Skip to content

10a – Badai di Batavia

Bagian satu

“Perekonomian sepertinya sedang tidak baik,” ujar The Sinshe membuka percakapan.

Gue menganggukkan kepala tanda setuju sementara mata sibuk mengamati tumpukan kayu kualitas tinggi yang tersusun rapi di hadapan.

Sama seperti Tio Sinshe, The Sinshe ini juga pengusaha kayu. Tak hanya itu, ia juga menerima pengerjaan rumah, semacam kontraktor istilahnya. Namun kayu yang dimiliki The Sinshe tak sebanyak kayu Tio Sinshe. Karena Tio Sinshe tak lagi menggunakan gue, maka kontrak dengan The Sinshe berhak gue tanda tangani.

Ditilik dari segi ekonomi tak terpungkiri, Tio Sinshe lebih kaya dari The Sinshe. Dan dalam keadaan seperti ini, tak mungkin gue tega bertahan pada harga di tahun-tahun lalu.  Alhasil nilai kontrak nanti tak mungkin setinggi dengan Tio Sinshe. Tapi tidak masalah, asal dapur tetap mengepulkan asap.

“Pembangunan rumah baru sangat minim,” lanjutnya. “Dan mendapatkan kerja sama pengerjaan fasilitas sangat susah. Tapi kompeni justru menaikkan pajak.”

Menghembuskan nafas dan dengan suara lamat, gue iyakan kata-katanya. “Yang kaya semakin kaya. Yang miskin semakin miskin. Sedangkan yang di tengah semakin terhimpit.”

Dia menunjukkan senyum miris.

Kami termasuk golongan di tengah. Bedanya dia masih menengah atas sedangkan gue di bawahnya. Ibarat kata, jika penggolongan ekonomi dimasukkan dalam nilai satu sampai sepuluh—dimana satu yang termiskin dan sepuluh adalah terkaya—maka gue di peringkat empat sedangkan dia peringkat lima sampai enam.

“Bagaimana menurutmu?”

Gue lirik dia sesaat memastikan pertanyaan itu bergerak ke arah mana dari gestur The Sinshe ini. Kiranya, ia bertanya tentang ide pemasaran kayu dan jasanya.

Konsep yang dulu gue buat untuk Tio Sinshe sebenarnya bisa dipakai ulang dengan beberapa penyesuaian. Yang terpenting adalah penyesuaian lokasi dan tipikal masyarakat.

Saat ini gue tidak sedang berada di Batavia. Kira-kira ratusan kilometer jauhnya dari pusat kota Batavia ke arah timur. Masih di jalur Utara Jawa. Suatu kota yang terkenal dengan terasi dan saat ini masih berbentuk kesultanan. Di sini dia penjual kayu ulung.

“Kita bisa mulai dengan kasih disk… potongan harga atau pemberian hadiah untuk pembelian di atas sepuluh batang kayu. Dan agar orang-orang tahu, kita sebarkan selebaran. … Pakai toa juga bisa,” ujar gue setelah menganalisa cepat karena riset yang sesungguhnya belum dikerjakan.

Hari ini adalah kali pertama gue melihat langsung gudang kayunya sekaligus hari pertama berada di kota ini. Jalan-jalan saja belum sempat karena diberi tumpangan tinggal di rumahnya dan selesai sarapan, dia langsung membawa gue ke gudang ini.

“Seperti yang dilakukan tuan meneer ketika memberitakan pelelangan?”

“Kurang lebih seperti itu.”

“Kapan?”

“Beberapa hari ini saya harus melihat pasar di sini. Nanti sesampainya di Batavia, semua konsep langsung dibuat. Harusnya bulan depan sudah bisa saya pre…  tunjukkan.”

The Sinshe tersenyum.

Mungkin ia menertawakan keraguan gue. Sial, sudah beberapa tahun tinggal di Batavia  tetap saja sering terbawa cara bicara di masa lalu terbawa…. Masa lalu atau masa depan? Ah… time traveling mendadak selalu membuat gila jika harus membicarakan umur pun waktu. Bahkan sampai detik ini ketika gue sudah terdampar beberapa tahun lamanya.

Kami bergerak ke sudut lain. Di sana terhampar onggokan sisa serutan kayu. Sangat banyak hingga terlihat seperti replika gunung halimun dalam gudang ini.

Sebuah ide mendadak terlintas membuat mulutku lancang bertanya, “Serutan kayu itu boleh kuambil?”

Terlihat berpikir keras sejenak, akhirnya ia menganggukkan kepala tanda setuju. “Untuk apa?”

“Untuk main-main. Anda bisa lihat hasilnya nanti,” jawab gue tanpa menyembunyikan rasa senang. Sebuah konsep presentasi telah terpikirkan. Yang harus segera dilakukan adalah riset.

 

Bagian dua

Di kota ini, gue tidak punya anak buah. Asiu tak ikut karena kutugaskan untuk menyelesaikan yang sudah gue siapkan sebelumnya. Cukup banyak, dari membayar tagihan, mengecek pelaksanaan konsep marketing yang tak hanya satu konsep. Ada tiga sampai empat sekaligus. Dengan demikian, gue harus mengerjakan riset di sini seorang diri.

Pertama, gue ke rumah-rumah orang yang baru selesai renovasi ataupun dibangun. Gue tanyai mereka satu demi satu seperti kemana membeli kayu, apa saja yang mereka perhatikan dalam memilih toko, kayu apa saja yang mereka pilih untuk rumah atau bangunan mereka dan masih banyak lagi.

Gue juga mendatangi toko The Sinshe untuk memperhatikan bagaimana kegiatan transaksi, bagaimana pelayanannya dan respon pembeli. Semua riset ini gue lakukan tak kurang dari sebulan penuh.

Setelah mendapatkan kesimpulan hasil riset, barulah gue membuat konsep marketing. Pembuatan konsep sengaja gue kerjakan di kota tersebut untuk memudahkan seandainya butuh riset tambahan. Sesuai yang telah telah gue kemukakan pada The Sinshe, gue rancang promo gratis sesuatu. Karena pembelinya rata-rata orang Tionghoa, kutawarkan gratis miniatur patung kayu dewata. Konsep selesai, gue pulang ke Batavia untuk membuat konsep presentasi.

Kali ini presentasinya berkonsep hutan. Suatu hal yang tak terduga, Made ternyata pandai membuat ukiran sampai-sampai sisa serutan yang tipis itu diukirnya. Ukiran yang dalam waktu singkat membuat gue pun Asiu tertegun. Kami begitu kagum sampai tak keluar suara sedikitpun.

Serta merta, gue kepikiran, daripada miniature patung kayu dewata biasa, lebih baik Asiu membuatnya dari serutan-serutan kayu tersebut. Lebih unik dan lebih aman dari kemungkinan sakit hati kaum pemuja dewata yang dibuatkan miniaturnya. Dipikir-pikir, ternyata gue tetap terbawa pemikiran dari abad gue dilahirkan mengenai agama dan kepercayaan. Padahal bukankah belum pasti juga masyarakat saat ini sama sensitifnya dengan masyarakat di negara dan zaman gue? Pokoknya lebih unik. Lebih baik gue fokus ke poin itu saja.

Berselang beberapa detik setelahnya, gue berteriak, “Kalau konsep ini disetujui, kau dapat bonus dan kita makan-makan lagi!”

Tentu saja mereka bertiga senang. Ketiganya berteriak riang dan tanpa sadar hendak memeluk gue. Namun sayang, kemudian Made dan Ketut menghentikan langkahnya, tak jadi memeluk. Padahal akan sangat menyenangkan jika mereka melakukan hal itu. Rasanya mungkin akan sama dengan keriangan di kantor, dulu.

Yah, mudah-mudahan kegembiraan mereka bisa berlangsung lama….

 

Bagian tiga

Kayaknya seni ukir Made yang membuat The Sinshe benar-benar terkesima. Tak henti-hentinya ia memuji kreativitas gue—lebih tepatnya tim gue—lalu surat kontrak langsung disetujui.

Gue kirimkan surat cepat-cepat agar Made membuat lagi patung-patung mungil dua dimensi karyanya itu dan memintanya menghubungi ulang teman-temannya untuk mulai membantunya.

Sekitar dua minggu kemudian selesailah tujuh karya itu. Terdiri dari beragam corak yang menggambarkan kegiatan sehari-hari. Ada pedagang pikulan, ada penjual ikan di pinggir jalan dan lain-lain. Konsep marketing pun mulai diterapkan. Untuk itu, gue pinjem beberapa anak buah The Sinshe yang sudah cukup paham pemasaran. Tak terlalu bodoh untuk bergerilya mengunjungi calon-calon pembeli dan mengimingi mereka sesuai dengan pernyataan-pernyataan yang gue ajarkan.

Program ini akan berjalan selama sebulan alias tujuh minggu sejak pengiriman pertama dari Batavia. Made dan teman-temannya terus membuat patung-patung itu sampai minggu terakhir program. Selama masih tersedia hadiahnya, sekalipun bulan program telah lewat, pembeli yang memenuhi syarat, pasti akan dapat.

Setelah semua selesai, The Sinshe puas dengan hasilnya, gue pulang dengan membawa pembayaran beserta bonus-bonus dan oleh-oleh. Semua di rumah pasti senang termasuk teman-teman Made yang telah membantu.

Sampai di rumah, mata mereka menyambut gue dengan senang. Teriakan sebagai luapan rasa gembira terdengar nyaris memecahkan gendang telinga. Mereka terlihat begitu senang. Dan melihat tiga orang ini bisa ceria seperti itu membuat gue sangat puas.

“Kita makan di mana, Toahnia?” tanya Made mengikuti cara Asiu memanggil. Wajahnya sangat berseri-seri. Gue juga pernah merasakan hal yang serupa. Bonus di hadapan mata memang suatu hal yang sangat menyenangkan.

Sambil tersenyum misterius gue suruh mereka merapikan semua pekerjaan lalu ikut  keluar rumah.

Gue sudah memesan ruangan di salah satu rumah makan tak jauh dari pintu gerbang Selatan. Tempat itu memang cukup mahal, tapi menurut gue setara dengan jerih payah kami berempat selama ini.

Kami makan, bersenda gurau berempat. Masa itu benar-benar sangat menyenangkan. Kami menikmati semua makanan yang tersaji. Semuanya. Namun siapa yang sangka, sekelompok orang sudah menunggu saat-saat kami tak ada di rumah, seperti ini.

 

Bagian empat

Ketika pulang, gue mendapati seluruh rumah dalam keadaan berantakan. Made menangis terisak-isak karena karya ukirannya pecah berantakan di lantai. Asiu hanya berdiri terkesiap tak sanggup berkata-kata. Demikian pula dengan Ketut.

Tiba-tiba, terlintas dalam benak tentang uang yang disimpan di dalam kamar. Ketakutan dan rasa was-was membuat gue segera berlari meninggalkan mereka. Apakah… mereka juga….

Jantung gue berdegup sangat kencang. Sama kencangnya dengan waktu menyelinap di kamar Peng Guan. Kalau waktu itu ketegangan yang mendominasi—seperti layaknya sedang menonton film laga—kali ini, ketakutan yang dominan.

Gue temukan kamar dalam keadaan menyerupai kapal pecah. Mirip dengan adegan di film Titanic ketika lambung kapal telah terbelah dua. Tangan gue gemetar. Kaki pun demikian. Dengan darah yang rasanya membanjiri kepala hingga terasa pening, beralihlah gue pada lemari kayu tak jauh dari dipan. Tumpukan pakaian yang tadinya tersusun sangat rapi di lemari kini berhamburan di lantai.

Sebenarnya lemari itu memiliki laci tersembunyi. Dalam keadaan normal, tumpukan baju membuatnya sulit ditemukan. Namun kini lemari hancur, nyaris tak berbentuk. Dan kotak itu telah raib. Tak ada yang bisa dirogoh. Pada tempatnya hanya tersisa lubang menganga. Di sana pun di hati gue.

Lutut gue sangat lemas sebab isi kotak itu adalah uang operasional rumah selama beberapa bulan mendatang.

Toahnia…,” panggil Asiu pelan.

Gue menolehkan muka padanya. Tatapan mata yang kosong mungkin adalah jawaban bagi Asiu atas kekalutan gue.

Ya Tuhan, uang tinggal beberapa puluh rijksdaalder sisa pesta makan tadi. Lalu bagaimana bisa menggaji Asiu dan lainnya? Bahkan untuk gaji bulan ini saja gue ga tahu harus cari uang dari mana.

“Dalam banyak urusan, uang memegang peranan penting.”

Sekali lagi kata-kata Yo Sinshe terngiang.

“Dalam banyak urusan, uang memegang peranan penting.”

Lagi.

“Dalam banyak urusan, uang memegang peranan penting.”

Dan lagi.

Nasihat itu samar-samar kembali teringat kemudian memenuhi pikiran gue. Entah mengapa. Benarkah ini ulahnya? Apakah mungkin hanya karena perjodohan yang tidak gue tolak ia sedemikian membenci? Atau… adakah kesalahan lain padanya? Suatu kesalahan yang tak pernah disadari? Adakah?

Atau mungkin ada kesalahan dengan orang kaya lain? Siapa? Sepertinya gue tak pernah mencari masalah. Pekerjaan juga dilakukan dengan sebaik mungkin. Atau ini hanya masalah perampokan? Tapi sedemikian telitinya mereka sampai mencuri uang dalam lemari rapat? Sedemikian yakinnya mereka memastikan uang disimpan di lemari itu? Bukan di tiang atau bawah tumpukan kasur tipis itu? Juga, sedemikian beringas mereka mengacak-acak seluruh isi rumah? Memecahkan hiasan kayu setengah jadi yang pastinya belum bernilai?

Gue rasa… ini bukan hanya masalah perampokan yang dilakukan berandalan tak punya uang. Sekalipun dilakukan mereka, pasti ada otak yang menggerakkan? Siapa? Yang terpikirkan olehku hanya Yo Sinshe. Mungkin ini firasat atau aku telah berubah menjadi seorang pengecut.

Gue tolehkan wajah pada Asiu yang menyusul, “Asiu… selain masalah perjodohan, apakah aku pernah punya masalah dengan Yo Sinshe?”

Dia menggelengkan kepala perlahan.

“Dengan orang lain?”

Dia menggelengkan kepalanya. Rasanya Asiu juga yakin gue tidak pernah buat masalah dengan orang kaya lain.

“Lalu… apakah menolak perjodohan itu adalah suatu kesalahan teramat besar?” sembari bertanya gue terus bertahan agar mata tidak berkaca-kaca. Perjuangan selama ini… haruskah karam…

Toahnia…,” tak ada jawaban lain yang keluar dari mulutnya. Namun gue tahu, dia sedang berandai-andai jikalau gue dulu nikahi Kim Nio.

 

Bagian lima

Sampai detik ini, gue masih belum mau menyerah. The Sinshe dan Sheng Sinshe masih bersedia menjadi klien. Setiap bulan, selama mereka masih menggunakan jasa gue sebagai konsultan, beberapa puluh rijksdaalder masih bisa dijadikan pegangan. Yah, walaupun sekarang kami harus bersyukur dengan maksimal dua jenis lauk setiap makan.

Yang lebih disyukuri adalah Asiu, Made dan Ketut dapat memahami bahwa keuangan kami dalam keadaan tidak baik. Mereka sangat menenangkan hati dengan menerima lauk ala kadarnya. Bahkan, Made rela kehilangan bonus yang dijanjikan. Dia selalu berkata agar tak perlu mengkhuatirkan bonusnya hingga membuat gue begitu terharu.

Toahnia…, lisensi itu… batas akhirnya hari ini….”

Gue anggukkan kepala tanda mengerti.

Kompeni kembali mengeluarkan peraturan baru. Buat gue, tujuan dikeluarkan peraturan kali ini dan sebelumnya sangat jelas, yaitu memungut uang dari golongan Tionghoa untuk memenuhi kas mereka setelah mengalami kerugian besar.

Dua rijksdaalder tiap rumah, bukan jumlah kecil bagi mereka yang berada di tingkat ekonomi bawah. Bahkan gue pun merasa keberatan mengeluarkan uang “sesedikit” itu hanya untuk sebuah lisensi. Tapi apa boleh, gue tak punya minat mempertanyakan dan berdebat. Dalam kondisi seperti ini, asal bisa hidup tenang itu sudah cukup.

Di rumah kapiten, tempat pajak baru itu harus dibayarkan, sekelebat gue melihat Sinshe Yo melenggang keluar dari arah dalam. Gue memang tak dapat melihatnya dengan jelas karena banyak orang berdesakan di muka rumah. Tapi tak salah lagi. Orang yang kulihat walaupun hanya sekelebat pasti dia.

Gue berikan uang pada Asiu menyuruh dia mewakili. Tanpa menunggu balasan bahwa dia mengerti atau tidak, gue berlari mencari Yo Sinshe.

Sayang, sampai di luar gerbang, sosoknya tak lagi terlihat. Hanya ada sado yang berjalan pelan. Kuda yang dikendalikan dengan sangat baik oleh penunggangnya. Beberapa tandu yang diangkut oleh para budak dan segelintir pejalan kaki.

Mungkin Yo Sinshe ada di dalam salah satu tandu itu. Tapi yang mana?

Waktu habis untuk berpikir sementara tandu bergerak semakin menjauh. Masing-masing memiliki tujuan. Ada yang ke utara, barat, selatan pun timur. Terlambat jika ingin mengejar setiap tandu dan memastikan apakah Yo Sinshe ada di dalamnya.

“Kenapa, Toahnia?”

“Gue lihat Yo Sinshe.”

Asiu menggelengkan kepalanya. “Dari sifatnya, percuma Toahnia mengejar.”

“Lalu bagaimana? Apa gue harus membiarkan jerih payah gue hancur karena orang–?” tanpa sadar, suara meninggi. Karena itulah dengan sigap Asiu membungkam mulut gue.

“Kalau mau mengamuk, Toahnia lakukan saja di rumah. Tidak baik mengundang keributan di halaman rumah ini. Salah-salah Toahnia masuk penjara.”

Asiu memang benar. Kelihatannya gue harus belajar mengendalikan emosi secepatnya.

“Lu saja yang antri dan bayar. Gue tunggu di luar.”

Berdasarkan kecerdasan Asiu, dia pasti bisa melakukan pembayaran seperti ini sendirian. Dia ini sudah seperti asisten pribadi. Banyak urusan yang dikerjakannya dan gue tahu, tanpa dia, usaha ini tak akan menemui kelancaran sehari pun.

-bersambung ke 10b-

%d blogger menyukai ini: