Skip to content

17 – Adik untuk Gwat Nio

Bagian satu

Mengatur keluarnya nafas, gue berharap emosi turut terkontrol. Namun nyatanya menahan amarah adalah hal yang paling sulit dilakukan. Bunyi gemeretak tulang jemari tangan terbukti membuat Asiu yang berdiri menunggu terbungkam. Ia tahu gue sedang marah.

Asiu berdiri tak berdaya memandang gue berharap amarah akan sirna. Tapi maaf, Asiu. Tak semudah itu.

Gue sungguh tak bisa percaya seorang laki-laki pendiam yang lukisannya sangat indah itu demikian kejam. Apa salah gue padanya? Mengintip lihat isi kamar? Hanya dengan itu saja dia hendak menjatuhkan usaha gue?

Toahnia…,” suara Asiu terdengar sangat lirih.

Gue lihat wajahnya demikian pucat seakan-akan dalam waktu sekejap akan jatuh pingsan. “Lu istirahat duluan. Masih ada yang harus gue selesaikan. Made dan Ketut boleh pulang jika pekerjaan mereka sudah selesai.”

Toahnia butuh teh lagi?”

“Tidak perlu,” kata gue singkat lalu kembali memperhatikan konsep yang terlupakan oleh laporan Asiu. Namun angin malam dari pintu yang terbuka kembali mengalihkan perhatian. Asiu keluar dari sana dalam bayang penuh pilu.

Gue terus memandangi Asiu yang keluar ruangan dengan menyeret kaki kanan. Sendu mewarnai setiap gerak tubuhnya. Mengapa gue tidak pernah melihat keceriaan kembali terpancar dari wajah Asiu? Riang yang sama dengan saat gue mentraktirnya sebelum masa kebangkrutan itu. Gue rindu keriangan mereka bertiga. Rindu akan masa-masa itu yang penuh canda tawa.

Hal lain yang lebih membuat gue tak habis pikir, Asiu menolak rencana perjodohan pengaturan Hien Nio untuknya. Padahal gadis yang hendak dijodohkan tergolong dari keluarga berkecukupan.

Toahnia juga tak mau Yo Sinshe menjodohkan Toahnia dengan putrinya. Padahal Sam Kauwnio tak hanya berasal dari keluarga kaya, ia juga cantik,” jawab Asiu ketika gue menanyakan alasannya. Selebihnya dia tak menjawab apapun hanya mata sendu setiap kali memandang gue. Kadang pikiran tak waras datang ke kepala gue bersamaan dengan mata sendu ala Asiu. Pikiran yang membuat gue bergidik.

Lalu, dia tak lagi terlihat setelah menyapa Hien Nio yang berpapasan di luar pintu. Sapaan yang menurut gue seperti… entah tak rela atau kesal atau….

Hujan sedang turun. Angin yang berhembus membuat pakaian Hien Nio lembap sekalipun ia kemari dengan menyusuri koridor. Di belakang Hien Nio, Ketip berdiri dengan membawa nampan.

Semakin kemari, memang lebih sering Ketip yang membawakan teh hasil seduhan Hien Nio. Sudah amat jarang gue minum teh yang diseduh Asiu.

“Akhir-akhir ini Ahnia begitu sibuk hingga Gwat Nio pun diacuhkan,” tegur Hien Nio kemudian. “Pekerjaan sedang sangat banyak?” ia berkata sembari mengganti poci teh di meja dengan poci yang dibawa Ketip.

Tindakannya sangat luwes sampai-sampai tak satupun tetes air terjatuh dari poci penuh tersebut. Gue heran bagaimana ia melakukan hal tersebut dengan kaki mungil seperti itu.

Selagi gue memperhatikannya, kami terdiam karena dia menunggu jawaban. Gue anggukkan kepala membenarkan. Padahal yang gue kerjakan akhir-akhir ini tak banyak lagi yang bersangkutan dengan masalah pekerjaan. Asiu, Made dan Ketut sudah bisa ditinggal untuk mengerjakan hampir semuanya. Dan bisa dikatakan hanya pembuatan konsep penjualan saja yang masih harus gue kerjakan sendiri.

Ahnia tak ingin lagi memberikan adik untuk Gwat Nio?”

Gue lirik dia dengan wajah cukup terkejut. Tak biasanya Hien Nio bertanya masalah ini. Gue lihat Ketip sudah keluar dan menutup pintu rapat. Berarti ia sengaja menyuruhnya pergi.

“Umur Gwat Nio hampir tujuh tahun.”

Gue kira dia mau berkata ‘Kita telah melakukannya berulang kali dalam empat tahun terakhir tapi sama sekali tak membuahkan hasil. Perlukah Ahnia periksa kesehatan?’

Gue diam tak berkata apapun.

Tak menunggu jawaban, dia kembali bersuara, “Mungkin Ahnia perlu pikirkan apakah perlu bertahan dengan niat tanpa selir.”

“Lu ini bicara apa?” tegur gue kaget.

“Hien Nio sama sekali tak mempermasalahkan kalau Ahnia hendak mengambil selir. Kalau perlu, biar Hien Nio yang pilihkan untuk Ahnia.”

“Hanya karena masalah adik untuk Gwat Nio lu bicara seperti itu?”

“Tapi Ahnia…, Gwat Nio sangat ingin punya adik.”

“Biarkan dia main dengan anak-anak Made dan Ketut. Mungkin lama-lama dia akan lupa permintaannya itu.”

“Gwat Nio bukan anak seperti itu, Ahnia. Dia selalu ingat apa yang dimintanya.”

Menghela nafas karena sedang tak ingin membicarakan masalah ini, gue baru menjawabnya dengan pelan, “Kita bicarakan masalah ini nanti saja. Biar gue selesaikan konsep ini dulu, ya?”

Gue tak ingin berdebat tentang apapun. Mudah-mudahan konsep yang belum juga selesai ini bisa menjadi kambing hitam yang tepat agar Hien Nio meninggalkan gue sendiri.

Ingatan tentang kejadian beberapa tahun sebelum terlempar ke zaman ini terngiang dalam benak. Apakah sumpah serapah yang diucapkan seseorang pada kita benar-benar bisa menjadi kenyataan?

Jujur, gue bukan orang baik. Kematian Papa pernah membuat gue menyimpan dendam kesumat. Terlebih Cece juga nyaris diperkosa. Dendam itu membawa gue pada tindakan yang akan dikatakan orang lain kurang ajar. Singkatnya, gue gauli salah seorang rekan kuliah yang matanya tidak sipit. Setelah itu…

“Gue sumpahin lo GA bakal punya anak. Dasar Cina bejat! Keparat!”

Dia marah seperti itu mungkin karena gue pernah menjanjikan bertemu dengan Mama. Atau entahlah. Gue juga tak tahu dan tak ingat asal muasal kemarahannya. Pokoknya waktu itu, ada niat memperkenalkannya ke Mama pun tidak. Bagi gue, dia hanya obyek pembalasan dendam dan hura-hura semata.

Tanpa ambil pusing gue tinggalkan dia. Kemarahannya pun bukan aral. Gue melenggang bebas karena dalam tubuh laki-laki tak pernah tertinggal bekas apapun atas apa yang gue lakukan padanya. Entah dengan perempuan itu.

Tak ada yang menyinggung masalah itu sesudahnya. Mungkin karena perempuan itu merasa malu hingga tak berani cerita pada siapapun atau prestasi gue di kampus membuat tak satupun orang percaya pada cerita dia. Sampai akhirnya gue lulus, tak pernah lagi perempuan itu terlihat.

Celetuk Hien Nio tentang adik untuk Gwat Nio tadi membuat gue teringat sumpah serapah perempuan itu. Karena diakah hingga sampai saat ini gue dan Hien Nio tak juga mendapat keturunan? Mau tak mau jantung gue berdebar kencang dan terdengar sangat berat.

Kalau benar demikian, apa yang harus gue lakukan? Memeriksakan kesehatan pun gue tidak berani. Bagaimana kalau kemudian diketahui bahwa gue bermasalah? Bukankah keberadaan Gwat Nio akan jadi tanda tanya besar bagi orang lain?

Karenanya gue lebih memilih diam sekaligus tidak menyetujui usul Hien Nio masalah selir. Sama saja bohong jika masalah ada pada diri gue.

 

Bagian dua

Menyusuri ladang tebu Yo Sinshe, peristiwa awal yang menimpa gue ketika menemukan diri tersasar di Ommelanden kembali terulang dalam benak. Mabuk. Pertama kalinya gue mabuk sedemikian parah hingga perpindahan zaman saja tidak disadari. Sekonyong-konyong gue sudah berdiri di tanah ini pada abad ke delapan belas.

Di tempat ini juga pertama kalinya gue naik… salah… harusnya mengendarai kuda. Benar-benar kuda yang tinggi dan besar. Beda dengan kuda penarik andong di Jakarta yang pernah gue lihat. Juga beda dengan kuda yang gue tunggangi waktu kecil di daerah Puncak. Mata mengejek ala Peng Guan kala itu masih teringat dengan baik. Amat sangat menyebalkan.

Lebih menyebalkan lagi kala tahu dia turut serta dalam upaya Yo Sinshe menghancurkan usahaku yang baru naik daun. Mengingatnya, gue langsung mempercepat langkah kuda menuju rumah Peng Guan.

Setelah menyembunyikan kuda di tempat yang aman, dengan mengendap-endap gue masuki rumah tersebut.

Sunyi. Hal yang wajar dan itulah yang gue harap. Masa panen seperti ini, seharusnya Peng Guan sedang sibuk menjagai tumpukan tebu. Panen terakhir Yo Sinshe di ladang ini. Masa tanam dan panen berikutnya bukan lagi hak orang itu.

Kembali pada rumah yang gue susupi, susunannya tak jauh berubah dari sejak terakhir kali kaki gue menginjak lantainya. Bahkan jenis batu lantai pun tetap sama. Tak ada yang berubah. Tanpa menunda waktu lebih banyak lagi, gue masuki kamar Peng Guan.

Gue dekati meja tempat dulu menemukan kertas selebaran. Kertas waktu itu pastinya tak ada lagi. Tapi satu-dua bukti soal dirinya sebagai salah satu buronan pasti ada. Itulah yang gue cari.

Jantung gue berdegup kencang. Sama kencangnya dengan saat penyusupan pertama kali. Bisa celaka kalau menantu keluarga Ni ditemukan menyusup di rumah centeng macam Peng Guan. Mau ditaruh di mana muka gue dan keluarga Ni?

Tapi apa boleh buat? Tak ada yang bisa gue suruh. Kaki Asiu cacat pun tak bisa ilmu bela diri. Made dan Ketut juga tidak lebih baik. Mereka bertiga tak pernah tahu apalagi masuk ke rumah ini. Dan gue tak ingin melibatkan jumlah orang yang lebih banyak dalam permusuhan ini. Jadi, hanya gue seorang kandidat yang tepat.

Namun, hal pokok yang ditakutkan bukan masalah itu. Gue lebih takut Peng Guan lebih berhati-hati daripada dirinya yang dulu. Semacam surat dari rekan-rekannya sudah dia baca lalu dibakar tanpa sisa untuk gue.

Peluh mulai bercucuran namun bukan karena udara kamar yang sumpek. Gue benar-benar penasaran, dia taruh di mana surat-suratnya itu? Mengapa satupun tidak juga ditemukan? Apakah mungkin ia telah menaruh curiga hingga menyimpannya di tempat lain? Tempat persembunyian yang sangat aman?

Berkali-kali gue lirik jendela. Untung saja jendela itu memiliki banyak lubang hingga bisa mengintip luar dengan cukup leluasa. Waktu gue tak banyak apalagi untuk tetap menjaga kamar ini dalam keadaan baik tanpa pernah diotak-atik.

Semakin banyak peluh yang tercucur seperti berada di ruang sauna. Masalahnya bukan karena udara di dalam kamar. Gue terlampau panik berhubung pencarian tak juga membuahkan hasil. Angin yang datang juga mempermainkan pendengaran dengan menghembus daun pintu hingga terdengar suara engselnya berderik. Mendengar suaranya setiap beberapa detik sekali membuat jantung terasa mau lepas.

Setelah setumpuk kertas dan seguci gulungan kertas diperiksa, gue dapatkan juga sebuah surat yang masih bersegel.

Gue berhati-hati membukanya. Sialnya segel surat china dibuat dari lilin dipanaskan dan dicap dengan stempel. Hasilnya usaha membuka surat tanpa meninggalkan jejak sia-sia. Kesal, gue robek saja amplop tersebut dan membuka lipatan surat di dalamnya.

“Jejak kalian masih dicari. … Beberapa saudara tertangkap. … Keadaan sekarang ini sangat tidak baik. … Hati-hati.” Selesai membaca cepat surat itu, gue yakin inilah yang dicari.

Sampai saat ini jantung gue masih berdegub tidak karuan. Jika Peng Guan melihat gue ada di sini, sebuah petarungan tak terelakkan. Dia pasti mati-matian mempertahankan surat yang kini ada di tangan gue. Tapi gue juga tidak akan mengalah sedikitpun. Dendam perampokan yang telah diaturnya waktu itu harus dibalas.

Seandainya saja ada kamera SLR atau minimal ponsel putih dari Amerika itu tetap bersama gue, menyimpan salinan bukti ini pasti jauh lebih mudah. Tak banyak waktu lagi. Lebih baik gue bawa dia. Mudah-mudahan Peng Guan tidak mencari.

Dan tak boleh terlupakan, hari ini juga gue harus mendapatkan cara agar bukti ini sampai ke tangan pemerintah Manchu. Menyisipkan surat ke dalam baju, segeralah gue mengendap-endap keluar rumah kemudian secepat mungkin melarikan kuda menjauh dari rumah Peng Guan.

Belum terlalu jauh dari areal tanah Yo Sinshe, terlihat segerombolan orang datang menjumpai. Mereka datang dengan mengendap di balik rerumputan. Jantung gue berdegub semakin kencang. Mungkinkah Peng Guan langsung tahu gue menyusupi rumahnya? Dari mana? Apa dia sudah pulang? Atau ada yang melihat kuda gue dan melaporkan pada Peng Guan? Tak mungkin ‘kan di masa ini ada alat CCTV yang bisa dipantau dari jarak jauh?

Gue putar arah kuda sembilan puluh derajat. Sekiranya jalan memutar adalah keputusan yang sedikit lebih baik sekarang ini. Lalu, gue pecut pantat kuda agar ia melarikan gue semakin cepat dan bertambah cepat. Kuda besi yang tersimpan di rumah Jakarta pasti bisa dibawa berlari hingga di atas seratus dua puluh kilometer per jam. Entah kuda yang satu ini.

Jarak tempat ini ke rumah gue cukup jauh. Sama jauhnya dengan jarak tempat ini ke Batavia. Sekitar satu sampai dua jam lamanya, tergantung apa yang dipakai kuda atau sado. Hal ini sama dengan menyebut gue masih berada di suatu tempat yang cukup jauh dari batas aman

Peng Guan mungkin bisa mengejar karena kemampuan berkudanya harus gue akui sangat baik. Dengan demikian, jantung gue tetap berdetak lebih cepat dari detak normal.

Rasanya seperti saat dulu kecil sedang membaca novel Goosebump. Dulu, kalau ga salah ingat, detak jantung gue juga berdegup sekencang ini. Sembari membaca, gue terus menerus melirik belakang. Takut-takut ada monster mengejar di sana. Mengingat kembali masa-masa itu memang tampak sangat bodoh. Tapi kali ini takut gue benar-benar nyata. Di belakang sana mungkin ada sekelompok orang mengejar. Dan besar kemungkinan mereka menginginkan nyawa gue!

Sebenarnya yang ditakuti bukan nyawa gue yang terincar. Tapi takut surat yang telah gue dapat lepas dari tangan. Terus terang, gue bingung menafsirkan perasaan ini. Dalam diri gue sepertinya ada sesuatu yang membuat gue terus memacu kuda dalam kecepatan tinggi sekaligus berulang kali melirik ke belakang takut terkejar oleh musuh tak nyata.

Tak nyata. Benar-benar tak nyata. Karena yang di hadapan gue-lah musuh nyata. Bukan orang-orang Peng Guan sepertinya. Sama-sama mengincar tapi bedanya mereka lebih ingin harta gue.

 

Bagian tiga

Perampok tambah banyak, memang benar adanya. Aturan-aturan baru yang dikeluarkan kompeni tak juga berhasil mengurangi tingkat kejahatan malah memperparahnya. Pada khususnya di seputar Ommelanden. Contoh… sekawanan orang yang menghadang perjalanan gue ini.

Ringkikan kuda terdengar seirama dengan tarikan gue pada tali kekang. Kedatangan mereka jelas membuat gue bersama kuda terkejut berdua. Mata mereka yang menatap gue dengan nyalang, bengis dan tampak tak punya belas kasihan meyakinkan gue bahwa yang ditemui kali ini adalah perampok sesungguhya. Para senior. Sial! Sial! Sial!

Mereka mendekati tanpa basa-basi. Wajah mereka yang bengis tak bisa membuat gue tertawa. Karena benar-benar bengis, bukan bengis dibuat-buat seperti perampok kemarin sore waktu itu. Cepat-cepat gue berpikir ada baiknya memacu kuda ke arah lain. Tapi jalan gue hanya ke depan atau berbalik ke belakang.

Di depan telah dihadang. Kembali ke jalan semula? Lalu bagaimana kalau bertemu dengan Peng Guan? Jika orang bermarga Peng itu hanya sendirian, gue masih bisa menghadapi. Tapi kalau mereka bergerombol, namanya cari masalah jika menantang berkelahi. Demikian pula dengan orang-orang di hadapan gue.

Menghadapi mereka pastinya sesuatu yang sangat berat. Gue, Enru tidak takut mati tapi tak ingin mati konyol di tempat sepi macam ini. Jantung berdebar takut. Gue kembali merasakan ketakutan karena tak juga menemukan cara untuk menghindari mereka.

Semakin dekat.

Jumlahnya ada tujuh orang. Entah apakah ada kawan-kawan mereka yang bersembunyi di balik pohon penaung jalan pun semak-semak di sekitar sini. Gue harus memikirkan caranya lolos. Harus!

Kapak yang mereka bawa telah terangkat tinggi. Tinggal sepersekian detik sebelum benda tajam itu terayun ke arah kuda gue.

“Eit! Tunggu! Jangan usik kuda gue. Dia tidak punya apapun. Tapi gue punya sesuatu yang bisa membuat kalian kaya dalam sekejap.”

“Berikan! Cepat, sebelum mati!”

“Tapi kalian tidak bisa mendapatkan langsung dari gue.”

Kapaknya diarahkan pada gue. Mata mereka menusuk seperti sebuah anak panah yang melesat ke dalam otak. Seandainya gue tak pernah latihan bela diri dan seorang pengecut, pastinya sudah terkencing-kencing dari tadi.

“E… jangan! Jangan! Gila! Gue belum mau mati!” teriak gue cepat-cepat. “Kita bicara pelan-pelan. Oke?” sambil bicara, gue turun dari kuda.

Mengira-ngira orang brewokan tipis dengan wajah tergahar itulah pemimpin mereka maka, dialah yang gue dekati. Gue keluarkan surat yang diambil dari rumah Peng Guan dan menunjukkan padanya.

“Kalau kita bisa bawa ini ke pemerintah Manchu, mereka akan mengganjar dengan ribuan tail emas.”

“Apa itu?”

Gue tunjukkan sekilas lalu kembali menyimpannya dalam baju. Jantung gue masih tetap berdegup kencang yang semoga saja suaranya tersamarkan oleh gesekan rumput dan daun. Dari tadi angin yang bertiup dari arah Timur Laut membuat rumput dan daun gemerisik sungguh ribut.

“Berikan!” hentakan suaranya saja pasti akan membuat anjing mengapit buntutnya dan kabur terkaing-kaing. Selagi itu, pori-pori gue kembali bersekresi ria.

“Ayolah. Bagikan sepuluh persen. Yang mencuri surat ini gue. Resikonya besar.” Berpura-pura menjadi pencuri kecil sepertinya jauh lebih aman daripada mereka tahu identitas asli.

Setelah tawar-menawar yang sangat alot, akhirnya mereka setuju tidak merampok dan bahkan tanpa sadar telah membantu mewujudkan rencana gue. Setengah mati menyembunyikan senyum kemenangan, gue berusaha tetap tenang.

“Ikat kain seperti ini di pohon petai cina…,” para perampok terbengong-bengong mendengar frase ‘pohon petai’. Gue harus melotot agar mereka tidak protes sebelum selesai bicara. Mungkin mereka bingung mengapa pohon itulah yang gue pilih. Tapi masa bodoh. Mereka harus dengarkan kata-kata gue dulu.

Kenapa pohon petai cina? Tak ada masalah apapun selain pohon itu terletak di sisi agak dalam dari tanah jatah warisan istri gue. Karena letaknya di dalam, pohon tersebut tak mudah terlihat oleh orang luar.

“Lu anak buah keluarga Ni?”

“Kenapa?”

“Tempat yang lu sebut adalah milik keluarga Ni.”

“Bukan,” kilah gue.

Jika bisa pulang ke abad ke-21, mungkin gue bisa melamar jadi artis. Kayaknya akting gue saat ini cukup meyakinkan hingga tak satupun dari mereka yang curiga. Memang baju gue ini tergolong dekil karena sengaja tidak pakai baju bagus demi menghindari perampok juga untuk menyamarkan identitas.

Seharusnya sekarang ini sudah tak ada masalah lagi. Setelah mereka pergi bersama tawa riang membayangkan emas yang akan didapat, gue tunggangi kuda dengan santai pulang ke rumah. Satu hal yang perlu gue ingat adalah memastikan anak buah kebun dan pelayan segera menyampaikan ke gue jika melihat ada kain terikat tanpa membocorkan identitas gue.

 

Bagian empat

Apeh….” Gwat Nio muncul di balik pintu ketika gue masih sibuk menuliskan konsep.

Tanpa menunggu diizinkan masuk, dia sudah berdiri persis di samping lalu beranjak naik ke pangkuan.

Apeh sedang buat apa?”

“Konsep, Sayang.”

“Konsep itu apa?”

Penyakitnya kumat lagi. Tak adakah taman kanak-kanak yang bisa mengajarinya segala sesuatu masalah terminologi itu?

“Em…. Gambaran tentang cara kerja sesuatu,” jawab gue setelah susah payah berpikir. Menurut gue menjelaskan pada orang dewasa jauh lebih mudah daripada menjelaskan pada anak-anak. Apalagi anak yang banyak ingin tahu seperti Gwat Nio.

“Apa sesuatu itu, Apeh?”

“Sesuatu itu… bisa jadi banyak hal. Tergantung dari apa yang sedang dibicarakan.”

“Yang sedang dibicarakan apa?”

“Pekerjaan Apeh, ‘kan?”

“Pekerjaan Apeh apa?”

“Lu tidak tahu pekerjaan Apeh? Bagaimana ini?” gue ambil kesempatan untuk mengelitikinya. Pinggang, perut, leher semua tempat jadi sasaran sampai dia tertawa kegelian dan berteriak riuh. Akhirnya anak itu kabur ke luar pintu.

Apeh nakal,” serunya dengan senyum mengejek.

Kalau saja pekerjaan ini tidak harus segera selesai, pasti gue memilih mengejarnya dan bermain seharian. Sayang, bahan presentasi besok belum siap.

Di luar terdengar teriakannya memanggil-manggil gue, “ApehApeh…,” sangat ribut. Kiranya belum putus asa mengajak gue melayani maunya dia untuk bermain.

Ya, It Shaoya datang ingin bertemu dengan Anda.”

“Di mana?”

“Taman. Saat ini sedang bersama Kauwnio.”

Seharusnya mereka mulai terbiasa menyebut Hien Nio sebagai nyonya, bukan nona. Statusnya adalah istri Enru. Bukan lagi gadis perawan, nona besar majikan kalian. Tapi ya sudahlah. Gue tak ingin memperpanjang masalah itu. Maka gue menganggukkan kepala dan membubuhkan satu kata lagi sebelum meninggalkan konsep tersebut.

“Kau cerdas, Ahnia,” puji Ni Hoe, “Menyembunyikan buron adalah kesalahan yang sangat besar. Kini menjatuhkan si Keparat Yo bukan suatu hal yang sulit.”

Wuaw… gue tidak sadar bahwa hanya dengan menjatuhkan Peng Guan  maka Yo Sinshe bisa terseret. Gue kira itu hanya akan menghasilkan sedikit efek buruk saja.

“Langkah berikutnya…”

“Tak perlu Ahnia pikirkan lagi. Tuan-tuan meneer itu sudah tak percaya lagi dengan kata-katanya. Satu persatu lahan tebunya juga mulai lepas.”

Memang benar. Lahan tebu di dekat rumah Peng Guan, seperti yang sudah gue katakan, kali ini adalah panen terakhir yang bisa dinikmati Yo Sinshe. Setahu gue, pembelinya juga termasuk keluarga Ni, sepupu Ni Hoe. Demikian pula tanah di lokasi yang di kemudian hari akan disebut daerah Grogol. Gue masih belum tahu siapa yang membeli namun dari gosip yang gue dengar adalah seorang meneer.

Milik Yo Sinshe yang tersisa hanya satu lahan yang lebih kecil dari dua lahan tadi dan rumah di sebelah timur Grootegracht.

“Umur Gwat Nio sudah tujuh tahun sekarang,” kalimat itu tercetus setelah kami berputar-putar demikian lama membicarakan ini itu yang tidak penting.

“Begitulah. Dia tambah nakal.”

Gua dengar dari Hien Nio, Ahnia sangat memanjakan anak itu.”

Gue hanya menyengir sebagai jawaban. Masalah Gwat Nio dimanja, semua orang juga tahu. Gwat Nio lebih dekat dengan gue daripada ibunya juga merupakan rahasia publik.

Gua juga mendengar Hien Nio memberikan izin pada Ahnia untuk mengambil selir,” raut wajahnya terlihat tidak senang.

“Dia mengatakan seperti itu.”

“Lalu pendapat Ahnia?”

Belum sempat gue jawab dia kembali bicara, “Lelaki memiliki banyak istri memang wajar, tapi—”

“Didikan di keluarga saya adalah beristri satu. Cihu tidak perlu memikirkan masalah itu.”

Kelihatan dia puas dengan jawaban tersebut dan kemudian pembicaraan kami mengalir pada hal yang amat sangat disukainya. Musik. Terserah, pembicaraan apa saja boleh asal tidak membuat gue pusing dengan mencoba mengatur hidup gue berdasarkan statusnya sebagai kepala keluarga. Atau membebani dengan pekerjaan yang harusnya menjadi tanggung jawab kepala keluarga dan seorang kapiten.

“Tiga hari lagi ada urusan yang harus dikerjakan padahal ada pertemuan dengan…”

Tuh… dia mulai lagi. Intinya adalah dia tidak mau mengikuti pertemuan dengan para letnannya. Dan dia meminta gue melakukan hal itu untuknya. Tapi memang, Ni Hoe bukan orang yang bisa menahan diri. Sudah cukup banyak pertengkaran antara dia dan letnan-letnan bawahannya. Padahal jabatannya ini baru diembannya tak lebih dari dua tahun.

 

Bagian lima

Pulang setelah mengurus tugas yang seharusnya bukan tugas gue, seorang tukang kebun menghampiri. Di tangannya terdapat seutas sobekan kain berwarna hijau tua yang kotor.

“Kain ini terikat di pohon sejak kemarin, Ya. Apa yang harus saya lakukan?”

“Berikan ke gue.” Menerima kain tersebut gue masuk ke dalam kamar mengganti pakaian dengan yang kumal sekaligus kusam. Saatnya berakting ria.

Pada jam-jam seperti ini, Gwat Nio sedang sibuk dengan guru prifat-nya—gue memang memanggilkan guru untuk mengajari dia di rumah bersama anak-anak Made dan Ketut. Kali ini, gue bisa pergi keluyuran tanpa takut dia akan merengek minta ikut.

Sendirian, gue beranjak pergi ke tempat perjanjian. Sekitar satu kilometer dari rumah ke arah timur.

Gua cari lu dari kemarin,” tegur si Brewok menyambut kedatangan gue.

Matanya menatap gue kesal. Kelihatannya dia bisa membunuh jika sampai hari ini batang hidung gue tak ditampakkan padanya.

“Gue sibuk. Banyak kerjaan,” jawab gue sambil turun dari kuda. Gue terus berusaha santai dan menganggapnya sebagai salah seorang teman.

“Lalu apa langkah berikutnya?”

“Tunggu,” jawab gue cuek.

“Tunggu apa?” hawanya mulai panas. Kalau gue jawab dengan asal lagi, bisa-bisa hubungan ini terputus. Masih bagus kalau ia tidak melaporkan pada Peng Guan dan Yo Sinshe bahwa gue yang berada di balik semua ini.

“Tunggu jung. Orangnya sudah ditahan tapi yang menjanjikan uang masih berlayar kemari.”

“Bagaimana lu tahu?”

“Dengar-dengar seperti itu waktu ke Kota.”

“Uang itu pasti jadi milik kita?”

“Kalau tidak dipotong meneer serakah seharusnya begitu.”

“Berarti dalam waktu dekat uangnya belum sampai ke tangan gua?”

Gue hanya menyengir sebagai jawaban. “Tidak baik kita terlalu lama bertemu. Ada yang mau lu katakan lagi?”

Dia menggelengkan kepala. “Awas kalau berbohong! Jaga kepala lu, tahu?!?”

Gue pamerkan cengiran kuda tak bersalah seperti tak ada rasa takut terselip di hati. Setelah dia berbalik arah, gue pun berlalu meninggalkan si Brewok dengan menghirup nafas tenang.

“Hei!” seruannya membuat gue segera menolehkan kepala, kaget. “Siapa nama lu?”

“Panggil saja Enru,” jawab gue dengan kuda tetap menjauh.

Kira-kira, baru satu bulan lagi jung yang tadi gue sebut pada si Brewok akan tiba. Saat ini, Peng Guan sudah ditahan dalam penjara. Gue tidak menengoknya guna mengurangi kecurigaan orang-orang. Tapi kelak nanti sebelum keberangkatannya kembali ke China, kesempatan itu tak mungkin gue lewatkan. Pasti akan gue hantar dia hingga tepi pelabuhan.

Lalu orang itu, si Brewok, masih bisa dimanfaatkan lain kali. Sekalipun gahar dan emosian, kemampuan otaknya tidak terlalu baik. Jadi, asal bisa memenangi hatinya dan membuat dia percaya ke gue, pasti akan banyak bantuan yang diberikan. Atau setidaknya mengurangi satu kawanan perampok bertandang ke rumah.

*#*#*

%d blogger menyukai ini: