Skip to content

22a – Sincia

Bagian satu

Perayaan Sinnien semakin dekat. Tapi tak terlalu dekat juga. Masih ada sekitar dua minggu ke depan. Cukup waktu untuk mengkapur ulang tembok dan mengamplas kayu lalu kembali memolesnya dengan pelitur hingga terlihat cemerlang. Itu pula yang sedang sibuk dikerjakan oleh para pelayan di rumah gue. Tak peduli Batavia terus memburuk, Sinnien tetap harus dirayakan meriah dengan harapan tahun depan menjadi lebih baik dari tahun ini. Itu semboyan gue yang pasti juga diamini warga Tionghoa di seputar Batavia.

Beberapa hari ini, bau menyengat khas cairan pelitur menghantui setiap langkah di rumah. Tak hanya rumah gue sendiri namun juga rumah klien. Semuanya sibuk mempercantik rumah. Terlebih kalau mendekati klenteng-klenteng yang terdapat di sekitar pintu kecil atau di pesisir utara—timur Sunda Kalapa pun di tempat lainnya. Pasti pengurus dan aktifisnya juga sedang rangka membersihkan tempat dan perbaikan ulang, pelitur, mengecat, memandikan kimsin dan lain-lain. Bau cairan pelitur itu tak hilang digerus angin yang berlalu.

Kemeriahan penyambutan Sinnien seolah tengah berusaha menutupi kekalutan dan kecemasan penduduk Batavia. Di mana-mana berhamburan warna merah. Terlebih di tempat yang banyak dihuni oleh orang Tionghoa. Selain itu, terdengar pula tambur, simbal dan gong dimainkan oleh pemain barongsai yang sedang berlatih.

Gue dengar keluarga Ni telah menyumbang uang dalam jumlah besar untuk beberapa klenteng dalam rangka menyemarakkan Sinnien kali ini. Juga, di rumah utama—yang kini ditempati Ni Hoe—akan menggelar jamuan keluarga secara besar-besaran. Tak hanya kerabat dekat yang diundang, namun mencakup keluarga jauh dan rekanan keluarga Ni. Selagi itu, pastinya seperti tahun-tahun lalu, pintu juga tetap dibuka untuk siapapun yang hendak menjual tulisan ucapan ataupun gambar-gambar menyambut tahun baru.

Beberapa hari yang lalu Hien Nio memborong puluhan meter kain untuk membuat baju baru. Katanya gue harus mengenakan baju yang saat ini masih berbentuk lembaran kain dalam perjamuan keluarga. “Menantu keluarga Ni—apalagi dengan usaha sesukses Ahnia—tak boleh datang dengan baju asal. Nanti ditertawakan para sepupu,” ujarnya setiap tahun menjelang tahun baru Imlek.

Hari ini, dia ribut menyuruh gue dan Gwat Nio mengukur badan. Penjahit sebanyak empat orang dipanggil untuk membuat enam belas stel pakaian sekaligus yang hanya akan dipakai oleh tiga orang.

Menurut gue pribadi ini berlebihan. Beberapa tahun menikah dengannya tetap saja tidak membuat gue merasa hal tersebut adalah sesuatu yang wajar. Dulu, waktu Sincia, Mama hanya membelikan gue dan Cece masing-masing satu stel baju baru. Paling banyak dua. Satu baju rumah dan satunya untuk pergi.

Tapi melarang Hien Nio membeli kain sebanyak itu gue pun tak tega. Toh uang gue cukup untuk membeli apa yang diinginkannya, mengapa tidak gue biarkan ia bersenang-senang?

Ahnia,” panggilan Hien Nio terdengar di indra pendengaran. “Lihat kain untuk Asiu, menurut Ahnia bagus tidak?” Ketip mengulurkan satu gulungan kain. Di dekatnya masih ada dua gulungan lain.

Gue anggukkan kepala. Memperhatikannya sebentar lalu perhatian gue tertuju pada dua gulungan lainnya. “Yang itu?”

“Untuk Made dan Ketut. Juga anak-anak mereka.”

Gulungannya memang jauh lebih tebal dari yang untuk Asiu. Pasti muat untuk beberapa orang sekaligus.

“Bagaimana? Menurut Ahnia apakah mereka akan suka dengan corak kain ini?”

Memamerkan senyum, gue anggukkan kepala sekali lagi. Itulah mengapa gue tak bisa marah. Dia tak pernah lupa membelikan anak buah kami. Apalagi mereka yang dianggapnya cekatan. Pasti akan menerima hujan hadiah menjelang perayaan seperti ini.

Puas dengan senyuman gue, dia berlalu. Pastinya menemui Asiu, Made dan Ketut.

 

Bagian dua

Pulang ke kamar, Hien Nio masuk dengan muka ditekuk sepuluh. Cemberut kesal. Tak perlu bertanya, karena sebentar lagi pasti ia akan bicara dengan sendirinya.

“Adik angkat lu itu. Sungguh menyebalkan,” lapornya.

Setelah pernikahan kami, setahu gue hubungan Hien Nio dan Asiu cenderung memburuk. Kalau tak ada rasa sungkan atas keberadaan gue, sepertinya perang dingin akan merebak. Atau sekarang memang sudah seperti itu?

“Kenapa?”

Hien Nio diam dalam wajah masih cemberut. “Harusnya Ahnia segera carikan istri untuk dia.”

“Kita sudah sering mengenalkan dia tapi–”

“Mau tak mau lebih baik secepatnya Ahnia nikahkan.”

Umur Asiu sudah tiga puluhan tahun sekarang ini. Hal yang tidak wajar untuk laki-laki seumuran dia di abad ke-18. Dulu saja gue pernah digunjingkan tidak mampu memberikan mas kawin. Pernah pula dicurigai homo.

“Ya sudah. Lu saja yang urus masalah itu. Gue ngantuk.”

Trik pengalihan gue berhasil membuatnya sedikit melepas otot mulutnya yang tadi terus ditarik ke bawah. Dia mendekati dan membantu gue melepaskan baju.

Menikahinya bukan keputusan yang mendatangkan penyesalan. Dia tipe istri yang baik terlebih ditambah bonus anak manis nan cerdas macam Gwat Nio. Masalah hanya muncul jika perangnya dengan Asiu sedang berlangsung.

 

Bagian tiga

Kami datang sebelum para sepupu yang ditakutkan Hien Nio akan mengejek penampilan gue tiba. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan ibunya dan tadi terus menerus minta agar kuda yang menarik keretanya dipercepat. Mungkin gue juga akan demikian jika yang ditemui adalah Mama. Maka dari itu, gue tidak menyalahkan maupun menggerutu.

Teringat Mama, ada banyak rasa rindu. Hampir dua puluh tahun gue tidak bertemu dengan beliau. Gue baru sadar, ternyata waktu tidak berjalan merangkak. Ia berlari, meninggalkan kenangan bersama Mama dalam sunyi dan gelap di alam bawah sadar gue. Mungkinkah kelak gue bertemu Mama lagi? Gue merasa belum melakukan apapun sebagai anaknya.

Rumah yang ditempati Ni Hoe ini adalah rumah utama. Jadi semua keluarga Ni berkumpul di sini nanti malam untuk sembahyang pada leluhur. Saat ini, masih siang. Matahari bersinar cukup terik. Para pelayan sibuk mempersiapkan hidangan yang nantinya dihidangkan di meja sembahyang untuk leluhur. Rombongan majikan yang perempuan juga rata-rata tidak tinggal diam. Setidaknya tangan mereka sibuk mencetak kue-kue yang kecil dengan bentuk memikat sembari bersenda gurau di antara sesamanya.

Bertambah sore, rumah mulai ramai. Tapi tak ada percakapan mereka yang benar-benar masuk ke dalam pikiran gue. Semua seperti bisikan-bisikan yang timbul tenggelam. “Berapa anaknya?”, “Kapan punya anak lagi?”, “Bagaimana usaha lu?”, “Kondisi sedang tidak baik.” Dan lain sebagainya.

Kue-kue sudah selesai dibuat. Meja sembahyang mulai ditata rapi. Taplak, buah, bunga sudah mulai ditata. Para majikan mulai membersihkan diri bersiap untuk sembahyang dan tentu saja, obrolan masih terus terjadi.

Bagi gue suara mereka hanya serangkaian backsound dalam pikiran yang ruwet hingga tiba-tiba terdengar celoteh khas Gwat Nio, “Akim[1], Akim…. Gwat Nio boleh tanya?”

Mata gue melirik anak itu waspada. Di saat bersamaan, perempuan yang dipanggil ‘akim’ oleh Gwat Nio menghentikan percakapan dengan Hien Nio dan tersenyum mengizinkan.

“Kenapa Ing Nio punya banyak adik sedangkan Gwat Nio tidak punya kakak juga adik?” Ing Nio adalah sepupu Gwat Nio yang seumuran. Mereka hanya selisih sekian bulan.

“Eh… karena…,” kelihatannya Gwat Nio bertemu ‘korban’ empuk untuk pertanyaan jahilnya. Dia tak bisa menjawab.

“Padahal…. Ketip bilang kalau Apeh dan Abuh tidur berdua dan Gwat Nio tidak ikut tidur bersama mereka, maka Gwat Nio akan dapat adik. Tapi sudah berapa lama Gwat Nio tidur sendiri, Gwat Nio juga juga dapat adik.”

“Kenapa Gwat Nio bertanya itu?”

“Soalnya Gwat Nio ingin seperti Ing Nio. Ing Nio punya adik juga punya kakak. Tapi Gwat Nio tidak punya satu pun,” kali ini ia menjawab dengan muka cemberut nan menyedihkan. Seolah-olah gue dan Hien Nio telah melakukan dosa besar padanya dengan tidak juga memberikan adik.

“Padahal Gwat Nio sudah jadi anak baik juga sudah berdoa setiap malamnya seperti yang Apeh suruh. Gwat Nio sudah bersabar dan menunggu sangaaaat laamaaa…. Sekarang umur Gwat Nio hampir sepuluh tahun tapi satu adik juga belum dikasih.”

Melihat Gwat Nio seperti itu ibarat melihat seorang putri raja yang ditindas oleh raksasa. Dan gue raksasanya. Dia memelas, memohon belas kasihan tapi sang raksasa terlalu kejam untuk melepaskan sang putri.

Lalu mata perempuan itu memandang lurus ke gue seolah-olah menuduh. Rasanya gue dihadapkan pada sebuah pengadilan tanpa ada pengacara membela hak gue sebagai tertuduh.

Hien Nio kalang kabut berusaha menenangkan Gwat Nio yang masih juga memasang wajah memelas. Tapi Gwat Nio tak mempedulikannya, ia masih terus giat merengek, “Jadi Gwat Nio ingin tahu cara Akim kasih adik dan kakak buat Ing Nio. Nanti Gwat Nio kasih tahu Apeh dan Abuh. Biar Gwat Nio segera punya adik.”

Mudah-mudahan rengekan Gwat Nio ini tidak terdengar tabib tua waktu itu. Bisa-bisa dia akan memulai aksinya lagi membujuk gue agar bersedia diperiksa. Tiba-tiba derai tawa terdengar tak lama setelahnya. Tentunya anggota keluarga Ni yang girang menemukan bahan lelucon baru. Malam ini sampai tengah malam tiba, rengekan Gwat Nio mendominasi perbincangan.

-bersambung-

 

%d blogger menyukai ini: