Skip to content

21a – Salim

Bagian satu

Apa yang dikatakan kedua Ong itu rupanya membuat gue sedikit berubah. Kata Hien Nio sekarang ini gue terlalu sensitif dan cepat emosi. Kalau kata Asiu, konsep gue kurang ‘menggigit’ dibandingkan konsep yang pernah dikerjakan sebelumnya. Tiap orang punya versi sendiri, bahkan termasuk Gwat Nio.

Apeh…, kenapa murung? Apa Gwat Nio buat salah? Apeh sedih karena Gwat Nio?” ia berjalan amat pelan menghampiri lalu duduk di sebelah dengan mata terus memperhatikan gue.

“Bukan, Sayang,” sembari berkata gue usap rambut Gwat Nio dan memperhatikan setiap lekuk wajahnya. Anak gue yang manis dan cerdas.

Dahinya belum mulus lagi dengan adanya bekas luka di sana. Tapi lincahnya tetap sama seperti dulu. Kiranya ia tak peduli dengan bekas luka itu. Tidak seperti Hien Nio yang kuatir anak gadisnya tidak akan dapat calon suami dengan luka parut di dahi.

Yang membuat gue murung—menurut penuturan Gwat Nio—jelas bukan masalah parut di dahinya itu. Melainkan ucapan kedua Ong. Kata-kata mereka seperti hantu yang terus mengusik hidup gue. Bahkan, konsep pun terbengkalai karenanya.

Gue pengecut? Kawanan anjing penjilat meneer?

Kurang ajar! Mana pernah ada orang katakan gue pengecut? Cuma Ong satu itu. Dan si Brewok Ong itu lebih kurang ajar. Dianggapnya apa gue ini?!?

Apeh, ayo main. Temani Gwat Nio main,” rajuknya dengan menarik-narik tangan.

Seperti robot, gue turuti keinginan Gwat Nio, berjalan keluar mengikuti langkahnya. Dia membawa gue ke taman belakang, menaiki ayunannya dan berdiri di atas papan dudukan lalu berteriak meminta gue mendorong ayunan.

Ahnia…,” panggil Hien Nio.

Abuh, ayo ikut main.”

Hien Nio menggelengkan kepala, menolak untuk ikut main. Dari wajahnya yang serius, gue kira ada sesuatu penting yang hendak disampaikan. “Toahnia tadi datang. Katanya ingin mengajak Ahnia pergi.”

Apeh mau pergi ke mana?” teriak Gwat Nio semangat, mengira ia juga akan turut bersama gue.

“Dia masih ada?”

Hien Nio menggelengkan kepalanya.

Apeh…, Gwat Nio mau ikut. Gwat Nio mau ikut Apeh.”

“Gwat Nio harus belajar. Jadi di rumah saja temani Abuh.”

“Tapi Gwat Nio ingin ikut Apeh. Biar bisa mengawal Apeh. Jadi Abuh tidak perlu kuatir.”

“Memangnya Abuh menguatirkan Apeh?”

“Kemarin. Dan beberapa hari yang lalu… Gwat Nio dengar Abuh lagi bicara dengan Ketip. Abuh waktu itu bilang sedang cemas karena Apeh sekarang sering melamun.”

Hien Nio tersipu malu saat gue meliriknya. Dasar perempuan satu ini… di umurnya sekarang dan dengan status istri gue masihkah perlu sikap malu-malu seperti itu?

 

Bagian dua

Apeh,” panggil Gwat Nio yang menunggangi kuda bersama gue. Ia berada tepat di depan gue menempel sangat rapat. Tangannya ikutan memegang tali kekang kuda seperti yang sedang gue lakukan.

Dia sangat riang, membuat gue teringat saat Papa mendudukkan gue di pangkuannya sembari menyetir mobil—tentu saja dalam kompleks perumahan yang cukup sepi. Terlebih Gwat Nio berhasil merayu ibunya setelah berjuang lebih dari sebulan agar diizinkan ikut pergi dengan gue dan Ni Hoe.

Kami pergi ke kota itu. Kota di mana gue bertemu Hien Nio pertama kalinya. Kota yang mengubah nasib gue dari si Gagal menjadi menantu keluarga kelas jetset Batavia. Ni Hoe katanya hendak bertemu dengan seseorang di sana yang termasuk rekanan bisnis keluarganya. Ia membawa gue dengan pertimbangan yang mungkin kurang lebih sama dengan Yo Sinshe dulu, menggunakan keahlian komunikasi yang gue miliki.

Hien Nio sendiri, lebih memilih pulang ke rumah ibunya selagi kami pergi. Dengan alasan dia tetap merasa takut pergi ke kota dimana dirinya pernah dilecehkan. Segala bujuk rayu gue tidak mempan jadi lebih baik tidak memaksanya lagi.

Delapan, hampir sembilan tahun yang lalu. Sebenarnya terhitung waktu yang cukup lama untuk melupakan peristiwa naas itu. Suatu saat nanti, biarlah dia sendiri yang memutuskan untuk melepaskan trauma panjang tersebut.

Apeh, ayo kita buat kudanya lari kencang.”

Gue kira Gwat Nio tak hanya cerdas. Dia tergolong tomboi. Apakah gen dalam tubuhnya yang membuat dia jadi seperti itu atau karena dia terlalu dekat dengan gue hingga kelakuannya mirip gue juga Cece? Anak ini sedikitpun tidak mirip dengan Hien Nio kecuali raut wajah yang mungil dan manis itu.

Gue tepuk paha kuda, tidak terlalu kencang namun cukup untuk membuatnya berlari lebih cepat dari sebelumnya. Gwat Nio sangat riang. Ia berteriak meminta gue melakukannya sekali lagi agar kuda bertambah cepat dari sekarang. Ni Hoe hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Bagi orang China, memanjakan anak laki-laki lebih umum dari memanjakan anak perempuan.

“Cara lu berkuda cukup baik, Ahnia. Sejak kapan belajar?”

“Beberapa hari setelah berada di Batavia.”

“Artinya… sekitar belasan tahun lalu?”

Gue anggukkan kepala membenarkan.

Cihu?” Seharusnya gue tidak perlu bertanya. Pasti dia belajar dari mertua atau pesuruh—yang begitu besar jumlahnya dan dia tinggal menunjuk orang terbaik untuk mengajari—karenanya gue tak menunggu jawaban.

“Basa-basi Ahnia hari ini sangat kering.”

Dengan terpaksa gue pamerkan cengiran. Bagaimana tidak kering jika pelayan kedai ini mengira gue ayah dari Ni Hoe dan Gwat Nio adalah cucu gue. Setua itukah gue? Padahal umur gue minus dua ratus!

Terlihat pemuda yang disangka anak gue ini berusaha menahan tawa. Coba bayangkan seorang kapiten yang terhormat membungkam mulutnya agar tidak tertawa. Lucu. Sangat lucu. Tak perlu waktu panjang untuk menarik otot di sekitar mulut dan tenggorokan sebelum tawa gue berkumandang.

“Huahahaha….,” puas rasanya melihat dia seperti itu.

Tawa gue membuat obrolan pengunjung lain berhenti mendadak. Mungkin kaget dan terganggu. Tampang mereka seolah-olah menuduh gue seseorang berumur yang tidak tahu diri, tak ingat anak dan cucu. Terlihat pula gelengan kepala penuh tuduhan. Kelakuan mereka membuat gue serba salah dan terdiam kaku.

Gue diam, pembicaran mereka berlanjut. Saat ini Ni Hoe sibuk dengan Gwat Nio. Syukurlah, dalam perjalanan ini jurus-jurus pertanyaan mematikan ala Gwat Nio tak hanya tertuju ke gue. Ni Hoe bahkan juga tiga anak buah kepercayaan yang berangkat bersama kami tak luput dari sasaran. Mereka pasti sedang sibuk memikirkan jawaban dari serenteng pertanyaan anak gadis gue yang cerdas. Kesempatan langka ini bisa gue gunakan untuk mencuri dengan pembicaraan pengunjung kedai lainnya.

Surat izin yang harus diperbarui adalah topik utama pembicaraan mereka. Rupanya, para meneer menjadikan mereka sebagai sapi perahan. Seharusnya, surat izin hanya perlu dibuat sekali seumur hidup. Tapi di tempat ini, mereka dipaksa membuatnya berulang kali.

Mereka yang ditangkap juga mengalami perlakuan senonoh dan diperlakukan tidak adil. Termasuk keluarganya. Karena masalah ini, banyak orang Tionghoa yang sebetulnya cukup ‘berada’ jadi jatuh miskin.

Masalah seperti itu nantinya tak hanya gue dengar dari tempat kami istirahat sekarang. Di desa-desa berikutnya gue dengar problem serupa. Lagi dan lagi.

Tak ada yang menolong mereka. Karena kapiten rasiden terdekat tak punya tanggung jawab dan wewenang mengatur orang-orang yang tinggal di pedalaman. Selentingan yang terdengar telinga gue, mereka menyebut para kapiten dan letnan adalah anjing yang menjilati pantat meneer.

Gue harap selentingan ini tidak sampai ke telinga Ni Hoe dalam kurun waktu perjalanan ini. Gue tak ingin emosinya membludak. Karena alasan itu pula, menyamarkan identitas Ni Hoe sebagai kapiten gue kira juga pilihan yang tepat. Kedekatan kapiten dengan meneer—sehingga bisa mendapat jabatan itu—takutnya akan membawa masalah tak baik bagi kami di pedalaman seperti ini.

Apeh…,” panggil Gwat Nio terdengar lirih di telinga gue.

“Dengar, Sayang… selama perjalanan ini kita bermain-main, setuju?”

Dia terlihat tertarik sehingga gue langsung menjelaskan, “Panggil Toaku[1] dengan ‘Apeh’ dan panggil Apeh, ‘Guakong[2].”

“Kenapa, Apeh?”

“Main. Kalau salah sebut ada hukumannya.”

“Apa hukumannya?”

“Em…,” gue biarkan Gwat Nio penasaran. Gue tetap pura-pura memikirkannya dengan serius.

Apeh…, apa? Apa hukumannya? Kenapa diam?” Lihat. Dia mulai resah.

“Buat puisi.”

Dia mengangguk bersemangat. Tentu saja. Gwat Nio paling suka hal-hal seperti itu. Cerita, puisi dan bentuk-bentuk tulisan lain. Untuk hal ini, anak gue seperti gadis-unik dan… Lala. Apakah Gwat Nio adalah Lala atau gadis-unik di masa depan?

 

Bagian tiga

Ternyata alasan lain Ni Hoe mengajak gue pergi adalah dalam rangka berbaik hati mengenalkan gue pada rekanannya. Ia sungguh mulia di mata gue dengan berharap hubungan mereka membantu bisnis konsultan itu.

Nama orang yang dikenalkan ini aslinya Lim Boen Liang namun kemudian mengambil nama Muhamad Salim. Penampilan dan gayanya nyaris tidak terlihat orang Tionghoa. Mungkin lebih mirip dengan orang Jawa. Nyaris sempurna kecuali garis mata dan warna kulitnya yang tak bisa menipu.

“Dua anak buah kepercayaan adik ipar gua ini orang Bali. Budak yang dibebaskannya,” sahut Ni Hoe. “Gua kira kalian cocok sebagai teman.”

Tak lama, Ni Hoe berdiri dan pamit. Ada urusan lain menantinya dan ia meninggalkan gue pada Salim. Pembicaraan kami pun berlanjut setelah kepergian Ni Hoe. Tentang bisnis, daya tarik kota pelabuhan itu, wisata pegunungan di Selatan kota dan masih banyak lagi.

“Enru,” panggilnya. Dia satu-satunya orang yang memanggil Enru di umur gue sekarang. Dulu pun seingat gue hanya Yo Sinshe dan Peng Guan yang melakukan.

Di usianya yang mendekati kepala empat, gue akui dia memiliki kedewasaan dan suatu kharisma. Tutur kata dan gerak-geriknya mengingatkan gue pada priyayi keratonan.

“Pribumi dan Tionghoa tak seharusnya bermusuhan,” kata Salim.

Entah apa pembicaraan kami pada mulanya hingga kalimat ini bisa tercetus dari mulut dia. Mungkin karena sebelumnya gue ceritakan pembantaian yang terjadi di bulan Mei, yang menelan jiwa Papa sebagai salah satu korban kebrutalan. Atau mungkin cerita tentang ejekan teman-teman di dekat rumah gue dulu. Cina! Sipit! Pelit! Atau… karena cerita-cerita lainnya.

“Dalam banyak masalah, yang patut disalahkan ada dua faktor. Pengadudombaan oleh meneer dan saling ketidakpercayaan sesama orang Timur,” katanya. Tidak di hari yang sama.

“Banyak usaha pengusiran gagal karena kurang kekompakan dan saling percaya. Hal yang sangat disayangkan, bukan?” katanya lagi, di kemudian hari.

Entah mengapa gue merasa setiap kata yang diutarakannya ditujukan untuk membujuk agar mengadakan perlawanan. Seiring waktu, jantung gue bergemuruh tak menentu.

Sejarah negara ini katanya dijajah selama kurang lebih tiga abad. Ini abad ke dua. Apa mungkin sejarah bisa berubah? Kalau sejarah berubah bukankah masa-masa berikutnya juga turut berubah? Kalau demikian, nasib semua orang berubah dan mungkin… gue tidak akan lahir sebagai Enru Tirtonegoro.

“Kenapa?” tanya gue dalam nada tertahan.

“Maksudnya?”

“Apa tujuan pembicaraan kita selama ini? Apakah ini maksud Ni Hoe mengajak gue menemui lu?”

Dia menggelengkan kepalanya. “Dia… tak boleh tahu.”

“Lalu mengapa lu bicarakan ini dengan gue? Apakah tidak takut gue laporkan pada meneermeneer itu?”

Sekali lagi dia menggelengkan kepalanya. Sikapnya seolah-olah bisa mengerti hati gue. Atau mungkin benar, ia bisa menerka tindakan gue, bahwa gue tak mungkin melaporkan.

“Pertama kali bertemu dan kita bicara, kurasa kau bukan penjilat meneer. Kedua… kamu tidak suka dengan kelakuan meneermeneer itu.” Dia diam sampai gue hendak bicara malah memotong dengan melanjutkan kata-katanya, “Kalau tidak suka mengapa tidak melawan?”

“Lu juga. Mengapa tidak memulai?”

“Aku bukan perencana yang baik. Tidak sepertimu yang mengatur rencana penjualan beragam usaha sekaligus.”

Gue tersenyum menjawabnya. “Nah, karena itulah. Gue ini hanya tahu strategi penjualan. Bukan ahli perang.”

Kali ini dia tersenyum dengan menggelengkan kepala perlahan. “Penjualan dengan hal ini, perbedaannya tidak terpaut jauh. Aku yakin kecerdasanmu itu sebenarnya bisa mencerna dengan baik. Yang kau butuhkan hanya keyakinan.”

Sial! Mengapa harus membujuk gue melakukan hal seperti itu? Gue tidak takut pada meneermeneer itu. Hanya ragu dengan efek yang dihasilkan terkait sejarah pun masa depan.

-bersambung-

Catatan kaki:

  1. Toaku: paman, kakak pertama dari ibu.
  2. Guakong: kakek, dari pihak ibu.
%d blogger menyukai ini: