Skip to content

13 – Kelahiran Gwat Nio

 

Bagian satu

Di luar traumanya, Hien Nio adalah istri sempurna terutama bagi mata laki-laki zaman ini. Pendidikan yang diterima sejak kecil membuat dia tumbuh sebagai perempuan yang tunduk pada suaminya.

Namun gue justru merindukan bantahan Lala. Lala yang berani meneriakkan pendapatnya dan adu argumen dengan gue.

Gue tak adil jika membandingkan mereka. Mereka jelas bukan orang yang sama. Lala adalah perempuan produk akhir abad dua puluhan. Terakhir kami bertemu usianya sudah dua puluh delapan menjelang dua puluh sembilan tahun. Dia seorang perempuan dewasa yang memegang teguh prinsipnya.

Sedangkan Hien Nio produk awal abad delapan belasan. Usianya pun belum dua puluh tahun, dengan sistem pendidikan yang membuatnya harus bertahan sebagai seorang istri penurut.  Tapi… bantahan Lala membuat hari-hari terasa ramai.

Ahnia,” panggil Hien Nio.

“Hem…. Ada apa?” jawab gue sambil terus mengecek pembukuan dalam kamar kami. Sekalipun pikiran tak ada pada buku yang dipegang, gue terus berusaha mengecek pengeluaran rumah ini.

Sunyi. Dia tak lagi berkata. Sebuah suara pun tak terdengar.

Ahnia…,” dia kembali memanggil.

Entah mengapa gue merasa ada sesuatu dari nadanya memanggil hingga memutuskan untuk meliriknya.

Dia berdiri dengan tangan menopang meja. Wajahnya pucat. Ya Tuhan…, mengapa Hien Nio bisa sakit? Bagaimana mungkin gue ga tahu istri gue sedang tidak sehat?

Gue berlari mendekati dan membantunya ke dipan. Sembari itu, gue suruh Ketip memanggil tabib.

“Cepat!” seruan gue membuatnya menambah kecepatan jalan. Ia berlarian panik ke luar rumah.

“Kenapa? Lu kenapa, Hien Nio? Sakit di mana? Bagaimana?” gue bingung pun tak tahu apa yang harus dilakukan. Terlebih jawaban darinya hanya berupa gelengan kepala. Kepala gue pusing dirudung cemas. Menanti tabib, yang bisa gue lakukan hanya membantu meringankan rasa sakit dengan memijat bahu lalu pundak dan keningnya. Terus seperti itu, berulang kali.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya tabib datang.

Setahu gue dia tabib langganan keluarga Ni. Usianya mungkin sudah lima puluhan tahun. Dia langsung masuk ke kamar dan meminta memeriksa denyut nadi Hien Nio.

Salah satu cara tabib mengetahui penyakit dengan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan pasien. Itulah yang dilakukannya tadi.

Gue tunggu hasil pemeriksaannya dengan tidak sabar. Mengapa sangat lama? Setahu gue dokter tak pernah memeriksa selama ini.

“Kenapa dia?” sahut gue buru-buru. Padahal ia baru saja melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Hien Nio.

Dia tersenyum ke gue. Lagaknya tak ada yang perlu dikuatirkan. Gila! Orang sakit malah dia tersenyum. “Selamat, Shaoya. Kouwnio sedang mengandung.”

Jawaban itu lebih seperti sambaran kilat yang menyambar telinga. Hamil?

Bukannya gue tidak suka anak, tapi…. Apa di malam pengantin yang berantakan itu gue berhasil menanamkan benih? Rasanya tidak. Dan setelah kejadian itu, hubungan intim layaknya suami-istri belum pernah terjadi.

Sempat terpikir untuk menanyakan usia kehamilannya. Tapi… bagaimana kalau perkiraan gue benar? Bertanya bukankah hanya membuka aib? Tak ditanya mengapa rasanya gelisah seperti ini?

“Tabib….,”

Dia melirik menunggu kelanjutan kata. Namun gue terdiam. Sebuah rasa takut yang teramat besar mengambil alih kontrol otot-otot mulut hingga mereka terbungkam dengan rapat.

Keraguan meliputi diri gue. Tak tersisa setitikpun keberanian. Gue begitu takut kalau yang sedang gue pikirkan adalah kenyataan.

Siapa sangka kalau perubahan ekspresi wajah gue terlihat oleh Hien Nio. Begitu tabib pergi, dia menyuruh Ketip meninggalkan kami. Dan dalam sekejap, air mata mengalir deras membasahi pipinya.

Kesedihan, ketakutan, kalut dan entah perasaan macam apalagi yang meliputi hati istri gue. Tangisnya tak mereda bahkan semua bujuk rayu gue tak mempan. Ia hanya terus menangis sembari menyesalkan semua yang telah terjadi.

“Kenapa Ahnia menikahi gua? Harusnya tidak perlu… Menikahi gua hanya membuat Ahnia menderita….”

“Siapa bilang? Gue tidak bilang kan hidup gue selama ini menderita?”

“Harusnya biarkan saja gua mati. Kalau gua mati, keluarga Ni tak perlu menanggung malu. Ahnia juga tak perlu menikahi gua. Harusnya gua mati saja. Mati saja….”

Puluhan, ratusan atau mungkin ribuan kali sudah gue katakan agar tak perlu kuatir. Tapi semua sia-sia.

“Tapi dia.. Tapi Ahnia… Tapi mereka…”

Jantung rasanya sangat sakit melihat gadis kecil gue seperti ini. Kapan traumanya reda? Kapan pernikahan ini bisa berjalan layaknya pernikahan pada umumnya?

“Hien Nio, yang ada di rahim lu adalah anak gue. Yang harus lu lakukan sekarang adalah istirahat dan makan cukup. Gue tak mau anak gue kekurangan gizi di masa-masa tumbuh kembangnya. Terlebih… tak mau istri gue sakit-sakitan karena terus menyesalkan masa lalu. Mengerti?”

Dia menggeleng dan mengangguk, bingung membuat gue mereka-reka adakah salah bicara atau memang dia tidak mengerti maksud ucapan gue. Kemungkinan besar adalah yang pertama. Pastinya ada terminologi asing terselip di sana. Buktinya setelah gue jelaskan panjang kali lebar, akhirnya seulas senyum tipis kembali menghiasi wajahnya.

Akan tetapi, membohongi orang lain adalah hal yang mudah sedangkan menipu diri sendiri sangat sulit. Bagaimanapun usaha gue, ingatan akan kejadian itu tetap saja berputar di kepala.

 

Bagian dua

Beberapa bulan telah berlalu, kandungannya semakin membesar. Secara psikis, Hien Nio mulai membaik. Setidaknya ia tak lagi menyesalkan keberadaan anak dalam perutnya. Dia makan cukup banyak, gue ga tahu apakah setiap ibu hamil seperti itu. Dia berhasil membuat pinggangnya yang dulu mungil kini membesar. Tak mungkin lagi angkat dia seperti dulu gue mengangkatnya turun dari kereta. Lucunya, dia juga memaksa gue untuk makan sama banyaknya dengan apa yang dia makan. Kata dia kemauan bayinya

Setiap hari, dia nekat membawakan cemilan ketika gue sibuk dengan konsep atau membicarakan masalah pekerjaan dengan Asiu. Kue-kue itu dibuatnya sendiri. Memang pasti ada campur tangan Ketip, tapi dialah yang mencampurkan segala bahan dan membentuknya sedemikian rupa. Ada bakpao, kadang kue ku dan masih banyak lagi, dikirim setiap hari.

Melihat buatannya, gue teringat pada mainan dari lilin yang dipajang pada restoran besar di mall. Cantik, sangat berkesan. Sayang, dia bukan perempuan yang rela seharian di dapur. Kalau tidak, pastinya gue sudah buka usaha rumah makan di Batavia.

Dia tersenyum. Meletakkan nampan berisi kue dengan senyum terus menghiasi bibirnya. Kemarin gue baru memuji kreasinya pada sejenis kue serupa dengan mochi. Hari ini ia membawa entah kue apa. Terlihat warna dan aromanya begitu menggiurkan.

Tersenyum sebagai terima kasih, kue itu kumakan dengan lahap. Begitu lahap hingga Asiu nyaris tidak kebagian.

 

Bagian empat

 

Bayi itu lahir beberapa bulan kemudian. Tepatnya, ketika gue baru saja mendapatkan klien baru, pengusaha rumah makan.

Shaoya! Shaoya!” seru Ketip berlarian menghampiri. Ia begitu terburu-buru hingga menghiraukan tamu gue. “Kouwnio hendak melahirkan,” lapornya.

Pamit pada pengusaha rumah makan yang sedang bertamu, gue berlarian ke kamar.

“Mau ke mana?” tegur ibu mertua.

“Masuk.”

“Laki-laki tidak boleh masuk.”

“Tapi dia istri saya.”

“Tidak baik. Kotor, Enru.”

“Tidak peduli. Kotor atau bersih, pokoknya harus masuk. Saya harus menemani!”

Lala pernah berkata pada gue, “Kalau kita menikah dan aku melahirkan, Ruru harus menemaniku lalu mem-video-kan proses persalinan.”

“Kenapa?”

“Pokoknya aku mau begitu!”

Hien Nio bukan Lala. Tapi perempuan yang sedang melahirkan ini istri gue. Setidaknya gue lakukan ini demi Lala. Bukan, ini demi diri gue sendiri. Demi meredakan kecemasan yang timbul dalam diri gue.

Sejak awal gue sudah sadar, istri gue korban pemerkosaan. Menikahinya berarti berani menanggung resiko merawat anak yang lahir dari rahim. Tak peduli benih mana yang membuahi ovum dan bagaimanapun hasilnya, cacat atau normal. Cacat? Normal? Dengan trauma Hien Nio di awal kehamilan, apakah ada pengaruh buruk bagi janinnya?

Tak lama kemudian, setelah terdengar erangan Hien Nio berulang kali yang membuat gue teringat pada Mama—beliau pasti mengerang sedemikian rupa karena melawan maut demi gue—seorang bayi perempuan lahir dari rahim Hien Nio. Suara tangis anak itu membahana, begitu kesal karena kenyamanannya terganggu.

Melirik ke arah Ibu Mertua yang mendesah, tampak kekecewaan karena cucu pertamanya bukan laki-laki. Ia mendesah sembari melirik gue, takut kalau gue kecewa dan tidak lagi menginginkan putrinya. Perempuan yang umurnya menjelang empat puluh tahun itu sepertinya was-was jikalau gue mengambil istri lain karena tidak diberikan anak laki-laki.

Karena gue menikah masuk ke dalam keluarga Ni, anak itu tidak memakai marga gue. Marganya Ni dan namanya gue ambil dari nama China nenek gue, Gwat Nio.

Mungkin ada untungnya juga gue menikah masuk ke dalam keluarga Ni. Setidaknya, anak itu pasti akan ikut marga ibunya. Jadi, kalau tak bisa menerima kehadiran anak yang benihnya diragukan itu, gue tak perlu berat hati membiarkan marga gue digunakan. Tapi ternyata gue suka dia. Bayi mungil itu begitu menggemaskan.

Dan puji Tuhan, dia terlahir tanpa cacat! Kekuatiran gue berkurang separuh. Mudah-mudahan juga tidak berpengaruh pada perkembangan sarafnya.

 

Bagian lima

Kegembiraan atas lahirnya Gwat Nio tak berlangsung lama karena terganggu dengan kesibukan pekerjaan. Umur anak itu belum genap satu tahun. Tapi sudah beberapa hari ini gue tidak sempat menyentuhnya. Semua orang mengatakan Enru gila kerja, padahal kenyataan yang membuat gue seperti itu.

Mulai tahun lalu, sebenarnya ada masalah lagi selain perekonomian yang belum juga membaik itu. Gubernur jenderal yang baru naik jabatan begitu memusuhi kami. Permusuhannya itu membuahkan peraturan baru. Tak ada yang baik tentunya. Rasanya seperti kami berada di depan ada jurang, sedangkan di belakang ada sekawanan harimau mengintai.

Bisa dibayangkan jika keluar larangan membuka toko sampai larut malam—padahal awalnya toko diizinkan buka dua puluh empat jam. Berapa omzet yang tidak tercapai dengan aturan itu? Dalam kondisi ekonomi seperti ini, berkurangnya omzet membuat keadaan semakin buruk. Apalagi ditambah dengan aturan yang berkaitan dengan pajak. Kemudian larangan membuka rumah madat, hotel dan toko tanpa izin di dalam dan luar tembok kota.

Sebenarnya masih ada cara agar usaha seperti itu bisa tetap buka. Tak beda jauh dengan masa akan datang, di sini pun pengusaha wajib membayar sejumlah uang. Tak perlu ragu untuk menebak tujuan uang-uang itu. Sudah menjadi rahasia umum di kota ini, pegawai kecil di kompeni memiliki perhiasan emas dalam jumlah cukup banyak. Karena tentu saja, jumlah uang yang dibayarkan pada mereka itu tergolong jumlah besar, terutama bagi pengusaha kecil.

Bagi gue, kondisi seperti itu tentu saja mengandung sial sekaligus keuntungan. Karena masalah ekonomi, para pebisnis berusaha mendapatkan laba lebih dengan mengandalkan jasa konsultasi gue. Apalagi sebabnya kalau bukan hanya gue sendiri yang membuka layanan jasa seperti ini. Dan sebab lain adalah…. status gue sebagai menantu keluarga Ni.

Seperti yang telah gue katakan, status menantu keluarga Ni membawa rezeki. Banyak yang berharap memiliki hubungan dengan keluarga satu ini, sehingga gue sebagai menantunya juga tak luput dari sasaran orang macam itu.

Tumpukan pekerjaan itulah yang membuat gue tak sempat bercengkrama dengan Gwat Nio. Sial. Padahal dia sedang lucu-lucunya. Tapi pekerjaan ini… mungkinkah ditinggal dan tiba-tiba selesai?

Di halaman dalam, terlihat Hien Nio sedang bermain-main dengan anak itu. Mereka begitu senang. Senyum terus membayangi bibir Hien Nio, gadis kecil gue.

Abuh!” anak itu mulai belajar bicara. Melihat perkembangan wicaranya, gue kira ketika dewasa ia akan secerewet Lala.

Hati gue diliputi kecemburuan. Gue ingin punya waktu untuk main dengan Gwat Nio. Tapi kapan bisa liburan?

 

Bagian enam

Kesibukan gue sedikit berkurang setelah Asiu mengerti cara kerja biro jasa seperti ini. Usai membimbingnya dalam beberapa kesempatan, dia mulai bisa mengadakan riset sendiri.

Tak lupa gue juga mengajari Asiu membuat analisa dasar atas kejadian sosial dan budaya yang memberikan pengaruh pada dunia ekonomi. Untung, kepolosannya tak berarti dia bodoh. Sekarang… gue punya sedikit waktu untuk mengganggu tidur Gwat Nio.

Ahnia!” seru Hien Nio dengan muka cemberut.

Gue tatap dia dengan tampang tidak bersalah. Gwat Nio yang gue gendong sedang memainkan baju gue.

“Dia belum lama tidur, sudah Ahnia ajak main. Membujuk anak itu agar tidur lagi sangat susah.”

“Gue ingin main dengan Gwat Nio,” sahut gue.

“Mainlah kalau anak itu sedang bangun.”

“Gue pasti sedang kerja saat itu.”

Ahnia selalu seperti itu,” keluh Hien Nio. Tampangnya itu benar-benar lelah. Gue memang tidak mengizinkan Gwat Nio dirawat oleh pembantu. Satu-satunya pelayan yang boleh membantu Hien Nio adalah Ketip.

“Baiklah… gue tidurkan. Gue yang tidurkan.”

Ternyata memang benar, anak ini susah disuruh tidur. Gue melirik Hien Nio dengan tampang menyerah. Sudah cukup lama gue berdiri dan berjalan-jalan mengitari rumah menimang Gwat Nio, membujuknya untuk tidur namun tidak juga berhasil. Seandainya ada Mama, gue bisa minta petunjuk darinya.

Toahnia,” panggil Asiu memasuki ruangan.

Padahal gue baru saja menyuruhnya pergi melakukan riset. Mengapa dalam waktu sangat cepat dia telah kembali?

“Ada yang ingin bertemu.”

Gue baru saja ingin menanyakan siapa, tapi tamu yang dikatakan Asiu telah datang ke tempat gue berdiri.

Made? Ya Tuhan, bagaimana dia bisa tahu rumah gue yang sekarang?

Toahnia jahat.”

Celetuk Made membuat gue terperangah. Jahat? Di mana letak jahat gue ke dia?

“Pulang ke Batavia, menikah tapi tidak memberitahu kami.”

Gue bukan jahat, tapi ingin kalian hidup mandiri. Semua itu gue lakukan demi kebaikan kalian.

“Bagaimana kabar lu? Lu jadi nikah sama Ketut? Berapa anak kalian?”

Malu-malu dia menjawab, “Tiga.”

Tertawalah gue, terbahak-bahak mendengarnya. Bayangkan… baru sekitar tiga-empat tahun… anak mereka sudah tiga. Bagaimana jika lima tahun lagi? Enam atau tujuh anak? Mereka cepat sekali beranak pinak. Tapi ternyata tawa gue disambut dingin oleh semua orang di ruangan itu. Mata mereka seolah bertanya, apa yang lucu? Apa yang pantas ditertawakan? Maka, gue terdiam.

Singkat cerita, Asiu bertemu Made yang sedang menjajakan hasil kerajinan tangannya di pinggir jalan. Made yang pertama melihat Asiu lalu memanggil. Di akhir pembicaraan, Made meminta agar mengizinkan dia dan Ketut kembali kerja pada gue.

Mendukung Made, Asiu pun tak ingin kalah. Ia berusaha mengingatkan gue pada hasil pekerjaan Made dan lauk yang dibuat Ketut untuk kami. “Toahnia tidak kangen masakan Ketut? Bukankah Toahnia selalu mengatakan masakan Ketut sangat enak? Ayam berlumur cabai hijau yang pedas itu?”

Di giliran terakhir, Hien Nio ikut campur. Dia lelah menidurkan kembali Gwat Nio setelah gue ganggu tidurnya. Jam kerja gue yang tidak sinkron dengan jam tidur bocah bayi itu telah menyusahkannya.

“Kalau ada dua orang lagi yang membantu pekerjaan lu, pastinya waktu Ahnia bermain dengan Gwat Nio lebih panjang. Lagipula, Ahnia mengatakan hendak mengajari Gwat Nio kuntao. Kapan Ahnia sempat kalau semua pekerjaan dikerjakan sendiri?”

Kalah telak. Tiga orang melawan satu. Bahkan istri gue juga melawan….

Eh, dia membantah?!? Gue tidak salah dengar? Akhirnya dia membantah. Gue tertawa terbahak-bahak begitu senang, tak peduli orang-orang akan mengatakan tidak waras. Sebagai hadiah, permintaannya gue kabulkan!

“Baiklah. Tapi kalian tetap tinggal di rumah sendiri. Gue tidak menyediakan mes karyawan.” Selesai berkata, gue lemparkan cengiran polos. Mereka menatap gue terdiam. Apakah dari kata-kata gue ada istilah asing lagi?

“Maksudnya Made dan Ketut gue izinkan kerja di sini. Tapi tiap sore pulang ke rumahnya.”

“Mengapa demikian, Ahnia?” tanya istri gue.

“Mama selalu mengatakan tidak baik dalam satu rumah dihuni lebih dari satu rumah tangga.” Mereka memandangi gue bingung. Ada yang salah lagikah? “Pokoknya seperti itu. Tidak ada tawar menawar. Asiu, mana hasil riset?”

Mendadak Asiu kabur dari ruangan. Pasti dia belum melakukan tugasnya saat bertemu Made.

Setelah memberikan brief pada Made, gue tinggalkan dia untuk mengunjungi mertua. Beberapa hari lalu beliau menitipkan pesan agar begitu gue sempat, langsung mengunjungi. Entah apa yang akan dibicarakan. Lagipula, Gwat Nio pasti senang bertemu dengan kakek dan neneknya. Biar mereka saja yang menidurkan anak ini.

 

Bagian tujuh

Kouwnio…., LaoyaLaoya… meninggal…,” laporan dari pelayan rumah mertua sukses membuat Hien Nio syok.

Sejak pertemuan terakhir kami, mertua gue mulai mengeluh tidak enak badan. Berulang kali dia mengatakan kepalanya pusing. Tapi gue tak pernah menduga beliau akan meninggal secepat ini.

“Gua bisa membantu,” perkataan mertua gue di pertemuan terakhir mendadak kembali merasuki pikiran.

“Maksud Taknua[1]?” gue kernyitkan dahi karena ucapannya ini begitu mendadak. Gue tak dapat memahami sedikitpun.

“Yo Sinshe,” dengan cepat dan suara pelan dia menjawab.

Secara reflek, gue menjawab, “Maaf, saya punya cara sendiri.”

Mertua gue tersenyum waktu itu. “Sayang sekali, padahal gua punya cara membuatnya lekas jatuh. Asal kita bergabung jadi satu kekuatan.”

Mertua gue mencari perancang ide, dialah yang akan membiayai seluruh kebutuhan untuk hal itu. Tak bisa gue ingkari, tawaran itu menggiurkan. Siapa yang tak tahu kekuatan keluarga Ni? Dengan uang mereka, membeli sejumlah pejabat kompeni adalah hal yang sangat mudah. Pada saat itu, menjebloskan Yo Sinshe ke penjara bukan suatu hal yang merepotkan.

“Pikirkan hal itu lagi. Gua tak memaksamu memberikan jawaban secepatnya.”

Sayang…, sebelum gue sempat memikirkan lebih jauh, beliau telah pergi selamanya.

Tangisan Hien Nio membuyarkan lamunan. Menenangkan istri gue yang tengah kehilangan orangtua adalah hal tersulit. Apa yang harus dikatakan? Sabar? Tawakal?

Gue juga pernah kehilangan Papa. Apakah kata-kata seperti itu dulu mampu menenangkan gue? Tidak. Bahkan waktu itu pernah pula terselip dendam kesumat pada mereka yang telah menjarah toko Papa. Toko yang Papa bangun dengan jerih payahnya sendiri.

Jadi kini gue lebih memilih tak mengatakan apapun. Gue dekap dia dan menepuk lembut pundaknya berulang kali.

Di tempat ini, semua mengenakan pakaian berkabung. Sampai budak dan pelayan juga diwajibkan mengenakan pakaian berkabung. Selain itu, anak, menantu dan cucu-dalam berjajar tak jauh dari peti, termasuk gue dan Hien Nio.

Mata gue berkelana melihat semua orang yang ada di ruangan tempat jenazah mertua disemayamkan. Ni Hoe tak menangis. Ia sedih namun raut wajahnya aneh, seolah-olah ada ketenangan di sana. Para ibu mertua juga aneh, dalam kesedihan itu ada kebingungan. Entah apa alasannya karena gue belum mendapatkan jawaban.

Kemudian, para pelayat mulai berdatangan.

Jabatan terakhir mertua gue letnan, setingkat di bawah Kapiten Tionghoa di Batavia. Jabatan ini sangat bergengsi. Tak hanya mendatangkan rezeki tambahan dari potongan pajak, namun juga mendatangkan banyak penjilat. Alhasil dari masa persemayaman sampai penguburan banyak pelayat datang, dari meneer sampai orang pribumi. Menurut perhitungan gue, tak kurang dari lima ratus orang telah bertandang.

Dan lagi-lagi, Yo Sinshe menampakkan hidungnya di saat seperti ini. Gue hembuskan nafas keki melihat dia datang menghampiri. Ada yang menyebut namanya saja, gue sudah merasa kesal. Apalagi melihat dengan mata kepala sendiri dia berdiri tak jauh dari gue. Kesalnya sampai ubun-ubun.

Setelah membakar hio di hadapan peti mertua gue, ia menoleh pada kami.

Menurut adat, mantu dan anak-anak dari yang meninggal diharuskan berterima kasih pada setiap tamu yang memberikan penghormatan terakhir. Sial, mimpi apa semalam. Gue harus membungkukkan kepala untuk dia?

Namun, gue tahan seluruh emosi. Dalam mimik yang menyiratkan terima kasih dan rasa duka, gue bungkukan badan perlahan. Ular tak boleh dikagetkan, makna pepatah itu gue sangat mengerti.

Mudah-mudahan, dia tak perlu menampakkan diri sebelum rencana pembalasan dendam siap. Karena kesabaran gue ada batasnya. Sangat tipis.

*#*#*

Catatan kaki:

  1. Taknua: ayah mertua, panggilan dari menantu laki-laki untuk ayah dari istrinya.
%d blogger menyukai ini: