Skip to content

3 – Yo Sinshe

Bagian satu

Sunyi menjadi teman hidup di abad ini padahal gue bukan orang yang suka kesunyian kecuali sedang tidur atau menyelesaikan pekerjaan. Sayangnya… sunyi masih akan menjadi teman entah sampai kapan. Kesunyian ini sungguh membuat gue lelah dan bosan jika harus hidup seperti ini terus. Tidak ada MP3 player. Tak ada CD player. Bahkan kaset pun piringan hitam saja tidak ada.

Menyandarkan kepala pada buntalan kain yang menjadi bantal selama tidur di rumah Peng Guan tak juga membuat gue tidur lelap. Dan memang beberapa hari ini gue tak pernah bisa tidur benar-benar lelap.

Gue sadar, malam sudah beranjak demikian larut. Bahkan sepertinya tengah malam saja sudah berlalu. Tapi mata ini tak juga mau terpejam rapat. Ribuan pemikiran selalu menganggu setiap detik. Karenanya, sekali lagi kertas yang digantung pada dinding, tepat di sisi kursi panjang tempat gue tidur menjadi sasaran.

Di kertas itu tertoreh beberapa garis. Satu garis itu sama dengan satu hari keberadaan gue di masa ini. Sudah ada enam garis di sana. Dan jika setelah matahari kembali terbenam besok gue  masih tak juga menemukan jalan pulang, akan ada garis ke tujuh ditambahkan di malam berikutnya.

Menghembuskan nafas kesal, gue balik badan.

Sial! Kursi panjang ini sangat keras dan tidak nyaman. Berbaring di atasnya beberapa hari ini sukses membuat sekujur tubuh merasa nyeri dan pegal.

Buru-buru gue bangkit berdiri untuk kemudian kembali duduk di tempat sama dengan pikiran kosong. Ini bukan rumah gue, gimana buat kopi? Biji kopi jenis arabika pun luwak—keduanya favorit gue—tak ada. Sekalipun ada, tak ada coffee maker dan gue enggak bisa menyalakan api di tungku itu.

Menyeret kaki, gue tinggalkan rumah kemudian duduk di pelataran depan mengamati bulan yang pucat.

 

Bagian dua

Pagi yang baru beranjak datang. Warna merah di ufuk timur adalah suatu hal yang jarang gue lihat.

Jangan terburu-buru menganggap seorang Enru itu pemalas. Pekerjaan gue sebagai creative director sangat banyak. Sering kali gue baru sempat nempel kasur setelah jam empat pagi untuk terbangun lima jam setelahnya dan langsung bersiap ke kantor.

Warna merah matahari pagi itu entah mengapa begitu memikat. Tanpa memikirkan apapun lagi, gue berdiri dan mengejarnya.

Sayang… sekalipun rumah Peng Guan sudah jauh ditinggalkan, warna merah di langit timur tak juga terkejar.  Kini ia pun sudah pergi dengan digantikan oleh benda bulat raksasa yang panasnya bisa menghancurkan segala sesuatu.

Gue mengatur nafas yang tersengal karena capek lalu melihat sekeliling. Rupanya sudah di ladang tebu lagi. Gue kira pencarian lokasi ‘pendaratan’ bisa dimulai sekarang juga.

Mengingat-ingat waktu itu. Matahari masih terlelap. Kemudian gue menendang kerikil yang akhirnya jatuh ke ladang tebu. Setelah menendang, gue baru mulai tersadar dari mabuk karena terkejut akan adanya ladang tebu.

Di musim seperti ini, tebu sudah mulai tinggi. Bukan hal mudah untuk turun ke ladang demi mencari sebuah kerikil. Lagipula… berapa banyak kerikil yang ada di ladang tebu? Dan bagaimana menentukan dialah kerikil yang gue tendang? Kalaupun akhirnya ditemukan dan dikembalikan ke tempat asalnya apakah gue juga kembali ke tempat asal?

Pada saat memikirkannya, terdengar suara anjing yang ribut saling menyalak. Mereka begitu heboh. Kira-kira lebih dari lima ekor anjing muncul dalam waktu bersamaan.

Kemudian, terdengar suara laki-laki yang harusnya suara Peng Guan memberi komando dalam dialek Melayu-Batavia—gue pikir bahasa ini cikal bakal bahasa Betawi di kemudian hari. Gue benar-benar tidak tahu mengapa harus ada anjing dalam operasinya kali ini.

Bukan takut anjing. Justru gue sangat sayang pada anjing sampai Papa pernah berteriak marah karena gue ajak anjing untuk tidur di ranjang saat kecil dulu. Hanya saja gue belum bisa menebak manfaat anjing di ladang tebu seperti ini.

Wan ce peng cho siami[1]?”

Gue melihat ke asal suara. Peng Guan dan anjingnya. Yang menarik perhatian gue jelas bukan Peng Guan, namun anjing yang tak sabar untuk dilepas dari rantainya itu. Sepertinya mereka sangat bersemangat dan tak ingin menunggu waktu lebih lama untuk dapat berlarian di ladang tebu.

“Untuk apa anjing-anjing ini?” tanya gue sambil sibuk mengenalkan diri pada anjing. Gue dekatkan tangan pada hidungnya membiarkan anjing itu mengenali bau gue. Bau seorang pecinta anjing.

“Menghalau tikus,” jawab Peng Guan sangat singkat. Orang ini memang tak pernah banyak bicara.

Gue anggukkan kepala tanda mengerti walau tetap heran mengapa bukan kucing saja.

“Masih cari jalan pulang?”

Kembali gue mengangguk. “Tentu saja. Siapa yang mau tinggal lama-lama di sini? Sekalipun Jakarta bising, gue tetap pilih Jakarta ketimbang Ommelanden.”

“Tutup pintu sebelum keluar rumah. Dasar gila!” serunya sambil pergi.

Gue tergagap heran sebelum akhirnya balas memakinya ‘sinting’ lalu mengambil arah berlawanan. Benar-benar kehabisan akal melihat orang bernama Peng Guan ini. Sebelum itu emosinya dalam kondisi cukup baik. Entah mengapa tiba-tiba berteriak seperti itu.

Ditinggal olehnya, gue tetap melanjutkan pencarian. Mama dan Lala pasti sudah sangat mengkuatirkan gue. Bahkan bisa jadi Cece pulang karena gue mendadak hilang.

 

Bagian tiga

Kegelapan ala malam kembali menguasai Ommelanden. Zaman ini mana ada listrik dan lampu. Penerangan hanya dari lilin, lampion dan obor. Bayangkan saja seperti apa gelapnya malam yang harus gue alami sekarang. Namun… kegelapan ini juga ada baiknya.

Menengadah ke langit, ribuan bintang berkelap-kelip. Udara yang masih minim polusi dan kurangnya pencahayaan membuat sinar bintang yang letaknya teramat jauh itu menjadi sangat nyata.

Saat ini, hal yang paling gue sesalkan adalah tidak ada kamera untuk mengabadikan kecantikan malam ini. Padahal gue ingin banget pamer ke Lala.

Lala, pacar gue itu seorang gadis belia yang terperangkap dalam tubuh perempuan dewasa. Gue sebut demikian karena ia masih senang mendengarkan dongeng-dongeng klasik layaknya anak-anak—padahal umurnya sudah dua puluh delapan tahun.

Mungkin, kesukaannya pada dongeng lantaran harus merelakan aktifitas menulis yang digemarinya dengan bekerja sebagai accounting di perusahaan tambang.

Berkaitan dengan dunia tulis menulis, ia bahkan sampai cemburu pada gadis-unik karena teman online gue itu dapat meluapkan keinginannya menulis kapan saja dan di mana saja. Profesi gadis-unik memang penulis.

Seandainya saja Lala melihat ribuan bintang ini, pasti ia akan bercerita tentang setiap legenda rasi bintang dengan panjang kali lebar kali tinggi, alias sangat detail. Ia hafal setiap dongeng seakan-akan membacanya setiap malam. Dari Jaka Tarub, Chang’e sampai Zeus dan kawan-kawannya.

Gue hembuskan nafas yang segera menyatu dengan hawa dingin Ommelanden lalu menghirup teh yang tadi dibuat dengan dibantu oleh Peng Guan—tentu saja masalah penyalaan api tungku.

“Yo Tauke ingin bertemu lagi denganmu,” suara itu terdengar dari dalam rumah.

Gue jawab hanya dengan sebuah gumanan. Terus terang, bicara dengan Yo Sinshe memang menyenangkan. Sensasinya sama dengan saat gue bicara dengan klien-klien.

“Gua bicara. Apa lu tak mendengar?” nada yang digunakan lebih keras.

Orang ini memang emosional atau kenapa?

“Gue dengar,” jawab gue singkat.

Dia masih saja mengoceh. Mungkin merasa terganggu dengan keberadaan gue—pasti begitu. Tiba-tiba, gue tak mendengar celotehnya dalam bahasa campur aduk itu. Bingung juga. Karena suaranya adalah sesuatu yang gue benci dan sekaligus dirindukan. Gue senang dengar logatnya ketika bicara bahasa Melayu-Batavia yang bercampur dengan logat dialek tempat asal orang itu.

Tanpa menimbulkan suara, gue mengintip Peng Guan. Laki-laki yang diperkirakan usianya lewat lima tahun dari gue ini rupanya sedang melihat karikatur waktu itu. Ugh, gue lupa buang.

Dia tersenyum! Amat sangat jarang melihat orang itu tersenyum. Seandainya saja ada kamera. Peristiwa ini harusnya diabadikan! Tapi pakai apa? Menggambarnya dalam bentuk karikatur lagi? Terlalu makan waktu. Harus yang instan!

Di saat bersamaan, ia mengembalikan kertas itu ke atas meja dengan senyum berkembang di bibirnya.

Terlambat, senyumnya surut dengan kembalinya kertas itu ke tempat semula. Gue hanya bisa berdiri tercekat merasa sayang tak dapat mengabadikan peristiwa langka tersebut.

Lalu orang aneh itu mengambil kertas lain, menuang tinta dalam bak tinta batu lalu mengambil kuas. Rasa ingin tahu dan penasaran membuat gue diam-diam mendekati agar dapat melihat apa yang dilakukannya dalam jarak lebih dekat.

Tangan Peng Guan bergerak menorehkan tinta ke atas kertas dalam sapuan kuas. Di mata gue, kuas itu seperti menari dalam genggamannya.

Kuas terus bergerak menyapu. Kadang ia mencelupkannya ke dalam air untuk membersihkan tinta lalu kembali ditorehkan pada tinta warna lain. Acap pula ia mengganti dengan kuas lain yang lebih kecil atau besar. Berulang-ulang kali.

Gue hanya berdiri kagum tak jauh dari Peng Guan tanpa berani bersuara sedikitpun. Mungkin seperti seorang anak yang takut ayahnya akan marah karena telah mengganggu kesibukan sang ayah.

Beberapa waktu kemudian, gambar itu selesai sudah. Melihatnya, gue tersenyum simpul. Ternyata ia membalas karikatur buatan gue dengan menggambar gue saat sedang mabuk dan tidur di muka rumahnya.

Lu juga bisa melukis,” seru gue diiringi decak kagum.

Garis dan warnanya sangat halus tanda ia terbiasa melukis dengan cara seperti itu. Lukisan gue yang sedang tidur karena mabuk itu yang nantinya disebut bergaya China klasik.

“Sedikit,” jawabnya. Entah merendah atau karena ia dapat menerka bahwa gue akan memintanya untuk mengajari. Setelah menjawab, ia berlalu meninggalkan kertas yang kini berwarna-warni di atas meja untuk mencuci kuas dan membersihkan bak tintanya.

Dia benar-benar tega meninggalkan gue yang telanjur terkagum-kagum pada lukisannya. Sial!

Segera gue berlari mengejar dia. “Ajari gue!” seru gue meminta. Lebih tepatnya memohon dan merajuk.

“Lukisan gua tidak baik,” elaknya.

“Kalau lukisan seperti itu disebut tidak baik, maka tak ada lagi lukisan indah di muka bumi,” jawab gue tak mau kalah.

“Gua benar-benar tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Gua bukan guru yang baik. Dan lu sedang cari jalan pulang. Lebih baik, teruskan saja pencarian dan belajar di tempat asal lu.”

Jawabannya benar-benar menohok gue.

 

Bagian empat

Apakah gue benar-benar terpesona pada lukisannya hingga mulai merasakan kebimbangan? Ada banyak argumen yang keluar dari dalam pikiran juga hati gue. Sekumpulan argumen itu bisa dikelompokkan menjadi dua kategori besar. Pulang dan bertahan.

Sementara itu, hari demi hari terus berlalu dan gue juga masih tak menemukan jawaban tentang bagaimana bisa sampai di masa ini. Apalagi bagaimana cara agar bisa kembali. Kedua pertanyaan itu menjadi teka-teki besar dalam hari-hari gue selanjutnya tanpa akhir.

“Enru, ayo ikut denganku,” Yo Sinshe yang bicara.

Kata Peng Guan harusnya gue panggil dia dengan sebutan tauke, sama seperti cara dia. Tapi… gue ini pembangkang. Pembangkang sejati terhadap hal seperti itu. Sudah bagus gue panggil Yo Sinshe bukan Abang Yo atau Engkoh. Lalu terkait dengan Peng Guan, sebenarnya dia menyuruh gue memanggilnya ahia atau koko. Persetan dengan semua itu!

Gue terburu-buru mengikuti langkah kakinya yang sudah mendekati tandu. Di halaman rumah, dua tandu telah tersedia. Pastinya untuk dia dan gue. Sudah beberapa hari ini gue lebih sering menghabiskan hari bersama Yo Sinshe. Begitulah, pergi ke sana ke mari, tak lagi serius memikirkan cara pulang. Dan setiap hari pula, ada saja orang yang harus ditemui Yo Sinshe dimana gue diminta menemani. Kali ini, ia pasti melakukan hal yang sama.

Dugaan gue tepat. Yang ditemui kami hari ini adalah Tan Bok Koa, Kapiten Tionghoa yang sedang berkuasa. Pastinya ada bisnis yang sedang dirundingkan oleh Yo Sinshe dan si Kapiten.

Gue sangat menyesal tidak mengingat dengan baik setiap cerita sejarah yang diungkapkan oleh gadis-unik saat chatting. Gue juga menyesal tidak mengingat pelajaran sejarah masa sekolah dulu. Seandainya bisa ingat sedikit saja tentang apa yang disuka, bagaimana record-nya, pasti akan baik untuk membuka percakapan yang lebih hangat.

Tapi… gadis-unik mengatakan masalah kapiten Tionghoa tak pernah disebut dalam pelajaran sejarah di masa kami sekolah dulu. Whatever-lah…

Yo Sinshe selalu ‘meminjam’ kemampuan gue mencairkan suasana dalam candaan. Cara bicara gue yang ceplas-ceplos disertai kelalaian pada nada dan tarikan saat bicara dalam dialek Hokkian rupanya bermanfaat untuk mencairkan kekakuan.

Menurut gue, Yo Sinshe ini benar-benar pebisnis sejati.  Ia sangat pandai memanfaatkan kelebihan setiap orang. Dan sepertinya, gue juga termasuk orang yang dapat dimanfaatkannya.

Ketika ia tahu gue ingin belajar melukis dalam gaya China klasik, segeralah ia memanggil seorang guru. Syaratnya adalah gue mau menemaninya pergi ke sana-mari. Sebuah tawaran yang membuat gue tak bisa berkutik selain menjawab dengan anggukan.

Pulang dari setiap acara pergi-pergi, sering kali hari sudah sore bahkan bisa larut malam. Maklum, di masa ini tak ada mobil. Yang ada hanya sado, dokar, kuda dan tandu yang dipanggul beberapa budak. Keempat kendaraan itu membuat waktu tempuh bertambah beberapa kali lipat dibandingkan naik mobil—dalam keadaan lalu lintas lancar.

Hari ini, kami pergi dengan kendaraan yang terakhir disebut. Harus gue akui, naik mobil walaupun terkena macet berjam-jam, rasanya lebih nyaman dari naik tandu, setidaknya secara psikis. Karena gue tak perlu memikirkan beratnya badan dan tandu dalam panggulan para budak yang juga manusia.

Tak hanya masalah guru lukis, Yo Sinshe bahkan mengurus kependudukan gue. Sepertinya ia benar-benar berniat menahan gue di Batavia. Memang, dengan adanya surat kependudukan—layaknya KTP di kemudian hari—gue tak perlu takut dengan adanya pemeriksaan oleh prajurit-prajurit Kompeni. Dan karena gue tak mau memanjangkan rambut juga ber-tauchang ria, Yo Sinshe juga menguruskan segala administrasinya. Singkat kata, segala keperluan bersifat administratif, semua diurusnya.

Dengan Yo Sinshe pula, gue belajar mengenal huruf-huruf China yang jumlahnya gue bilang jutaan itu. Yang harus diingat adalah huruf China di masa ini adalah huruf yang di masa depan digunakan oleh Taiwan, huruf versi tradisional. Lebih rumit!

Tentu bisa dibayangkan untuk menulis suatu huruf saja ada yang harus menggoreskan puluhan garis. Namun katanya, semua ini harus dikuasai oleh seorang Tionghoa terpelajar. Dan gue menurut saja. Karena memang pada dasarnya gue tertarik pada hal-hal baru, kecuali … sejarah.

 

Bagian lima

Setelah melewati satu bulan di awal abad ke-18, gue baru tahu bahwa di masa ini golongan Tionghoa juga terbagi dua. Mereka yang sudah menetap sebelum dinasti Qing berkuasa dan mereka yang baru datang setelah China dikuasai oleh Manchu. Pada golongan pertama, karena sudah lebih lama meninggalkan tanah air, mereka tidak memelihara tauchang. Sedangkan golongan kedua adalah orang-orang seperti Yo Sinshe dan Peng Guan.

Di golongan terakhir ini, bahasa asal masih mereka pertahankan dalam kehidupan sehari-sehari. Berbeda dengan golongan pertama yang karena adalah anak-cucu-cicit dari Tionghoa dengan—kebanyakan—pribumi, mereka tidak lagi cakap menguasai bahasa kakek moyangnya. Kehidupan mereka banyak mendapat pengaruh dari sang ibu.

Kebanyakan pendatang adalah laki-laki dengan beragam alasan dan tujuan mereka. Perjalanan panjang dan penuh bahaya adalah alasan utama minimnya perempuan Tionghoa pendatang. Ada, namun tak banyak dan di antara yang ada itu adalah sekumpulan gadis yang dijadikan wanita penghibur. Itupun lebih banyak yang keturunan campur dengan penduduk lokal.

Mungkin karena masalah perbedaan budaya dimana pada ‘orang lama’ sudah bercampur dengan budaya lokal. Bisa jadi, hanya gue ‘orang lama’ yang bisa bercampur akrab dengan ‘orang baru’ macam Yo Sinshe. Atau mungkin gue menjadi penyambung lidahnya juga. Karena siapapun pasti bisa merasakan bahwa tarikan nada dialek Hokkian gue bercampur dengan tarikan bahasa Jawa, Melayu, pokoknya campur aduk.

Namun semuanya bukan masalah. Gue justru suka. Gue senang bercakap-cakap dengan orang lain membicarakan ekonomi, politik, maupun seni. Semuanya merangsang gairah.

 

Bagian enam

Matahari sudah tenggelam sejak beberapa waktu yang lalu ketika akhirnya gue pulang ke rumah Peng Guan.

Gue lihat ruang tengah kosong. Bahkan di dapur dan toilet juga tak terdengar suaranya. Hanya satu tempat di rumah itu yang belum pernah gue masuki dan periksa. Hari ini, gue bertekad memberanikan diri menyalahi aturan Peng Guan di rumahnya.

Gue dorong pintu kamar sepelan mungkin. Berusaha agar suara derit engsel tua itu tidak terdengar. Lalu gue masuki kamar dengan jalan mengendap, seperti polisi yang tengah memburu mangsa di film-film mafia.

Jendela kamar ke halaman belakang gue biarkan terbuka, berharap sinar rembulan bulat itu bersedia menjadi penerang. Samar-samar terlihat isi kamar yang sederhana, sama sederhananya dengan setiap isi ruangan di rumah itu.

Dipan, meja dan rak semua terbuat dari kayu. Walaupun pada semua itu tak ada ukiran sedikitpun, namun gue dari serat kayu yang nampak, jelas barang-barang tersebut terbuat dari kayu jati tua. Mungkin di masa ini benda-benda seperti itu nilainya tidak setinggi jika benda itu ada di masa depan.

Suatu hal yang mencuri perhatian gue adalah tumpukan kertas yang menyembul di antara beberapa buku tua. Buku yang huruf penyusun judulnya saja hanya gue kenali satu atau dua saja.

Kertas yang pertama gue lihat adalah lipatan surat. Dari beberapa huruf yang dikenali di sana, gue mengambil kesimpulan pastinya bukan surat tanah ataupun utang. Karena pengetahuan terhadap huruf China memang masih sangat minim, gue tidak yakin isi surat itu sebenarnya.

Suara pintu gerbang yang dibuka membuat gue kaget dan cukup panik.

Gue ga mungkin keluar dari pintu karena bisa berpapasan dengan Peng Guan. Satu-satunya jalan adalah melompati jendela menuju pelataran belakang. Untung saja pintu kamar tadi gue tutup. Jadi gue tinggal keluar melalui jendela dengan secepat dan sehati-hati mungkin. Ingat, tak boleh ada jejak!

Berusaha tanpa menimbulkan suara, gue menaiki meja yang diletakkan di bawah jendela. Di saat sama, suara langkahnya terdengar semakin mendekat. Apakah seperti ini perasaan seorang maling saat beraksi? Untungnya di bawah jendela ada meja. Ah, gue jadi sadar ada baiknya di rumah tidak menaruh meja tepat di bawah jendela.

Setelah berhasil keluar dari kamar, gue tutup jendela perlahan lalu masuk ke dalam toilet. Gue pasang telinga baik-baik, ia sepertinya sudah masuk ke dalam rumah. Tak butuh waktu lama bagi Peng Guan untuk memasuki kamarnya.

Jantung gue berdebar tidak karuan. Rasanya seperti lomba lari dengan Scarlet Speedster—tokoh komik The Flash yang dapat berlari sangat cepat. Padahal hari-hari dikejar deadline yang mepet saja tidak membuat jantung memompa darah secepat ini. Selesai menutup jendela, secepatnya gua berlari ke toilet. Hanya toilet yang terpikir karena gue bisa berpura-pura sedang buang air. Kalau ke kamar mandi, saat ini gue tidak bawa peralatan mandi. Rasanya terlalu janggal.

Setelah menenangkan hati beberapa saat dalam toilet sambil menahan nafas karena bau tinja, gue keluar menemuinya seolah tak terjadi apapun. Dalam hati, tekad mempelajari huruf China semakin menguat karena ingin tahu isi surat di kamarnya.

“Mau teh?” tanya Peng Guan sembari mempersiapkan api di tungku batu.

Gue mengangguk mantap. Teh memang sangat dibutuhkan saat ini untuk menenangkan emosi berhubung tak ada cola dingin dalam kaleng yang bisa gue tenggak.

“Keadaan sedang tidak begitu baik,” tutur Peng Guan tanpa gue perlu bertanya apapun. “Jangan pernah menyebut masalah penjajah atau membuat para meneer mengira lu punya hubungan dengan pemberontak. Juga Kerajaan Bantam[2].”

“Ada apa?”

Peng Guan diam cukup lama. Diaduk-aduknya kayu yang mulai membara agar semua bagian terbakar. Kemudian, bukannya menjawab pertanyaanku ia justru bertanya, “Lu bisa ilmu bela diri?”

Tergagap gue. Belum pernah ada teman yang bertanya seperti ini. Gue juga tidak pernah memamerkan piagam dan piala bukti kemenangan di turnamen taekwondo pada rekan kerja. Hanya keluarga, Lala dan beberapa sahabat dekat yang tahu masalah ini, ah… Gadis-unik juga termasuk orang yang tahu.

Gue jawab dia dengan anggukan yang tidak yakin. Lalu gue menanyakan hubungan ilmu bela diri dengan keadaan tidak baik yang ia katakan sebelumnya.

“Kalau lu bisa bela diri, kenapa bisa dirampok? Mengapa semua barangmu habis? … Tinggal satu benda aneh dan cincin itu?”

“Gue mabuk! Lu tahu mabuk menurunkan kesadaran dan proses kerja otak?”

Dahi orang itu berkeriyut karena mendengar jawaban gue yang mulai kesal.

Bagaimana gue tidak kesal. Gue tanya tapi tidak dijawab sedangkan ia terus bertanya dan bertanya. Dan gue merasa pertanyaannya kadang memojokkan. Kalau saja dia tidak lebih tua ratusan tahun, ingin sekali sesekali gue hajar orang ini.

 

Bagian tujuh

Setelah malam gue lalui dengan adu mulut, pagi menjelang dan tetap saja gue harus kembali ke rumah Yo Sinshe. Bahkan sado saja sudah sampai di depan rumah untuk menjemput. Entah apakah karena Yo Sinshe tahu gue masih juga tak pandai menunggang kuda atau karena takut akan tidak datang dengan berjuta alasan.

Sebelum gue berangkat, Peng Guan berkata, “Mungkin tak lama lagi lu ditawarkan jadi menantunya.” Perkataannya ini disambung dengan tawa untuk menggoda.

Kali ini gue tak mengindahkannya karena tak sabar menerima pelajaran menulis huruf China dan melukis di rumah Yo Sinshe. Akan tetapi, entah mengapa kata-kata itu terus terngiang selama perjalanan.

Gue memang pernah mendengar Yo Sinshe memiliki anak gadis yang disebut sudah cukup umur untuk menikah. Namun setahu gue, yang disebut cukup umur ini baru berusia enam belasan tahun.

Tak sadar gue terkikik pelan. Bagaimana jadinya jika gue yang sudah tiga puluhan tahun ini menikahi gadis enam belas tahun. Bukankah akan disangka om girang? Kemudian, bagaimana jika gue bisa dapat jalan pulang kembali ke abad 21? Lagipula, setelah terpisah dari Lala sebulan ini, gue semakin yakin kalau perempuan itu memang pasangan gue seutuhnya.

Tak sadar pintu besar Batavia telah terlewati dan sado ini terus bergerak menghampiri rumah Yo Sinshe.

 

Bagian delapan

Sepertinya hari ini gue tidak mungkin belajar. Yo Sinshe mengatakan akan mengajak ke suatu tempat di bagian barat Batavia yang gue perkirakan di sekitar daerah Grogol pada masa depan.

Di sana, ia menunjukkan ladang tebunya yang lain. Penjaga di tempat itu bukan Peng Guan. Tapi tetap saja punya ciri tak beda jauh dengan dirinya dan Peng Guan, bermata sipit dan kepala setengah botak pula rambut belakang dikepang seperti buntut kuda.

Di tepi ladang ada kincir tengah berputar pelan. Angin berhembus pelan membawa bau daun tebu untuk hidung dan bau itu terus mengikuti sampai kami tiba di bangunan besar dari kayu.

Bangunan besar yang sekilas terlihat seperti gudang itu ternyata tempat penggilingan sekaligus penyulingan tebu. Di sana terlihat beragam ukuran ember kayu yang mengilat karena kristal gula dan beragam peralatan lain yang belum pernah gue lihat. Semua itu bertumpuk di sebuah sudut gudang yang pada masa panen—tak lama lagi—akan menjadi alat terpenting dalam pengolahan tebu.

“Kamu sudah tahu sekarang berapa besar ladang tebuku,” kalimat ini disampaikannya dalam dialek Hokkian. Ia memang hampir selalu bicara dengan gue dalam dialek Hokkian dan memaksa agar gue membalasnya juga dalam dialek sama. Katanya agar gue terbiasa dan bisa berkata dengan benar.

Gue mengangguk sebagai jawaban sembari menerka apa yang ingin dikatakan orang kaya ini setelahnya.

“Tanah ini adalah penghasil gula pertamaku. Hingga sekitar sepuluh tahun lalu aku menyewa dari seorang keturunan Portugis,” sebutnya ketika kami mengelilingi gudang dengan langkah santai. “Lu tak perlu tahu namanya.”

Gue cukup mendengar karena ia langsung meneruskan ceritanya, “Kemudian usahaku bertambah maju.” Dihelanya nafas dengan perasaan bangga dan puas. “Kuputuskan untuk membeli tanah ini. Lalu usahaku meningkat. Ya, sampai sekarang.”

“Pastinya Yo Sinshe mengeruk untung tak sedikit dari usaha ini.”

Ia tertawa terbahak-bahak membenarkan, “Walaupun demikian tetap ada hal yang harus dipikirkan. Para meneer dan saingan.”

“Ya, tentu saja. Oh ya, berapa banyak pengusaha gula di Batavia?”

“Selain gua, di Batavia tak kurang dari sepuluh orang yang menjadi pengusaha gula.”

“Persaingan pastinya sangat ketat.”

“Lu benar. Justru karena itulah lu gua ajak kemari. Ada hal yang ingin gua tanyakan, menurut lu, bagaimana caranya agar gula-gula ini lebih laku daripada gula mereka?”

Dek! Jantung gue berhenti memompa sekali, untung saja hanya sekali. Kalau terlalu lama, gue tak lagi bernafas kan?

Kalau biasanya hanya membuat konsep dan desain iklan, kali ini gue harus melakukan segala keperluan sejak pra konsep iklan, mulai dari riset awal. Istilah lainnya adalah gue harus melakukan analisis SWOT bagi produk Yo Sinshe seorang diri.

Setelah semua itu diketahui, barulah gue bisa memikirkan konsep kreatifnya. Itupun tidak mesti harus melalui iklan. Terlebih di abad ke-18 yang belum mengenal radio apalagi internet ini. Mesin cetak pun belum bisa menghasilkan poster dan selebaran sebaik yang pernah gue lihat sepanjang hidup di abad ke-21. Gue harus mendapatkan konsep unik namun juga memungkinkan untuk diproduksi dengan teknologi yang sudah ada.

Semua itu yang membuat jantung gue tadi lupa berdetak sekali.

 

Bagian sembilan

Sejak hari itu gue mulai merasakan denyut nadi berjalan sebagaimana mestinya. Gue ini orang dunia kreatif. Suka jika disuruh memikirkan konsep iklan dan segala suatu yang berkaitan dengan hal itu. Lagipula, membuat iklan tentang gula di abad ke-18 pastinya memiliki perbedaan luar biasa jika dibandingkan dengan membuat iklan produk sejenis di abad ke 21.

Terkadang terlintas di kepala gue konsep-konsep iklan yang pernah digunakan biro iklan di abad moderen. Namun gue yakin tidak akan bisa diterapkan untuk produk Yo Sinshe. Bagaimana mungkin kubuatkan lagu jingle di iklan gulanya dia? Sempat pula terpikir untuk membuatkan billboard. Tapi setelah meneliti regulasi dan kemampuan tukang besi, gue kembali sangsi.

“Masih belum tidur?” tegur Peng Guan berdiri di muka pintu kamarnya dengan mata tambah sipit karena kantuk.

Gue hanya menggelengkan kepala sambil terus mencoret-coret kertas. Kecewa dengan hasil coretan yang lebih seperti ide seseorang belum pernah sekolah, gue remas kertas dan melempar benda malang itu ke sembarang tempat.

Gue ga hitung berapa banyak kertas yang telah berubah menjadi gumpalan serupa bola tak padat itu. Tapi gue tahu, jumlah itu sudah cukup untuk membuat ruangan ini nampak seperti kapal pecah.

Tentunya Peng Guan tidak akan marah-marah karena banyaknya kertas yang telah dibuang. Sebab kertas itu gue dapat dari Yo Sinshe demikian pula dengan tinta yang dipakai. Gue hanya meminjam bak tinta dan kuasnya saja.

“Matikan lilin jika sudah selesai. Gua tidak mau jadi manusia panggang besok pagi,” lanjutnya. Gue kira ia mengeluarkan nada ketus karena telah diabaikan. Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu kamarnya yang ditutupnya keras.

Melirik sesaat karena kaget dengan suara pintu itu, lalu gue kembali pada kesibukan.

 

Bagian sepuluh

Ketika pagi beranjak datang, gue bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Yo Sinshe.

Mungkin gue gila karena setiap pagi dan sore selalu pulang pergi dari Batavia ke rumah Peng Guan—yang sepertinya berada di sekitar kawasan Matraman sampai dekat Kampung Melayu di masa mendatang—itu. Tapi perjalanan dari rumah Peng Guan ke rumah Yo Sinshe membuat gue serasa sedang piknik.

Setelah sekian kilometer perjalanan, sebuah kali melintas di sisi kiri jalanan. Lebih kiri dari kali itu kuburan Tionghoa terbentang cukup luas. Di tengah sana, gue lihat seperti sebuah bangunan kecil. Mungkin altar dewa tanah setempat. Peng Guan pernah bercerita sedikit tentang dewa-dewa terkait kematian Tionghoa sekian waktu silam.

Banyak ide-ide gila berkeliaran dalam pikiran sepanjang perjalanan. Seandainya saja laptop buatan Amerika itu terbawa dan masih menyala, sudah berapa file bertambah untuk menampung ide-ide yang terlintas dalam setiap perjalanan.

Menggunakan tinta cair dan kuas untuk menuangkan ide adalah hal yang paling merepotkan karena kereta ini tidak akan pernah senyaman mobil sedan. Goncangannya akan membuat tinta tak hanya menodai kertas. Bisa jadi baju gue dan kain dekorasi kereta pun akan terkena jatah cipratan.

Lucunya, hari ini tak ada kereta yang datang menjemput. Gue longok pelataran berulang kali juga tak ada hasil baik yang diperoleh. Bahkan ketika matahari meninggi kemudian merayap turun mendekati ufuk barat, sado tak pernah terlihat.

Kantuk datang pergi menyerang. Kiranya gue sudah menghabiskan puluhan cangkir kopi jikalau ada coffee maker di rumah ini. Namun sekarang, yang bisa gue habiskan adalah berpoci-poci air teh! Paling Peng Guan akan mengamuk waktu pulang nanti. Tapi amukannya seharusnya tak seberapa parah, yang gue seduh ini tergolong teh murah. Bukan teh kualitas bagus yang dia sayang seperti benda berharga itu.

Celaka! Baru dipikirkan, orangnya justru sungguh-sungguh pulang. Sebisa mungkin gue sembunyikan poci teh di balik badan. Duduk di pelataran rumah membuat gue tak takut poci keramik itu akan jatuh berkeping-keping. Gue tahu, poci teh itu pasti akan aman di sana sementara waktu ini.

Kelihatannya kali ini Peng Guan pulang dalam keadaan lebih lelah dari biasanya. Ia menghampiri dengan raut ditekuk puluhan kali.

“Hari ini tidak mungkin Yo Tauke mengutus sado menjemputmu. Prajurit-prajurit sedang sibuk menangkap orang di dekat gerbang selatan.”

“Kenapa? Siapa yang ditangkap?” tanya gue polos.

“Pieter.” Peng Guan sengaja berhenti bicara untuk menenggak teh terlebih dulu. Rupanya poci teh itu tetap saja tertangkap oleh matanya. “Erberveld.”

Entah mengapa seketika bulu gue meremang. Samar gue mengingat cerita gadis-unik, “Di Jalan Pangeran Jayakarta sana, tepat di bangunan showroom mobil dekat sebuah gereja tua, adalah daerah yang disebut Kampung Pecah Kulit. Kamu tahu sebabnya?”

Waktu itu gue membalasnya dengan sebuah icon yang menandakan ketidaktahuan. Icon itu segera dibalas dengan sebuah kata—atau mungkin nama—bunyinya: Erberveld. Kutanya dia dengan mengiriminya icon tanda tak paham namun sia-sia karena dibalas dengan icon yang melambangkan kemisteriusan.

Gue tahu, setelah dikeluarkannya icon seperti itu, jangan harap ia bercerita saat ini juga. Tunggulah sampai gadis-unik lupa baru singgung masalah tersebut. Sayangnya sebelum sempat menanyakan, gue sudah terlempar ke abad ke-18 ini.

Erberveld…. Erberveld…. “Siapa dia?”

Sepatah katapun tak keluar dari mulut Peng Guan. Ia terus menerus menenggak minumannya sampai habis.

Mungkinkah penangkapan ini berkaitan dengan kondisi tidak aman yang pernah dikatakannya waktu itu? Bagaimana dia bisa tahu masalah ini? Apakah ia punya hubungan dengan Erberveld?

Peng Guan memejamkan matanya sesaat setelah menaruh gelas di atas meja. Ia sama sekali tak menjawab pertanyaan ketika meninggalkan gue dengan masuk ke dalam kamar.

Suara selorok kayu yang bergesekan dengan kayu lain terdengar beberapa saat setelahnya. Suara itu pertanda ia mengunci pintunya dengan palang kayu.

Tingkah orang ini membuat gue merasa ada sesuatu yang disembunyikan dari semua orang tentang masa lalu dan jati dirinya.

 

*#*#*

Catatan Kaki:

  1. “Wan ce peng cho siami?” artinya “Sedang apa di sini?”
  2. Bantam: penyebutan Bantem di masa lalu

 

Iklan
%d blogger menyukai ini: