Skip to content

18 – Perampok Bermarga Ong

Bagian satu

Pagi-pagi gue sudah pergi. Kemana lagi kalau bukan untuk menghantar Peng Guan ke pelabuhan. Ini saat yang dinanti cukup lama, melihat satu demi satu orang yang pernah menghancurkan usaha gue dan membuat kaki Asiu cacat jatuh ke dalam liang keputusasaan dan terpuruk di sana.

Membayar beberapa keping pada sipir penjara, gue mendapat izin untuk mendekati sel tempat Peng Guan ditahan. Gue berikan senyum terbaik padanya.

Dia melihat gue dan kami bertatapan. Beragam perasaan yang bergejolak dalam dirinya tampak dalam mata yang memandang gue tajam.

“Harusnya lu dulu gua bunuh, bukan hanya gua usir,” kata Peng Guan setelah bermenit-menit kami diam. Dia mengucapkannya dengan kesal, kecewa dan menyesal.

“Membunuh gue waktu itu juga bukan hal yang mudah.” Dia membuang mukanya tapi tetap saja gue lanjutkan, “Gue tidak mabuk. Dan gue yakin ilmu bela diri gue tidak sangat buruk. Lagipula…,” sengaja menggantung sesaat, “majikan lu begitu tertarik pada gue. Membunuh gue saat itu sama saja mencari masalah.”

Dia tertawa pelan. Tawa yang sinis. “Mereka penjajah. Mereka menjajah tanah kelahiran gua.”

“Itu urusan lu. Satu hal yang perlu lu ingat, kebencian gue adalah lu sendiri yang mulai,” balas gue. “Usaha yang gue rintis hancur di tangan perampok yang lu kirim.”

“Gua hanya bawahannya!”

“Ya! Lu bawahannya. Tapi lu masih bisa kasih tahu gue kalau mau, jadi gue punya persiapan! Tapi lu tidak melakukan itu! Lu suruh mereka mengambil semua harta gue! Kalau tidak, bagaimana perampok yang hanya orang-luar bisa dengan mudah menemukan tempat persembunyian uang gue? Kamar yang berantakan sebenarnya hanya kamuflase kalian. Sejak awal, lemari itu sudah diincar.”

Dia tak lagi menjawab, mungkin karena tebakan gue benar atau memang dia sangat pelit mengeluarkan suara.

“Gue lapor pada Schutterij, tapi penyelidikan tak juga dilakukan. Seandainya saja mertua gue tidak memberitahu, mana pernah gue tahu hal yang sesungguhnya terjadi.”

“Sekarang lu menang, puas? Bahkan Yo Sinshe juga hancur di tangan lu.”

Gue tidak pernah membiarkan seorang pun menyakiti orang yang gue sayangi.”

“Yo Sinshe punya budi pada lu.”

“Apa lu juga mau mengatakan bahwa lu… punya budi ke gue?” kali ini gue tersenyum sinis padanya. Gue tunggu reaksi tapi dia tetap diam, “Sebenarnya tindakan ini juga pilihan terakhir. Enru selalu ingat budi dan dendam. Camkan itu baik-baik,” setelah berkata, gue berbalik hendak meninggalkan penjara tempat Peng Guan Guan ditahan.

“Nasib lu juga tidak akan lebih baik dari gua.”

“Benarkah? Tidak ada yang tahu nasib gue selain Tuhan. Lu juga tidak. Jangan bertindak seperti seorang peramal karena gue tidak pernah percaya ramalan!”

Tak lama setelah meninggalkan Peng Guan, gue berbaur dengan penduduk Batavia yang ada di sekitar pelataran stadhuiz.

Kira-kira berselang dua isapan cangklok, sebuah gerobak dengan teralis kayu yang terlihat sangat kokoh lewat dengan Peng Guan terantai di dalam. Gue tak lagi menghampiri karena tak ingin menerima resiko menjadi pusat perhatian. Terlebih melihat tak jauh dari kereta si Brewok lewat dengan tawa girang.

Si Brewok itu, sebagai perampok pastinya dia segan memasuki Stadhuiz. Entah bagaimana cara dia bertemu dengan rombongan pejabat Manchu. Karena bukan urusan gue dan merasa tidak membutuhkan uang hasil pelaporan, menjauh adalah hal terbaik. Gue yakin, setelah menerima uangnya si Brewok tidak akan menghubungi gue. Di dunia ini mana mungkin ada perampok jujur.

 

Bagian dua

Ya, ada seorang nionia[1] mencari Anda,” lapor seorang pelayan.

“Siapa?” gue hentikan tangan yang awalnya sedang asyik melukis.

Nionia itu hanya berpesan Ya pasti mengenalnya. Dia mendesak agar dapat bertemu Shaoya secepat mungkin.”

Dahi gue tambah berkerut mendengar jawaban itu. Hebat bukan, seorang tamu tak ingin namanya disebut datang menghampiri di hari Minggu. Padahal hari ini telah gue tetapkan sebagai hari istirahat atas desakan Gwat Nio yang cemburu pada pekerjaan gue.

Apeh kerja terus, tidak pernah libur. Jadi Gwat Nio tidak punya adik. Kalau apeh-nya Tan Hui sering di rumah. Adik Tan Hui ada lima,” kata Gwat Nio yang kemudian berujung pada desakannya agar gue punya waktu untuk dia dan ibunya. Anak itu sudah pintar membuat analisa rupanya.

Entah apa kata Gwat Nio kalau tahu gue menemui tamu itu. “Di hari libur Apeh menemui tamu, bukannya menemani Gwat Nio.” Atau “Apeh curang. Sengaja memanggil tamu di hari perjanjian.” Atau… ah, sudahlah. Itu urusan nanti, karena misteriusnya sang Tamu membuat gue tak sabar ingin bertemu.

“Kim Nio?!?” jelas gue sangat terkejut. Sekalipun sudah lama tidak bertemu, paras gadis yang pernah dijodoh-jodohkan dengan gue ini masih bisa dikenali.

Toahnia…,” panggilnya dengan lirih. Dia berdiri dan menghampiri ke tempat gue berdiri terperangah.

“Kim Nio mohon pada Toahnia, jangan tekan Apeh lagi,” sembari berkata, dia menjatuhkan lututnya, berlutut di hadapan gue.Apeh sudah tidak punya apapun. Bahkan rumah itu sudah dijual. Kalau Apeh ditekan terus, ApehApeh…,” tak melanjutkan permohonannya Kim Nio malah menangis terisak-isak.

Gue paling kesal dengan tangisan perempuan karena susah dihentikan. Karenanya gue meminta pelayan agar dipanggilkan Hien Nio. Perempuan pasti punya akal yang tepat untuk menghentikan tangis perempuan lainnya.

“Kim Nio, pertikaian ini apeh-mu yang duluan memulai. Setiap perbuatan pasti ada ganjarannya. Dan semua yang terjadi saat ini adalah buah kelakuan dia sendiri.”

“Tapi, ToahniaApeh…”

“Dia tak hanya pernah menghancurkan hidupku dan Asiu. Apeh-mu bahkan menekan keluarga Ni. Tiga kesalahan sekaligus, Kim Nio.”

“Tapi Toahnia….”

Gue gelengkan kepala sebagai jawaban.

“Tak disangka Toahnia ternyata orang seperti ini.”

“Lalu menurut lu, gue seperti apa?”

“Dulu Kim Nio mengira Toahnia penuh pengertian dan pengasih…. Karena itu… waktu tahu Apeh menjodohkan dengan Toahnia gua….”

“Oei Nionia, gue kira tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Silakan,” kata gue dengan maksud mengusir Kim Nio agar pulang dan tidak mempengaruhi Hien Nio. “Antar tamu,” perintah gue pada Ketip. Selesai bicara, gue masuk kembali dengan mengajak Hien Nio tuk ikut

Kembali ke ruang kerja, terlihat Gwat Nio sedang bereksperimen dengan lukisan setengah jadi. Karena badannya kurang tinggi—tinggi meja itu persis di bibirnya yang mungil—dia gunakan kursi sebagai landasan lututnya.

“Gambarnya Apeh kurang bagus. Jadi Gwat Nio tambahin bunga-bunga,” serunya sambil menyengir.

Lagi-lagi gue hanya termangu di tempat berdiri melihat lukisan rumah kami dengan model China klasik yang kini bertabur gambar bunga aneka warna.

“Papa, gambar apa sih ini?” seru gue di umur enam tahun. “Jelek. Masa gambar bunganya seperti itu padahal rumahnya begitu? Enru sobek, ya, Pa?”

“Jangan! Itu peninggalan teman Papa, Nak.”

“Enru buatkan yang lebih bagus dari itu sebagai gantinya.”

Jantung gue berdebar-debar melihat lukisan yang telah dicoret-coret Gwat Nio dengan aneka warna. Jadi… lukisan yang disebut Papa sebagai peninggalan dari temannya itu adalah hasil karya gue yang dicoret-coret Gwat Nio? Apakah perjalanan menembus dimensi ruang dan waktu ini telah digariskan? Gue memang harus melalui semua ini agar sejarah terjadi sebagaimana mestinya?

Apeh, kenapa melamun? Ayo diteruskan.”

Gwat Nio sudah memegang kuas lagi dan mencelupkannya pada tinta berwarna hijau, cepat-cepat gue berteriak, “Jangan! Cukup!”

“Kenapa, Apeh?” wajahnya benar-benar ketakutan. Gue tidak pernah menggunakan nada keras ketika bicara dengannya. Ini pertama kali. Pasti karena itulah dia takut.

“Biarkan seperti itu saja, sekarang kita bubuhi cap, ya.”

Dengan demikian, gambar yang gue lihat saat berumur enam tahun tidak berubah.

 

Bagian tiga

Ya,” panggil Kok, pelayan pribadi—lebih tepat disebut tangan kanan—Ni Hoe. Jika Kok sampai menghampiri gue, pastinya ada hal yang teramat penting dan harus sampai secara langsung.

“Katakan,” sahut gue dengan tetap menulis pada kertas konsep. Sudah hampir jadi. Tanggung kalau harus berhenti untuk mendengarnya bicara. Terlebih gue yakin, dia bicara untuk membawa gue ke majikannya atau mengurus suatu hal yang seharusnya dilakukan oleh majikannya.

It Shaoya perang mulut. Sekarang sudah meninggalkan pertemuan. Padahal menurut saya masalah yang dibicarakan belum selesai.”

“Kenapa? Ada yang menyinggung hobi musiknya lagi?”

Dia mengangguk pelan.

“Ni Shaoya lainnya? Majikan lu punya empat adik laki-laki—walaupun saudara tiri—dan mereka semua telah dewasa. Pula punya jabatan penting.”

“Tapi…,” wajahnya menyiratkan keraguan.

Gue tahu, mereka masih seperti remaja yang suka bermain. Gue kira setidaknya satu dari mereka harus dididik untuk menggantikan kakak tirinya jika ada kejadian seperti ini lagi.

“Baiklah, gue pergi. Setelah briefing anak-anak.” Gue tidak peduli apakah ada kata asing dalam ucapan baru saja yang akan membuat dia pusing. Gue sudah pusing dengan banyaknya urusan yang harus ditangani.

Selesai memeriksa ulang konsep, gue bawa konsep pada Asiu dan Made yang berada di ruangan lain.

“Kalian siapkan model presentasi untuk besok. Dan Made, bersiap-siaplah gantikan gue presentasi.”

Terlihat Made menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Dia begitu cemas karena harus menggantikan gue.

“Kamu pasti bisa, Made. Yakinlah dengan dirimu sendiri. Lagipula ini masih kemungkinan.” Menepuk pundaknya beberapa kali, lalu gue berkata, “Gue tinggal dulu.”

Ya, lagi-lagi ada kain yang diikat ke pohon petai,” lapor pelayan berlarian ke hadapan gue.

“Sejak kapan?”

“Tidak tahu. Tapi hari kemarin pasti tidak ada.”

“Baiklah, itu urusan nanti. Taruh di ruang kerja. Siapkan kuda sekarang.”

Sampai saat ini, dengan status menantu keluarga Ni, gue tetap tak suka naik tandu yang diangkut manusia. Terlebih rumah gue cukup jauh dari Batavia. Perjalanan dengan tandu seperti itu memboroskan waktu cukup banyak.

Kuda menurut gue lebih baik karena bisa memacunya sampai batas maksimal jika dibutuhkan. Paling-paling ia butuh makan beberapa kali lipat sampai di rumah nanti. Tapi dia binatang, bukan manusia. Poinnya di situ.

 

Bagian empat

“Lu muncul juga, Cui Sinshe?” sapa sekretaris.

Gue hanya menyengir lalu masuk ke dalam ruang rapat. Di sana pertemuan masih berlangsung. Gue kira tak begitu terlambat untuk tiba di jam seperti ini.

“Maaf, ipar gue sedang tidak enak badan,” kata gue. Tapi sebenarnya ini hanya basa-basi tak penting. Semua orang juga tahu, sebuah kejadian langka jika Ni Hoe bisa akur dengan para letnannya.

“Pemerintah meminta laporan ‘orang-orang dibutuhkan dan tidak’ itu sampai batas minggu depan,” ujar seseorang, pangkatnya adalah letnan. Pastinya dia memberitahu gue, peserta rapat yang baru datang untuk menggantikan tugas orang lain ini.

“Boleh baca datanya dahulu?” Diserahkan data laporan lalu gue berusaha membaca dengan teliti.

Sial! Data ini sangat manupulatif. Siapa yang tidak tahu di kalangan pejabat Tionghoa pun terjadi korupsi dan suap menyuap? Orang dungu saja tahu. Coba lihat, Ma Boen Liang ini…. Apa pekerjaan orang itu? Sampah! Dia cuma berlindung di atas kekayaan orangtuanya dan berjudi. Setelah harta peninggalan habis, dia hanya akan mengotori kota dengan menambah jumlah pengemis. Lalu si Tio ini dan si Ong yang ini juga. Orang seperti mereka bisa-bisanya dimasukkan dalam daftar ‘orang dibutuhkan’ siapa yang bodoh?

“Maaf, lanjutkan saja dahulu pembicaraan kalian. Saya ke belakang.”

Setelah dengan terpaksa memuntahkan masakan kolaborasi Hien Nio dengan Ketut, perut gue baru sedikit lega. Namun ketika mengingat rapat ini belum selesai, perut kembali bergemuruh.

Tidak!! Mengapa daya adaptasi gue demikian rendah? Sudah sepuluh tahunan gue hidup di sini, tapi tetap saja penyakit muak ini bertahan. Padahal di Jakarta juga banyak kasus suap menyuap. Tapi saat itu gue tidak terlibat langsung. Sedangkan kali ini harus memberi komentar dan komentar tersebut akan sangat berpengaruh pada kedudukan gue juga ipar gue

Acara menenangkan diri selesai, gue kembali masuk ruangan. Mudah-mudahan kali ini baik-baik saja.

“Wajah Anda pucat. Kelihatannya lebih baik pulang,” perkataan ini disampaikan dengan nada perhatian dan kelihatannya bukan hanya basa-basi ato sindiran terselubung.

“Tidak apa-apa. Masih bisa mengikuti.”

Setelah pembicaraan masalah tadi selesai, yang dibicarakan adalah hadiah untuk gubernur jenderal yang baru. Seperti yang juga gue ketahui, Abraham Patras, gubernur lama telah mangkat. Penggantinya adalah Valkenier. Para letnan pun kapiten baik dari masyarakat Tionghoa dan himpunan masyarakat lainnya pasti akan memberikan hadiah-hadiah agar nasib mereka dan golongannya diperhatikan oleh gubernur jenderal yang baru.

Menurut gue ini sejenis upeti. Karena itulah, gue tak ingin membicarakannya lebih lanjut.

 

Bagian lima

Menghampiri tempat perjanjian, si Brewok sama sekali tak terlihat. Gue putari tempat itu sekali. Kemudian yang ke dua kali. Dia juga tak terlihat. Gue sudah akan pulang ketika sebuah teriakan terdengar. “Aru!”

Gue kira selain kami ada orang lain yang membuat janji di sana. Takut identitas ketahuan, gue segera menunggang kuda hendak pergi.

“Aru!” sekali lagi. Kali ini gue lihat sesosok manusia menampakkan diri dengan melambaikan tangan.

Gue tolehkan kepala ke kanan dan kiri juga belakang tapi tak ada orang lain selain diriku. Selagi itu, orang yang berteriak datang menghampiri.

“Kenapa seperti orang linglung? Sudah gua teriaki dari tadi!”

Bagaimana mungkin gue menoleh kalau nama itu saja tak kenal. Aru? Siapa itu Aru?

“Siapa suruh tidak terlihat. Lagipula gue ga kenal siapa Aru,” ujar gue cuek. Berarti si brewok salah dengar nama gue waktu itu. “Katakan, apa mau lu? Bagi jatah gue?”

“Tolong bantu Ong Toahnia. Dia ditahan meneer.”

“Siapa dia?”

“Pemimpin kami. Lu lupa?”

Ternyata marganya si Brewok adalah Ong. “Kenapa gue harus menolong? Jatah emas saja gue ga dapat.”

Gue biarkan dia merayu dan mengucapkan janji-janji manis. Ah… namanya juga perampok.

“Cuma lu yang bisa menolong.”

“Gue ni siapa? Bukan siapa-siapa. Mana mungkin bisa menolong pemimpin lu.”

Gua tahu kau pasti orang cerdas. Cara lu mengatur strategi menjebloskan orang bermarga Peng itu membuat Ong Toahnia berpikiran lu cerdas dan teratur. Jadi hanya lu yang bisa menolongnya.”

Sial! Kenapa orang-orang ini jadi bergantung pada gue.

“Gue dapat apa kalau bisa menolong kakak lu?” dia diam maka gue lanjutkan, “Sepuluh persen gue jadi empat puluh persen?”

“Uang itu sudah habis.”

“Habis?!? Lu tidak saja tidak kasih jatah gue tapi juga…”

“Begini saja… lain kali kalau lu ada kesulitan apapun, kami pasti bantu.”

“Janji kemarin saja tidak ditepati. Bagaimana gue percaya?”

Gua serius! Serius! Gua mohon, kalau terlambat, Toahnia dibawa ke Ceylon.”

Kelihatannya masalah memang seserius yang dikatakan olehnya. “Kita lihat saja nanti. Gue sibuk,” selesai berkata demikian, gue tinggalkan dia yang masih berdiri melongo.

Pulang ke rumah, ganti baju, kini gue arahkan kuda ke Stadhuiz. Bukan hendak menebus si Brewok Ong, hanya ingin tahu masalah apa yang menimpanya. Repot kalo dikira meneer-meneer gue punya hubungan dengan perampok.

“Dia tidak punya surat izin,” jawab sipir kesal dengan mulut gue yang menurutnya banyak oceh.

Selesai menerima jawaban, gue pergi. Benar-benar gue tinggalkan Stadhuiz. Sementara itu, dalam hati timbul dua cabang pikiran. Tolong atau tidak. Dilihat dari segi negatif, menolongnya berarti perampok di Ommelanden tidak berkurang. Sedangkan kalau dilihat dari segi positif, gue bisa memanfaatkan mereka sewaktu-waktu. Mana yang lebih menguntungkan?

Keputusan belum dapat, tapi gue sudah sampai rumah. Mungkin ada baiknya dipikirkan lebih lanjut nanti. Suara Gwat Nio yang sedang membaca sebuah cerita dengan suara keras mengundang untuk mengintip.

Apeh, Apeh sudah pulang!” serunya ketika melihat gue di ambang pintu. Maksud hati mengintip tanpa ketahuan namun ia bisa mengendus keberadaan.

“Baca cerita apa, Sayang?”

“Si Jin Kui, Apeh. Apeh mau dengar?”

Gue anggukkan kepala lalu duduk tak jauh darinya.

“Si Jin Kui lahir pada masa pemerintahan….”

Nyatanya, gue tak bisa konsentrasi mendengarkan cerita Gwat Nio. Masalah perampok bermarga Ong tetap saja mengganggu pikiran. Menolong dia memang mendatangkan untung yang mungkin tidak sedikit. Tapi, dia adalah perampok. Gue tidak mungkin terang-terangan berkawan dengan perampok. Lagipula tindakan itu hanya akan menyamakan gue dengan Yo Sinshe.

Ya,” panggil pelayan tanpa masuk ke dalam ruangan. Mungkin ada sesuatu yang hendak disampaikan tapi takut kena amuk Gwat Nio.

“Gwat Nio, Apeh masih ada urusan yang harus diselesaikan. Ceritakan pada Apeh nanti malam, ya?” gue pergi dalam tatapan cemberut kesal ala Gwat Nio.

“Ikatan kain lagi?” tebak gue yang dibenarkan oleh si Pelayan. Gue ambil pita lalu masuk ke kamar berganti baju. Identitas gue sebagai menantu keluarga Ni tetap harus disembunyikan dari mereka karena gue ga mau nama gue dipakai sembarangan oleh kawanan perampok. Kemudian, gue kembali pergi ke tempat perjanjian.

Orang yang gue temui pagi tadi sudah terlihat menanti. Begitu melihat gue, ia terburu-buru menghampiri. Wajahnya pucat pasi. Padahal beberapa bulan lalu wajah itu demikian garang ingin merampok. Gue tak pernah membayangkan akan ada saat-saat dimana perampok pun bisa pucat pasi seperti itu.

Gua mohon, Aru. Tolong Ong Toahnia. Gua mohon,” dia berkata dengan paipai pada gue. Kelihatannya kali ini dia benar-benar memohon dan situasinya akan menjadi lebih buruk tanpa pertolongan dari gua.

“Gue ga janji tapi akan coba,” jawab gue setelah terjadi perang batin. “Kalau hanya itu yang ingin lu katakan, gue pulang sekarang.”

Sampai di rumah, gue suruh Asiu dan Made yang berangkat menebus besok pagi. Pesan terpenting pada mereka hanya satu, “Jangan sampai orang tahu yang menebusnya adalah Cui Enru.”

 

Bagian enam

“Kamu dapat dari mana cerita Si Jin Kui itu, Gwat Nio?” Hebat! Seumurnya gue ga pernah membaca cerita silat macam Si Jin Kui.

Dia menceritakannya dengan sangat lancar seolah-olah ia sudah hafal seluruh isi novel. Dan perlu dicatat, novel tentang Si Jin Kui itu termasuk karya klasik tentang seorang jenderal dari dinasti Tang yang tidak akan gue baca. Terlalu tebal dan rumit.

“Guru tadi cerita lalu Gwat Nio catat. Bagus tidak, Apeh?”

Gue anggukkan kepala dengan tersenyum. Dia menyambut anggukan dan senyuman gue dengan penuh suka cita. “Benar, ‘kan, AbuhApeh suka cerita Gwat Nio.

Apeh pasti suka dengan apapun yang lu ceritakan.”

Apeh mau dengar cerita dari Gwat Nio yang lain lagi?”

“Sudah malam. Waktunya Gwat Nio tidur. Besok kita mau jalan-jalan, Gwat Nio harus bisa bangun pagi, mengerti?”

Apeh…,” dia melirik gue mencari pembelaan. Tapi Hien Nio benar. Malam sudah cukup larut. “Tidurlah, Gwat Nio. Besok masih bisa cerita waktu kita jalan-jalan.”

Memasang wajah merengut, ia keluar dari kamar gue tidak rela. Baru satu kaki menginjak lantai luar kamar, anak itu membalikkan badan bertanya pada kami, “Boleh malam ini Gwat Nio tidur bersama Apeh dan Abuh?”

Hien Nio dan gue saling melirik. Akhirnya gue mengangguk dan anak itu menyambutnya dengan berteriak riang. Sebuah teriakan yang membuat gue bersyukur karena kami tinggal di luar Batavia dengan rumah dikelilingi kebun dan tetangga terdekat kami berjarak sekitar dua kilometer jauhnya. Kalau kami tinggal Batavia yang rumah berjarak tipis, para tetangga pasti akan terganggu dengan teriakan anak satu itu.

Dia memilih tidur di antara gue dan Hien Nio. Setelah lilin dimatikan, tak lama berselang, Gwat Nio dan Hien Nio terlihat sudah lelap tidur. Tidur seperti bayi mungil yang polos. Ya, Gwat Nio masih anak-anak. Belum tahu betapa rumitnya dunia ini. Demikian juga Hien Nio, ia selalu terlindung dari keruwetan hidup. Di kamar ini, hanya gue seorang yang selalu susah tidur.

Kata-kata Peng Guan beberapa hari lalu masuk dan keluar dari pikiran berulang kali. “Nasib lu juga tidak akan lebih baik dari gua.” Apa maksudnya? Mengapa dia berkata seperti itu? Sekalipun tadi gue berkata tak percaya ramalan, namun ternyata kalimat itu tidak bisa tidak terpikirkan.

“Nasib lu juga tidak akan lebih baik dari gua.”

“Nasib lu juga tidak akan lebih baik dari gua.”

“Nasib lu juga tidak akan lebih baik dari gua.”

Seperti mantra berulang kali. Gue lelah mendengarnya. Jangan hantui dengan kalimat itu lagi. Lelah.

*#*#*

Catatan kaki:

  1. Nionia: dialek hokkian untuk nyonya
Iklan
%d blogger menyukai ini: