Skip to content

26 – Paningarang

Bagian satu

Derap langkah ratusan orang terdengar membahana mendatangi Paningarang. Sorak sorai penuh kebencian bergemuruh di udara memekakkan telinga. Mereka berteriak, memaki. Mengumandangkan segala pekikan yang sarat oleh kemarahan.

Tangan mereka terangkat. Pada tangan yang terangkat itu terdapat sebilah pedang. Ada pula yang menggenggam parang. Juga ada yang memegang musket, ataupun halberd. Tapi yang memegang kedua senjata terakhir hanya sebagian kecil.

Sementara itu, di tangan mereka yang lain menggenggam bendera. Ada pula yang memegang kecrekan, pun ada yang membawa bambu runcing.

Mata mereka sarat kebencian. Sama halnya dengan yel-yel yang diteriakkan mereka sedari tadi. “Usir kompeni!!! Binasakan!!!” Dan, derap langkah mereka terdengar seperti laju kaki prajurit yang hendak maju perang. Bertenaga pun percaya diri.

Dari atas benteng, prajurit yang berjaga bergidik tak percaya. Kawanan penyerang adalah bangsa yang selama ini diyakini tak punya keberanian untuk angkat senjata. Siapa yang akan menyangka mereka akan diserang bangsa seperti itu? Detik ini juga!

Sorak-sorai itu terdengar di bawah benteng tempat mereka berdiri disertai suara gempuran pada pintu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Berulang-berulang.

Pintu gerbang hanya terbuat dari jejeran bilah kayu diperkuat dengan pasak dan besi. Dalam keadaan biasa, sudah cukup kuat dan berat. Namun jika didobrak terus menerus oleh tenaga puluhan orang sekaligus, tak mungkin bisa bertahan.

Sebagian penjaga sekuat tenaga mempertahankan benteng menekan pintu dengan tubuh mereka. Ada pula yang mencari meja, kursi pun lemari untuk menahan pintu. Lainnya berdiri tegang mengeluarkan senjata.

Puluhan kursi, meja, lemari dan segala macam barang yang dikira cukup berat ditumpuk untuk menambah kekuatan pintu. Namun rupanya semua itu tidak membantu banyak. Mereka bergeser semilimeter demi semilimeter seiring dengan kekuatan engsel dan pasak yang mengendur.

Panah, musket, bahkan pelontar bom mereka siapkan untuk menggempur lawan. Tapi sial, mereka lupakan satu hal. Mesiu. Apa yang bisa dilakukan dengan musket dan pelontar bom jika mesiu tinggal sedikit?

Peluh membanjiri kulit mereka tanpa setitikpun terlewatkan. Mereka tidak takut oleh kawanan yang menyerang namun gentar karena persediaan persenjataan.

“Serang!” komando kepala penjaga benteng berteriak penuh keberanian. Ia pastinya tahu kondisi peralatan perangnya. Tapi teriakan itu tetap saja dipekikkan guna menekan kekuatan lawan sekaligus membangkitkan percaya diri anak buahnya.

 

Bagian dua

Mana mungkin gue tidak tahu bagaimana kondisi perlengkapan perang kompeni? Suasana damai tanpa serangan dari kerajaan-kerajaan sekitar membuat mereka lupa statusnya sebagai penjajah yang setiap saat pasti ada yang berniat mengusir.

Butuh lebih dari satu minggu ditambah uang ratusan lembar uang untuk menyelidiki kondisi persenjataan mereka. Dan usaha gue jelas membuahkan hasil.

“Benteng Paningarang sudah diserbu kelompok lain, Toahia. Kapan kita bergerak?” si Brewok Ong yang bertanya.

“Sabar.”

“Mengapa?”

“Biar kelompok lain yang menghabiskan persediaan garnisium kompeni.”

“Bagaimana kalau mereka beli senjata ke luar?”

Tersenyum, gue berpaling dari kertas yang bergambar peta kasar lokasi benteng kepadanya, “Gue sudah menghubungi dan membayar bajak laut untuk sabotase kapal-kapal kompeni.”

Awalnya dia terpana tak percaya. Wajahnya itu tersirat rasa ingin tahu yang besar tentang cara gue menghubungi begundal macam itu tanpa perantaranya.

“Hubungan gue di masa lalu dengan Yo Sinshe rupanya membawa beberapa keberuntungan,” kata gue tanpa menambahkan apapun. Gue sengaja membuatnya penasaran. Bagi gue, hal itu adalah hiburan di masa tegang seperti ini.

Membicarakan nama itu, membuat gue teringat padanya. Beberapa hari lalu, aku bertemu Kim Nio. Atau lebih tepatnya perempuan itu melihat gue dari atas keretanya lalu mengajak gue untuk berbincang—menurut penuturannya—di keretanya itu.

Apeh sudah meninggal,” katanya membuka percakapan.

Gue masih ingat reaksi yang gue berikan. Gue tolehkan wajah padanya tak yakin, memandangi dalam matanya yang kini tak lagi terlihat lugu lalu menghela nafas ketika menemukan ia tak bercanda. “Turut berduka cita.”

“Lu mau ke mana?” tanya gue.

“Suami menyuruh kami mengungsi. Batavia tak lagi aman.”

Gue anggukkan kepala tanda setuju lalu menyeringai kecil sebuah senyuman datar. “Dia benar.”

“Dengar-dengar Toahnia telah mengungsikan istri dan anak ke luar kota?”

Gue anggukkan kepala membenarkan. “Rupanya gosip demikian cepat menyebar. Tapi memang tidak salah.”

Kami terdiam sekian waktu, bingung apalagi yang bisa dibicarakan oleh sepasang kenalan lama seperti gue dan dirinya.

“Apakah Toahnia benar-benar membenci Apeh?”

“Mana mungkin. … Seandainya beliau tidak menekan gue… juga keluarga Ni….”

“Sampai saat ini gua masih tak bisa percaya Toahnia menikahi perempuan yang usianya pantas disebut anak. Padahal dulu….”

“Anggaplah ini karma gue.”

“Apakah karena pihak keluarga Ni tak memaksa Toahnia menjadi menantunya?”

“Gue senang lu beranggapan seperti itu.”

Dia tersenyum. “Ya, gua dengar, Toahnia yang sengaja menghamili Hien Nio agar mereka mau tak mau mengambil lu sebagai mantu.”

“Lu percaya dengan itu?”

Dia menggelengkan kepala yang gue sambut dengan senyum tipis dan hembusan nafas lega.

Toahnia bukan laki-laki yang rela merendahkan diri untuk segelintir harta. Bukankah karena itu Toahnia menolak perjodohan yang ditawarkan Apeh?”

“Terima kasih. Gue anggap itu sebagai pujian.”

“Memang itu adalah pujian. … Tapi… menurut ingatan Kim Nio, Toahnia selalu ramai, senang bicara, adu pendapat, dan hanya bisa diam ketika membuat konsep. Kali ini apakah ada konsep yang sedang Toahnia pikirkan? Mengapa begitu pendiam dan hanya menjawab sekenanya? … Apakah… berbincang dengan Kim Nio adalah hal tak nyaman bagi Toahnia?”

“Ya. Lu istri orang sedangkan gue adalah laki-laki yang pernah punya hubungan dengan lu di masa lalu. Tidakkah takut orang-orang akan membicarakan?” gue harap candaan garing ini bisa menyembunyikan kerisauan gue yang sesungguhnya. Tapi entah mengapa—gue kira perempuan punya mata elang yang tak bisa ditipu—ia tak terpancing dengan komentar itu. Kim Nio hanya menatap gue dengan mata mendelik tak percaya.

Tak mungkin membicarakan apa yang sedang dilakukan, maka pilihan gue hanya bungkam. Ada jutaan perasaan sungkan dan tak nyaman karena harus terlibat dalam pembicaraan ini. Terutama karena pikiran gue sedang dipenuhi oleh strategi-strategi penyerangan.

Namun pembicaraan dengan Kim Nio justru membawa berkah. Tanpa curiga dan sadar akan apapun, ia cerita tentang centeng-centeng yang dikenal Yo Sinshe. Bahkan dari mulutnya, gue mendapatkan akses untuk menghubungi dan menggunakan tenaga berandalan bagi kepentingan gue.

 

Bagian tiga

Kondisi di Paningarang tak bertambah baik setelah teriakan kepala penjaga. Kebencian yang membuncah di hati orang-orang Tionghoa pada kompeni dan antek-anteknya membuat mereka tak melihat lagi siapa yang dihadapi.

Semua penghalang tidak mendapat ampun, termasuk orang Eropa lain ataupun sesama orang Timur. Kompeni harus dibasmi demikian pula mereka, para anjing penjilat pantat.

Satu demi satu orang gugur. Darah tertumpah ruah dan usus terberai. Tapi semuanya belum cukup dan masih membutuhkan banyak lagi daging yang harus tercabik. Demi kebebasan berdagang. Demi kebebasan berusaha. Tanpa ikatan perjanjian pun pajak yang menipiskan kantung dan pada akhirnya hanya mempertebal peti harta segelintir orang, musuh!

Dari sekian banyak darah yang menggenangi bumi, sebagian milik prajurit penjaga benteng. Tidak sipit pun tidak pirang. Kulitnya langsat karena dalam dirinya yang mengalir adalah darah orang Jawa. Dia salah?

Mungkin juga tidak. Seperti semua orang yang terlibat di sana tidak salah dalam ukuran kepentingan masing-masing. Dia hanya ingin hidup sekaligus menafkahi istri dan anak. Salah satunya cara yang termudah baginya berdiam dalam jabatan yang diberikan oleh kompeni. Salah?

Tidak salah. Hanya sial. Sial karena diharuskan menjaga benteng pada saat penyerangan gerombolan Tionghoa yang mengamuk pada kompeni.

Dia gugur. Seperti juga beberapa orang lainnya pula ditemani beberapa orang dari gerombolan Tionghoa penyerangnya.

 

Bagian empat

“Rumah ini sudah sangat sepi, Ahnia.”

Gue tolehkan muka ke arah suara dan sesuai dugaan, Ni Hoe yang berkata. Gue menyengir, bersikap tak ada yang perlu dikuatirkan.

Dia mengerutkan alis.

Setelah memastikan tak ada kertas berisi strategi atau hal lain yang dapat menimbulkan kecurigaannya, gue tinggalkan kursi dan meja kayu tempat biasa bekerja. Gue ambil tempat di kursi sebelah Ni Hoe.

Ahnia yakin hendak pindah?”

Gue anggukkan kepala. “Usaha di Batavia tak lagi baik. Mengapa saya harus bertahan di sini?”

Padanya gue  memang berkata hendak memboyong keluarga pindah ke kota lain. Mungkin Samarang, tempat pertama kali gue dipertemukan dengan Hien Nio. Karena itulah ia tak terlalu heran melihat kosongnya rumah ini.

Ahnia orang yang pandai berkawan. Pastinya akan cepat maju di sana.”

Gue tertawa datar sesaat. Tak ingin dia lebih lama di sini dan akhirnya menyadari apa yang sebenarnya dilakukan membuat gue berkata, “Ada keperluan apa Cihu datang?”

Mendengar pertanyaan gue, raut wajahnya berubah menjadi sangat serius. Artinya, sebuah pembicaraan maha penting dan mungkin berat akan terjadi di antara kami.

Ia mendesah menatap taman dari balik jendela di seberang kami lalu pergi mendekati ambang jendela. Sementara itu, suaranya menyapa gendang telinga gue. “Akhir-akhir ini terjadi banyak keributan.”

“Keadaan begitu kacau,” sambung gue sekaligus menyetujui.

Gue lihat ada nada kecemasan dalam setiap kata dan gerak-geriknya. Berkali-kali Ni Hoe menghembuskan nafas lemah. Pastinya terjadi banyak masalah akhir-akhir ini.

Cihu bertengkar lagi dengan yang lain?” tebak gue.

Balasan yang gue dapat adalah gelengan kepala lemah membuat rasa penasaran semakin menghantui gue. “Lalu?”

Meneer-meneer itu. Mereka ingin masalah ini selesai secepatnya tanpa kekerasan. Tapi pergerakan ini ada di luar tembok kota. Wewenang apa yang gua miliki?”

Ni Hoe masih bercerita panjang lebar tentang semua yang dipaksakan padanya agar dilakukan dalam batas tempo sesingkat-singkatnya itu. Raut wajah ipar gue ini begitu lelah. Dalam sekejap garis usia menghiasi kulitnya padahal umurnya jauh di bawah gue.

Gue mendengar dalam diam. Tak ada yang bisa gue lakukan. Mengajaknya untuk ikut dalam pergerakan ini menurut gue adalah suatu hal yang tak mungkin. Sekalipun tidak melaporkan, tapi pasti ia tidak akan bergerak. Jadi untuk apa bicara.

Ada satu hal yang sebenarnya belum pernah gue katakan pada siapapun, yaitu keterlibatan salah satu dari adik tiri Ni Hoe. Tidak akan gue bicarakan yang mana karena hal tersebut hanya diketahui oleh gue dan dirinya. Bahkan Asiu, Made, Ketut pun Ong itu tidak gue beritahu. Ini adalah rahasia kami.

“Yang paling gua cemaskan, keluarga sendiri terlibat dalam pergerakan itu.”

Adalah hal bagus mendengar kata ‘pergerakan’ keluar dari mulutnya. Hal tersebut jauh lebih baik daripada ia gunakan kata ‘pemberontakan’. Mungkin, jauh di dalam hatinya, ia menginginkan tempat yang tenang dan nyaman untuk berbisnis tanpa harus menuruti segala kemauan kompeni yang egois itu. Gue harap perkiraan itu benar.

Namun mendengar keseluruhan kalimatnya membuat gue tak enak hati. Jangan-jangan ia akan menuduh gue meracuni pikiran adik-adik tirinya ketika ikut campur tangan kami diketahui.

 

Bagian lima

Di tempat lain, massa yang lebih besar dibandingkan dengan di Pariangan jalan beriringan. Sebagian dari mereka membawa umbul-umbul. Terlihat seperti barisan demonstran depan Istana Negara yang saat ini masih berupa tanah dan kebun.

Sebagian lagi membawa genderang. Seolah-olah mereka adalah kelompok drumband pengisi acara dalam pesta skala besar layaknya olimpiade atau semacamnya. Namun, tak ada keriangan yang ditimbulkan oleh mereka. Kekecaman dan teror. Hanya dua itu saja.

Siapapun akan gentar melihat orang sejumlah itu. Orang-orang itu tak berteriak namun juga tidak tertawa. Wajah mereka asam dan mata sipitnya menyeringai dendam sembari membunyikan genderang seolah di medan perang. Suatu macam rupa yang tanpa kata pun telah menyatakan ‘kami marah’. Lagipula, tak seorang pun bisa memastikan semua orang itu tak ada yang membawa senjata.

Penjaga yang melihat tak anyal mematung sesaat. Ngeri membayangkan kemungkinan yang menghantui alam pikirannya. Lalu secepat kilat, ia pergi menuliskan secarik surat dengan terburu-buru. Isinya, tentu saja permintaan bantuan kekuatan untuk pos yang ia jaga.

Selesai ditulis dan dikirim dengan kuda tercepat oleh rekannya, ia berdiri termenung terus mengawasi pergerakan kawanan itu. Yang semakin dekat dan terus mendekat.

Apa tujuan orang-orang itu? Bagaimana jika keributan massal terjadi? Mungkinkah akan terjadi perang? Jumlah orang di benteng tak sebanding dengan besarnya kawanan bermata sipit itu. Pun, mereka tak punya cukup senjata. Tak ada mesiu dalam jumlah cukup untuk menghabisi massa dalam jumlah besar!

 

Bagian enam

Malam tiba. Sebenarnya waktu bergerak seperti biasa tanpa dipercepat ataupun diperlambat. Tapi bagi sebagian besar penduduk Batavia ataupun Ommelanden, pergerakan seperti ditahan oleh raksasa tak kasat mata.

Cangklong yang diisap habis puluhan kali. Ganja pun demikian, namun bulan cembung masih menghiasi langit.

Di dalam kota, derap langkah prajurit datang tiada henti. Bersamaan dengan petugas yang mengabarkan jam. Seolah-olah keberadaan mereka adalah untuk mengawal petugas-petugas itu dari serangan angin dingin awal musim hujan.

Jumlah schutterij puluhan kali lipat dari biasanya. Dalam tugas, mereka berlindung di balik jaket dan menghangatkan diri dengan pipa cangklong di mulut. Mungkin terselip ganja di antara tembakau yang dibakar.

Wajah mereka tenang, seperti tak ada yang perlu dikuatirkan. Lupa dengan kegelisahan yang menghantui di siang hari.

 

Bagian tujuh

Ni Lian dan Ni Goan tak juga pulang. Rupanya rumah gue yang sepi, dengan hanya dihuni satu orang perempuan dan sisanya laki-laki lebih menarik daripada rumah mereka sendiri. Padahal kedua orang ini memiliki beberapa gundik sekaligus. Mungkin pembicaraan kami yang berapi-apilah yang menarik perhatian mereka.

Dulu, dalam pembicaraan macam ini, gue dan kawan-kawan berada di cafe. Setelah memesan secangkir kopi—yang nantinya akan berbuah menjadi beberapa cangkir per orang—kami duduk di atas sofa nyaman mengelilingi meja kayu oval di tengah.

Sekarang yang terletak di hadapan adalah sepoci teh dengan beberapa gelas lalu ada juga arak. Tapi suasana tetaplah serupa. Ini adalah pembicaraan dimana ide-ide gila dilontarkan begitu saja. Dari gagasan yang bagi kompeni mengarah ke pemberontakan sampai khayalan liar tentang hubungan dalam kamar.

“Gua dengar Toahnia datang ke sini tadi siang.”

Tanpa menolah pada Ni Lian yang bicara, gue mengangguk membenarkan.

“Dia tak kerja apapun. Tak pernah mengerjakan apapun yang menjadi tugasnya sebagai kapiten,” tukasnya dengan kesal sebelum sempat mulut gue berkata apapun. “Pasti dia kemari untuk minta bantuan lu.”

“Bukan. Hanya sharing … berbagi keluh kesah saja.” Kebiasaan berkata dalam bahasa campur aduk di abad ke21 rupanya terkadang masih kumat.

“Dia memang selalu seperti itu. Kalau saja bukan anak dari istri sah, tak mungkin dia bisa ongkang-ongkang kaki seperti itu.”

Gue kernyitkan dahi tanda tidak sependapat. “Pertama kali kami bertemu, dia adalah pemuda cekatan.”

“Cekatan dari mana? Semua tugas dilempar ke orang lain! Apa yang dia lakukan? Hanya musik! Musik! Musik!”

Entah mengapa tiba-tiba ia jadi seperti itu padahal baru saja kami mengobrol dengan santai. Sedemikian dalamnya kah rasa tidak suka terhadap kakak tirinya?

“Pertama kali kita bertemu, menurut kalian, gue seperti apa?” tanya gue berusaha mengalihkan perhatian dari kebencian mereka.

“Orang miskin menyebalkan.” Ni Lian yang bicara. Cukup menyakitkan seperti sebuah tamparan yang telak mendarat di pipi.

“Pasti melakukan sesuatu pada gadis bodoh itu demi mengincar harta kami hingga setuju nikah masuk ke keluarga perempuan.”

“Lalu?”

“Gue dengar pembicaraan lu dengan Apeh. Gwat Nio bukan a—.” Cepat-cepat gue tutup mulut Ni Goan melarangnya bicara lebih lanjut.

Gue pastikan tak ada orang lain selain kami bertiga ditambah Asiu. Untung saja Made dan Ketip sedang pulang untuk menengok anak mereka. “Kalau sudah tahu tak perlu berkata. Tak akan ada yang menyebut bisu hanya dengan tidak mengatakan masalah itu.”

Mereka termangu mendengarnya. Empat pasang mata memandang gue seolah sedang bertanya ‘mengapa’. Di sisi lain, Asiu hanya terdiam terus menatap gue. Tatapan yang kadang membuat risih namun gue tak ingin memikirkannya lebih jauh dan segera mengabaikan.

“Bukan waktunya membicarakan itu. Bagaimana jika kembali ke topik awal?” kata gue. Tanpa menunggu lebih lama, gue bentangkan sebuah gulungan kertas.

*#*#*

Iklan
%d blogger menyukai ini: