Skip to content

11a – Marga yang Sama

Bagian satu

Membuka pintu kayu yang terus berderit, barulah gue menghela nafas lemah. Asiu yang kini jalannya tertatih-tatih menyodorkan poci teh menyambut di balik pintu. Ia terus tersenyum sekalipun gue gelengkan kepala dengan lemah. Akhirnya gue terima poci itu dan minum seperti biasa.

Poci itu tak kalah kumalnya dengan pintu kayu. Gompal menghiasi tubuhnya di berbagai tempat. Di beberapa bagian, seperti di tutupnya pun terlihat retak rambut. Air yang meresap keluar dari tubuh poci membuat banjir selalu menggenangi piring tempat ia didirikan. Entah kapan gue sanggup beli poci pengganti.

Sambil terus menenggak isi poci yang telah dingin, gue terus memperhatikan ke mana pun Asiu menyeret kaki kanannya.

Dia mulai seperti itu sejak keluar dari penjara Stadhuiz dua tahun lalu. Kata Tabib, salah satu urat di kakinya luka parah dan tak mungkin pulih seperti sedia kala.

Melihat kakinya itu membuat kenangan selama dua tahun ini terus berkeliaran dalam kepala. Dan gue pun terduduk di bangku kayu yang selalu berderit seperti hampir ambruk dengan membiarkan masa lalu beredar di ingatan.

Seumur hidup, saat ini adalah tahun-tahun terburuk yang pernah gue lewati. Ketika Papa meninggal, gue, Mama dan Cece masih punya rumah batu dan perabotan yang layak. Sekalipun kami cukup susah waktu itu—toko elektronik papa di sebuah pasar di Jakarta Timur habis diincar penjarah di masa kerusuhan Mei 1998—kehidupan gue juga tidak seburuk sekarang ini.

Setelah mengeluarkan Asiu dan membawanya ke tabib, uang gue tinggal beberapa rijksdaalder untuk pesangon Asiu dan tak sampai sepuluh rijksdaalder uang pribadi, sisa penjualan rumah.

 

Bagian dua

“Selama ini Asiu menganggap Toahnia bagai kakak sendiri. Asiu tak butuh uang itu,” katanya waktu itu.

“Dengan uang ini, lu bisa mulai usaha sendiri. Lu bisa hidup mandiri”

Gelengan kepalanya terus membekas di dalam hati.

“Kemana pun Toahnia pergi, aku akan ikut. Asiu akan selalu jadi adik Toahnia yang baik. Kapanpun, Toahnia bisa berbagi kekesalan denganku.”

“Sudah cukup usia lu untuk menikah.”

Toahnia tidak menikah, Asiu juga tidak. Lagipula hanya Toahnia yang kumiliki di sini.”

“Kamu bisa pulang ke kampung halamanmu.”

Kembali digelengkan kepalanya. “Apa Toahnia tidak tahu? Pemerintah akan menghukum mati orang yang kembali setelah lama meninggalkan tanah leluhurnya.”

Kali ini ganti gue yang menggelengkan kepala.

Dia terus memelas dan memelas hingga akhirnya berhasil membuatku berubah pikiran. “Kita cari kereta kuda.”

“Uang Toahnia tinggal sedikit, bukan? Jangan karena kaki Asiu seperti ini membuat Toahnia memboroskan uang.”

“Tapi kita akan pergi jauh. Jauh sekali dari Batavia.”

“Asiu sanggup berjalan sejauh apapun. Asal Toahnia tak keberatan karena akan tambah lama dengan cara jalanku sekarang.”

Gue tak punya batas waktu….”

Ya… Gue, seorang Enru jadi pengangguran. Padahal dulu hari-hari selalu dipenuhi dengan deadline. Bahkan kadang di hari Sabtu pun Minggu. Tapi waktu itu… gue pengangguran. Pertama kalinya gue merasakan hidup sebagai seorang pengangguran.

 

Bagian tiga

Menyusuri bagian utara pulau Jawa dengan berjalan kaki adalah suatu hal yang tak pernah terpikirkan namun dilakukan pada saat itu. Pantura di masa itu sebagian masih berupa hutan. Kadang ditemukan rumah satu-dua lalu desa-desa kecil lalu sebuah kota lalu desa lagi dan setelah kebun maupun sawah, kembali hutan yang ditemui ataupun tepi pantai yang lautnya tak begitu bergejolak. Demikian seperti itu sepanjang jalan.

Kami melalui Kota Terasi lagi. Gue sengaja berhenti di sana sekedar mencoba apakah The Sinshe bisa membantu gue. Tapi pintu ditutupnya bagi gue. Padahal dulu ia bahkan memberikan gue bekal perjalanan dalam jumlah cukup banyak. Padahal dulu ia memberikan banyak barang dan kenangan untuk gue berikan pada anak buah. Padahal dulu ia menjanjikan kontrak baru untuk program baru.

Karena gagal menemuinya dan kami terlampau lelah, akhirnya gue putuskan untuk istirahat di kota tersebut. Gue membawa Asiu ke tabib di kota itu dengan sisa uang lalu mencari kamar sewa untuk sementara waktu. Kamar sewa yang sangat murah tentunya. Yang dapat kami tinggali selama beberapa hari bahkan minggu sampai kaki Asiu cukup mampu tuk lanjutkan perjalanan. Kamar kosong yang hanya berisi meja, kursi dan dipan reot dengan kasur yang bau lembab dan sepertinya berkutu. Namun apa daya, dengan uang gue saat ini, hanya itulah yang terbayar.

Di kamar, gue buka gulungan bumbung yang digendong Asiu dari Batavia dengan sangat hati-hati. Ketika berangkat, ia cuma berkata barang di dalamnya adalah barang penting bagi kami. Ternyata isinya kertas-kertas berisi konsep serta sketsa dan lukisan yang pernah gue buat sejak dari zaman tinggal di rumah Yo Sinshe. Gue tersenyum getir melihatnya namun segera menangkap ide baru yang berkeliaran di kepala. Gue bisa jual lukisan dan sketsa ini bukan? Seperti pelukis jalanan di pinggir jalan pintu besar di abad dua puluh-dua satu.

Gue buka lapak di pinggir jalan menuju pasar kota tersebut. Waktu itu sudah bulan desember, para meneer sibuk mempersiapkan rumah untuk menyambut natal dan kaum Tionghoa juga mulai mempersiapkan ronde untuk festival Tangceh[1]. Tibanya festival Tangceh menandakan tahun baru telah mendekat. Artinya adalah waktunya belanja dan mendandani rumah dengan pernak-perniknya yang meriah. Menurut gue, sepanjang bulan ini hingga bulan depan adalah waktu tepat untuk menjual lukisan-lukisan yang pernah dibuat.

Gue lupakan cita-cita menjual lukisan-lukisan itu di abad 21 seandainya bisa pulang. Yang terpenting gue dan Asiu bisa makan dan tidur dengan layak di masa sulit ini.

 

Bagian empat

Sial bagi gue. Baru jualan sekian hari, bukan pembeli yang datang justru preman. Berjumlah lima orang, datang ke lapak ketika gue baru saja membereskan peralatan dan memajang karya-karya lama.

Asiu sudah berdiri tegak lurus bagai patung tampak ketakutan ketika mereka menggebrak meja gue yang reyot hingga patah karena gue bilang ke mereka tidak bisa bayar uang yang diminta. Emosi gue sudah memuncak saat itu. Baru saja hendak mengambil patahan kaki meja yang tergeletak di jalanan untuk menggebuk mereka, ketika seorang dari mereka mengambil lukisan dan merobeknya. Serta merta dan tanpa peduli apapun, gue layangkan kayu pada seorang dari mereka.

Asiu tampak ketar-ketir ketika mereka mengeroyok gue karena tak pernah dengar ceritaku menjuari beberapa pertandingan taekwondo. Gue menendang, memukul. Segala aksi perlawanan gue luncurkan hingga Asiu berteriak berkata “Petugas, Toahnia!” mengambil lukisan yang masih utuh seadanya, gue lari membopong Asiu kembali ke kamar sewaan.

Ketika natal tiba, masih di Kota Teras, gue masuk ke rumah yang sedang merayakan. Berbekal kemampuan bicara, lumayan, kerjaan serabutan dengan gaji yang cukup untuk hidup beberapa hari ke depan masuk ke kantung gue ditambah bungkusan isi makanan sisa pesta mereka dan beberapa jenis kue-kue. Cukup untuk hiburan kami berdua.

Hari ke dua puluh di Kota Terasi, kaki Asiu tampaknya sudah cukup baik untuk melanjutkan perjalanan. Karena di kota ini tak menemukan orang kaya yang semarga dengan gue, kami akan melanjutkan ke kota lain. Di kota ini, jangankan orang kaya yang semarga. Orang biasa-biasa atau miskin pun tidak gue temukan ada yang semarga. Gue sudah mencari ke rumah-rumah perkumpulan marga, ke klenteng, dan perkumpulan sosial lainnya.

Arah perjalanan kami semakin ke timur.

Di setiap kota yang kami lewati, gue selalu mencari perkumpulan sosial mencari orang yang bermarga sama dengan gue. Orang China menganggap orang yang bermarga sama bagai keluarganya sendiri. Apapun kesulitan akan mereka bantu, seperti pengalaman gue di rumah Tuan Yo.

Salah satu alasan Tuan Yo menguruskan surat-izin-tinggal adalah kesamaan marga gue dengan salah satu istrinya. Mujur buat gue, perempuan itu tengah menjadi istri kesayangan. Jadi, apapun keinginan perempuan yang seolah-olah kedatangan adik dari jauh menjadi pusat perhatian laki-laki tersebut.

Sayang, sepertinya marga gue ini marga langka. Pada akhirnya, ketika tiba di kota yang telah diserahkan kepada VOC oleh seorang Sunan, gue sudah lelah mencari orang semarga sama dengan gue. Jadi di sini gue cari yang semarga dengan mama. Toh ini adalah kota yang kelak menjadi tempat kelahiran Mama dan keluarga besar Mama tinggal di kota ini selama beberapa generasi. Mungkin ada engkong atau leluhur mama atau seseorang bermarga sama dengan Mama. Dan ini adalah kota di Pantai Utara Jawa nan ramai dan tak begitu jauh dari dua gunung yang duduk berdampingan.

Mungkin gue bisa pinjam sejumlah uang untuk modal usaha atau dapat pekerjaan. Akan lebih baik jika sesuai dengan keahlian gue.

Malang buat gue, orang bermarga sama dengan Mama yang gue temui bukanlah orang kaya yang banyak duit. Ia cuma bisa membiarkan gue kerja di kebunnya yang tak seberapa luas.

Mengingat semua perjalanan itu memang terasa miris tapi nyatanya membuat gue ga bisa berhenti tertawa. Gue tak bisa membayangkan seorang creative director bisa bersikap layaknya preman. Mama dan Cece pasti menggelengkan kepalanya dan cemberut kalau tahu kejadian itu. Lala juga…. Dia paling tak suka kalau melihat emosi gue mulai meninggi.

 

-bersambung ke 11b-

Catatan kaki:

[1] Alias festival Dongzhi yakni perayaan di puncak musim dingin dimana seluruh keluarga berkumpul makan ronde yang disiram kuah jahe atau di China bagian utara makan sejenis pangsit.

Iklan
Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: