Skip to content

23 – Satu kata, “Ikut.”

Bagian satu

Rencana untuk bertemu klien bule sudah batal berulang kali. Alasannya banyak. Terutama karena kekisruhan oleh mereka yang ingin membebaskan rekan di penjara beberapa bulan lalu. Kedua oleh lahirnya aturan-aturan baru yang secara khusus menggarisbawahi masalah orang-orang malang dalam penjara Stadhuiz dan orang Tionghoa lainnya.

Berhubung selain punya usaha, mereka juga berdinas di Stadhuiz, tak ayal tugas seperti itu tak terhindarkan. Dan hari ini, rupanya gue masih juga tak bisa menemuinya.

Seseorang keluar dan berkata ke gue bahwa ia sedang sibuk mengikuti rapat yang kemungkinan berlangsung hingga malam menjemput. Kecewa, gue pergi keluar dari Stadhuiz.

Siang masih panjang. Dengan cara apa gue habiskan hari ini? Pulang? Masih waktunya Gwat Nio belajar. Kalau gue menampakkan diri di dekatnya sekarang, pasti dia tak mau mendengar gurunya lagi. Ke rumah Ni Hoe? Taruhannya besar. Bagaimana jika dia hujani dengan setumpuk tugas yang bukan tanggung jawab gue?

Paling menyenangkan mungkin kembali mengasingkan diri di pantai tempat dulu pernah nyaris dirampok. Seorang Enru tak kenal kapok. Jadi tempat itu tetap saja menyenangkan walau pernah ada kejadian tak enak. Terkenang dengan perampok culun waktu itu, membuat gue terkikik geli. Selagi itu, kuda melangkah pergi ke sana dengan langkah semakin cepat.

Di abad ini, di masa penduduk cikal bakal kota Jakarta belum mencapai jutaan jiwa, pantai yang gue kunjungi masih merupakan pantai sepi yang hanya didiami oleh segelintir orang. Mungkin nantinya tempat ini akan masuk dalam wilayah Ancol. Seingat gue, sebelum Ancol dibangun wilayahnya berupa rawa-rawa. Di sini juga demikian. Di belakang gue, rawa-rawa menghadang.

Pantainya tak luas dengan pasir kehitaman. Memang bukan tempat yang menyenangkan seperti pantai di Senggigi. Tapi tempat ini sepi dan gue temukan kedamaian di sini hanya dengan membiarkan ombak laut menyapu kaki, lembut.

Gue kira tak akan ada orang ‘gila’ lain yang akan bertandang ke tempat seperti ini. Namun ternyata, dugaan itu salah.

Gue dengar di belakang suara gemerisik dahan yang tersapu gerakan langkah. Harusnya bukan harimau atau macan. Ramainya suara membuat gue berkesimpulan yang di belakang tak hanya satu orang atau binatang. Namun sekelompok. Harimau pun macan bukan binatang yang menerkam mangsa dengan bergerombol. Sekaligus, gue tak yakin dua jenis binatang buas itu ada di daerah seperti ini, daerah yang masih terhitung dekat dari pusat kota.

Malas-malasan, gue tolehkan kepala ke belakang, arah suara berasal. Ternyata benar, mereka tak bukan adalah sekompi schutterij. Gue alihkan kembali pandangan ke depan, mengatupkan mata dan membiarkan semilir angin membelai setiap inchi kulit.

Derap langkah itu ternyata terdengar mendekat dan semakin dekat dengan tempat gue duduk. Belum sempat memicingkan mata untuk menjawab rasa penasaran, sebuah suara menegur sangat dekat, “Surat izin?”

Gue acuhkan mereka.

“Surat izin!?! Atau kau mau dirantai karena tak punya surat izin, hah?”

Menghela nafas kesal karena siang yang damai menjadi rusak dengan bentakan mereka, gue berdiri, merogoh kantung dan menunjukkan benda yang mereka minta.

“Tinggal di mana?”

“Di situ sudah tertulis saya tinggal di mana.”

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Cari inspirasi.” Untung saja gue bawa kertas dan tinta. Gue keluarkan barang-barang baru melanjutkan, “untuk buat lukisan. Boleh?”

Terlihat dia meneliti surat izin sekali lagi lalu terdengar bisik-bisik tak jelas di antara dia dan rekan-rekannya. Yang gue dengar hanya penyebutan Kapiten Ni. Setelah itu, baru tampak wajah ramah. Pastinya minta uang.

Mereka memuji-muji gue sekian waktu lamanya—pujian yang tak perlu diutarakan karena hanya membuat muak—lalu diakhiri dengan tekanan. Maksudnya kalau mereka tak diberikan uang, gue akan diseret ke penjara. Tak peduli siapa ipar gue.

Tak ingin berlarut-larut dengan masalah ini, gue keluarkan beberapa lembar uang untuk dibagi-bagikan pada mereka. Lalu gue pasang wajah galak agar secepatnya mereka pergi dari hadapan. Tentu setelah dipastikan surat izin telah gue kantungi lagi.

Mereka kembalikan surat izin dan setelah ramah tamah palsu, gue kembali ditinggalkan dalam sepi. Sayang, sudah tidak ada keinginan untuk menikmati sunyi di sini. Maka, mengikuti jejak langkah mereka, gue bawa kuda kembali ke peradaban.

 

Bagian dua

Setumpuk kue kembali dihantar oleh Hien Nio menggantikan piring yang telah kosong. Di luar matahari bersinar sangat terik. Angin kering berhembus pelan tak mampu mengusir pengapnya udara. Hujan besar memang sudah berminggu-minggu tidak membasahi tanah. Hanya segelintir air ditumpahkan awan yang lupa musim, itupun hanya dalam bentuk gerimis kecil. Musim kemarau. Ulangtahun gue terjadi di musim ini.

Sudah berapa tahun gue tidak merayakannya? Begitu lama, terakhir tahun 2012 beberapa minggu sebelum terjerumus di ‘lembah’ bernama masa lalu. Bisa diartikan, sembilan belas tahun yang lalu.

Gue buka laci, mencari lilin terkecil yang bisa didapat kemudian menyalakan dan menaruhnya tepat di atas tumpukan kue. Tak sadar bibir tersungging senyum, berbentuk sebuah seringai aneh di antara kulit yang mulai berkerut.

“Selamat ulang tahun ke minus dua ratus empat puluh, Enru Tirtonegoro.” Gue kira tak seorang pun merayakan ulang tahun dengan umur minus selain gue.

Gue tiup lilin sampai padam. Asap muncul setelah matinya api kemudian merayap pergi dan menghilang. Di saat bersamaan, pintu ruangan diketuk oleh seseorang.

Cepat-cepat gue rapikan lilin memasukan kembali ke laci, menjumput satu kue, menyuruh pengetuk pintu masuk lalu menggigit kue sewajar mungkin.

Shaoya,” panggil Kok sopan. Dari sinar wajahnya kurasa ada sesuatu yang sangat penting. Karena itu gue izinkan dia untuk melanjutkan ucapannya.

“Ong Shaoya kembali tertimpa musibah. It Shaoya mengundang Anda untuk mendiskusikan bagaimana cara menolongnya.”

“Ok, gue paham.”

Musibah apalagi yang menimpa Ong satu itu? Memikirkan beragam hal yang mungkin menimpa orang satu itu, membuat gue memacu kuda lebih kencang.

“Jadi seperti ini…,” ujar Ni Hoe memulai kisah penangkapan Ong sampai kemudian usaha Ni Hoe dengan mengutus ‘perpanjangan tangan’ kanan dan kiri. Semuanya tidak ada hasil. Para meneer masih teguh pada pendirian bahwa Ong yang seniman itu adalah penduduk tak menguntungkan dan tidak sepantasnya tinggal di Batavia.

Jadi gue kira, kejadiannya hampir mirip dengan yang menimpa gue. Untung saja, hubungan kekerabatan gue dengan Ni Hoe sangat kuat. Enru adalah adik ipar kapiten Tionghoa. Lagipula Enru punya hubungan dengan beberapa pejabat meneer kompeni, para Schutterij akan berpikir panjang sebelum asal main menangkap gue.

Sedangkan Ong berbeda. Ia hanya kawan kami. Pekerjaannya juga tidak bisa dikatakan sungguhan jelas. Benar, ia pelukis dan pemain musik. Sekali dua kali dipanggil orang untuk memainkan musik di rumahnya atau melukiskan suatu pemandangan untuk hiasan di rumah orang tersebut. Atau dia akan menggelar lukisannya di toko yang disewa perhari. Sampai batas waktu tertentu, layaknya sebuah pameran lukisan, kemudian dia kembali pada kegiatan yang lain.

Atau mungkin digelarlah lapak di pasar, lalu dia mencari nafkah dengan menjualkan hasil kebun istri gue atau Ni Hoe yang labanya dibagi dua menurut presentase. Dia memang tak punya pekerjaan tetap. Tapi bukan pengangguran dan pemabuk. Ong seniman itu masih mampu menghidupi diri dan egonya.

Lepas menerima penjelasan tersebut, gue terdiam sekian waktu lamanya. Menimbang-nimbang siapakah di antara kenalan meneer yang bisa gue mintai bantuan. Gotthard? Ya, yang kerja di bagian urusan pribumi. Gue lupa nama keluarganya, tapi dia orang yang tepat. Setidaknya akan ada banyak info yang bisa gue dapat dari orang itu.

Buru-buru gue pacu kuda ke arah Stadhuiz lalu menunggu dipertemukan dengan tak sabar. Orang itu keluar. Sebagai seorang indo, ayahnya orang Belanda sedangkan ibunya dengar-dengar gundik peliharaan sang Tuan Besar, perawakan orang ini tidak terlalu Asia sekaligus Eropa. Semuanya berpadu dengan cara unik hasil campur tangan Tuhan membuatnya tampil sebagai laki-laki yang memikat. Yang jelas, ia bisa jadi model tenar jika hidup di abad ke 21.

Setelah pembicaraan panjang lebar dalam sebuah rumah makan—yang tentunya bill dibayar dari kocek gue—ia berjanji akan mengabari secepatnya. Karena sebagian darahnya orang Asia, gue menganggguk begitu saja berjanji akan menunggu kabar.

Sekitar satu minggu kemudian, kabar yang gue tunggu barulah datang. Dia minta gue bertemu di suatu tempat yang jelas bukan di dekat Stadhuiz. Rumah makan waktu itu menjadi pilihan untuk kembali bertemu dengannya.

“Sebenarnya tak sulit untuk membebaskan Ong yang disebut oleh Saudara Cui,” katanya membuat gue bernafas sedikit lega. Setidaknya ada harapan.

Setelah berputar-putar dengan disebutnya beragam aturan-aturan baru yang keluar dari mulut Von Imhoff, akhirnya disebutlah sebuah angka yang harus gue keluarkan demi Ong itu. Angka yang membuat gue terperangah—kira-kira kalau dikonversikan bisa dipakai untuk membeli sebuah mobil merek Toyota jenis Innova terbaru dengan seri terbaiknya.

“Kita harus cepat, kapal yang membawa tahanan ke Srilangka akan tiba tak lebih dua minggu lagi.”

Pulang dari pertemuan itu, gue temui Ni Hoe menyampaikan hasil pembicaraan. Uang dalam sejumlah itu bukan hal yang sanggup keluar dari dompet pribadi karena sebagian besar pendapatan selalu diserahkan pada Hien Nio.

Ni Hoe menyanggupi. Hubungan mereka yang sama-sama penggemar musik rupanya begitu dekat hingga jumlah itu bukan halangan bagi Ni Hoe. Atau memang keluarga Ni terlalu kaya untuk memikirkan uang sejumlah itu. Pada akhirnya, kami sama-sama berharap uang ini benar-benar bisa membeli kembali kebebasan Ong.

Hari yang ditunggu tiba. Janji Gotthard, Ong bisa menghirup udara bebas hari ini. Tapi ternyata, tunggu hanyalah tunggu. Sampai kaki gue pegal bediri dan duduk di pelataran Stadhuiz, tetap saja orang yang dinanti tak juga menampakkan diri.

Akhirnya sore tiba. Melihat Gotthard, gue seret dia pergi ke tempat sepi barulah bertanya, “Mana Ong itu?”

“Perintah pelepasan belum bisa turun. Masih sedang diusahakan. Bersabarlah,” katanya, tak melihat darah gue mulai menampakkan gejala akan mendidih.

Menekan emosi, sebelum gue jotos hidung mancung tinggi ala Eropa yang menempel erat di wajahnya. Dia keluarkan ‘jurus rayuan’-nya yang membuat gue lagi-lagi keluar uang hanya untuk sekedar mentraktirnya di sebuah rumah makan besar.

Namun lagi-lagi semua penantian sia-sia. Sehari. Dua hari. Tiga. Empat sampai seminggu akhirnya berlalu, Ong si Seniman itu tak juga menikmati udara bebas. Sampai tiba-tiba gue dengar kabar kapal yang mengangkut tahanan telah berangkat hari ini.

Kesal dan penasaran menuntun langkah gue untuk segera pergi ke Stadhuiz dan meneliti setiap sel apakah Ong masih ada di sana.

Tidak. Ketakutan gue menjadi nyata. Dan baru gue tahu Gotthard juga tidak ada. Ia telah dipindahtugaskan dan pergi bersama kapal pembawa tahanan.

Dia pergi. Membawa uang gue dan Ni Hoe pun telah menelan puluhan jenis makanan mahal yang dibayar dari uang dalam dompet gue. Dia yang gue kira satu orang dari secuil pejabat yang bisa dipercaya.

Gue melenggong. Ternganga tidak percaya. Rupanya seorang Enru masih bisa termakan taktik seperti itu. Akhirnya gue pulang dengan tangan dan tatapan kosong. Lalu sekarang bagaimana menjelaskan pada Ni Hoe bahwa uang kami telah dibawa kabur?

Menyeruput teh di kedai dalam perjalanan pulang, gue dengar pembicaraan pengunjung kedai lainnya. Dia sedang asyik mengobrol dengan seseorang yang gue identifikasi sebagai sang pemilik kedai.

“Para tuan meneer itu tidak akan membawa orang-orang malang itu sampai ke Srilangka. Percayalah pada gua.”

Mata gue nyalang menatapnya dan terdiam. Kuping gue terus disiagakan mendengar kata-katanya yang seperti orang berbisik, tak berani keras-keras.

“Dengar-dengar mereka akan dibuang ke laut.”

Sama dengan gue, si Pemilik kedai memasang tampang tak percaya.

“Kenapa …? Apa dasarnya …?”

Hanya tiga kata itu yang gue dengar lalu si Pengunjung bercerita lagi dengan sebelumnya melirik kanan kiri takut pembicaraannya didengar orang lain.

Dari pembicaraan yang hanya separuh-separuh gue dengar karena dia bicara cukup pelan, kesimpulan yang didapat cerita itu kemungkinan besar benar adanya. Jadi para meneer memang bermaksud mengurangi penduduk Tionghoa di Batavia dengan cara keji semacam itu.

Mana mungkin gue bisa terima? Ditambah lagi dengan politik ‘divide et impera’ yang dampaknya nyata bertahan sampai berabad-abad kemudian. Gue kira, kedua Ong dan Salim benar. Para meneer itu seharusnya diusir dari tanah Indonesia, secepatnya.

Coba bayangkan, jika Indonesia berdiri dengan prakarsa orang-orang Tionghoa, mungkin gerakan G-30S PKI tidak ada. Orde Baru tidak ada. Dekrit perubahan nama juga tidak ada. Dan yang terpenting, kerusuhan yang memakan korban banyak orang termasuk Papa juga tidak ada. Bukankah itu sangat baik?

Kalau ternyata perubahan sejarah ini membuat gue selamanya tidak terlahir rasanya cukup pantas asalkan Papa tidak menemui ajal dengan cara seperti itu. Ya, gue rasa pengorbanan itu pantas.

 

Bagian tiga

Kata ‘maju’ menurut gue terlalu transparan. Maju apa? Maju perang? Jika surat ini sampai ke tangan salah, maka kami akan celaka. Bagaimana kalau kata’ikut’?

Kemudian gue tuliskan kata itu di antara selembar surat penuh tulisan. Ada sembilan kata ‘ikut’ dalam surat itu untuk menegaskan bahwa gue berniat ikut dalam pergerakan. Lalu, gue mengutus Made berangkat menemui Salim ditemani oleh Alou.

Dalam waktu bersamaan, gue juga menemui si Brewok Ong. Padanya juga gue utarakan keputusan itu.

Dia bersuka ria mendengarnya. Apakah tak ada ketakutan dalam dirinya kalau sampai pergerakan ini tak berhasil? Bagaimana kalau ada mata-mata di antara orang kami? Bagaimana kalau ada ember bocor di antara bawahannya? Tapi rupanya dia dengan sangat percaya diri berkata, semua anak buahnya pasti setia. Darah sama yang menyatukan mereka. Dan kebebasan dari para meneer adalah cita-cita dan impian mereka bersama.

Tak ingin nasib kami berakhir di tarikan empat ekor kuda seperti Pieter, gue putuskan untuk mempelajari kasus orang malang itu.

Susah-susah gampang untuk mendapatkan keterangan tentang Pieter. Kecurigaan dan kewaspadaan adalah hal tersulit untuk dilampaui. Tapi mau tak mau harus gue lakukan. Dari meneliti lahan tempatnya dieksekusi sampai menanyai beberapa orang.

April lalu, genap delapan belas tahun sejak pertama kali gue melihat sendiri tubuh manusia diceraiberaikan masih dalam keadaan hidup. Proses kematian yang membuat gue nyaris mati karena tak enak makan dan tidur berhari-hari lamanya.

Gue kejamkan mata memandangi tugu dengan tengkorak tertancap di puncak. Bau pesing pekat menyeruak nyaris membuat muntah.

Demi istri dan anak, hidup gue tak boleh sampai berakhir seperti dia.

 

Bagian empat

Toahnia, sebenarnya apa yang sedang direncanakan?” tegur Made sepulangnya dia menghantar surat seperti perintah gue. Rupanya dialah yang pertama kali menemukan keganjilan dan kewaspadaan berlebih dalam setiap gerak-gerik gue.

Menurut gue, dia sepantasnya tahu apa yang gue lakukan. Terlebih dia adalah salah satu orang kepercayaan gue. Begitu pula dengan Asiu.

“Ikut gue.”

Gue bawa mereka ke tempat si Brewok. Di sana, barulah gue jelaskan duduk permasalahan. Suatu hal yang tak pernah terduga, Made menjemput keputusan gue dengan semangat. Dia ingin terlibat dalam setiap detail rencana itu.

Toahnia perencana yang baik. Kali ini juga pasti begitu. Tiyang tak sabar menantikan tanah ini tidak diinjak dengan semena-mena oleh meneermeneer itu,” kata-katanya berhasil menurunkan kadar ketidakpercayaan gue.

“Ketika Asiu mendengar ucapan Ong Sinshe di ruang baca waktu itu, Asiu sudah merasakan Toahnia pasti terlibat. Sekalipun waktu itu Toahnia memasang wajah tak berminat. Dan Asiu pasti mendukung rencana Toahnia.”

“Ketut juga demikian, Toahnia. Kami, suami-istri pasti mendukung semua rencana Toahnia,” lanjut Made bersemangat.

“Tolong jangan beritahu Hien Nio, gue tak ingin Toaso kalian cemas karena semua rencana ini, mengerti?”

Mereka menganggukkan kepala.

Hari ini, pertemuan pertama Asiu dan Made dengan kelompok si Brewok yang memungkinkan bagi mereka untuk bicara. Pertemuan mereka dulu adalah ketika si Brewok hendak merampok Hien Nio waktu kami piknik bersama. Tak ada waktu bagi mereka untuk membicarakan masa lalu dan masa depan.

“Di kampung, tiyang bekerja ikut Bapak sebagai pengrajin,” ujar Made mengawali cerita. Matanya menerawang seolah menembus dinding kayu rumah si Brewok. Seolah-olah di dinding tersebut terpasang sebuah slide tentang masa lalunya.

“Kemudian perampok datang. Mereka merampok semua harta di kampung. Dari hasil pekerjaan kami sampai beras dan termasuk anak-anak laki dan perempuan, demikian pula tiyang. Kami yang laki-laki dijual sebagai budak hingga sampai ke Batavia.”

Mendengar ceritanya, gue hanya mendesah. Kali ini bukan pertama cerita itu gue dengar, namun perasaan kesal pada perampok dan miris pada nasib Made masih tetap terasa.

“Hari itu, bukan pertama kalinya aku dijajakan di pinggir jalan dengan tangan dirantai. Umurku baru lima belas tahun. Seorang nyonya meneer melihat dan membeliku. Baginya, aku hanya seharga beberapa ketip. Di rumah dia, tak ada pekerjaanku yang tidak salah di matanya. Pukulan dan cambuk adalah makanan sehari-hari selain nasi putih. Hanya nasi putih. Sampai akhirnya dia menjualku kembali pada pedagang budak.

Made melirik gue sesaat. Pandangan yang seolah menunjukkan rasa terima kasih teramat sangat. Gue balas dia dengan sebuah senyum dan diam membiarkan dia terus menceritakan kisah masa lalunya.

“Kemudian Toahnia lewat dan membeli tiyang juga seorang gadis yang ternyata kampungnya tak jauh dari kampung halaman tiyang. Begitu membeli, Toahnia melepaskan rantai dan menggandeng tangan kami dengan hangat. Lalu kami dibawanya pergi menemui notaris demi akta pembebasan kami. Toahnia sama sekali tak takut kami kabur—”

“Salah! Waktu itu gue juga takut kalian kabur. Padahal gue butuh orang untuk membantu kami mengurus rumah,” dengan sengaja gue memotong cerita Made. Berkata dengan wajah jenaka, gue berharap bisa mengurangi hawa sedih yang mulai menggerayangi seluruh isi rumah.

Made tersenyum geli melirik gue. “Toahnia selalu begitu. Bahkan ketika harus bangkrut pun, kami masih dibekali uang, katanya pesangon.”

Gue pernah berkata pernah dendam karena kerusuhan yang merenggut nyawa Papa dan nyaris menodai kesucian Cece. Namun jika ada yang bertanya mengapa gue begitu sayang pada Made dan Ketut—yang berbeda suku—jawabannya adalah yang menolong keluarga kami hingga gue dan Mama selamat adalah tetangga kami yang orang Bali.

Kami berlindung di rumahnya selama beberapa hari sampai keadaan cukup aman untuk pulang ke rumah. Bahkan waktu itu dia pula yang menjagai rumah kami sehingga tidak jadi sasaran pengrusakan massa.

Selain itu, mungkin pula karena usia. Ketika usia gue beranjak naik di atas pertengahan dua puluhan, rasa dendam itu perlahan sirna. Hanya ada tanda tanya besar dan kepedihan dalam ketika peristiwa kerusuhan membayangi benak kembali.

“… ternyata pemilik kapal itu membohongi kami.” Rupanya ketika gue melamun, Asiu sedang bercerita. Ceritanya tak beda jauh dari Made. Namun nasibnya jauh lebih beruntung. Dia diiming-imingi kehidupan yang lebih baik dengan pergi ke tanah Jawa. Tapi rupanya pemilik jung justru menjualnya sebagai budak. Kemudian Yo Sinshe membeli dan mempekerjakannya sebagai pembantu di rumah.

Kehidupannya pasti bukan yang terbaik tapi menurut dia sendiri masih lebih baik dibandingkan Made. Pukulan, cambukan atau beragam jenis hukuman yang biasanya diderakan pada budak jarang diterima. Menurut gue karena kepolosan dan keluwesannya saat melayani majikan membuat dia merasa hidupnya lebih baik dari budak lain.

Gue kira hari ini dihabiskan mereka untuk saling bercerita. Setelah Asiu, si Brewok Ong mengulang cerita yang pernah disampaikan ke gue.

Berbagi masa lalu akan baik untuk saling mengenal dan kemudian saling percaya. Bagaimanapun, di kemudian hari kami adalah satu tim dalam tujuan yang sama.

*#*#*

%d blogger menyukai ini: