan. Mereka, baik hakim, pengawal pun sipir pergi ke gereja setiap hari Minggu, Paskah pun Natal. Tapi setiap hari pula orang-orang itu menerima suap, menyiksa tahanan dan sebagainya. Bagi gue, mereka bukan anak Tuhan, hanya anak setan yang menyamar sebagai anak Tuhan.

Denting piano terdengar begitu samar. Gereja memang tidak jauh dari kastil Batavia, tepatnya di sekitar Stadhuizplein. Sekitar kastil pun dihuni oleh karyawan kastil yang kemungkinan juga memiliki piano. Tak heran jika melodi dan syair pujian natal terbawa hingga ke dalam penjara tempat gue ditahan sekarang. Seandainya telinga gue masih bisa berfungsi baik, tentunya denting piano bisa jelas sampai ke indra pendengaran ini.

“Maria,” panggil Papa pada Cece. Maria adalah nama panggilan Cece sekaligus nama babtisnya. “Apa yang kamu pelajari waktu les organ hari ini?”

“O Holly Night, Pa,” jawab Cece. Waktu itu umurnya baru sepuluh tahun sedangkan gue tujuh tahun. “Papa mau dengar lagunya?”

Papa mengangguk kemudian Cece duduk di bangku menghadap organnya.

Lagu yang gue dengar saat ini tidak sama dengan yang dimainkan Cece kala itu. Tapi mendengar lagu itu membuat gue teringat pada Cece, Mama juga Papa ketika hari Natal tiba.

Pa, kalau gue mati di abad ini, apakah kita bisa bertemu? Alam baka di masa ini samakah dengan alam baka abad ke-21? Ataukah ketika mati di sini, gue akan kembali pada hidup gue yang seharusnya?

 

Bagian empat

Mereka kembali membawa gue ke ruangan itu. Pertanyaan yang sama lagi-lagi diajukan. Gue tidak mengerti apakah orang-orang itu tak bosan mendengar suara mereka sendiri bertanya hal yang sama dengan nada sama pula. Gue sendiri sudah sangat lelah.

Dera siksaan yang diterima membuat kondisi tubuh gue semakin menurun kalau tak dikatakan hampir mati. Tapi gue masih tidak tahu kapan mereka akan menyerah lalu memberikan gue pada algojo.

Sekarang ini gue lebih memilih agar mereka lebih cepat menyerahkan gue ke algojo. Kemudian, setelah tadi malam tak tidur karena siksaan bertubi-tubi seharian yang membuat sekujur tubuh sakit tak terperi, hari ini mereka membawa gue ke ruangan itu lagi. Entah untuk apa.

Gue hanya tahu berlutut ketika kaki ditendang dari belakang agar jatuh bertekuk lutut di hadapan semua meneer sial itu. Pastinya gue tak mau berlutut depan mereka. Tapi apa daya, gue tak punya tenaga dan kekuatan sedikitpun untuk mencegah jatuhnya lutut akibat tendangan keras dari belakang itu.

“Cui Enru dinyatakan bersalah merencanakan sebuah pemberontakan, mengacaukan ketentraman masyarakat dan menghasut lebih dari lima ratus orang agar ikut serta dalam pemberontakannya. Dengan kesalahan seperti itu, dia layak dijatuhi hukuman penggal yang akan dilaksanakan pada…”

Kata-kata selanjutnya tak lagi terdengar oleh gue. Dan tidak perlu lagi gue dengar.

“Heh… Heh… Hahaha…,” yang gue tertawakan adalah bunyi surat keputusan itu juga nasib gue. Gue, Enru Tirtonegoro yang lahir pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh, mana mungkin pernah menyangka akan mati dipenggal pada tahun seribu tujuh ratus empat puluh satu.

Kacau! Ngawur! Gila!

 

Bagian lima

Pagi-pagi benar, sebelum matahari terbit, mereka membawa gue ke Stadhuiz. Setiap pelaksanaan hukuman mati memang dilakukan di lapangan di depan Stadhuiz, kecuali untuk kasus Pieter Erberveld dulu.

Mengingat nama itu, gue jadi bertanya-tanya, apakah jauh sebelum kematian dia pernah melihat kematian orang lain sama seperti gue melihat kematiannya? Bagaimana perasaannya saat ia sendiri yang mengalami kematian itu? Sama seperti yang gue rasakan sekarangkah?

Menghadapi kematian dalam arti sesungguhnya jelas berbeda dengan melihat kematian orang lain terjadi di hadapan. Tak gue pungkiri ada rasa takut menyelinap. Takut menghadapi suatu hal yang selama ini begitu misterius.

Surga, neraka, alam baka, dewa-dewi, malaikat dan Tuhan. Ke manakah gue pergi? Dengan siapa akan bertemu?

Sejak kecil gue diajar secara Katolik. Konsep surga dan neraka tertanam baik dalam otak. Dengan apa yang gue lakukan selama ini, mana yang gue masuki? Surgakah? Atau neraka? Mungkinkah jiwa gue akan melayang-layang tanpa tujuan karena rasa penasaran terpendam pada peristiwa yang membuat gue tiba-tiba berada di abad ini?

Lelah fisik dan mental pun sakitnya sekujur tubuh oleh siksaan selama di penjara membuat gue tak kuat menempuh jarak kastil ke Stadhuiz yang sebenarnya cukup dekat. Gue merasa perjalanan ini begitu memakan waktu dan tenaga. Entah mengapa mereka lebih memilih menyeret ketimbang membawa gue dalam kereta tahanan. Toh perjalanan ini hanya berjalan di atas permukaan datar, bukan menuju bukit Golgota.

Mungkinkah Yesus merasakan hal yang sama, gue kira tidak. Bagi-Nya, seperti yang tertulis di kitab, wafat di kayu salib adalah jalan menebus dosa manusia termasuk gue. Tapi kematian seorang Enru adalah upah kegagalan gue mengkoordinir beragam kelompok yang memiliki tujuannya sendiri dalam melangsungkan penggulingan kekuasaan VOC.

Dalam kematian ini, nasib mayat gue nanti tak perlu dicemaskan. Gue sudah meminta Hien Nio saat kunjungan terakhirnya agar membakar dan menaburkan abu gue di laut. Perempuan itu juga berjanji akan mengusahakan agar kepala gue turut dibakar bersama tubuh gue. Bukan dijadikan pajangan oleh meneer kompeni keparat seperti yang mereka lakukan pada Pieter Erberveld!

Sekalipun harta kami di rumah sudah terkuras habis karena disita, ia berkata masih menyimpan banyak perhiasan yang dibawa saat gue suruh pergi bersama Gwat Nio. Jadi gue tak perlu kuatir Hien Nio tak punya uang untuk menebus kepala gue nanti, katanya. Atas hal itu, gue bisa bernafas sedikit lega walaupun juga terselip banyak cemas padanya.

Ketika akhirnya sampai di Stadhuiz, gue langsung dibawa ke ruangan yang terletak di sayap kiri gedung. Beberapa meneer duduk di belakang meja sambil menghadap tumpukan dokumen. Tak jarang mereka menanyai orang-orang yang kondisinya tak jauh lebih baik dibandingkan keadaan gue sekarang.

Tugas meneermeneer itu hanya mengecek dokumen para terpidana hukuman mati.

Hari ini, yang akan mati memang bukan hanya gue seorang. Masih ada puluhan orang lainnya yang akan menikmati perjalanan ke alam baka. Sebagian dari mereka gue kenal, adalah kawan seperjuangan. Kemudian, seseorang yang harusnya menjadi kawan tapi ternyata justru berusaha menyaingi dan menjatuhkan usaha gue. Keadaan orang ini terlihat jauh sangat buruk hingga tanpa dipenggal pun dalam beberapa jam lagi pasti akan mati. Terakhir adalah beberapa orang kaya yang memberikan sumbangan dalam rencana besar ini diam-diam. Entah bagaimana meneermeneer itu bisa tahu keterlibatan mereka.

Lalu genta besar di atas menara Stadhuiz berdentang sekali.

Kami, barisan terhukum mati digeret menuju panggung di muka bangunan. Kemudian dijejerkan dengan muka dihadapkan pada masyarakat yang telah menanti tontonan mingguan.

Genta itu berbunyi sekali lagi.

Terdengar suara orang mengobrol dan tertawa pada jendela yang berada di muka Stadhuiz. Di situlah hakim duduk bersama pejabat lain mengawasi jalannya eksekusi. Kematian gue rupanya begitu penting hingga tampak banyak pejabat penting terlihat di keempat jendela tepat di tengah bangunan.

Sedangkan di muka gue, orang-orang semakin ramai berdatangan.

Ada tiga orang yang mencolok perhatian, ketiganya berkulit gelap. Yang dua terlihat gelap normal layaknya kulit orang Indonesia, dia pasti Made dan Ketut. Orang yang satu lagi gelapnya seperti dibuat-buat dengan mengoleskan suatu bahan yang tidak gue mengerti terbuat dari apa. Orang ini, menutupi kepalanya dengan caping. Matanya tak lepas memandangi gue. Dia berjalan dengan menyeret kaki kanannya.

Asiu! Dia baik-baik saja.

Air mata meleleh dari kedua mata Asiu dan Made pun Ketut. Demikian juga dari kedua mata gue. Tapi air mata gue adalah air mata bahagia karena dia yang dicemaskan terlihat tak kurang suatu apapun.

Dentang genta ke tiga kalinya.

Mereka semakin mendekati baris terdepan. Jantung gue berdebar, takut ketiga orang ini akan nekat merebut tahanan. Gue tak ingin seorang pun dari mereka menemani gue mati.

Gue gelengkan kepala sebagai tanda agar tidak bertindak macam-macam. Mereka juga menggelengkan kepala, mungkin tak tega melihat kondisi gue di akhir hidup. Selagi itu, algojo telah bersiap di sisi masing-masing dari kami.

Gue katupkan mata dan bibir tersungging sebuah senyum. Gue tidak menyesal telah berusaha menjungkirbalikkan sejarah. Yang gue sesalkan adalah ketidakmampuan mengkoordinir mereka. Seandainya saja orang-orang gue dan kelompok lain bisa bergabung menjadi satu kekuatan, maka kami pasti berhasil mengubah sejarah.

 

Bagian enam

Apeh, mengapa mereka begitu kejam pada Apeh?”

“Karena mereka menganggap Apeh orang jahat, Nak.”

“Apakah Apeh benar-benar orang jahat?”

“Menurut Gwat Nio?”

“Tidak. Apeh orang baik. Orang paling baik sedunia.”

“Terima kasih, Anak Manis.”

“Kita pergi sekarang, Apeh?”

“Ya, kita pergi.”

“Gendong, Apeh.”

“Baiklah, Apeh gendong lu kemanapun.”

Apeh pasti akan betah tinggal di tempat kita nanti. Sangat, sangat indah.”

“Benarkah, Nak? Apeh jadi penasaran.”

“Ayo, Apeh. Tunggu apa lagi? Kita pergi sekarang.”

“Tentu saja.”

*#*#*

Iklan
%d blogger menyukai ini: