Skip to content

22b – Titik balik

Bagian empat

Sincia hampir selalu disertai hujan. Katanya Sincia tanpa hujan artinya setahun tanpa rezeki. Gue tak yakin hal itu benar. Sincia tahun kemarin misalnya. Hujan tetap datang. Tapi banyak juga orang Tionghoa yang mengalami kebangkrutan. Kalau sudah begitu, ramalan yang tidak tepat atau berdalih karena adanya faktor X?

Dan kali ini, hujan ataupun tidak, sel penjara Stadhuiz akan bertambah penghuni sekitar seratus orang lagi. Semuanya orang Tionghoa.

Mata gue terus menatap mereka yang terantai digiring menuju stadhuiz. Padahal harusnya gue menemani Hien Nio yang sedang pergi sembahyang. Tapi entah mengapa kedua mata ini tak bisa berpaling dari mereka. Ada rasa miris di dalam hati gue.

Gue yakin, mereka bukan perampok. Paling hanya petani atau pedagang kecil yang kebetulan lupa mengantongi surat izin tinggal. Atau surat itu terselip entah di mana namun waktu yang tidak panjang membuat mereka harus tergesa mengais rezeki.

Padahal hari ini harusnya mereka bersenang-senang merayakan Sincia. Pergi sembahyang, bersenda gurau dengan kerabat, mengumpulkan angpau yang didapat anak cucu dari handai taulan. Sayang, karena hanya petani dan pedagang kecil itulah, mereka tak punya uang untuk menyogok pejabat-pejabat licik yang haus kekayaan. Akhirnya mereka terpaksa merayakan Sincia di sel pengap, bau, jorok .

Jika meneer kompeni itu secepatnya diusir dari bumi pertiwi ini, mungkinkah nasib mereka berubah? Ya, tentu saja. Sistem patch dan kepemilikan tanah yang dikuasai oleh tuan-tuan tanah membuat harga sewa tanah tidak terkontrol dan akhirnya menjadi beban bagi mereka. Karena masalah ini bukan, kelak akan lahir legenda si Pitung? Di masa ini, gue belum pernah mendengar nama Pitung—Robin Hood ala Betawi itu—disebut-sebut.

Tapi apakah dengan mengusir mereka negara ini di masa depan akan lebih baik dari yang pernah gue temui? Pertanyaan itu datang bersamaan dengan degup jantung yang bertambah cepat. Haruskah gue juga memulai perlawanan? Jika nasib bangsa kami di negeri ini bisa lebih baik, memulainya bukanlah hal yang sia-sia. Tapi bagaimana jika tidak? Dan bagaimana kalau gagal? Bukankah hanya akan menambah kelam perjalanan sejarah?

Toahnia, mengapa hanya melamun di sini?” tegur Asiu. Ia juga sembahyang di klenteng ini. Yang dikenakan bukan pakaian yang dibuat dari kain pemberian Hien Nio. Dari tubuhnya yang tercium bau dupa pekat, pasti ia sudah sembahyang sebelum menemui gue.

“Tak apa. Hanya melihat iring-iringan tawanan,” jawab gue lalu pergi masuk mencari Hien Nio dan Gwat Nio.

Sampai saat ini, gue belum pernah mengutarakan masalah itu pada seorangpun. Bukan karena unsur tak percaya, lebih disebabkan oleh tak ingin membuat mereka cemas. Karena jika pemikiran ini sampai terdengar pihak kompeni, akibatnya pasti sangat berbahaya bagi keluarga gue.

 

Bagian lima

“Cui Sinshe,” panggil si Brewok Ong.

Sekali lagi dia menemui gue. Tempat pertemuan kami sekarang di rumahnya. Karena gue kira ladang, tempat waktu itu tak aman lagi mengingat pembicaraannya yang terlampau berbahaya.

“Anda sudah lihat sendiri bagaimana perlakuan meneer keparat itu pada orang kita. Apakah tetap bertahan pada pendirian Anda?”

Orang ini memang hobi membujuk gue untuk memimpin anak buahnya mengadakan perlawanan. Kalau gue katakan ‘mengapa tidak kamu saja yang pimpin anak buahmu?’ maka dia akan menjawab ‘otak saya tak mampu menyusun rencana seperti Anda.’.

Tapi bagaimana dengan sejarah? Sudah layakkah akibat yang akan timbul atas pergerakan ini pada masa depan bangsa? Gue tak ingin kaum gue dijadikan bulan-bulanan oleh fanatik-fanatik itu.

Kata Salim, kejadian seperti itu bisa terjadi karena kompeni yang memecah belah antara kaum sipit dengan pribumi. Kalau tidak salah… guru sejarah gue dulu bilang.. divide et impera? Mungkin itu yang dimaksud Salim.

Lalu kata Salim lagi dengan menunjukkan bukti-bukti sejarah, pada awalnya kedua kaum itu hidup berdampingan. Gesekan kecil pasti ada karena setiap orang punya kepentingannya masing-masing. Tapi masih ada upaya saling menghargai. Bahkan katanya, wali songo itu pun sebagian berasal dari kaum Tionghoa.

Untuk yang terakhir ini, gue sempat terperanjat. Dalam masa pendidikan, seingat gue, guru-guru sejarah tak pernah menyebut mereka adalah Tionghoa-muslim. Gue tak seberapa ingat memang, tapi sebawah keyakinan gue, mereka benar-benar tak pernah menyebutnya.

“Cui Sinshe, saya kira hanya Anda yang mampu memimpin kami. Anda cerdas dan berpendidikan. Tidak seperti saya.”

“Tapi sejarah adalah sejarah. Kau sudah pikirkan apa akibat di masa depan kalau kita lakukan hal ini?”

“Masa depan?”

“Ya, masa depan. Sudah tertulis dalam sejarah kalau tanah ini dijajah mereka sekian ratus tahun lamanya.”

“Apakah Cui Sinshe bisa meramal? Mengapa bisa bicara tentang sejarah dan masa depan?”

Bagaimana menjelaskan bahwa gue datang dari masa depan? Dari abad ke21? “Pokoknya seperti itu.”

Matanya menatap gue heran. Tapi keinginan kuat membuatnya sedikitpun tidak ada keraguan. Mendengar perkataan gue tadi justru keyakinannya bertambah.

“Saya tidak peduli dengan sejarah dan masa depan yang dikatakan Cui Sinshe. Kalau memang yang Cui Sinshe katakan benar, saya kira mengubahnya juga hal yang patut. Bagi saya, anak, cucu juga keturunan saya tidak sepantasnya merasakan pahitnya perlakuan meneer. Atas dasar itu, pengorbanan apapun dengan rela saya lakukan.”

Kalau sejarah ini bisa berubah, apakah kerusuhan Mei ’98 nanti turut tiada? Kalau memang bisa meniadakannya, gue kira tawarannya sangat pantas. Tapi di pihak lain, gue adalah ipar Ni Hoe. Ipar kapiten Tionghoa.

Gue masih berpikir keras selagi si Brewok Ong terus menerus berusaha meracuni otak gue. Kegilaan dan kewarasan datang pergi membuat kepala sangat penat.

“Jangan paksa gue! Jangan paksa!” gue berlarian ke luar dari markasnya dan pulang ke rumah.

Nafas gue terengah-engah. Jantung gue berdetak kencang. Namun semuanya bukan karena kaki yang berlari. Ada ketakutan sekaligus ada keberanian. Ada keinginan juga keengganan. Ada keyakinan pun keraguan.

 

Bagian enam

Toahnia!” seru Ketut memanggil gue. Keras dan lantang.

Menoleh ke arahnya, gue tunggu datangnya laporan. Dengan suara seperti itu pastinya ada sesuatu penting yang harus gue ketahui. Terlebih melihat wajahnya yang pucat dan serius.

Totoa.. ada… keru… suhan… stadhuiz… ja… pergi….”

Sial. Penyakit gugupnya kambuh lagi dan semakin parah. Ingatan membawa gue kembali pada kejadian di masa silam. Jantung berdebar tak menentu. Pengalaman waktu itu tergolong buruk. Sangat buruk. Gue tak ingin kejadian sama terulang lagi. Karenanya, orang pertama yang ditanya adalah Asiu.

“A… di… mah….”

“Di rumah? Suamimu?”

“Di… lan… me… sul…”

Toahnia!” kali ini suara Made yang terdengar. “Stadhuiz rusuh. Puluhan orang menyerang penjaga demi menolong teman dan saudara mereka yang ditahan.”

“Lalu?”

“Ada yang mati dan banyak yang terluka.”

“Mereka terlalu bodoh. Apakah Stadhuiz bisa dijebol hanya dengan kekuatan seperti itu?”

Made menatap gue heran. Bagi gue ia seolah sedang bertanya, apakah gue ada di balik usaha mereka.

“Cui Sinshe, saya kira hanya Anda yang mampu memimpin kami. Anda cerdas dan berpendidikan. Tidak seperti saya.” Entah mengapa bujukan si Brewok kembali mengisi pikiran gue.

 

Bagian tujuh

Apakah gue gila? Mungkin gila. Berulang kali perkataan si Brewok Ong timbul tenggelam dalam benak. Seperti virus yang berusaha menghabiskan kapasitas memori RAM.

Benarkah gue mampu? Bagaimana jika ternyata tidak? Bukankah hanya akan mengancam nyawa Hien Nio pun Gwat Nio? Juga puluhan sanak keluarga si Brewok.

Gue masih memikirkan semua hal itu ketika si Ong yang pelukis dan pemain musik datang mengunjungi. Tak tahu apa alasan orang ini main ke rumah, gue langsung membawanya masuk ke ruang kerja. Gue kira dengan ‘ketidakwarasannya’ tempat ini lebih aman dari ruang tamu yang merupakan tempat lebih umum.

Ong satu ini terlihat jelas rasa patriotisme. Suatu hal yang lucunya tidak dimunculkan jika sedang bersama Ni Hoe. Namun di hadapan gue, perasaan itu muncul begitu kuat. Dari setiap kata maupun pilihan musik yang digemari.

Dia suka kisah Sie Djin Kwie. Juga menyukai tokoh Jenderal Yang. Katanya kedua orang itu adalah contoh luar biasa. Dia benci pada Jenderal Lee. Jenderal yang berdasarkan ceritanya hidup pada masa dinasti Han. Jenderal itu membelot setelah bertahan dalam penyerangan tanpa bantuan tambahan pasukan dan makanan dari negara.

Ong ini bisa bicara panjang lebar mengenai sifat patriotik tapi nyatanya dia meninggalkan negerinya pergi ke tanah Jawa. Pasti ada suatu alasan dia lakukan hal ini. Dan gue berharap alasannya bukan karena dia rekan Peng Guan yang berniat balas dendam. Kalau itu terjadi, rasanya hidup gue seperti sebuah sinetron murahan.

Setelah sekurangnya tiga jam bicara, dia masih berceramah panjang lebar tentang pentingnya sikap pratiot. Katanya, “Patriotisme tak cukup dimiliki oleh para jenderal. Orang biasa seperti kita ini juga perlu memiliki sifat seperti itu.”

“Contohnya?” tanya gue hanya asal ucap.

“Cui Heng adalah pengusaha sekaligus pelukis, tentunya sikap itu bisa ditunjukkan dalam karya Anda.”

Setelah itu dipaparkannya semua contoh yang bisa gue lakukan. Dari tidak menerima pekerjaan dari meneer. Sampai yang paling ekstrim, membuat propaganda untuk memusuhi mereka.

Tak kurang dari semua itu, menurut dia, harusnya gue membela tanah air dari kompeni yang menindas kami. Dan hal itu juga bisa dilakukan dengan beragam cara yang gue kira tak perlu lagi disebutkan secara khusus.

Harapan gue hanya satu. Dinding rumah gue tak memiliki kuping dan mulut yang melaporkan kata-kata si Ong satu ini pada kompeni. Memikirkannya membuat jantung memompa darah lebih cepat.

Akhir-akhir ini jantung gue sering berdenyut lebih cepat dari biasanya. Bukan karena jantung gue lemah atau punya kelainan jantung. Melainkan disebabkan oleh ulah kedua Ong. Baik yang brewokan maupun yang saat ini sama-sama duduk dalam ruang kerja gue.

Asiu mendengarkan kata-kata Ong dengan seksama. Sepertinya ia takjub dengan kelancaran Ong bicara dengan bahasa teratur, indah namun menimbulkan suatu dilema dalam hati pendengar—setidaknya dalam hati gue. Gue harap setelah mendengar ceramah panjang lebar ini Asiu tak ikut-ikutan membujuk. Dia benci permusuhan juga perkelahian. Dengan sifat seperti itu, bukan hal yang wajar jika turut mempengaruhi gue untuk mengusir kompeni.

 

Bagian delapan

Beberapa hari ini Asiu lebih sering diam. Bahkan tak pernah lagi menawarkan teh untuk gue. Mungkin karena Ketip dan Hien Nio yang telah siap siaga menggantikan poci teh begitu kosong hingga Asiu merasa tawarannya tak lagi diperlukan. Tapi rasanya tetap aneh.

Dan dia bertambah diam setelah gue singgung—sekali lagi—masalah pernikahan.

“Asiu… sampai kapan lu mau terus seperti ini?” tegur gue kemarin. “Tahun sudah berganti tahun. Bahkan Gwat Nio akan berulang tahun ke sepuluh, tahun ini. Lu masih saja terus menghindari masalah pernikahan.”

Dia menutup konsep buatannya—untuk beberapa kasus pembuatan konsep sudah gue serahkan pada Asiu sehingga gue tinggal membaca dan membubuhkan persetujuan. Setelah itu, Asiu berkata dengan gaya kaku dan asing, “Kalau Toahnia tak ada komentar lagi tentang konsep ini, maka Asiu pamit.” Kemudian ia benar-benar meninggalkan gue yang masih termangu-mangu heran dengan perubahannya.

Dia memang sama sekali tak menyebut isi ‘pidato’ si Ong yang seniman itu. Lebih tepatnya, dia tidak bicara apapun kecuali tentang pekerjaan.

“Asiu!” bentak gue. Berdiri dari kursi kayu beralas bantal pipih dari kapuk, gue berjalan menghampirinya.

“Ikut gue!” perintah gue sembari menaruh kertas konsep di meja terdekat lalu menariknya ke luar ruangan mendekati kandang kuda.

Dia terseret-seret berjalan di belakang namun tak gue pedulikan. Sikap diamnya akhir-akhir ini harus gue bereskan. Gue tak mau rumah ini dihuni oleh orang-orang yang saling bermusuhan.

Gue suruh dia menunggangi kuda. Gue juga naik di kuda yang sama, persis di depannya. Membawa dua kuda memudahkan dia melarikan diri. Dengan hanya menunggangi satu kuda, satu-satunya jalan menghindari gue adalah loncat dari kuda yang dibuat melaju kencang. Gue pikir dia tak akan berani.

Sampai di pelabuhan Sunda Kalapa, gue hentikan laju kuda dan menyuruhnya turun.

Kapal beragam ukuran dan jenis sedang menaik-turunkan muatan. Muatan mereka tak hanya barang. Banyak juga budak dalam keadaan terantai yang pastinya tak lama lagi akan dijajakan di pasar perbudakan Batavia.

Tak pedulikan semua kegiatan itu, gue kira tempat ini tepat untuk mengembalikan hubungan kami agar kembali seperti dulu.

“Sekarang hanya kita berdua. Tak ada Made, Ketut pun istri gue, jadi kita bisa bicara dengan tenang. Katakan kenapa akhir-akhir ini sikap lu seperti itu,” cetus gue tanpa memandanginya langsung. Hanya sesekali melirik menanti respon.

Tak ada jawaban. Satu-satunya suara yang terdengar berasal dari para pekerja dan mandor yang terus meneruskan kegiatan seolah tak menyadari keberadaan kami. Dan suara lainnya adalah pecahan ombak kecil yang membentur dermaga dan badan kapan. Lalu deru angin laut yang berderu menabrak semua penghalang termasuk tubuh kami.

“Asiu…, diam bukan jawaban.”

“Karena Toahnia terus menerus mendorong gua agar menikah. Terlebih Toaso.”

“Memangnya kenapa lu tak mau menikah?”

“Dulu kenapa Toahnia juga tak mau menikah?”

Topik seperti ini lagi. Asiu selalu begitu. Dia selalu menjawab pertanyaan gue itu dengan pertanyaan yang sama. Dan kemudian gue jawab dengan jawaban yang sama.

“Asiu juga punya alasan sendiri.” Dia memandangi gue cukup lama dengan tatapan memohon yang membuat gue tak berkutik selain menghela nafas.

Gue pandangi dia mendalam, berusaha menggali apa yang ada dalam benaknya. Namun semuanya tersembunyi dengan rapat. Sejak kapan dia belajar menyembunyikan sesuatu dari gue?

“Biarkan Asiu terus bersama Toahnia. Biarkan Asiu terus jadi adik kecil Toahnia. Asiu mohon, Toahnia.”

Kalau sudah begini, apalagi yang harus gue katakan? Setiap orang punya hak menentukan pilihan hidupnya. Walaupun menurut gue pilihan yang ditempuhnya aneh dan tidak masuk di akal.

“Oke. Terserah, Asiu. Pilihan hidup lu tak akan gue campuri lagi. Hanya minta lu dan Hien Nio saling berbaikan. Bisa gila kalau setiap hari menyaksikan perang dingin kalian.”

Dia menganggukkan kepalanya perlahan. Gue tak tahu mengapa ia jadi seperti itu. Tapi melihat matanya yang selalu mengawasi gue dalam bisu, entah mengapa hati menjadi sesak oleh belas kasihan.

“Kita pulang.”

Dia harus selalu dibantu ketika akan naik kuda. Padahal sebelum kejadian yang membuat kakinya cacat, melihatnya menunggangi kuda akan jauh menyenangkan dibandingkan melihat gue. Terlebih jika dibandingkan dengan saat awal gue di Batavia.

*#*#*

%d blogger menyukai ini: