Skip to content

30b – Gwat Nio

Bagian delapan

Di luar kota, beberapa kompi laskar Tionghoa tetap maju mendekati benteng penjagaan kompeni. Seolah-olah membalaskan dendam kematian saudara mereka di dalam kota, laskar Tionghoa itu menyerbu benteng seperti banteng melihat kain merah.

Dentum senapan angin pun meriam bercampur dengan keriuhan kecrek yang dibawa laskar tersebut.

Mati. Satu persatu orang mati dari kedua belah pihak. Kematian itu tak terjadi hanya di satu tempat. . Di benteng dekat Meester Cornelis, daerah Angke, De Qual[1] dan beragam tempat lain, tempat penyerangan itu terjadi.

Bahkan ketika malam datang dan berlalu, kematian tetap meraja. Jumlah korban terus bertambah seolah ingin membuat penuh dunia lain dengan arwah-arwah penasaran.

Menanggapi penyerangan benteng tersebut, dikeluarkannya perintah baru dari kompeni. Perintah yang seolah berkata aliran darah belum cukup untuk membanjiri Batavia.

Satu demi satu kepala dipenggal dari tubuh orang-orang Tionghoa. Dan semua itu dilakukan hanya untuk mengejar hadiah yang diberikan oleh kompeni. Satu kepala seharga dengan sejumlah uang. Lembaran kertas itu ternyata lebih dipentingkan dari rasa kemanusiaan.

Suasana semakin mencekam.

Budak, gelandangan, bahkan kelasi kapal teriming-iming dengan hadiah. Darah yang mengalir semakin banyak dan bau anyir memenuhi udara.

Yang selamat dari pembantaian sebelumnya, kini mendapat giliran bertemu dengan Tee Cong Ong[2].

 

Bagian sembilan

Kegaduhan semakin mendekati rumah Enru. Tak peduli seberapa jauhnya rumah itu dari Batavia, tetap saja menjadi incaran budak yang mengamuk.

Derap langkah puluhan orang terdengar dari tempat Enru berada. Mendengarkan dengan menempelkan kuping ke tanah, ia tahu, keadaan buruk mendekati rumahnya.

Buru-buru Enru berlari masuk ke dalam. Menutup pintu gerbang rumah dengan palang kerbau dan mengeluarkan segala senjata yang tersimpan di rumah.

“Keadaan tak lagi memungkinkan, pergilah bersama Made dan Ketut.”

Toahnia!”

“Pergi!”

Toahnia tak pergi, Asiu pun tak pergi.”

“Made! Ketut! Bawa Asiu pergi!” matanya nyalang menatap kedua orang yang termangu di tempat mereka berdiri. “Sekarang!”

Setelah tarik ulur beberapa waktu lamanya, akhirnya Asiu menuruti perintah Enru. Dia berbalik meninggalkan sang Kakak Angkat yang bertekat mempertahankan rumahnya seorang diri.

Made dan Ketut cepat-cepat menariknya pergi. Bagi mereka, perintah itu adalah hal yang wajib dilaksanakan karena Enru sudah terlalu baik pada mereka.

Namun semua terlambat. Mereka tak sempat melalui pintu belakang untuk kabur di antara rumpun tebu yang mulai meninggi. Sekelompok orang telah menanti mereka di balik pintu itu. Kaki Asiu cacat sebelah. Hal tersebut membuatnya tidak leluasa bergerak. Kalaupun harus mati mungkin dia sudah pasrah. Namun tidak demikian dengan Made dan Ketut.

Mereka berdua tak peduli yang dilawannya adalah rekan sekampung ataupun pernah mereka kenal jauh sebelum dilepaskan Enru. Kedua orang itu melawan sebisa mungkin agar bisa membawa pergi Asiu dari tempat mencelakakan. Kabur sejauh mungkin.

Sementara itu di bagian depan rumah, pintu gerbang depan didobrak dari luar. Sekali, dua kali, tiga kali. Terus menerus sampai akhirnya pintu itu ambruk.

Ketika pintu ambruk, mereka saling bertemu muka.

Wajah-wajah bengis itu melihat Enru yang memandangi mereka dengan dingin dan angkuh. Dalam diri Enru kali ini tak ada lagi kehangatan seperti yang biasa ditemukan darinya.

Hatinya mati.

Kaki Enru mulai membentuk kuda-kuda. Sebagai pemegang sabuk hitam dan berkali-kali menjuarai pertandingan taekwondo, ketenangannya memang pantas diakui jempol. Sekalipun umurnya kini beranjak di angka lima puluhan, tapi kondisi fisiknya terlihat seperti laki-laki sepuluh tahunan lebih muda.

Dengan rambut yang mulai memutih karena beban pikiran dan pertambahan usia—juga kerut-kerut yang mau tak mau mengukir umur pada wajahnya—dia lebih terlihat seperti seorang pendekar daripada seorang pebisnis.

“Kalau berani, lawan gue satu demi satu,” sambil bicara, matanya menatap lurus dan tajam ke musuh-musuhnya yang berjumlah lebih dari dua puluh orang.

Di Batavia, tak seorang pun yang tahu kalau Enru menguasai ilmu bela diri. Semua orang menganggap Enru hanyalah pebisnis, menantu keluarga Ni dan bekas calon menantu Yo Sinshe. Dan majulah satu orang yang ingin menjajal tantangan itu.

Budak satu ini rupanya cukup tahu ilmu bela diri. Mungkin tadinya ia prajurit kalah perang yang akhirnya dijual sebagai budak.

Dia dan Enru bertarung puluhan jurus banyaknya.

Orang itu menggenggam pisau dapur di tangannya. Berkali-kali ia berusaha menusukkan pisau itu ke dalam tubuh lawan. Tak hanya sekali, pisaunya telah berhasil membuat pakaian Enru sobek. Beberapa titik darah tampak pada lengan Enru dan pisaunya sebagai tanda keberhasilan. Namun kondisinya juga tak begitu baik. Luka memar dan lebam mewarnai hampir sekujur tubuhnya. Tak jarang luka memar tersebut sampai berwarna kehitaman.

Jurus yang digunakan Enru tak umum. Tak pernah ada orang di Batavia ataupun sejauh yang diketahuinya menguasai jurus-jurus seperti Enru ini.

Taekwondo memang lebih banyak bermain dengan kaki. Beragam teknik tendangan dasar sampai tendangan samping yang dilakukan dengan meloncat membuat orang yang menghadapinya benar-benar kewalahan.

Tak lama berselang, Enru sudah memberi budak itu tendangan samping dengan pisau kaki yang justru mengenai leher. Tendangan tersebut membuat lawannya mundur terhuyung-huyung.

Enru bertekat untuk terus menang demi mempertahankan rumah dan kebesaran keluarga. Tak ingin menghabiskan banyak waktu, diberikannya tendangan beruntun beserta pukulan yang mengarah ke ulu hati. Akibatnya jelas fatal. Ketika tendangan tersebut mengenai budak yang melawannya, seketika orang itu jatuh pingsan karena sesak nafas.

Selesai mengalahkan lawannya yang pertama, Enru tak bersikap sombong. Sikapnya begitu tenang. Ia terus waspada dengan segala kemungkinan. Pengalamannya menjalankan bisnis biro jasa konsultasi dan menggantikan kakak iparnya mengerjakan tugas sebagai seorang pemimpin masyarakat membuat sifat asal-asalan dan pemarah lenyap perlahan.

Seandainya Mama, Cece pun Papanya melihat Enru saat ini, pasti mereka teringat pada penampilan Enru di medan pertandingan. Sekalipun dalam keseharian anak bungsu ini terkesan slenge’an, tidak serius, bahkan cenderung nakal, di medan pertandingan dia berubah seratus delapan puluh derajat. Ketenangannya dalam menghadapi lawan selalu menjadi kunci sukses kemenangan.

“Ada lagi yang berani?!” ucap Enru tegas.

Karena matanya terus mengawasi budak-budak yang datang dari pintu depan, Enru tak sadar bahwa dari pintu belakang musuh juga berdatangan. Jumlah mereka kini sekitar dua kali lipat dari sebelumnya.

Dalam hati, tidak mungkin Enru tak gentar. Tapi ia terus menyembunyikan ketakutan itu dengan menampilkan sosoknya yang gahar. Menyerah sebelum titik terakhir tak pernah ada dalam kamus.

Akhirnya mereka memutuskan menyerang Enru bersamaan. Pastinya karena berdasarkan pengalaman rekan mereka yang kalah telak dengan laki-laki mulai berumur itu. Mereka takut kalah.

Dalam kejuaraan taekwondo, tak pernah ada yang namanya satu melawan puluhan orang sekaligus. Rekor terparah, Enru hanya pernah melawan lima orang dalam waktu bersamaan. Waktu itu dia masih berada di abad ke-21, ketika segerombolan preman berusaha menjambret tas laptop yang dibawa setelah mengatai ‘cina kikir’ dan hinaan lain karena matanya yang sipit.

Sedangkan di abad ke-18 ini, sekalipun pernah melawan enam orang sekaligus, tak satupun dari mereka yang membawa senjata tajam. Kali ini benar-benar luar biasa. Baik dari segi jumlah pun senjata lawan. Kira-kira ada empat puluhan yang mengepungnya dan terus berusaha membunuh.

Lelah tentu sudah pasti.

Berusaha mengambil waktu senggang sejenak setelah menaklukkan tiga orang dengan tendangan beruntun, ia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

Namun siapa yang berani taruhan bahwa dalam gerombolan budak itu semuanya laki-laki sejati dan bertindak tanpa main sembunyi? Pastinya tidak ada. Karena itu, tak heran jika kemudian seseorang dari mereka menghunuskan pisau daging dari belakang.

Enru pasti mati jika saja sesosok gadis kecil tidak melompat dan menubruknya sampai terhuyung-huyung.

Menoleh ke belakang, Enru sangat terkejut dengan apa yang dilihat.

“GWAT NIO!!!”

Terlebih anak yang menubruknya kini berlumuran darah dengan pisau masih menancap di punggung.

Dipeluknya Gwat Nio erat-erat. Ia tak peduli lagi dengan semua musuh yang mengepung dari dua arah. Dalam matanya hanya ada anak yang telah bersimbah darah.

Ketika prajurit kompeni datang ke tempat itu, tak ada lagi kesulitan menangani Enru yang biasa dikenal oleh mereka seperti belut yang licin. Siapa yang tidak tahu nama Enru? Yang mengaku-aku bermarga Cui dengan nama tak lazim itu? Orang itu puluhan kali menginjakkan kaki di Stadhuiz melobi kanan kiri.

Sebelumnya seorang Enru dikenal sebagai orang yang pandai bicara. Dia bisa dengan mudah membujuk lawan bicara menggunakan konsep buatannya. Membuat seorang Enru mengaku berbuat salah juga termasuk hal yang sulit hingga penggeledahan beberapa minggu lalu tidak membuahkan hasil bukti keterlibatan.

Tapi kali ini, kepedihannya melihat anak semata mayang tengah meregang nyawa membuat Enru kaku seperti patung. Para prajurit tinggal menggotongnya pergi ke manapun mereka mau.

*#*#*

Catatan kaki:

[1] Daerah De Qual sekarang disebut Pesing.

[2] Tee Cong Ong: dizang wang, dalam kepercayaan Tionghoa dengan pengaruh Buddhisme Mahayana, beliau adalah dewa dunia akhirat yang menolong arwah yang menderita di akhirat.

Iklan
%d blogger menyukai ini: