Skip to content

16 – Kapiten Tionghoa

Bagian satu

Perjuangan gue mendapatkan jabatan kapiten untuk Ni Hoe rasanya hampir berhasil. Dan sepertinya, semua ini berawal dari kekristenan gue yang menjadi buah bibir beberapa kenalan yakni para meneer. Berlanjut dengan debat kusir masalah yang menurut gue sepele—tapi nyatanya berguna untuk mengambil hati mereka.

Para meneer suka membujuk dan memaksa bangsa lain agar memeluk agama yang mereka anut. Ingat, yang gue katakan adalah meneer. Karena suami Cece tidak seperti itu—Cece dan suaminya berbeda agama—dan sejauh yang gue tahu, hidup mereka cukup rukun.

Banyak tawaran yang diajukan asal gue mau menuruti ajakan itu. Tapi sudahlah, tak perlu dibahas. Semua orang mengatakan Enru itu orang yang sangat keras kepala, jadi pasti sudah tertebak bagaimana reaksi gue.

“Bagaimana, Ahnia?”

“Begitulah,” jawab gue sekenanya.

Gue duduk di salah satu kursi yang terletak di sisi Ni Hoe, menuang teh—karena malas mendengar keluhannya atas kebiasaan gue—lalu menghirup nafas sedalam mungkin.

“Masalah itu akan dibicarakan dalam rapat dewan,” jawab gue mulai serius.

Dia menganggukkan kepala. Terlihat puas dan sangat bersemangat menunggu hasil dari jerih payah gue.

Menjadi PR alias public relation dalam bidang politik ternyata suatu hal yang memakan begitu banyak energi. Pilihan gue dulu dengan menjadi creative director dalam hal iklan sebuah produk sangat jauh lebih baik.

Karena manusia tidak bisa dibentuk seenaknya seperti membuat sebuah benda buatan pabrik. Misal membuat sabun, bahan kimia A tambah B tambah C dan seterusnya saja. Sabun tak punya pikiran dan tidak bisa mengutarakan pendapat. Kalau manusia sangat kompleks. Dia punya pikiran dan perasaan. Apa yang dipikirkan dan dirasakan itu yang susah diduga. Hal tersebut berlaku untuk ipar gue itu.

“Bagaimana usaha lu?”

“Cukup baik. Semua berjalan lancar.”

“Menurut gua lebih baik dari sebelumnya.”

“Situasi ekonomi seperti ini membuat orang-orang sadar gunanya perencanaan penjualan.”

“Situasi ekonomi yang seperti ini juga membuat perampok semakin banyak.”

“Itu hukum alam menurut saya. Pasti ada yang dirugikan dan diuntungkan.”

Ahnia, tinggallah di dalam kota.”

“Saya sudah mengatakan berulang kali, tidak. Tak perlu saya ulang lagi, ‘kan, Cihu?”

“Mengapa Ahnia selalu mengatakan tidak mau? Rumah ini sangat luas dan pastinya lebih aman dari Ommelanden.”

“Alasannya juga sudah saya katakan berulang kali. Lagipula, saya tahu sedikit—.”

Kuntao? Tapi nyatanya bajingan itu jatuh ke tangan Yo Sinshe.”

Secepat kilat gue melirik Ni Hoe. Entah mengapa gue merasakan suatu maksud tersirat di balik dua kalimat tersebut. Dengan suara hati-hati gue membalas, “Suatu hal yang membuat saya tidak awas hingga mereka bisa kabur adalah adik Cihu dalam keadaan tidak berpakaian.”

Maksud gue adalah karena melihat Hien Nio tak berpakaian jadi tak tega lalu memberikannya baju bukan ikut-ikut melakukan sesuatu. Entah apakah orang ini akan salah paham atau mengerti keadaan gue waktu itu.

“Cihu pilih mana… saya bungkus Hien Nio yang pingsan dengan baju tapi kehilangan mereka atau saya ringkus mereka tapi Hien Nio telanjang lebih lama?” Entah mengapa kalimat tanya itu tiba-tiba terucap dari bibir. Mungkin lelah membuat gue cepat marah.

“Atau… jangan-jangan Cihu mencurigai saya juga sekomplot dengan Yo Sinshe?”

Wajahnya bersinar antara ya dengan tidak.

“Atau Cihu curiga mereka adalah komplotan saya dalam usaha menjadi menantu keluarga Ni?”

“Bukan begitu, Ahnia.”

Sekalipun dia berkata, bukan, tapi gue merasa di antara kedua kecurigaan itu. Papa benar ketika berpesan, ‘jangan pernah mau menikahi perempuan dari keluarga yang lebih kaya darimu’.

Tapi dulu mana terpikir kemungkinan Hien Nio dari keluarga sangat kaya. Waktu itu sama sekali tak terbayang kondisi ekonominya. Janji itu tiba-tiba saja terucap tanpa memikirkan apapun. Setelahnya pun, gue hanya mengira nilai kekayaan keluarganya setara dengan gue di abad ke-21. Putri dari keluarga kelas menengah. Jadi tak ada beban. Ternyata perkiraan gue salah besar. Mungkin bisikan Asiu-lah yang membuat gue kehilangan daya pikir selain belas kasihan.

Cihu tahu mengapa Yo Sinshe ingin menjatuhkan saya? Karena saya menolak menikahi putrinya. Tahu alasannya? Karena harga diri saya lebih tinggi daripada mengemis nafkah dari mertua,” kata gue tanpa jeda.

Diam sejenak gue langsung melanjutkan dalam suara pelan, “Gwat Nio sama sekali bukan darah daging saya. Sebenarnya saya tidak ada tanggung jawab menafkahinya.”

“Apa maksud Ahnia? Menelantarkan Gwat Nio? Bukankah Ahnia sangat sayang bahkan memanjakan anak itu?”

“Toh marganya Ni sedangkan marga saya Cui.”

Entah mengapa dia tertawa. Awalnya seperti dipaksakan namun kemudian terlihat alami. Sungguh, Ni Hoe juga sama menakutkan dengan Yo Sinshe atau tuan-tuan yang lain, terlebih dengan persembunyiannya di balik topeng penggemar musik yang setiap hari dikenakan.

“Pikiran Ahnia terlalu berlebihan. Gua tak menyangka Ahnia pandai mengarang cerita juga.”

Cerita? Dia bilang semua yang gue katakan tadi adalah cerita?

Ahnia seorang laki-laki sejati, mana mungkin bersikap pengecut seperti para keparat itu, benar, ‘kan?”

“Maaf, Cihu. Saya lelah. Permisi.”

 

Bagian dua

Seperti kebiasaan gue dulu, kugunakan tepian kanal atau laut untuk membuang emosi. Kali ini gue pilih laut beberapa kilometer ke arah timur dari pelabuhan Sunda Kalapa. Seharusnya tidak ada yang bisa menemukan gue di sini karena bukan tempat yang biasa gue kunjungi.

Matahari tengah bersinar terik. Begitu terik hingga rasanya ada lima matahari di langit. Namun rindangnya daun kelapa sedikit mengurangi terpaan sinar di kulit kepala.

Kapal nelayan datang dan pergi. Tak terlalu jauh dari tempat gue duduk, beberapa kapal menggoda untuk mengabadikan mereka pada sehelai kertas. Seandainya gue bawa kertas dan tinta, pastinya sudah ada berlembar-lembar lukisan jadi saat ini. Sayangnya, gue pergi hanya dengan membawa segala sesuatu yang menempel di badan dan seekor kuda.

Kesal dan  kecewa membuat gue meninggalkan rumah keluarga Ni dengan terburu-buru, tanpa memikirkan apapun dan tak punya tujuan pasti. Langkah kuda membawa gue ke pantai ini. Tak sepenuhnya salah kuda seekor karena bagaimanapun tangan gue yang mengarahkan langkahnya.

Toh kalau pulang ke rumah pasti dengan muka yang sepat seperti teh basi akan jadi pertanyaan banyak orang. Menenangkan diri di tempat sepi sampai normal adalah pilihan terbaik.

Berdiri, lalu gue meninggalkan pohon kelapa tempat duduk merenung. Kesibukan nelayan di sudut lain telah menarik perhatian.

Gue tak sadar kalau ada beberapa orang mengincar sejak beberapa saat lalu. Kalau ada yang harus disalahkan atas ketidakwaspadaan ini, dia adalah kekesalan. Ketika sadar, mereka sudah berdiri demikian dekat.

Perampokan makin meraja di luar tembok kota Batavia. Pastinya mereka salah satu dari geng perampok. Berbekal parang, mungkin mereka merasa gue pasti kabur ketakutan dan meninggalkan semua barang.

“Serahkan barangmu!” kata salah seorang dari mereka dengan galak. Galak yang dibuat-buat dan membuat gue tertawa cekikikan.

Jumlahnya lima orang. Masing-masing membawa senjata dari golok aneka ragam bentuk, parang. Sampai ani-ani pun juga ada. Mereka kira gue ini sebatang padi?

“Ck ck ck ck…,” komentar gue dengan menggelengkan kepala heran. “Senjata kalian banyak sekali.”

“Takut? Cepat serahkan barangmu lalu kau boleh pergi.”

Takut? Kalian belum pantas untuk gue takuti. “Kapan bilang takut? Gue cuma mengatakan senjata kalian sangat banyak.”

Mereka tambah kesal dan tidak sabar. Kelihatannya akan bergerak bersamaan menyerang gue. Gerak tubuhnya terbaca jelas.

Sebelum mereka sempat bergerak lebih dekat, gue menendang tangan yang membawa senjata hingga terlepas. Pada umumnya jambret dan preman baru tidak akan macam-macam lagi setelah tahu lawannya tahu ilmu bela diri. Mereka juga sepertinya sama dengan yang sudah pernah gue temui. Kelima orang itu terpana.

Perampok junior. Digertak sedikit sudah kaget.

“Masih mau barang gue atau kalian mau pergi? Bagaimana kalau kita main-main dulu?” sambil bicara, gue gulung lengan baju. Di tengah kekesalan seperti ini, berkelahi akan menjadi acara yang sangat menyenangkan.

Mata mereka saling bertatapan dan bicara satu sama lain. Gue tidak memedulikan jadi tak tahu apa saja yang dibicarakan. Tiba-tiba saja, mereka kabur. Gue ditinggal begitu saja demikian juga dengan senjata mereka tadi.

“Hei! Senjata kalian ketinggalan!” teriak gue. Tapi mereka tetap saja berlari. Mungkin tak mendengar atau takut gue ringkus dan dibawa ke Schutterij.

Tingkat kejahatan memang meningkat. Seperti yang disebut Ni Hoe tadi. Dan mengingat percakapan itu, timbul sebuah keresahan. Apakah gue yang terlalu sensitif dan berburuk sangka pada perkataannya? Mungkinkah ia memang hanya mencemaskan adik dan keponakan yang tinggal cukup jauh dari kota Batavia?

Kondisi ekonomi Batavia sampai saat ini memang tak ada perbaikan bahkan cenderung menurun. Semakin parah dibandingkan kondisi kota di masa kebangkrutan gue beberapa tahun lalu. Kali ini, akibat gula yang tidak laku dan membuat pedagang merugi, terjadilah kenaikan harga bahan pangan. Menyusul karena kenaikan tersebut, banyak pedagang kecil mengalami kebangkrutan. Ketika rakyat kecil tak mampu membeli dan pedagang kecil tak bisa memutar dagangannya untuk stok baru, maka lambat laun dan secara pasti, akan bangkrut. Apalagi, kemudian ditambah dengan bayaran banyak buruh yang kabarnya tak terbayar. Disertai petani sewa juga tak bisa membayar sewa. Sedangkan di sini lain, pemilik tanah juga tak menurunkan harga sewa tanahnya bahkan cenderung menekan petani. Gue juga mendengar, banyak anak yang dijual atau disita sebagai ganti rugi dari uang sewa yang terbayarkan.

Yah, begitulah kondisi Batavia saat ini. Semua itu membuat tingkat pengangguran bertambah dan bertambah lagi. Namun mereka pasti tetap membutuhkan makan. Salah satu cara termudah ya dengan merampok itu. Maka lahirlah kelompok perampok dan penjambret junior seperti kelima orang yang belum sempat gue apa-apakan tadi. Ada juga yang bergabung dengan kelompok lama. Intinya kejahatan meningkat.

Padahal, bertambahnya tingkat kejahatan kemudian membuat pedagang takut. Lalu ketakutan itu akan melahirkan langkanya pasokan dan pastinya pembengkakan harga. Seperti benang kusut, memang.

Dalam kondisi seperti ini, seandainya bisa, lebih baik pulang sebelum melihat keambrukan Batavia. Tapi bagaimana dengan Gwat Nio? Anak itu berhasil merebut hati gue. Bisakah bawa dia ke zaman gue yang seharusnya? Lala juga pasti menyukai Gwat Nio.

“Ruru masih ingat denganku?”

Terkesiap gue karenanya. Lala… Tidak mungkin Lala ada di sini. Pasti hanya halusinasi saja.

Ya, faktanya adalah Gwat Nio dan Hien Nio telah membuat gue melupakan Lala. Bahkan cincin tunangan untuk Lala kini lenyap entah ke mana karena dijadikan mainan Gwat Nio dan sama sekali tidak gue sesali. Padahal benda itu terbuat dari emas dan dulu cincin itu demikian gue sayang hingga dalam masa kebangkrutan yang pahit pun tak tega gue jual.

 

Bagian tiga

Hari demi hari berlalu dengan kondisi ekonomi yang tak berubah kea rah perbaikan. Satu-satunya berita baik yang gue dapat adalah persetujuan mengangkat Cihu sebagai kapiten yang baru.

Secara seremonial, penyerahan jabatan diterimakan pada Ni Hoe lalu ditutup dengan suguhan hiburan tari dan musik. Atraksi barongsai juga mewarnai acara pada detik-detik menjelang penyerahan tersebut. Setelah itu, Ni Hoe mengajak kerabat dan kenalannya makan. Termasuk gue yang disebutnya sebagai ipar dan orang kepercayaan dia. Setelah menyanjung-nyanjung yang tak jelas tulus atau berdasarkan terima kasih, dia mengajak gue bersulang.

Tapi masa kebahagiaan ini sangat pendek batas waktunya. Aneka kejadian perampokan dan kemalingan baik di Ommelanden pun dalam tembok kota membuat kompeni mengeluarkan perintah baru.

Perintah yang membuat Ni Hoe pusing tujuh keliling sekaligus bisa menambah penghasilan keluarga Ni. Memilah penduduk yang berguna atau tak berguna berdasarkan beberapa faktor.

Tapi apa peduli gue? Pekerjaan gue sudah sangat banyak. Dan di masa lobby jabatan untuknya kemarin, sudah cukup banyak urusan yang harus gue abaikan. Sekarang, waktunya balas dendam.

Alasan kedua ketidakpedulian gue adalah latihan taekwondo Gwat Nio. Siapa yang bisa melatih anak itu selain gue? Semakin cepat dia bisa akan semakin baik karena kita tak pernah tahu kejadian ke depan. Misal, tiba-tiba kami kedatangan pencuri atau perampok. … Mudah-mudahan tidak. Dengan sifat anak itu, dia pasti melawan perampok mati-matian tak peduli nyawa.

Alasan ketiga, permintaan Gwat Nio terhadap setidaknya seorang adik tak juga sirna. Justru semakin menuntut. Dan sialnya, karena gue membiasakan pengajuan hadiah untuk ulang tahun, dengan semena-mena dia menuntut hadiah ulang tahun berikutnya adalah seorang adik.

Namun sayang, Ni Hoe dan Yo Sinshe tak kunjung usai menganggu. Satu memanggil, satu datang. Satu datang, satunya mengajak bertemu. Gue benar-benar tidak tahu apa yang dimau oleh Yo Sinshe. Jelas-jelas kami adalah musuh tapi sikapnya seolah-olah kami adalah rekanan. Atau mungkin sikapnya ini bertujuan menjatuhkan gue di mata keluarga Ni? Seorang menantu punya hubungan dengan musuh keluarga pastinya mendatangkan kegemparan.

“Dari pertemuan Ahnia dengan keparat itu akhir-akhir ini, adakah sesuatu yang bisa kita manfaatkan?”

Rupanya dia tahu masalah Yo Sinshe mendekati gue. Nada pertanyaan Ni Hoe sangat tenang seolah-olah tak ada sesuatu yang membuatnya kesal pun marah. Tapi gue yakin dia pasti tak suka dengan pertemuan-pertemuan itu.

“Tanah dan gula. Bisnisnya sendiri.”

Gue teringat pada cerita salah satu dosen di masa kuliah dulu. Intinya adalah menggunakan produk A untuk menjatuhkan nama produk A. Licik? Begitulah persaingan bisnis. Dan kali ini yang kami hadapi tak hanya persaingan bisnis. Pembalasan dendam. Jika ia tidak jatuh—lebih baik lagi membuatnya dihukum mati—nama Hien Nio dan keluarga Ni bisa tercemar.

Memikirkan sejenak, Ni Hoe kemudian tersenyum. Rupa-rupanya ia sudah mengerti arah jalan yang gue kasih.

Ahnia tenang saja, jalankan usaha lu seperti biasa. Masalah kotor seperti ini, biar orang lain yang melakukan.”

Yeah…. Sudah gue tebak dia akan bicara seperti itu. Maka gue tersenyum sebagai jawaban. Pembicaraan selanjutnya mengarah pada—lagi-lagi—musik. Ipar gue ini punya mimpi menggabungkan musik tradisional China dengan alat musik lokal. Sekarang dia tengah memikirkan alat mana yang tepat untuk dipadu-padan.

Cihu mengerti masalah alat musik lokal?” tanyanya dengan menunjukkan beberapa koleksinya.

Gue hanya tahu benda itu terlihat muncul dalam gamelan. Tapi tak ingat apa namanya terlebih cara memainkan. Dulu, saat biro iklan tempat gue bekerja menggunakan alat-alat itu untuk iklan salah satu klien, kami murni mengandalkan kemampuan seorang kenalan. Setelah periode pembuatan dan penayangan berakhir, dengan cepat nama-nama yang diberitahukan pada kami menghilang dari isi otak gue.

Sebab itulah gue gelengkan kepala menyesal. Rasanya bodoh sekali. Hidup di tanah Jawa selama empat puluhan tahun namun budaya yang lahir di tanah ini tak ada yang menyangkut di otak. Apalagi setelah melihat kekecewaan yang nampak di mata Ni Hoe ini. Dia membuat hati gue tambah teriris.

Sebaiknya pulang nanti gue bertanya-tanya pada Made dan Ketut tentang budaya mereka untuk menambah pasokan ilmu di otak. Dan akan lebih baik lagi kalau gue juga menambah kedekatan dengan kenalan yang letnan Jawa itu lalu mencari tahu tentang budaya mereka.

Catat dalam agenda!

 

Bagian empat

Beberapa hari yang lalu gue dengar Yo Sinshe dipanggil oleh meneer. Dia pulang dengan muka kusut. Muka yang sama kusut dengan saat tanahnya dijadikan kasus dulu. Berpura-pura memberikan perhatian, gue datangi rumahnya.

Tapi dia tertawa. Tawa yang seolah-olah tak ada kesulitan apapun. Sial! Gue tak bisa mengorek apa saja yang sudah dialami olehnya.

Setelah menelan pil pahit kekecewaan, gue pamit. Tentu saja muka ini harus dibuat sama cerianya dengan saat datang.

Toahnia,” panggil pelayan di rumahnya. Setelah melirik kanan-kiri takut ada yang melihat dan mendengar dia baru berani menghampiriku.

“Ada yang mau gua ceritakan,” dia kembali melirik sekitarnya. Rasanya seperti membicarakan suatu rahasia yang besar.

“Setelah pekerjaan lu selesai, temui gue.”

Dia menganggukkan kepalanya lalu menghantar keluar rumah dengan muka pucat. Tak tahu apa yang ditakuti oleh pelayan yang biasa dipanggil Hie ini. Tapi gue yakin ada sesuatu penting yang hendak disampaikannya.

Toahnia tunggu di mana?”

Gue sebut salah satu rumah Ni Hoe lalu meninggalkan ia yang masih dalam kondisi pucat dan bingung.

Ipar gue sedang sibuk. Dari luar ruang baca, gue dengar suara beberapa orang yang tengah meributkan izin tinggal. Sekali dua kali terdengar bentakan. Ya Tuhan, dalam urusan tanggung jawab, Ni Hoe kelihatannya terlalu mudah marah dibanding gue.

Gue segera berlalu dari muka ruang baca yang tertutup. Takut kalau Ni Hoe akan menangkap bayangan dari balik pintu dan jendela kayu berkaca lalu menyuruh masuk dan memberikan pendapat dalam masalah mereka.

Gazebo di tengah taman menjadi incaran.

Taman ini cukup menarik. Dilihat berulang kali pun tak membuat gue bosan. Duduk menghadap meja batu sementara pelayan rumah menghidangkan teh dan beberapa kue, gue kira latihan melukis lagi adalah hal yang cukup menyenangkan.

Tentu saja, dengan status sebagai menantu, cukup gue suruh pelayan mengambilkan kertas, tinta dan perlengkapan lain. Gue tak perlu repot-repot mencari karena begitu luasnya rumah ini membuat kaki cukup lelah menyusuri setiap ruangan demi mencari lembaran kertas.

Lukisan taman selesai, Hie nampak di ambang pintu berbentuk lingkaran penuh tanpa daun, pembatas dengan taman lain.

“Sebenarnya ada suatu hal yang ingin kuceritakan pada Toahnia sejak lama.”

“Katakan.”

“Mandor kebun bermarga Peng yang mencari orang-orang untuk merampok rumah Toahnia, dulu.”

Gue lirik dia sesaat. Dan bersikap tak peduli pada semua hal yang dikatakannya. Setelah beberapa tahun gue kembali, mengapa dia baru menceritakannya sekarang? Setelah dia tahu Yo Sinshe akan bangkrut? Kemungkinan besar dia adalah seseorang yang mencari perlindungan. Ketika gue yang akan bangkrut, bisa jadi ia akan mencari perlindungan pada musuh gue.

Gue yang dulu mungkin akan sangat berterima kasih padanya atas cerita itu lalu sesegera mungkin melabrak Peng Guan. Tapi Enru yang sekarang tak lagi semudah itu ditebak.

Asiu juga mengatakan bahwa sifat dan tindak-tanduk gue sudah berubah jauh dari saat  pertama kami bertemu. “Toahnia yang sekarang bahkan bisa lebih kejam dari Yo Sinshe,” ujarnya saat memberitahu perubahan—yang menurutnya drastis—sebagai salah satu keluhan.

“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya gue pada Hie dengan acuh.

Jawabannya tak perlu diceritakan. Terlalu melelahkan dan kurang bisa dipercaya. Namun kemungkinan Peng Guan juga berada di balik perampokan bisa jadi benar.

Berdasarkan interaksi kami selama beberapa bulan, tentunya dia bisa menangkap gue orang seperti apa. Tempat favorit gue menyimpan harta juga bisa ditebaknya sehingga uang operasional yang tersembunyi seperti itu bisa mudah ditemukan.

“Asiu, cari teman-teman kepercayaan lu dan pastikan kebenaran berita itu.”

Dia sepertinya berharap gue tidak berniat balas dendam dengan berdiri mematung di tempatnya berada. “Gue hanya ingin tahu apakah dibohongi atau tidak.”

Ia pergi setelahnya. Kepergian Asiu barulah membuat gue bisa bernafas lega. Dia tak mungkin mengkhianati gue, ‘kan? Hubungan kami baik seperti saudara kandung. Ya, gue yakin padanya. Seyakin pada Made dan Ketut.

*#*#*

 

Iklan
%d blogger menyukai ini: