Skip to content

2 – Peng Guan

Bagian satu

Mungkin Peng Guan lugu atau tidak tahu bahaya hingga membiarkan gue menginap di rumahnya. Atau bisa jadi orang-orang di masa ini tidak ada yang berburuk sangka seperti masyarakat di tempat yang sama ratusan tahun kemudian.

Sambil menyantap bubur nasi yang disodorkan, gue sibuk menikmati isi rumahnya. Salah satu saja barang di sini dibawa ke tahun dua ribuan masehi lalu dijual, berapa banyak uang yang bisa dihasilkan? Barang itu pasti dimasukkan dalam kategori antik walaupun saat ini Peng Guan hanya menganggapnya sebagai barang biasa. Gelas keramik, mangkuk, sendok, sumpit. Setidaknya gue bisa dapat jutaan rupiah. Relakah dia jual ke gue kalau bisa pulang nanti?

Habis sudah mangkuk pertama tapi perut tidak merasa kenyang. Porsi makan gue tergolong besar seperti dua porsi nasi padang bersama tiga jenis lauk sekaligus. Namun sekarang harus menikmati bubur nasi yang encer—hanya satu mangkuk pula—ditemani seiris ikan asin. Rasanya mereka hanya untuk membasahi mulut dan kerongkongan.

“Ada lagi?” tanya gue kemudian dengan wajah dibuat selugu mungkin. Memelas kalau perlu.

Rasa malu itu ga penting. Yang terpenting adalah perut gue bisa nyaman. Setelahnya, cara pulang mungkin bisa terpikirkan.

Untung saja orang bernama Peng Guan ini cukup baik. Dia ambilkan lagi bubur di dapur walaupun gue tahu, wajahnya itu berkerut tanda tak suka. “Bo li mao[1]!” cetusnya terdengar lamat di telinga dan sengaja gue acuhkan.

Gue menantikan mangkuk bubur kembali datang dengan tidak sabar. Gue sudah bilang tadi kalau amat sangat lapar. Begitu laparnya hingga seandainya saja ada pasta, akan gue habiskan tiga porsi sekaligus. Ah… mengatakan pasta membuat gue merindukan makanan itu, pasta yang dimasak pacarku. Apakah di Batavia ada penjual pasta? Orang-orang kompeni itu makan pasta?

Bunyi sumpit yang gue adu ke meja layaknya aksi pemain drum profesional berkumandang. Menunggu bubur keluar dari dapur rupanya cukup makan waktu membuat usil menyabotase. Tak peduli betapa ributnya suara yang timbul, gue terus mengadu sumpit sampai akhirnya Peng Guan keluar dari dapur.

Matanya menatap tajam sembari membawa semangkuk penuh bubur. Selagi itu, gue terbeliak riang melihat barang yg dibawa. Sumpit gue lepas—atau mungkin gue lempar—sedang mangkuk itu disambut dengan riang.

Waktu Peng Guan masak bubur tadi, gue sempat mengintip. Dapurnya jauh berbeda dari dapur rumah gue. Bahkan lebih sederhana dari dapur di rumah eyangnya teman di daerah pedalaman sana.

Dapur di rumah gue didandani sangat cantik dan dipajang pada bagian tengah rumah, dekat dengan ruang TV yang merangkap ruang tamu. Pacar yang mengatur tata letak seperti itu karena memang dibeli untuk rumah masa depan. Sementara ini, gue yang tinggal di sana—terkadang pacar juga menginap sih.

Standing cooker dilengkapi oven bertengger di bagian tengah dapur ditemani cooker hood. Kompor seperti ini  gue beli karena tuntutan pacar yang hobi masak. Belum lagi keberadaan kulkas model side by side memanjakan kegemaran gue minum air es.

Sedangkan di sini, gue hanya melihat tungku batu sebagai kompor dan kayu sebagai bahan bakar. Kemudian beberapa panci dan sebuah ceret tembaga juga tanah liat yang menghitam oleh jelaga tergeletak di dekat tungku. Tidak ada kulkas, oven, cooker hood, microwave, coffee maker dan juicer. Bahkan ketika melayangkan pandangan ke segala arah, hanya bisa ditemukan beberapa piring, mangkuk dan cangkir keramik China teronggok di atas meja bersama sumpit ditemani sendok.

Dapur ini terletak di bagian belakang rumah terpisah dari rumah utama. Gue ga bisa bayangin kalau ada hujan badai; bagaimana cara agar dia bisa membawa masakan tanpa tambahan air hujan dalam perjalanan dari dapur ke dalam rumah.

Dan melihat bagaimana cara Peng Guan menyalakan kompornya tadi, bikin gue sadar bahwa penemu kompor gas benar-benar mengubah zaman. Ia telah mengubah segala keruwetan yang harusnya gue alami hanya untuk menjerang air untuk masak mie instan di malam buta.

Coba bayangkan kalau hanya untuk buat mie instan, gue harus membuat api dari gelondongan kayu. Berapa lama aku harus menggosok sampai api menyala? Kemudian harus mengipasi agar api tak mati pula. Repotnya sungguh tak terbayang. Sayang, gue enggak tahu pada siapa ucapan terima kasih patut disampaikan.

Kembali ke rumah Peng Guan, model bagian luar sudah gue sebut tadi bahwa bentuknya perpaduan gaya China dengan Eropa, tepatnya Belanda. Sedangkan di dalam sini, unsur kechina-chinaan jelas terlihat. Apalagi menghadap lukisan dewa yang berada di atas altar persembahan.

Sepasang lilin merah berdiri di atas meja altar. Dilengkapi sebuah wadah hio yang terbuat dari keramik berbentuk bulat sempurna. Cantik namun sederhana. Selain itu, tampak pula sesajian berupa buah-buahan dalam sebuah piring. Namun gue terlalu tolol dan malas untuk tahu nama dewa di gambar itu. Biasanya gue selalu bisa tanya ke Gadis-unik. Untuk hal seperti ini, tak butuh waktu lama, jawaban pasti sudah gue dapat darinya.

Demikian juga perabotan rumah ini buat gua serasa di dalam jalinan kisah Wong Feihong. Contohnya, gue pernah lihat meja dan kursi tempat kami duduk di film China klasik. Apalagi ditemani oleh laki-laki ber-taucang.

“Kau orang mana?” tanya Peng Guan sembari memperhatikan cara makan gue.

“Indonesia, Jakarta,” jawab gue seadanya dan baru tersadar sesaat kemudian. Terminologi Indonesia juga Jakarta belum ada di masa ini kan? Sial! Bagaimana cara menjelaskan pada orang ini tentang asal usul gue?

“Di mana?”

Ganti gue yang mengeryitkan alis. “Di masa tiga ratus tahun yang akan datang, kira-kira tempat lu berdiri sekarang.”

Kembali Peng Guan yang harus merasakan tidak nikmatnya rasa bingung. Oh Tuhan, sebenarnya gue juga bingung, pusing. Stres!

Gue kira bingungnya sudah dilupakan sehingga bertanya lagi, “Bajumu…?”

“Di tempat gue, ini wajar. Gue pakai baju seperti ini hampir setiap hari. Bahkan ke gereja juga sama.”

“Lu bukan orang Tiongkok? Apa lu keturunan Portugis?”  gue kira dia bertanya seperti ini karena tadi gue bilang tentang ‘ke gereja’. Apa muka gue ada muka bule? Perasaan muka gue ‘terlalu cina’—seperti ejek rekan taekwondo kala masih SD dulu.

“Leluhur gue dari Tiongkok,” jawab gue di sela makan bubur, “tapi pernah peraturan pemerintah gue melarang segala hal yang berbau Tiongkok. Maka, banyak orang yang sudah lahir kala itu berbondong-bondong pindah agama, termasuk Papa.”

“Rambutmu?”

“Di tempat gue tidak ada yang mengepang rambut. Mayoritas rambut laki-laki pendek,” gue mana sadar kalau kata ‘mayoritas’ mungkin belum dikenal di masa ini. Ketika Peng Guan kembali mengeryitkan dahi, barulah gue merasa mungkin ada kata-kata yang kurang pas.

“Apakah pemerintahan tidak pernah ‘mengganggu’ kalian karena masalah tauchang?”

Gue gelengkan kepala bingung. “Memangnya kenapa harus ber-tauchang?”

“Khek,” katanya dengan tangan bergerak seolah-olah memotong lehernya sendiri.

Yang gue pernah tahu rambut kepang pada laki-laki seperti rambutnya itu adalah bentuk penghinaan pemerintahan Qing yang berasal dari Manchu pada Han, etnis mayoritas China. Gue beneran ga tahu bahwa tidak mengepang rambut adalah bentuk kejahatan. Sampai… kena hukum penggal? Terus terang gue ga ada minat sama sejarah seperti gadis-unik.

Dia terdiam karena jawaban itu. Diam yang aneh. Diam yang bukan berarti pertanyaan telah usai. Orang itu hanya bingung mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan lain dari benak.

Dalam diam itu, gue melihat suatu keganjilan pada rambutnya. Puncak kepala Peng Guan tertutup topi kain hingga tak terlihat. Tapi di dekat kuping, jelas kelihatan rambutnya tidak seperti yang kulihat di film-film China dengan setting dinasti Qing macam Fong Sai Yuk dimana rambut dimulai dari belakang kuping. Pada Peng Guan, di atas kuping ada rambut yang ditariknya ke belakang.

“Rambut lu…,” kata gue sambil menunjuk rambut di dekat telinga.

Dia terlihat sibuk menutupi dan tak menjawab sepatah katapun. Gue mendadak tersadar bahwa berikutnya pertanyaan itu tak perlu lagi diajukan atau diusir sebelum mendapatkan jalan pulang.

Bagian dua

Tiga hari ini gue sudah mengelilingi ladang tebu rausan kali tanpa mendapatkan hasil sedikitpun. Bahkan tempat awal gue tiba di abad ini juga tidak jelas.

Setiap milimeter ladang terlihat sama dan tak ada jejak yang tertinggal waktu itu. Atau mungkin jejak gue terhapus oleh debu dan jejak bendi pun kuda? Apalagi hampir setiap hari tanah ini diguyur hujan.

Berdasar jawaban Peng Guan, sekarang sudah akhir bulan ke sembilan dalam tanggalan Tionghoa. Artinya, dalam tanggalan masehi antara bulan September sampai awal Oktober. Memang sudah masuk musim hujan.

Melirik ke atas, di sebelah selatan, awan hitam mulai datang. Sekalipun ga bisa meramal, gue yakin hujan telah mengguyur kawasan Selatan, mungkin di sekitar kawasan Bogor atau Depok … Atau Kebayoran Lama. Dan perlahan, angin lembab menghampiri dan membelai kulit dengan lembut membuat gue teringat Lala—pacarku.

Ga tahu kenapa gue semakin rindu Lala. Celoteh dia yang kadang mengganggu konsentrasi yang bikin gue kangen. Dan rasa itu ternyata membangkitkan semangat untuk segera menemukan jalan pulang. Setelah menghirup udara dalam-dalam, gue kembali menelusuri ladang tebu dan mengingat-ingat semua tentang malam itu.

Dalam film fiksi ilmiah yang pernah gue tonton, pasti ada suatu pemicu terjadinya perpindahan masa. Medan energi, suatu benda sebagai kunci atau entah apalah itu. Dan gue  yakin, jikalau bentuknya medan energi, pasti ada bekas di tempat yang pernah dihinggapi medan energi besar yang sanggup memindahkan seseorang ke masa ini. Atau jika bentuknya kunci, harusnya ada benda tersebut di sekitar tempat gue ‘jatuh’—atau entah bagaimana tepatnya pendaratan.

Itulah yang gue cari.

Bagian tiga

Terduduk lesulah gue di pematang ladang. Sembari membuang waktu, kaki yang kram karena lelah mengelilingi ladang gue pijat sambil sesekali melirik pakaian yang melekat. Semuanya benar-benar bikin gue frustasi.

Pakaian ini milik Peng Guan karena baju gue belum kering dijemur setelah dicuci kemarin—hujan yang datang berjam-jam penyebabnya. Tentu saja semua baju-baju Peng Guan bergaya tangzhuang termasuk yang dipinjamkan ini. Dan sepatu gue ini adalah sepatu kets kebanggaan yang kini berlumur lumpur. Alis gue berkerut menatapnya. Jijik, kesal dan jengkel.

Tapi sebenarnya masalah baju-aneh-tak-karuan ini tidak begitu penting. Sesuatu yang benar-benar mengganjal pikiran gue adalah Mama, Lala dan pekerjaan. Pakaian bisa jadi hanya kambing hitam atas kekalutan saat ini.

Setelah Papa meninggal dalam peristiwa kerusuhan Mei, kemudian Cece menikah dan tinggal di luar negeri, Mama selalu tinggal dekat dengan gue. Meskipun kini gue tidak lagi tinggal serumah—rumah kami berdekatan dan hanya terpaut beberapa rumah saja dari rumah yang gue tinggali sekarang. Saat ini, dia pasti sangat kuatir.

Lalu Lala? Pacar gue itu mungkin cemberut kesal—atau mungkin melancarkan aksi mengambek—karena tidak dijemput malam minggu kemarin. Padahal sedianya kami akan pergi merayakan ulang tahun eyangnya ke delapan puluh tahun.

Lalu kerjaan, ah… entah Pak Bos sudah mulai menulis surat pemecatan atau masih adem ayem. Padahal karir gue saat ini sedang bagus-bagusnya. Semuanya berantakan dalam sekejab.

Kesal! Siapapun yang buat gue mengalami hal ini, gue benci! Benci! Benciiii!!! Argh…. Gue cabut rumput berikut akar untuk melampiaskan emosi. Tak hanya serumpun. Beberapa rumpun lainnya juga gue cabut dan cabut. Gue terus mengulangnya berulang kali. Mungkin kekanak-kanakan. Tapi siapa peduli? Gue butuh pelampiasan.

Dulu, ketika kesal, gue buka laptop. Dari main game online sampai membuat suatu desain yang pada akhirnya hanya untuk memenuhi wall pada Facebook ataupun Linkedin maupun Instagram dan sejenisnya. Tapi di sini, tak ada laptop bahkan ponsel canggih. Dan ponsel CDMA—satu-satunya benda berteknologi yang terbawa—telah mati sejak pagi di hari pertemuan pertama dengan Peng Guan.

Bagian empat

Gue masuk dengan membanting pintu setelah putus asa seharian ini. Gue beneran ga sadar kalau pemilik rumah sudah pulang. Dia berdiri dan menghampiri dengan langkah seperti anggota mafia yang wilayah kekuasaannya dimasuki oleh pihak geng musuh. “Lu mau rusak rumah gua, hah?!?”

Seruan itu membuatku teringat bahwa saat ini gue sedang menumpang di rumah seseorang yang belum lama datang ke Nusantara. Bahasa campur-aduk ala Peng Guan yang telah menyadarkanku. “tui bhe khi[2],” jawab gue seadanya.

Dialek Hokkian memiliki beragam tarikan dan subdialek. Dialek yang digunakan Peng Guan ini tidak sama dengan dialek Hokkian di keluargaku. Karena dialek yang  gue gunakan tak lagi murni dialek Hokkian—sedangkan dialek Hokkian sendiri terbagi menjadi beberapa ragam.

Sebagai tambahan, leluhur gue datang ke Indonesia dan langsung menetap di pulau Jawa. Asimilasi budaya tanpa sadar selama beberapa generasi, membuat dialek kami banyak mengalami perubahan. Apalagi gue memang tidak terbiasa bicara dalam dialek Hokkian. Jadi bayangkan saja betapa hancurnya dialek Hokkian gue di mata orang itu.

Sebab itu, sekarang Peng Guan terdiam. Ia masih berusaha keras menafsirkan jawaban tadi. Padahal yang gue katakan sangat sederhana. Hanya sebuah ungkapan permintaan maaf saja.

Di saat yang sama, tanpa menunggu aba-aba dan seruan apapun lagi,  gue hempaskan pantat ke kursi rotan di ruang tengah. Hembusan nafas lelah terdengar di telinga gue sendiri berselang beberapa detik setelahnya.

Penyebutan ruang tengah memang tepat karena ruangan benar-benar berada di tengah rumah. Dia diapit oleh kamar tidur di sisi kiri dan ruang makan di sisi kanan. Hanya seluas itulah rumah Peng Guan di tambah tiga bilik kecil di halaman belakang rumah. Satu untuk mandi, yang satunya untuk buang air sedang yang terakhir berfungsi sebagai dapur.

“Sia-sia lagi?” tanya Peng Guan.

Gue anggukkan kepala sebagai jawaban.

“Mengapa lu bersikeras ingin segera pulang?”

Gue tolehkan kepala ke arahnya dengan tampang tidak percaya. “Bagaimana tak ingin pulang? Di sana menanti Mama dan Lala,” gue beneran ga sadar bahwa nada yang digunakan sangat tinggi seperti orang marah. Gue memang stres mungkin nyaris gila.

Orang itu terdiam karena seruan gue. Dari wajahnya, bisa terlihat beragam perasaan di sana. Apakah ia juga punya keluarga yang dirindukan? Ataukah jawaban tadi telah melukai dia?

“Seandainya saja ada yang bisa gua rindukan. Seandainya ada orang yang cemas akan kehidupan gua…,” mendung bergelayut di mata yang biasanya keras menusuk. Jika gue seorang pengarang, akan gue tuliskan ribuan kata untuk melukiskan perasaan dan menerka pengalaman hidupnya.

Ketika gue melirik ke tempat ia berdiri tadi, Peng Guan sudah tak terlihat. Mungkin sudah masuk ke dalam kamar tidur, satu-satunya ruangan yang tidak boleh gue masuki.

Perhatian gue beralih pada meja kayu di sudut ruangan. Itu adalah tempat ia menyimpan tinta dan kuas. Gue memang ga biasa pakai tinta China dan kuas untuk menggambar. Biasanya gue pakai pensil; beraneka ragam, dari tipe HB sampai 8B.

Tinta itu berada dalam guci yang dihias dengan sulur-sulur, sangat cantik. Gue tuang tinta pada bak batu, memilih kuas terkecil lalu gue gambar Peng Guan dalam gayaku. Bukan lukisan klasik China, lebih mirip karikatur. Mata yang tajam namun sendu. Wajah yang tegas penuh misteri tetapi merindukan kehangatan.

Sayang, gue ga tahu kalau baki, tinta, kuas dan kertas adalah hukum wajib bagi sastrawan China Klasik. Seandainya tahu, mungkin gue tidak perlu waktu lama untuk menebak asal-usulnya sebagai seorang sarjana alias seseorang yang terpelajar.

Malam terus beranjak selagi gue sibuk menggambar. Di luar, hujan dan angin yang berhembus dari kisi-kisi membuat nyala api lilin berpendar dan menari. Beberapa hari di masa ini sudah cukup untuk membuat gue terbiasa dengan penerangan lilin yang kadar terangnya jauh di bawah lampu neon.

Bagian lima

Malam berlalu tanpa ada makan malam. Gue sebenarnya bisa masak satu atau dua jenis masakan. Masalahnya kompor kayu itu, gimana cara nyalain? Berulang kali sudah berusaha dan hasilnya hanya jelaga yang menghantam wajah sedangkan tanda kayu dilalap api tak terlihat sedikitpun. Parah!

Mie instan tak tersedia dan tak satupun penjaja keliling melewati rumah ini. Benar-benar rumah terpencil. Peng Guan memang benar-benar keterlaluan. Apakah ia tidak pernah menyediakan kue dan keripik di rumah? Atau di masa ini keripik atau kue-kue kering belum dikenal? Tak mungkin separah itu! Di film-film China yang ber-tauchang, gue melihat aneka ragam cemilan.

Perut tidak kenyang, mata pun tak mau dipejamkan membuat gue dilanda kantuk luar biasa pagi ini.

“Ikut gua!” seru Peng Guan terus melintasi ruangan dan keluar ke kandang kuda yang sampai saat ini gue kira miliknya—padahal kedua kuda tersebut milik Yo Sinshe[3].

Gue ikuti langkah kakinya lalu berdiri terperangah mendengar dia menyuruh gue naik salah satu kuda. “Gue ga bisa naik kuda.”

Waktu kecil, Papa pernah memboncengkan gue naik kuda. Selain itu, gue juga pernah naik tanpa beliau, tapi ada pemiliknya yang menuntun langkah kuda mengelilingi taman hiburan. Dan ingat, kedua kuda itu termasuk jenis kuda kecil, semacam kuda poni—mungkin atau bukan. Gue tidak paham jenis-jenis kuda.

Sedangkan kuda yang berdiri di hadapanku ini termasuk jenis besar. Dan gue harus naik itu sendiri. Kalau kuda besi, gue berani. Bahkan mengebut di jalan ramai bagi gue pun tak masalah.

Peng Guan berdiri melotot. Mungkin karena waktu mendesak akhirnya ia mengalah dengan membiarkan gue ikut naik di kudanya. Namun dalam saat yang sama, terdengar dia mengejek, “Memalukan, seorang laki-laki dewasa tak tahu bagaimana cara menunggang kuda.’

Jelas kuping gue memerah. Tapi gue ga mau menghabiskan waktu dengan menjelaskan bahwa di masa depan menunggang kuda bukan keahlian wajib karena ada kuda besi dan mobil yang nyaman ditumpangi untuk berpergian.

Bagian enam

Sebuah tembok benteng batu menyambut kedatangan kami. Kata Peng Guan, kota dalam benteng inilah yang disebut kota Pa Shnia. Sebuah kota yang dibanggakan oleh para meneer dengan julukan ‘Ratu dari Timur’.

Beberapa saat lamanya gue pandangi bangunan benteng. Antara kagum, benci dan entah perasaan apalagi di hati ini. Benteng itu milik kompeni dimana dalam pelajaran sejarah saat sekolah dulu disebut-sebut telah menguras harta tempat gue lahir dan dibesarkan. Tapi tak dapat dipungkiri, benteng tersebut begitu gagah dan pasti membuat gue berdecak kagum.

Di hadapan gue ini terlihat tiga bastion. Pada setiap bastion, terdapat prajurit yang senantiasa berjaga. Dan mereka tidak seperti prajurit dalam bayangan gue selama ini.

Waktu pelajaran sejarah dulu gue kira, karena Batavia dikuasai oleh Belanda maka prajuritnya adalah orang Belanda. Ternyata tidak seperti itu. Sebagian dari mereka berkulit gelap dengan wajah mengingatkan gue pada aktor Amithab Bachan atau Sahruk Khan. Ada juga yang mengingatkanku pada penyanyi Andre Hehanusa.

Holana[4] mengambil tentara dari wilayah Timor dan India selain orang-orang mereka sendiri,” keterangan dari Peng Guan menjawab penasaran gue tanpa perlu bertanya. Tapi… dia sebut holana?

Holana?” tanya gue bingung. Peng Guan terdiam. Mungkin dia sibuk mencari sesuatu untuk memberikan penjelasan. “Lihat itu!” serunya menunjuk sesaat pada kompeni.

Holana adalah kompeni? … Ho… la… na…. … Holland? Gue langsung melongo begitu bisa memahami maksudnya.

Pemandangan yang tadi gue lihat rupanya juga ada di pintu besar. Beberapa prajurit terlihat berjaga mengawasi orang yang lalu lalang. Satu hal yang membuat gue bertanya-tanya adalah amat jarang orang Jawa memasuki kota.

Begitu kami tiba di muka pintu gerbang, Peng Guan menyuruh gue turun dari kuda. Ia sendiri juga turun dan berjalan kaki menuntun kuda memasuki gerbang kota. Mereka, para prajurit itu tidak terlihat akan menghalangi kami. Orang-orang itu hanya berdiam di posisinya sembari sesekali melirik dengan tatapan nakal pada budak perempuan pun nona yang keluar atau masuk ke dalam kota.

Peng Guan menyuruh agar menahan tawa ataupun mengeluarkan komentar tak perlu. Gue menurut karena tak berminat mencari masalah. Hei, gue masih ingin pulang ke masa depan dengan selamat! Sungkan gue merasakan deraan cambuk atau hukuman apapun karena kesalahan macam itu.

Maka,  gue nikmati saja semua pemandangan yang tersaji di hadapan. Dan nanti, setelah pulang, pasti gue akan cerita ke gadis-unik. Rasanya senang membayangkan bagaimana dia cemburu pada pengalaman gue.

Masuk ke dalam kota dan makin melangkah ke dalam, menyusuri tepi bangunan rumah sakit, tersaji sebuah kanal besar yang membelah kota menjadi dua bagian, barat dan timur. Bagian timur nampaknya mayoritas dihuni oleh orang Belanda. Sedangkan bagian Barat menurut Peng Guan dihuni oleh suku bangsa lainnya.

Orang ini juga tidak alpha menyebut bahwa orang-orang China bebas tinggal di mana pun asalkan mereka mampu membayar pajak yang dikenakan. Padahal beberapa hari yang lalu dikatakannya  Yo Sinshe tinggal di bagian timur kota Batavia. Dengan kata lain, Peng Guan sekaligus menyiarkan bahwa majikannya sangat kaya hingga dapat membayar kompeni demi mendapatkan izin tinggal di bagian timur.

Dari gelagatnya, kesimpulan gue Peng Guan berniat membawa gue bertemu bosnya. Entah apa tujuan orang itu. Mungkin dia merasa perlu memberitahukan bosnya ada yang menumpang tinggal di rumah itu.

Bagian tujuh

Cukong bermarga Yo itu memandang gue dari atas ke bawah tak beda jauh dengan cara Peng Guan di awal pertemuan kami. Namun kali ini seperti sedang dinilai layak dibeli atau tidak. Padahal gue jelas bukan budak.

Selagi merengutkan wajah sambil merancang kata untuk protes, ia bertanya dalam dialek Hokkian. Kira-kira artinya seperti ini, “Rambut?”

Lagi-lagi pertanyaan yang sama. Memang, rambutnya tak beda jauh dengan Peng Guan. Ada tauchang di belakang kepala menjulur sampai menyentuh pinggang. “Di tempat gue ga ada yang pakai tauchang. Dan sebagai pemberitahuan, gue datang bukan untuk menjadi budakmu. Gue tersesat! Setelah menemukan jalan pulang, gue pasti pergi dari sini.”

Orang itu tertawa terbahak-bahak. Ia bangkit berdiri sembari mengisap cangklongnya. “Dia kemarin cerita bahwa rumahnya kedatangan orang aneh. Rupanya memang benar.”

Gue dibilang orang aneh?

“Dari mana asal lu?”

“Jakarta.”

“Di mana Jakarta? Mengapa gua belum pernah mendengar nama itu sebelumnya?” dikatakan olehnya dalam bahasa Melayu campur Portugis dengan dialek Hokkian. Pusing? Gue lebih pusing.

“Pokoknya suatu tempat yang jauh dari sini,” ujar gue antara tak peduli dan malas menjawab.

“Lalu bagaimana lu bisa sampai di sini?”

“Seandainya gue tahu, mencari jalan pulang pasti lebih mudah.”

Wajahnya itu tampak tertarik mendengarkan kisah gue. “Seingat saya waktu itu sedang mabuk karena terlalu banyak minum. Barang-barang hampir semua hilang. Sepertinya saya bertemu perampok.”

“Di luar Pa Shnia memang banyak perampok,” komentar dia kemudian.

Gue mengangguk membenarkan kata dia. Toh rumah dan kantor gue berada di luar sebuah tempat yang di masa ini disebut kota Batavia. Namun di abad ke-21, Kota Tua juga merupakan tempat yang tidak lolos dari penjahat. Setidaknya copet pun bisa ditemukan di sana.

Bicara dengan Yo Sinshe ternyata lebih baik dibandingkan dengan Peng Guan. Orang ini sekalipun sangat kaya, perilakunya tidak menampakkan kesombongan. Namun, sekali bertemu dengannya, semua orang pasti bisa merasakan wibawa melekat pada pembawaan Yo Sinshe. Karena itulah gue terbawa bicara padanya dengan bahasa santun.

Sedangkan Peng Guan di mata gue adalah seorang laki-laki di usia pertengahan tiga puluhan yang misterius. Dan kemisteriusannya itu buat gue merasa tidak nyaman. Bayangkan… beberapa hari tinggal di rumah dia juga tidak pernah melihat orang ini melepas topi kainnya. Gue beneran curiga dengan apa yang disembunyikannya di balik topi itu.

“Apa yang lu kerjakan di sana?”

“Membuat iklan.” Bagaimana cara menjelaskan soal iklan pada orang yang lahir tiga ratus tahun sebelum gue lahir? “saya membuat gambar tentang suatu barang… misalnya gula tebu Yo Sinshe agar tambah laris.”

Entah sungguh-sungguh mengerti atau ingin terlihat cerdas, komentarnya hanya anggukan. Lalu diisapnya cangklong sekali lagi sebelum akhirnya suara dia membuat gendang telinga gue beresonansi. “Bagaimana cara lu bisa memastikan gambar yang kamu buat itu membuat… tebu gua jadi tambah laris?”

“Tentu saja kami tidak sembarang buat. Sebelum saya menggambarnya, beberapa teman akan menanyai para pembeli tentang berbagai hal berkaitan dengan barang itu. Bahkan kami juga menanyai pendapat mereka terhadap barang sejenis.”

“Sejenis?” matanya menatap lurus.

Sejenis… Bagaimana cara gue menjelaskan kata ‘sejenis’?

“Maksud saya selain Yo Sinshe, di Batavia pasti ada penghasil gula lainnya. Adalah gula dari pengusaha lain yang disebut dengan barang sejenis.”

Kembali ia menganggukan kepala perlahan. Dan sekali lagi asap dari pembakaran tembakau mengepul dari cangklongnya.

Tidak tahu bagaimana sampai akhirnya pembicaraan kami kemudian mengarah pada bidang bisnisnya. Semua mengalir tanpa sekat. Dan ia nampak tidak mempermasalahkan dengan bahasa gue yang serba canggung—Melayu bukan, Hokkian bukan—ini. Sesekali ia tertawa dan memberikan komentar atas apa yang gue katakan. Tak jarang pula orang ini membenarkan intonasi dialek Hokkian yang menurutnya hancur berantakan.

Setelah pembicaraan panjang ini usai, siang mulai beranjak mendekati sore. Di langit, awan hitam dan tebal kembali bergantung menaungi kota Batavia.

*#*#*

 Catatan Kaki:

  1. Bo li mao: tidak punya tata krama
  2. Tui bhe khi: maafkan saya
  3. Sinshe: Tuan; orang yang ahli di bidangnya.
  4. Holana adalah dialek Hokkian untuk penyebutan Belanda
Iklan
%d blogger menyukai ini: